
Hujan deras menguyur kota jakarta tanpa henti, jika terus berlanjut hingga beberapa jam ke depan, bencana banjir akan terdengar di Tv. Guntur dan kilat yang saling bersahut-sahutan membuat Keisha yang senantiasa duduk di halte bus, terkejut sesekali.
Gadis itu sedang menunggu taksi yang tidak kunjung datang, padahal Keisha mulai kedinginan sebab hanya mengenakan seragam sekolah. Dia mengigit bibir bawahnya, memeluk tubuh seorang diri berupaya mengusir rasa dingin yang datang menyapa.
"Ck, nggak Mas Ricky, nggak taksi semuanya molor! Mereka kayaknya mau buat aku mati kedinginan di halte," gerutu Keisha. Kali ini ponsel gadis itu tidak kehabisan cas, tetapi ponsel Ricky lah yang sangat susah untuk dihubungi.
Keisha beranjak dari duduknya lantaran melihat taksi melintas dari kejauhan, dia berdiri lalu melambaikan tangan berharap taksi itu berhenti dan membawanya pulang ke rumah. Dia bernafas lega ketika taksi itu benar-benar berhenti.
"Aduh makasih pak udah lewat di sekitar sekolah," ucap Keisha. Berusaha mengeringkan baju dan rambutnya dengan tisu. Cuaca hari ini cangat buruk, jam dua siang seakan hampir menjelang magrib sakin gelapnya lagit, lantaran diselimuti awan hitam.
"Sama-sama Neng. Oh iya, harusnya Neng nggak nunggu sendiri, apalagi hujan deras. Takut kenapa-napa," ucap sopir taksi yang kisaran usianya 40 tahun.
"Tadinya cuma dikira mendung, Pak, nggak bakal hujan sederas ini," sahut Keisha. "Oh iya, jangan lewat perpatan pertama ya, Pak, di sana sering banjir kalau hujan. Nggak papa mutar, nanti saya bayar lebih."
"Baik Neng."
Taksi itu melaju cukup pelan di tengah derasnya hujan. Membutuhkan sekitar satu jam untuk Keisha sampai di rumah, lantaran banyak drama yang terjadi. Macet dikarenakan banjir melanda di mana-mana.
"Makasih pak, ambil aja kembaliannya," ucap Keisha menyerahkan uang 100 ribu sisa belanja bulanan kemarin. Gadis itu berlari masuk ke rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Tanpa membuang waktu lama, Keisha lantas masuk ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya, lalu menganti pakaian yang lebih hangat. Membaringkan tubuh di ranjang sambil menyalakan Tv. Dia melirik ponselnya ketika suara notifikasi pesan terdengar.
Keisha lantas membuka pesan dari seseorang yang tidak dia kenali nomornya.
Suami kamu ada sama aku, gimana? Pasti kamu cemburu kan?
Bukannya marah, Keisha malah tertawa terbahak-bahak lantaran tidak asing dengan foto tersebut. Tanpa bertanya dia tahu siapa yang mengirim pesan padanya. Dengan sigap gadis itu membalas pesan Amelia si kuntilanak.
Aduh-aduh goblok kok dipelihara sih? Kalau mau buat gue cemburu yang jeli napa jir! Itu foto pas kalian masih pacaran, gue pernah liat di Ig mas Ricky. Lagian suami gue pakai kemeja dan jas sage, ya kali berubah warna kek bunglon.
Tepat setelah Keisha mengirim pesannya, tanda centang dua berwarna biru langsung terlihat. Pertanda Amelia sudah melihatnya.
***
"Sial! Ternyata dia sepercaya diri itu sampai tahu kalau aku bohongin dia," gumam Amelia. Raut wajahnya sangat kesal lantaran gagal membuat Keisha cemburu.
Wanita gatel itu mondar-mandir di dalam apartemennya sambil menatap hujan deras dari balik dinding kaca. Amelia tidak butuh kekayaan Ricky, dia hanya ingin memiliki mantan kekasihnya yang hampir mendekati sempurna. Andai saja tidak ada Keisha dalam hidup pria itu, Amelia yakin bisa meluluhkan hati Ricky dengan mudah.
Tanpa membuang waktu banyak, Amelia lantas mengambil cardigannya di sofa, lalu meninggalkan apartemen. Tujuan wanita itu tidak lain adalah kantor Ricky. Dari kata-kata Keisha tadi, pria itu sedang berada di kantor untuk saat ini.
***
Di karenakan hujan begitu deras, banyak orang yang memilih tinggal di rumah. Tidur dan menikmati rasa dingin alami yang sangat menyenangkan. Itu juga tengah Keisha lakukan, sehingga tidak sadar bahwa jarum jam telah menunjukkan angka 8 malam.
"Gila senyenyak itu," gumam Keisha yang baru terbangun lantaran suara guntur kembali mengelegar. Dia lantas mematikan Tv, lalu berjalan menuju balkon untuk memeriksa halaman rumahnya. Tidak ada mobil yang terpakir di sana, pertanda sang suami belum pulang.
"Kemana sih? Semoga dia nggak papa di jalan." Keisha mengigit bibir bawahnya. Kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponsel. Memeriksa kalau saja ada panggilan atau pesan dari sang suami. Namun, yang dia harapkan tidak terjadi.
Merasa bosan di kamar sendirian, Keisha berjalan menyusuri rumah yang tidak terlalu besar itu. Tidak lupa menghubungi bu Ratna untuk menanyakan keberadaan Ricky.
"Halo, Mah," ucap Keisha setelah panggilannya dijawab oleh bu Ratna.
"Tumben telpon mamah pakai ponsel kamu. Kenapa? Baik-baik aja kan? Kompleks kamu nggak kena banjir?"
"Ng-nggak mah. Kei cuma mau nanya, pak Iky ada kerumah Mamah hari ini? Udah jam segini dia belum pulang. Kei khawatir dan takut di rumah sendirian," ucap Keisha.
"Tadi pagi-pagi suami kamu datang ngambil berkas, terus pergi lagi. Kayaknya dia lembur. Kalau kamu takut sendirian, mamah kirim kenalan mamah yang dekat dari sana ya? Soalnya mamah nggak bisa ke sana karena banjir di mana-mana."
"Iya, Mah." Keisha menutuskan telponnya. Duduk di sofa dengan jantung berdetak tidak menentu. Keisha sama sekali tidak takut suaminya melakukan hal-hal aneh di luar sana, hanya saja takut Ricky dalam bahaya sehingga tidak bisa menghubungi tepat waktu.
"Semoga mas Iky baik-baik aja," gumam Keisha.
Gadis itu duduk di sofa cukup lama tanpa merasa lapar padahal hanya makan di sekolah setelah dihukum oleh guru Bk. Rasa khawatirnya jauh lebih mendominasi dibandingkan lapar. Bahkan saat jarum jam menunjukkan angka 11 malam, hujan tidak kunjung mereda seperti tanda-tanda kedatangan Ricky.
"Neng, sebaiknya tunggu pak Ricky di kamar aja. Biar nanti kalau datang saya yang bukain pintu," ucap orang suruhan bu Ratna untuk menemani Keisha di rumah.
"Bibi duduk aja temenin saya," sahut Keisha yang tatapannya tertuju pada jarum jam yang terus berdetak tiada henti seperti jantung Keisha. Gadis itu sampai tidur dalam posisi duduk lantaran lelah menunggu sosok yang tidak kunjung memberi kabar meski hanya beberapa kata.
Langit yang tadinya gelap, kini berganti cerah, bahkan disertai matahari yang menyapa malu-malu. Namun, selama itu pula Keisha hanya berbaring di sofa tanpa ada yang memindahkan, pertanda sang suami benar-benar tidak pulang semalaman.
Baru saja Keisha akan beranjak untuk mengambil air minum, pintu yang tidak dikunci tersebut terbuka lebar dan menampilkan sosok pria tampan dengan penampilan acak-acakan. Seakan ada yang mendorongnya, Keisha berjalan menghampiri Ricky lalu memeluknya sangat erat.
"Kenapa mas Iky tega buat aku nunggu?"
"Bu-bubu ak-ku ..., maaf," lirih Ricky membalas pelukan Keisha.