
Sudah jam 10 malam lewat beberapa menit, tapi baik Keisha maupun Ricky belum ada yang tidur.
Keisha duduk di sisi ranjang sambil memanyungkan bibirnya, sementara Ricky duduk di sofa seraya memainkan benda pipihnya.
Terjadi keheningan antara keduanya usai perdebatan siapa yang akan tidur di luar kamar.
"Pak Ricky!" panggil Keisha.
"Apa lagi? Tinggal tidurkan nggak masalah, Kei!" kesal Ricky.
"Ya tapi nggak tidur satu kamar juga! Saya nggak mau tidur sama bapak! Ntar pas tidur diunboxing tiba-tiba gimana?" tanyanya tanpa difilter.
Ricky memutar bola mata malas, meletakkan ponselnya di atas meja dan menghampiri Keisha. Memegang pundak gadis yang kini tengah mendongak menatapnya.
"Jadi itu isi pikiran kamu?" Sudut bibir Ricky tertarik. Ternyata istri kecilnya tidak sepolos yang dia kira.
Rata-rata orang yang berpikiran demikian karena pernah atau bahkan sering menonton drama genre dewasa.
Dia menunduk, mendekatkan bibirnya tepat di telinga Keisha.
"Saya nggak tertarik soalnya bodi kamu nggak seksi!" ucapnya dan berlalu pergi.
"Pak Ricky!" pekiknya tertahan.
Mengepalkan tangan sambil memandang kepergian Ricky yang entah akan kemana. Tatapan Keisha lantas tertuju pada cermin secerah masa depannya yang memenuhi lemari.
Berdiri dan meneliti tubuhnya dari atas sampai bawah. "Gue kurang seksi apa njir? Dada gue besar, pantat gue bahenol gini. Katarak kali ya mata tuh bapak tua," omelnya, tanpa sadar Ricky mendengar gerutuannya dari luar pintu.
Jarum jam terus berdetak, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Namun, Ricky tidak kunjung ke kamar Keisha.
Bohong jika Ricky tidak tergoda pada apa yang seharusnya di dapatkan. Terlebih sore tadi dia melihat dengan sempurna paha mulus dan belahan dada Keisha yang terlihat menggoda.
Sepertinya jiwa buaya Ricky benar-benar akan muncul dipermukaan jika lama-lama bersama Keisha.
"Kenapa belum tidur, Nak?" tanya Pak Wilson yang baru keluar dari ruang kerjanya, membuat Ricky yang tengah menonton tv membalik tubuhnya.
"Lagi asik nonton, Pak."
"Kei udah tidur?" Wilson duduk tepat di samping menantunya.
Sejak tadi pria paruh baya itu menunggu kedatangan menantunya sebab ingin membicarakan hal yang serius tentang Keisha.
"Udah kayaknya Pak."
"Menurut kamu Keisha gimana?"
"Nggak gimana-gimana sih. Dia cantik kayak cewek pada umumnya." Ricky selalu saja menjawab dengan seperlunya dengan tatapan fokus pada layar Tv.
Jika boleh jujur dia gerogi berada di dekat mertuanya, entah karena apa. Aura pak Wilson mengalahkan auranya.
"Dia anaknya keras kepala, suka seenaknya dan dramatis banget sama keadaan. Papah harap kamu bisa maklum dengan tingkahnya."
Ricky mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Sekarang Keisha istri kamu, dia tanggung jawab kamu. Kalau ada yang nggak kamu suka sama dia, kamu bebas negur atau beri dia pelajaran."
Kali ini Ricky menatap mertuanya, tidak menyangka pria paruh baya yang sangat menyayangi putrinya berkata demikian.
"Kenapa nggak Pak Wilson saja?"
Wilson tertawa sambil menepuk pundak Ricky secara acak.
"Karena papah nggak tega negur dia, makanya papah minta kamu nikah sama dia, Nak."
"Sudah-sudah, lebih baik kamu nyusul Keisha. Lagian udah jam 12 malam," ucap pak Wilson, mendorong punggung kekar Ricky.
"Semangat ya, papah pengen cucu."
Ricky tersenyum tipis mendengar ucapan mertuanya, meski begitu tetap memberikan jempol seakan mau melaksanakan perintah pria paruh baya itu.
Dia membuka pintu kamar secara perlahan. Lampu masih menyala tapi pemiliknya telah tidur dengan posisi miring, hingga sudut ketemu sudut.
Ricky terus bergumam, menarik kedua kaki Keisha agar tidur dengan posisi lurus. Setelahnya dia ikut tidur di samping istrinya.
"Love you kak Mahesa," guman Keisha sambil tersenyum, tapi mata gadis itu tertutup rapat.
Ricky menahan nafas ketika tangan Keisha dan kaki Keisha serempak mengunci pergerakannya.
"Gila nih cewek, tidur nggak pakai bra," batinnya. Batu-batu kecil yang berada di leher Ricky bergerak cepat, terlebih Keisha terus saja bergerak kecil hingga benda kenyal itu bergesekan dengan lengan Ricky.
"Dasar penggoda!" Mendorong tubuh Keisha cukup kasar, lalu tidur membalakangi gadis itu.
***
"Hiyyaaaaaa pak Ricky mesum!" teriak Keisha yang baru saja membuka matanya. Terkejut saat bangun berada di samping Ricky, bahkan sampai memeluknya.
Pekikan tersebut membuat Ricky terbangun, menatap datar gadis yang selalu menguji kesabarannya setiap hari.
"Gendang telinga saya hampir pecah!" omel Ricky.
"Tapi bapak mesum, kok meluk-meluk?"
"Heh yang meluk siapa, hm?" Dengan kasar Ricky menjauhkan tangan dan kaki Keisha pada tubuhnya.
Ricky turun dari ranjang, berbeda dengan Keisha yang meruntuki kebodohannya. Jelas-jelas dia yang memeluk Ricky, tapi kenapa dia yang berteriak? Sungguh konyol.
"Gila-gila, jangan sampai pak Ricky tau kalau gue mimpi diunboxing sama dia." Mengelengkan kepalanya cepat.
Kedua manusia berbeda generasi itu turun ke lantai bawah untuk sarapan setelah rapi dengan pakaian masing-masing.
Keisha dan Ricky mendapati pak Wilson menyambutnya penuh senyuman. Senyuman yang mengandung makna lain.
"Nyenyak yang tidurnya?"
"Banget, Pak," sahut Ricky.
Menyantap makanan yang ada di atas meja, berbeda dengan Keisha yang mendelik tidak suka pada suami om-omnya.
Selalu saja pria tua itu membalas kalimat-kalimat ambigu dari papahnya.
"Dahlah, Kei malas sarapan." Beranjak tanpa menyentuh apapun.
"Keisha!" tegas pak Wilson.
"Keisha berangkat dulu pah!" pekiknya sambil berlari tanpa menyalami kedua pria yang sedang berada di meja makan.
Gadis itu menyetop taksi yang kebetulan lewat di depan rumahnya, sepertinya baru saja mengantar penumpang.
Kalian harus tahu kenapa Keisha datang cepat hari ini. Itu karena Mahesa, pria itu ada jam olahraga di jam pertama.
Setelah sampai di sekolah, Keisha berlari ke lapangan. Menghampiri Mahesa yang berdiri di lapangan sambil menembakkan bola ke ring.
Mahesa adalah siswa yang sangat ambisius, apa yang sudah menjadi tujuannya akan dia perjuangkan hingga benar-benar mendapatkannya.
Seperti turnamen basket kali ini. Pria itu rela kehilangan waktu istirahat atau bermain hanya untuk melatih kemampuannya.
"Kak Mahesa!" pekik Keisha yang berdiri di sisi lapangan, melambaikan tangga sehingga berhasil mengambil atensi pria itu.
Senyuman Keisha mengembang ketika Mehesa berlari ke arahnya. Dengan sigap dia memberikan botol minum yang dia beli di kantin.
"Gue sengaja beli minum, pasti kak Mahesa haus," ucapnya.
"Thanks." Menerima botol minum tersebut. Meneguknya hingga tandas tanpa menyadari tatapan Keisha yang tengah meneliti tonjolan-tonjolan kecil yang berada di leher Mahesa.
Keisha mengerjap perlahan memandangi Mahesa yang tengah mengeringkan keringat dengan baju basket yang menempel di tubuhnya.
"Tampan banget njir masa depan gue," gumamnya.
"Ngomong apa?"
"Masa depan kita," cengirnya.