
Pesawat telah mengudara, terbang cukup jauh dari pulau Jawa ke pulau Sumatra, dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Depati Amir kepulauan Bangka Belitung. Tidak sampai 1 jam pesawat telah mendarat aman di bandara tujuan.
Aisyah yang digendong Andini, Nina mendorong stroller dimana Adhi sudah duduk manis sambil memegang botol susunya. Sedangkan Asep dan Dama menyeret beberapa koper.
"Selamat pagi pak Dama...saya Bani asisten Tuan Reza Permadi" sapa Bani pada Dama di pintu kedatangan. Bersalaman.
"Pagi pak Bani. Maaf merepotkan sudah datang menjemput kami"
"Tidak masalah pak, saya diutus Tuan Reza untuk menjemput pak Dama dan keluarga" Bani mengajak untuk berjalan.
"Terimakasih banyak. Pak Reza memang selalu mentreatment rekan bisnis dengan baik" kembali menyeret koper mengikuti Bani keluar dari bandara. Bani menawarkan untuk membantu membawakan koper yang diseret Dama, tapi Dama menolaknya. Andina, Asep dan Nina mengikuti dibelakang.
"Silahkan pak, bu" Bani membuka pintu mobil Vellfire berwarna hitam lalu memasukkan koper koper ke satu kursi paling belakang yang dilipat.
"Terimakasih" Dama mengutamakan Andini beserta anak anak dan Nina masuk terlebih dulu. Asep duduk didepan bersebelahan dengan Bani.
"Selamat datang di Bangka Belitung" ucap Bani sambil melajukan mobilnya menuju resort.
Dama, Reza dan dua orang lainnya bekerja sama dalam pembangunan resort yang terletak di pinggir pantai. Dama mengambil alih penanganan dan pengadaan restoran, sesuai dengan perusahaannya di bidang kuliner.
1 jam 6 menit perjalanan mereka dari bandara ke resort di pesisir pantai. Resort yang mengusung menyatu dengan alam itu, memiliki beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Sangat direkomendasikan untuk liburan bersama keluarga ataupun berbulan madu.
"Wah...bagus banget mas" Andini memandang ke arah resort yang sedang mereka masuki dengan menaiki buggy car, salah satu fasilitas yang disediakan.
"Iya sayang, nunggu resort ini jadi juga lumayan lama. 6 bulan sebelum kita nikah awal pembangunannya" ucap Dama yang duduk disamping Andini, memangku Adhi. Aisyah tertidur digendongan Andini.
"Pa pa...tuh tuh" celoteh Adhi menunjuk nunjuk ke arah pantai.
"Pantai? Kakak mau ke pantai? Nanti sore kita ke pantai ya?!" Adhi mengangguk senang.
"Kita istirahat dulu, nanti malam acara peresmian resort" Dama mengintruksi pada Asep dan Nina setelah mereka sampai di lobby.
"Iya pak" Asep dan Nina kompak.
Lalu mereka memasuki kamar masing masing setelah membantu Dama memasukkan koper. Untuk siang ini Aisyah dan Adhi dikamar orangtuanya, tapi malam nanti dua balita itu tidur bersama Nina, sesuai perintah Dama. Sudah bisa ditebak, apa yang direncanakan Dama. Quality time bersama istrinya, Andini.
"Capek?" tanya Dama terus menatap Andini yang sedang berbaring miring menyusui Aisyah, disebelahnya Adhi yang sedang menyusu dari botolnya sendiri.
"Lumayan mas" jawab Andini, ia mengantuk karna pagi sekali sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dan juga memastikan tidak terlambat ke bandara.
"Jangan lupa nanti dipompa ASInya" bisik Dama, ikut berbaring dibelakang Andini sambil meremas satu dada. Adhi sudah tertidur, memunggungi kedua orangtuanya.
"Maaasss..." Andini resah.
"Hemm...kenapa?" masih meremas dan kini jarinya bermain dipuncak yang menegang.
"Tadi malem kan udah mas. Ini masih pagi, kita baru aja sampe. Rasa yang semalem juga masih ada, iniku pedih mas" Andini semakin resah karena Dama terus mengecupi lehernya.
"Aku pengen cumbu kamu aja. Nanti malam aku mau ya? aku udah bawain salep yang biasanya. Habis ini pake lagi, biar nanti malem gak pedih" kini beralih masuk ke dalam gamis, meremas bokong.
"Maaasss...." Andini terus mendesah menyebut panggilan khas suaminya itu. Panggilan yang terdengar sangat seksi di telinga Dama.
"Sebenernya mas udah gak sabar" Andini merasakan sesuatu yang menegang di balik punggungnya.
"Sabar mas, nanti malam aja ya? aku janji" Dama memeluk erat Andini. "Beneran? jangan nyesel ya. Jangan nangis nanti malem" menarik dagu Andini menoleh ke arahnya, mencium bibir rakus.
*****
Sore hari sesuai janjinya, Dama membawa Adhi bermain di pinggir pantai. Andini hanya menemani sebentar lalu kembali masuk ke kamar untuk bersiap acara peresmian resort nanti malam.
"Pak Dama..." Reza menghampiri Dama yang sedang menemani Adhi bermain pasir. Reza menggandeng putranya Ashraf yang berusia sama dengan Adhi, 1 tahun.
"Pak Reza...Maaf saya belum sempat menyapa. Istri dan anak anak langsung istirahat" ucap Dama sambil membersihkan kedua tangannya dengan menepuk nepuk telapak tangan.
"Gak masalah, santai saja. Wah enak ya pak, istri juga bisa ikutan, sekalian bulan madu" duduk berdampingan diatas pasir putih, membiarkan Adhi dan Ashraf bermain bersama. Mereka berdua langsung terlihat akrab.
"Iya pak, sekalian liburan. Istri pak Reza tidak ikut?" tanya Dama. Reza menggelengkan kepalanya.
"Selamat pak atas kehamilannya lagi. Hebat ya pak Reza, sudah mau empat anak. Saya jadi merasa tertantang" keduanya tertawa.
******
Malam acara peresmian akan segera dimulai. Andini dan Dama masuk ke tempat acara bertema garden party diikuti Asep. Nina menjaga anak anak dikamarnya.
"Silahkan pak Dama ikut dengan saya" Bani mendekati Dama dan mengajaknya untuk naik ke panggung bersama dengan Reza dan dua rekan bisnis lainnya.
Andini duduk bersama Asep di roundtable khusus mereka.
Acara peresmian gunting pita telah dilaksanakan, bunyi gong pertanda peresmian resort sudah terdengar.
"Terimakasih banyak, semoga sukses dan jaya untuk kita" mendentingkan gelas wine bersamaan.
**W**ine disini yang berlabel halal. Adalah satu merk buatan Jerman, dikemas persis botol wine asli dengan tambahan logo halal. Dengan* nama lain 'grape drinks'. Wangi anggur yang khas dengan rasa semburat asam cukup kuat. Konon dibuat dari anggur tempranillo.
"Selamat mas" Andini mencium pipi kiri Dama saat suaminya itu kembali ke meja. "Terimakasih sayang, semua berkatmu" membalas kecupan di pipi. Asep memilih berbincang dengan Bani.
Semua tamu undangan termasuk pejabat terkait setempat menikmati makan malam dengan di iringi nyanyian dari artis ibu kota yang memang Reza siapkan.
"Mas, udah kan? udah malem, aku udah ngantuk. Aku kepikiran anak anak" Andini menggapit lengan suaminya.
"Udah ngantuk, kepikiran anak anak atau udah gak sabar pengen mas goyang?" bisik Dama.
"Ihh...apaan sih mas. Mesum aja terus. Udah ayok?!" Andini menarik Dama untuk keluar dari tempat acara. Sebelumnya mereka berpamitan pada Reza.
Dama merangkul istrinya sambil berjalan masuk ke area dimana kamar mereka berjejer dengan kamar Asep dan Nina.
"Kita langsung ke kamar aja. Aku udah kirim pesan ke bik Nina. Katanya anak anak udah tidur semua. Jadi kita udah aman sayang" Andini mendongak menatap Dama, memastikan apakah suaminya itu jujur atau tidak. "Aku gak boong sayang, beneran. Nih baca aja" menyodorkan ponselnya pada Andini. Mereka masih berdiri di taman kecil depan kamar Nina.
"Oke..." Andini mengembalikan ponsel Dama lalu merangkul pinggang suaminya itu kembali berjalan ke arah kamar.
"Mas, aku mandi dulu ya" menahan dada Dama, suaminya sudah menyerbu dengan ciuman di leher setelah menarik kerudung yang dipakai Andini.
"Nanti aja mandinya, sama sama" menarik turun retsleting di punggung Andini. Tangannya masuk mengusap lembut punggung putih mulus itu. Gaunnya sudah turun sampai ke pinggang. Seakan terhanyut oleh permainannya sendiri, Dama kelabakan. Rasa ingin segera menyatukan tubuhnya dengan Andini kian menyerbu.
Andini melengkungkan tubuh, berayun mendominasi permainan membuat Dama menyergap tubuh istrinya itu dengan rakus.
"Maaasss...inget! jangan didalem" Andini memberi peringatan saat keduanya merasa akan menuju puncak. Dama seolah tuli.
Andini membulatkan matanya "Mass...kok didalem? aduh...gimana nih mas? Aisyah baru empat bulan. Gak mungkin kan, sampe aku hamil lagi. Aduh...gimana ini?" Andini melepaskan tautannya lalu berlari ke kamar mandi.
"Maaf sayang, mas kelepasan. Habisnya keenakan jadi mas gak bisa kontrol" berteriak dari atas ranjang lalu menyusul Andini yang masuk ke kamar mandi.
"Ah...aku sebel sama mas. Kasian Aisyah masih kecil" gerutu Andini dibawah guyuran shower.
"Gak papa dong sayang, mas pengen punya anak banyak. Biar rumah rame. Mas juga gak mau kalah sama pak Reza. Dia mau punya anak lagi lho yang ke empat. Aku merasa tertantang" memeluk Andini dari belakang.
"Ooh...jadi karena mas pengen kaya pak Reza?" membalikkan tubuhnya. "Yaudah kita lanjutin lagi kalo gitu. Lagian udah terlanjur didalem juga" berjinjit, mencium bibir Dama.
...\=\= END \=\=...
******
Terimakasih banyak semua 🙏 Akhirnya selesai juga. Kaget gak sama kemunculan Reza Permadi, Ashraf juga Bani? Yang gak tau siapa mereka, baca judul satunya lagi "My Young Husband" season 1 & 2.
Kecup basah dari Author 😘😘😘
Andini Putri
Dama Sakti