Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Honeymoon Yang Tertunda


WARNING : BACALAH SETELAH BERBUKA PUASA


...*...


...*...


...*...


Dama mengangkat Andini, merebahkan ke atas ranjang. Ia merogoh kantongnya, membuka layar handphonenya. Menghubungi dokter yang menangani Andini dulu.


"Honey...maafkan aku" membelai pipi.


tok tok tok


suara ketukan pintu kamar. Bik Susan membawakan teh hangat setelah Dama berteriak dari atas tangga.


"Terimakasih bik"


"Bik, kalau ada dokter Handoko, langsung antar ke kamar" ucap Dama.


"Baik den" bik Susan keluar lalu menutup pintu. Menghubungi seseorang.


"Halo nak. Kabar baik, mereka baru saja bertengkar dan sekarang wanita itu pingsan. Mungkin akibat kecelakaan" suara bik Susan berbisik di telepon.


"Bagus bu. Aku akan membuatnya tidak kerasan. Sampai dia pergi melepas Dama, karena aku tau Dama tidak akan melepaskan wanita itu" suara seseorang di seberang sana.


"Iya nak, kita lanjutkan saja rencana berikutnya" bik Susan bersemangat.


"Iya bu. Kali ini harus berhasil. Agar aku bisa menguasai semua harta Dama" buru buru bik Susan mematikan telepon. Dokter Handoko datang bersama satu perawat.


Beliau datang begitu cepat, karena mengingat kondisi Andini yang pernah terluka dibagian kepala.


Bik Susan mengantarkan dr. Handoko ke kamar Andini. "Silahkan dokter" mempersilahkan masuk. Dama menoleh lalu menghampiri dokter, memeluknya.


"Maafkan aku dok. Aku terlalu emosi, dia pingsan" berurai air mata. Dokter Handoko menepuk nepuk punggung Dama. "Lebih baik aku cek kondisinya dulu" mengeluarkan stetoskop, membuka sedikit bagian dada Andini.


"Sus, pasang infusnya!" suster langsung bergerak cepat, memasang infus di tangan kanan Andini.


"Aku berikan obat langsung dari infus" ucap dokter menyuntikkan obat ke kantung infus setelah suster selesai memasangnya di tangan Andini.


"Bagaimana dok?" dokter merangkul bahu Dama, berjalan menjauh ke arah balkon.


"Pak Dama jangan terlalu keras pada Bu Andini. Luka di kepalanya sangat beresiko jika terlalu keras berpikir dan mendapatkan tekanan. Lemah lembutlah padanya" Dama mengusap wajahnya.


"Maafkan aku dok, aku tidak berhati hati dan lepas kendali" dokter menepuk bahu Dama berulang kali.


"Kuncinya sabar, beri perhatian lebih. Bawa dia liburan" memberikan saran dan Dama baru sadar selama ini sudah mengacuhkan Andini. Setelah menikah belum pernah sama sekali mengajaknya liburan, honeymoon saja tidak ada.


"Baik dok, terimakasih banyak" memeluk dokter Handoko.


*****


Aku tidur di samping Andini. Aku akan menjaganya sampai dia pulih dan kami bisa liburan. Honeymoon yang tertunda, pikiran yang terlintas di otakku.


Aku terbangun dan mendapati Andini yang sudah membuka matanya. "Honey kamu sudah sadar?" aku mengecupi wajahnya. "Maafkan aku honey, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku terlalu emosi dan cemburu. Maukah kamu memaafkanku?" Andini diam saja. Bibirnya yang kecil masih terlihat pucat.


"Honey jangan diam saja. Katakan sesuatu" aku mengusap pipinya. Ia menepis tanganku, memunggungiku.


Aku langsung memeluknya dari belakang. "Honey...aku sungguh menyesal. Aku akan belajar mengendalikan emosiku dan rasa cemburuku. Aku begitu takut kehilanganmu, aku begitu takut kau akan meninggalkanku suatu saat nanti. Aku tidak mau itu terjadi"


"Mas egois" suaranya bergetar, dia menangis.


"Maaf Andini" hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan.


"Mas gak adil" masih bergetar dan masih menangis.


"Aku tau, aku belum bisa bersikap adil padamu. Tapi rasa cintaku begitu besar untukmu Andini, istriku" membalikkan tubuhnya, menghadapku.


"Aku bisa apa mas? aku belum bisa memberikanmu anak, sedangkan mba Rania akan melahirkan dua bulan lagi. Aku akan tersisihkan. Aku begitu egois, menginginkan mas Dama hanya untukku" menangis tersedu.


"Maaf" hanya kata itu saja yang bisa aku katakan. Rasa takut kehilangan Andini begitu besar. Hatiku berkecamuk hebat.


******


Di Pulau ini, pulau seribu pura, pulau Dewata, Bali. Dama pergi bersama Andini tanpa persetujuan Rania. Dama tahu, Rania akan mencegahnya pergi honeymoon.


Dama terus menggenggam erat tangan Andini, berjalan menyusuri pantai Kuta. Pakaian senada berwarna putih, Andini yang memilihnya. Hatinya sangat senang saat Dama membawanya terbang ke pulau Bali, pulau yang sangat romantis untuk menikmati sunset dan sunrise bersama pasangan.


"Kita akan membuat adik untuk Bima di sini honey" mengeratkan pelukannya sembari menunggu sunset di pinggir pantai. Wajah Andini bersemu merah, pertama kalinya mereka berdua akan bersenggama setelah kepulangannya dari rumah sakit dua bulan yang lalu.


Langit senja berwarna jingga begitu indah, pemandangan bak lukisan itu sangat cantik. Berpelukan dengan pasangan, saling mengucapkan kata cinta dan merangkai kata kata manis untuk kekasih hati.


Aku akan menjadi senjamu, mengakhiri hari dengan indah dan manis. Dama.



Dama membawa Andini kembali ke hotel yang tidak jauh dari pantai Kuta. Kamar hotel dengan fasilitas lengkap dan luas. Untuk pertama kalinya Andini merasakan honeymoon sesungguhnya.


Kelopak mawar merah yang bertebaran di atas ranjang dengan dekorasi dua buah angsa putih, sukses membuat Andini malu malu. Membayangkan dirinya dan Dama akan berhubungan layaknya suami istri.



Andini mengusap kedua lengannya, bulu kuduknya meremang. "Kenapa honey?" mengusap lengan, seketika Andini terkejut. "Gak papa mas" Dama mendaratkan kecupan manis di pipinya.


"Kau sudah siap honey?" Andini memegang dadanya, rasanya begitu berdebar.


"Emm...aku mandi dulu mas" melepaskan pelukan Dama. Dama tersenyum, dia tahu Andini sedang mencoba mengulur waktu.


"Aku mandikan?" menarik tangan Andini, punggungnya membentur dada Dama. "Mas, aku bisa mandi sendiri" Dama melepas kerudung yang menutupi rambut hitam Andini.


"Mandi berdua bermanfaat menghilangkan stres honey, tubuh akan terasa lebih rileks," berbisik.


Tak perlu waktu lama, Dama menggendong Andini masuk ke dalam kamar mandi dengan kaca transparan tembus pandang di hadapan ranjang mereka.


"Mas...tunggu!" Andini menahan kedua tangan Dama saat akan membuka baju Andini. "Biar aku saja yang membukanya. Mas duduk" mendorong Dama duduk diatas closet yang tertutup.


Dama menggerakkan jakunnya naik turun.


Dama bangkit dan langsung mengangkat Andini duduk diatas wastafel. "Kau sudah menyiapkannya honey?" Andini sangat malu. Memang benar dia sudah memakai ******* seksi saat berangkat dari Jakarta menuju Bali.


"Kamu seksi" ujar Dama, mengecup bibir Andini.


"Aku suka." mengecup bibir Andini lagi.


"Mas..." berusaha menahan Dama tapi Dama menepisnya.


Dama menurunkan Andini, membawanya di bawah guyuran shower.


"Aku akan pelan. Bersiaplah!" Andini mengangguk.


"Mas...cepat mas, lebih cepat lagi" kini justru Andini yang memohon.


"As you wish honey,"


Andini semakin menikmati sensasinya. Menarik tangan Dama ke atas ranjang. Andini menciumi Dama. Tatapan mereka bertemu.


Dama langsung menarik Andini dan menciumnya lembut. "Kamu sangat pintar honey," Andini tersenyum.


Dama tak tahan, menggigit punggung Andini. Keringat bercucuran. Andini menikmati semua perlakuan Dama. "Honey...i love you..."I love you too..."


Bersambung...


*****


Maaf author bikin resah 😊🙏