
"Siapa mas?" tanyaku saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, Dama selesai menelpon. Sebenarnya aku hanya basa basi. Aku mendengar percakapan antara Dama dan Rania.
"Aku sedang berlibur dengan Andini, tolong mengerti posisiku"
"........."
"Sudah ada bik Nina yang menemanimu. Pak Pono yang akan mengantar cek kandungan. Untuk kali ini saja, biarkan aku bersama Andini"
"........."
"RANIA! ANDINI ISTRIKU JUGA!!!"
Percakapan mereka berdua terputus setelah Dama mematikan handphonenya lalu membantingnya ke atas ranjang.
"Bukan siapa siapa" jawabnya lalu berjalan keluar kamar.
"Kamu selalu saja tidak mau jujur denganku mas" gerutuku.
Aku memakai pakaianku dan keluar kamar menuju dapur. Membuat secangkir kopi pahit untuk Dama, green tea untukku dan french toast untuk sarapan kami berdua.
Dama duduk berjemur di pinggir kolam renang dengan kaca mata hitam yang melindunginya dari sinar matahari.
Aku menghampirinya, memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya. "Mas, sarapan dulu".
Aku ditariknya, duduk diapit kedua kakinya. Memelukku sambil kita berbaring bersama menikmati indahnya pagi di Buleleng.
"Sebentar saja seperti ini. Jarang jarang kita bisa berjemur bersama" mengeratkan pelukannya padaku.
Kami masih betah berlama lama berjemur, sampai perutku berbunyi nyaring. Kruk kruk kruk...Dama mencubit hidungku. "Laper ya? ayok kita sarapan" Dama menggendongku masuk ke ruang makan.
"Mas, kenapa harus digendong sih? aku kan jadi suka" tertawa bersama dan aku mengecup pipinya.
"Selamat makan istriku Andini" mengacak rambutku. "Mas..." aku cemberut karena rambutku yang berantakan. "Iya iya, maaf honey" merapihkan rambutku dengan jemarinya.
"Selamat makan juga suamiku mas Dama" tersenyum manis.
*****
Langkah kaki Dama dan Andini menapak perlahan di setapak kecil sawah hijau yang berpetak petak. Mereka menikmati udara sejuk di persawahan dekat Vila.
"Mas, pelan pelan" bergandengan erat. "Iya honey"
berjalan lagi sampai disebuah dangau kecil.
Duduk berdua bersebelahan sambil melihat luasnya persawahan yang telah menghijau. "Sejuknya..." merentangkan kedua tangannya, menikmati udara sejuk dan angin yang berhembus menggoyangkan tiap bulir padi yang siap dipanen. Dama langsung menyandarkan kepalanya diatas paha Andini, mengusap rambut lalu beralih ke alis tebal milik Dama.
"Mas, alismu sangat tebal. Apa kau sulam alis?" pertanyaan yang membuat Dama terkekeh. "Apa aku terlihat seperti laki laki yang hobi ke klinik kecantikan?" matanya menatap lurus pada Andini yang menunduk.
Andini menggelengkan kepalanya "Enggak" Dama mencubit hidung Andini lalu memejamkan matanya. Andini terus memandang wajah itu. Tangan kanannya mengusap usap kepala Dama sedangkan tangan kirinya menepuk (puk puk) lembut tangan Dama yang ia lipat didepan dada.
Terimakasih banyak Mas, untuk cinta dan kasih yang telah kamu berikan. Aku hanya bisa membalasnya dengan KESETIAAN. Andini.
*****
Sesampainya di Vila, Andini dikejutkan dengan kedatangan Candra dan Amanda. Pandangannya beralih ke Dama. "Mas, kenapa mereka ada disini? mas yang nyuruh mereka datang?" Dama mengangguk, mengusap lengan Andini. "Maaf, Candra menghubungiku ingin bertemu. Jadi aku menyuruhnya datang kemari". Seketika mood Andini berantakan. Ia pergi mendahului Dama masuk ke dalam Vila melewati Candra dan Amanda. Sapaan mereka hanya dibalas anggukan dan senyuman kecil.
Dama bingung, di satu sisi ia ingin bertemu dengan sahabat lamanya tapi di sisi lain, Andini tidak suka karena keberadaan Amanda.
Andini kesal melihat penampilan Amanda dengan dress mini diatas lutut dan bagian dadanya terbuka, jelas terlihat belahan dada yang menyembul menantang.
Pikir Andini, Dama menyukai penampilan wanita seperti itu. Sama halnya dengan Rania. Amanda dan Rania satu tipe dalam berpakaian.
"Udah lama bro?" memeluk Candra.
"Lumayan" jawab Candra. Amanda tersenyum manis pada Dama. Dama menjaga jarak.
"Ayok masuk?!" Dama membawa Candra dan Amanda ke ruang santai menghadap kolam renang. "Bentar, gua ambilin minum sama cemilan" Dama pergi ke dalam dapur lalu membawaya lagi ke hadapan Candra dan Amanda.
"Thanks bro" ucap Candra meraih satu botol minuman bersoda dingin, begitu juga dengan Amanda.
Ketiganya berbincang seru, Dama sampai lupa pada Andini yang sejak tadi ada didalam kamar menyendiri. Hingga suara adzan dzuhur berkumandang.
Andini marah karena Dama mengacuhkannya. Ia memilih mengambil air wudhu di kamar mandi.
"Mau sholat?" ucap Dama saat Andini baru saja selesai wudhu. Hanya anggukan kecil tanpa menatap wajah Dama. Melewatinya begitu saja.
Dama menarik tangan Andini. "Kenapa? marah?" Andini melepas cekalan tangan Dama. "Enggak mas, aku mau sholat" jawabnya lemah lembut. Dama menghela nafasnya. "Tunggu! kita jamaah" masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air wudhu. Andini menuruti perintah suaminya, menunggu.
Sembari menunggu, Andini memakai mukena dan menyiapkan sajadah untuk dirinya dan juga Dama. Tak lupa sarung.
"Keluarlah honey. Sudah waktunya makan siang. Kita makan siang bersama" ucap Dama selesai sholat dan melipat sajadah dan meletakkannya diatas sofa.
"Iya mas, tapi setelah itu aku tidur siang saja. Mas temani mereka" Dama memeluk Andini dan mengecup keningnya dalam. "Baiklah"
Andini terkejut saat melihat Candra dan Amanda sedang bermesraan di dapur. Candra memeluk Amanda sambil terus menciumi leher.
"Mas" menarik tangan Dama masuk kembali ke dalam kamar. "Kenapa?"
"Jangan marah...hem? mereka sedang kasmaran sayang. Biarkan saja. Kamu mau juga?" Andini melotot, semakin kesal dengan ucapan Dama.
"Tapi jangan disini dong mas" Dama memeluk Andini. "Biarkan saja sayang, itu bukan urusan kita" Dama melepas kerudung Andini dan mulai menciumi leher.
"Mas, aku serius! Mas begini karena melihat mereka? lalu mas pengen?" Dama menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku emang pengen cium kamu" menciumi lagi, kini beralih ke tulang selangka.
"Mas, aku lapar. Sudah waktunya makan siang" menjauhkan wajah Dama dari dadanya.
"Oke oke...aku juga lapar. Ayok kita keluar, mungkin mereka sudah selesai mesumnya" Andini mencubit perut Dama walaupun cubitan kecil karena perutnya yang sixpack tanpa lemak.
Benar saja, Candra dan Amanda sudah duduk manis di meja makan. Amanda memasak makan siang.
"Maaf...malah jadi ngrepotin gini. Harusnya gua yang nyiapin semua" ucap Dama.
"Gak masalah bro. Kebetulan Amanda jago masak" merangkul Amanda lalu mengecup pipi. Andini membuang muka.
*****
Hari telah berganti malam, Andini kembali marah pada Dama karena Candra dan Amanda menginap di Vila. Mereka akan barbeque party di pinggir kolam renang. Seolah memang sudah direncanakan, Candra dan Amanda membawa semua bahan bahan dan perlengkapan sebelum mereka sampai di Vila.
Dama membantu menyiapkan peralatan. Sedangkan Amanda dan Andini menyiapkan bahan bahan.
"Andini, kamu keliatannya masih muda. Berapa umurmu?" tanya Amanda saat sedang memarinase daging.
"25 tahun" jawabnya singkat.
"Wow, masih muda ternyata. Aku seumuran dengan suamimu dan juga Candra" Andini mengangguk anggukan kepalanya.
"Kamu beruntung mendapatkan suami yang tampan dan sexy seperti dia" Amanda menunjuk dengan dagunya. Andini melihat ke arah Dama.
Memang dia sangat tampan juga sexy dan kuat di ranjang. batin Andini.
"Kamu diam saja. Apa perkataanku salah?" menyenggol lengan Andini yang melamun, terus melihat Dama.
"Ah..enggak. Memang benar seperti itu" kembali memotong beberapa sayuran.
"Kamu tidak takut suamimu berbagi ranjang dengan wanita lain?" suara bisikan Amanda di telinga Andini, sukses membuatnya membulatkan matanya.
Mana ada istri yang mau berbagi ranjang dengan wanita lain. Posisi aku disini karena terpaksa menerima Dama bersama Rania. Justru Rania yang rela berbagi Dama denganku. batin Andini bergejolak.
"Aku tau pasti kamu tidak ingin kan?! buktinya kamu diam saja. Jaga suamimu! banyak wanita diluaran sana mengincarnya. Tampan, sexy dan banyak uang. Berhati hatilah Andini" menepuk bahu Andini setelah selesai mencuci tangan. Meninggalkan Andini yang masih diam memikirkan ucapan Amanda barusan.
"Beb..." Amanda merangkul Candra, memberikan daging, sosis dan yang sudah siap dipanggang. Di susul Andini membawa pelengkapnya.
Andini duduk menunggu di meja yang sudah mereka siapkan di pinggir kolam. Sedangkan Candra dan Dama sibuk memanggang.
Amanda datang membawa 4 gelas minuman. Memberikannya pada Andini lalu membawa 2 gelas untuk Candra dan Dama.
"Minumlah!" memberikan minuman itu.
Andini yang sedang fokus pada media sosialnya, meraih gelas lemon tea milik Amanda. Langsung menghabiskannya.
"Selamat makan semua" ucap Amanda riang. Daging dan lainnya sudah matang dan siap disantap.
Candra dan Dama bernostalgia saat dulu mereka kuliah sembari menikmati makanan diatas meja. Andini mendengarkannya dengan seksama, dia mengerti.
Jadi mereka bertiga benar benar sahabat? Dama, Candra dan Firman. Andini.
Malam semakin larut. Amanda yang mendadak merasakan kantuk diantar Candra masuk ke dalam kamar Andini dan Dama. Karena hanya ada satu kamar saja. Andini dan Amanda tidur didalam, sedangkan Dama dan Candra tidur di sofa.
"Mas..." memeluk Dama. Mereka berdua duduk di sofa. "Hemm"
"Malam ini kita gak tidur bareng" suara manja Andini sambil bermain kancing baju polo shirt yang Dama pakai.
"Bersabarlah, hanya satu malam saja. Besok pagi mereka sudah kembali ke Surabaya" mengecup kening, Andini mengangguk pasrah. "Yasudah, aku mau tidur dulu mas" mengecup bibir sekilas karena Candra sudah keluar dari kamar.
"Sleep tight honey" Dama tersenyum pada Andini hingga istrinya hilang tertutup pintu.
Candra duduk disebelah Dama, mereka belum akan tidur. Masih membicarakan banyak hal. Sedangkan Andini masuk ke dalam kamar mandi, badannya bau terkena asap saat barbeque tadi.
"Kenapa lu bro?" Dama berkeringat, kepanasan.
"Tau nih, gua kepanasan" mengusap keringat di dahi.
"Pintu udah dibuka semua bro, dingin begini juga. Gua malah butuh selimut" Candra meraih selimut diujung sofa.
Panasnya semakin membakar tubuh Dama. Ada sesuatu yang aneh ia rasakan. "Bro, sorry. Gua harus ketemu Andini" Candra menyunggingkan senyumnya.
Dama masuk ke dalam kamar, melihat selimut yang menutupi. Rasa panasnya semakin tak karuan. Dama membuka baju dan celananya, tertinggal underware hitam yang melekat.
Dama mendekati ranjang, mengusap kaki mulus dari balik selimut. Lalu beralih ke atas dan membuka selimut itu. Dama terkejut, bukan Andini yang disentuhnya tapi Amanda. Beruntung Amanda tidak bereaksi karna tidur terlelap seperti pingsan.
Buru buru Dama mengusap wajahnya kasar, melihat dada Amanda yang menyembul setengah. Suara gemricik air dari dalam kamar mandi terdengar. Sudah pasti itu Andini. Dama langsung masuk ke dalam. Melepaskan celana yang tersisa.
Bersambung....