
Tim Audit masuk ke ruangan Dama. Kemal kebetulan ada di dalam. "Mal, bisa lo keluar sebentar?" Kemal bingung kenapa akhir akhir ini dia tidak dilibatkan. "Mal..." seru Dama lagi.
"Eh...iya pak" Kemal berjalan cepat keluar ruangan Dama. Ia mencuri dengar dari balik pintu yang ia tidak tutup rapat.
"Gimana hasilnya?" Dama mempersilahkan mereka duduk dengan gerakan tangannya.
"Ini laporannya pak" menyerahkan beberapa lembar laporan pada Dama. Dama membacanya satu persatu. Rahangnya mengeras.
"Asisten bapak menggelapkan dana perusahaan bersama dengan manager keuangan" ucap Weli, salah satu tim Audit.
"Mereka melakukan ini sudah satu tahun dan ada aliran dana rutin ke rekening sekretaris bapak, Rania" Weli menambahkan ucapannya. Dama bukan lagi ditipu tapi sekaligus dicurangi.
Tatapan matanya tak sengaja melihat dari pantulan lemari kaca. Tubuh Kemal terlihat sedikit dari sana. Dama memberi kode dengan jarinya 🤫.
Weli, Dito dan Herman membicarakan hal lain. Dama menanggapi tapi jarinya terus mengetik pesan pada Aryo untuk menghubungi temannya yang bertugas di Jakarta untuk segera datang ke kantornya.
"Kirimkan semua laporan ini ke email ini" bisik Dama pada Weli yang duduk disampingnya, mengetuk kertas berisi alamat email rekan Aryo, agar mereka segera mengeluarkan surat penangkapan Kemal, Rania sekaligus manager keuangan.
Weli langsung mengirimkan semua bukti ke email yang tercatat di kertas yang Dama berikan. "Sudah pak" Dama mengangguk lalu berdehem. Kemal gugup, langsung menuju meja kerjanya.
Mba Nita, kita ketauan. Gua gak mau dipenjara! gua mau kabur. Pesan Kemal pada Anita, manager keuangan.
Kemal buru buru memesan tiket ke luar negri untuk siang ini juga. Ia masa bodo dengan Rania. Kemal akan melarikan diri tanpa memberitahu istri sirih Bosnya itu.
Tim Audit keluar dari ruangan, menyapa Kemal dan berlalu seperti tidak terjadi apa apa.
Apa pak Dama gak nglaporin gua ke polisi? mereka keliatan biasa biasa aja. Gumam Kemal.
"Ah...bomat. Gue mau kabur aja" Kemal memasukkan beberapa barang penting ke tasnya.
tok tok tok
Kemal masuk ke ruangan Dama. "Maaf mengganggu pak" Dama sedang memeriksa beberapa berkas yang belum sempat ia sentuh. Melepaskan kacamatanya.
"Kenapa Mal?" nada suaranya ia buat setenang mungkin seperti biasanya.
"Saya mau ijin pak. Saya gak enak badan, meriang pak" memasang wajah lesu, memijat bahunya bergantian.
Mau kabur lo? batin Dama.
"Oke...pulang, istirahat dulu aja Mal. Gak usah ngantor dulu kalo emang masih gak fit" Dama bangkit dari duduknya, menepuk nepuk bahu Kemal dan sedikit memijatnya.
"Terimakasih pak"
"Hemm"
Kemal keluar dari ruangan Dama dengan seringai liciknya. Langsung menyambar tasnya diatas meja, buru buru masuk ke dalam lift. Dia akan ke kosnya dulu, membereskan beberapa pakaian.
"Yo, sekarang!" Dama menghubungi Aryo untuk segera memberi info pada rekannya di Jakarta.
"Oke, siap Bos" Dama menutup teleponnya dan lanjut menelpon security dibawah.
"Halo Pak, liat Kemal?" tanya Dama memastikan Kemal masih dibawah.
"Baru aja keluar pak, naik motor besarnya. Gimana pak?" tanya security.
"Sial! cepet banget kaburnya" Dama mengumpat. Ia lupa masih terhubung dengan securitynya itu.
"Maaf pak" ucapnya.
"Bapak ke lantai 3, tunggu disana. Jangan sampai Anita keluar dari kantor!" ucapnya tegas. Tanpa mendengar jawaban, Dama langsung menutupnya dan menelpon Aryo.
"Satu tim ke kantor gua, satu tim lain ke kosan, dua polisi ikut gua ke apartemen. Alamat gua kirim sekarang. Gerak cepat Yo!" Dama mengetikkan alamat kos Kemal cepat, sambil berjalan keluar ruangan menuju lift turun ke lantai 3 dimana Anita sudah diamankan security.
Hanya berselang 30 menit saja, kondisi kantor ramai dengan penangkapan Anita. Semua membicarakan gosip yang terus bergulir. Tiga nama menduduki posisi top chart pergibahan. Kemal, Anita dan Rania yang mereka tahu sedang cuti beberapa bulan karena sakit.
"Bu Anita juga tuh. Pantes aja barang barangnya branded semua. Mana sering traveling keluar negri. Taunya ngembat duit perusahaan. Parah" rekannya yang lain menimpali.
"Bener...bener...parah banget" yang terakhir berkomentar sambil mengunyah cemilan keripik.
"Anjrit...ngemil bae lu. Lagi heboh gini, ngunyah aja kerjaan lu" menggetok kepala rekannya yang terus menikmati cemilan tanpa terusik.
"Sakit goblok!" mengusap kepala.
*****
Tim polisi lainnya sedang menuju kosan Kemal. Mereka sudah menghubungi beberapa intel untuk berjaga disana terlebih dulu.
Suara sirine mobil polisi berbunyi nyaring. Kemal yang mendengarnya buru buru menutup koper, mondar mandir, bingung harus kabur kemana lagi. Pintu ia kunci, mengintip dari balik gorden jendela yang ia tutup dari tadi.
"Brengsek! mati gua! mati!" mengumpat.
Keadaan lingkungan kos kosan yang sepi karna siang hari memudahkan polisi untuk segera menangkap Kemal.
"Siang mas, kamar saudara Kemal yang mana?" tanya satu polisi pada penjaga kos yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada apa ya pak?" tanyanya.
"Saudara Kemal terbukti menggelapkan dana perusahaan" jawab polisi itu.
"Ooo Korupsi...yang itu pak kamarnya" menunjuk ke arah pintu coklat nomor tiga dari kanan.
Suara ketukan beberapa kali tidak mendapat sambutan baik. "Saudara Kemal, kami tau anda ada di dalam. Lebih baik keluar sekarang juga tanpa perlawanan. Atau kalau tidak, kami akan dobrak pintunya dan timah panas bisa bisa bersarang di kaki anda!" mengancam.
Kemal didalam kamar bingung dan tidak punya pilihan lain selain menyerahkan diri. Ia tidak ingin merasakan peluru melesak ke dalam kulitnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya meringis ngeri.
Kunci pintu terdengar diputar. Kemal menyerah, membuka pintu dan mengangkat kedua tangannya ke udara. Tamat sudah riwayatnya. Nasib buruk karena ulah dirinya sendiri.
Kemal diborgol dan dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Sirine polisi berbunyi kembali hingga tak terdengar lagi dan kerumunan yang sempat terjadi didepan gang, kini sudah terurai.
Di tempat lain. Dama beserta dua orang polisi datang ke apartemen untuk membawa Rania.
Rania yang sedang duduk manis menonton televisi, terkejut dengan kedatangan Dama dan juga dua orang polisi.
"Sayang...ada apa ini? kenapa ada polisi? kamu kenapa?" Rania masih tidak tahu untuk alasan apa polisi datang ke apartemen.
"Anda saudari Rania?" tanyanya jelas.
"Iya...saya Rania. Ada apa ya pak? saya gak ngerti" Rania menarik tangan Dama, Dama menepisnya.
"Anda terbukti ikut telibat dalam penggelapan dana perusahaan PT. Pangan Sakti Perkasa" polisi itu mengatakannya dengan lantang. Rania limbung dan akan terjatuh, Dama menangkapnya.
"Sayang...kamu percaya aku kan? aku gak ada sangkut pautnya sama masalah ini. Kamu tau sendiri, aku udah lama off dari hamil besar Adhi. Kamu percaya aku kan?! Sayang...jawab!" Dama tetap menutup rapat mulutnya.
"Silahkan ikut kami saudari Rania" Rania tetap diam dan terus memegang erat lengan Dama. Ia tidak mau.
"Sayang...jangan diem aja! Tolong aku! aku istri kamu. Gimana sama Adhi? kasian dia sayang" Dama tersenyum kecut, bayi tak bersalah itu disebut Rania berulang kali hanya untuk alasan agar hatinya luluh.
"Adhi denganku. Hadapi apa yang sudah kamu lakukan" Dama menganggukkan kepalanya tanda setuju jika Rania dibawa oleh kedua polisi itu. Rania meronta dan terus berteriak tidak mau dipenjara.
"Aku gak salah! Lepasin! Lepasinnnn...." Rania berteriak, membuat gaduh sepanjang ia dibawa sampai ke mobil polisi di lobby lantai dasar.
Bersambung...
*****
Jangan lupa like, komen sama giftnya buat Author makin semangat nulisnya 😊 kalau punya vote juga boleh banget kok, tapi sifatnya tidak memaksa 😊
Terimakasih buat semua dukungannya 🙏