
Buru buru Dama mengusap wajahnya kasar, melihat dada Amanda yang menyembul setengah. Suara gemricik air dari dalam kamar mandi terdengar. Sudah pasti itu Andini. Dama langsung masuk ke dalam. Melepaskan celana yang tersisa.
"Mas...Aahh" Dama langsung memeluk Andini dari belakang dibawah guyuran shower, menyesap leher dan meremas dua dada Andini.
"Kamu cepat sekali basah honey" bisik Dama saat tangannya menjalar ke bagian tubuh bawah Andini.
"Emmmphh..." mencium rakus bibir Andini. Dama mengarahkan kedua tangan Andini menyandar ke tembok kamar mandi.
"Tubuhku sangat panas honey...aku ingin bercinta denganmu. Argh..." tanpa aba aba, Dama melesakkan miliknya.
Suara desahan menggema di dalam kamar mandi hingga sampai terdengar dari kamar tidur dimana ada Amanda yang tertidur pulas.
"Cewek GOBLOK!!" Candra kesal saat melihat Amanda justru yang tertidur pulas. Sedangkan ia mendengar sahabatnya Dama dan Andini sedang bercinta di dalam kamar mandi.
Rencana Candra dan Amanda gagal karena justru Amanda yang meminum minuman yang sudah diberi obat tidur. Seharusnya minuman itu untuk Andini, agar Dama yang sudah meminum obat perangsang melampiaskan nafsunya pada Amanda. Semua gagal karena kecerobohan Amanda.
"Halo sayang...rencana kita gagal. Amanda yang meminumnya. Mereka berdua lagi *** *** dikamar mandi" ucap Candra menghubungi seseorang.
"Brengsek!! kau tidak becus" suara dari sebrang sana memaki Candra.
"Berikan aku uang. Uangku sudah habis" tidak menanggapi makian, justru Candra menginginkan uang.
"Uang uang dan uang yang kau pikirkan. Kerjamu saja tidak becus. Tidak ada uang!" menutup sambungan sepihak.
"Sial!!" Candra kesal, apalagi melihat Amanda yang terkapar. Semakin kesal.
*****
Pagi menjelang, kumandang adzan subuh terdengar. Andini membangunkan Dama. Selepas bercinta semalam, mereka memilih tidur bersama di atas sofabed yang tidak jauh dari ranjang dimana Amanda tidur disana.
"Mas, bangun. Sudah subuh" menggoyangkan tubuh Dama.
"Hemm" Dama memeluk Andini erat.
"Mas, sudah adzan. Ayok sholat dulu" suara Andini didepan dada Dama.
"Iya honey...sebentar lagi" Dama mulai membuka matanya, menciumi pucuk kepala Andini yang tidak mengenakan kerudung.
Dama dan Andini selesai sholat berjamaah.
"Mas, Amanda seperti orang pingsan. Dia tidak bangun dan tidak bergerak berpindah posisi. Apa itu wajar?" Andini menaruh curiga. "Dan juga, semalam mas bilang kalau kepanasan ingin bercinta. Apa semua masuk akal mas? apa dia memasukkan sesuatu ke minuman mas Dama dan aku? tapi justru dia yang meminumnya?" ucapnya panjang lebar.
Dama berpikir dan juga merasakan hal yang janggal. "Sebaiknya kita berhati hati saja. Pagi ini mereka akan pergi" Andini menganggukan kepalanya. "Tapi mas...mungkin Candra tidak tau soal ini. Dia kan sahabatmu, mana mungkin ikut andil" memegang lengan Dama.
"Candra tidak mungkin ikut andil honey. Aku tau bagaimana dia. Dia berbeda dengan Firman" Andini merasa tidak sependapat dengan Dama. Firman orang yang baik dan berkepribadian hangat tapi soal dia merebut Anisa dari Dama dulu memang tidak dibenarkan. Tapi semua sudah masa lalu dan Firman sudah menerima karmanya. Ia ditinggalkan Anisa dan hidup menduda bersama putrinya Mentari.
Andini memilih diam. Ia takut jika membela Firman justru akan menambah masalah baru.
"Mas, kita jalan pagi saja?" selesai melipat mukena dan meletakkan perlengkapan sholat ke atas nakas.
"Oke" mengulurkan tangannya.
*****
Andini dan Dama keluar kamar setelah bersiap. Candra masih tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya, kedinginan. Tujuan mereka berjalan santai ke salah satu desa Lemukih Buleleng. Ke air terjun yang sangat terkenal, air terjun Fiji.
Udara dingin dan sejuk langsung terasa. Semilir angin pagi dan juga embun yang masih ada di setiap dedaunan yang basah.
"Mas, cantik banget air terjunnya" mata Andini berbinar bahagia melihat indahnya air terjun dihadapannya. "Secantik kamu" menggenggam erat jemari. "Gombal" memukul lengan kiri Dama.
"Aku jujur. Cantikmu luar dalam honey" memeluk Andini.
"Sudah mas, sudah semakin ramai. Jangan berpelukan dan jangan gombal terus. Nanti aku terbang" melepas pelukan.
"Aku sudah mengikatmu di disini, jadi gak akan terbang" meringis, menunjuk dadanya.
"Iya iya aku percaya mas"
Di lain tempat, tepatnya di Vila. Candra memarahi Amanda habis habisan setelah terbangun oleh siraman air dari gelas yang Candra siramkan ke wajah Amanda.
"Lu bego banget jadi cewek! malah lu yang minum tu obat tidur. Kaya gini kita gak dapet duit" Candra memaki Amanda.
"Sorry can. Gua gak tau kalo yang gua minum udah dicampur obat tidur" Amanda memasang wajah sendu.
Candra dan Amanda keluar dari Vila. Karna sesuai ucapannya pada Dama, ia akan kembali ke Surabaya.
Nyatanya semua hanya tipuan dan sandiwara belaka. Candra tidak tinggal dan bekerja di Surabaya, dia tinggal di Jakarta tanpa memiliki pekerjaan. Ia menggantungkan hidupnya pada seorang wanita yang sangat ia cintai. Hubungan layaknya suami istri selama 2 tahun.
Candra mengirimkan pesan pada Dama. Berpamitan. Dama membalasnya dan meminta maaf karna tidak bisa mengantarkan ke bandara.
Sorry bro, Gua gak bisa anter lu ke bandara. Lain kali kalo gua ke Surabaya, gua mampir ke tempat lu. Ati ati di jalan bro. Dama Sakti.
Gak masalah bro. Semua bisa diatur. Kabarin gua aja nanti. Thanks a lot. Candra Gumilang.
Dama kembali mengajak Andini untuk sarapan di sebuah resto halal food yang tidak jauh dari desa Lemukih. Resto yang terdapat di pinggiran sawah dengan saung saung kecil.
Menu andalan dari pulau Dewata, nasi jinggo dan sate lilit. Nasi jinggo sendiri dikenal juga dengan istilah nasi jenggo, sajian ini merupakan nasi yang dibalut dengan daun pisang. Konon makanan ini baru muncul ketika krisis moneter pada 1997.
Pada saat itu hidangan nasi ini dijual dengan harga Rp 1.500. Nominal 1.500 dalam bahasa Hokkien disebut jeng go.
Sedangkan sate lilit adalah daging yang diolah menjadi sate, dilekatkan hingga menempel pada tusukan satenya yang terbuat dari tangkai bambu atau batang serai.
Bahan daging satenya sendiri merupakan daging cincang berbumbu khas. Jenis daging untuk sate lilit khas Bali sendiri menggunakan daging hewan mulai dari ayam, sapi, babi, dan ikan tenggiri.
Sate lilit mudah dijumpai di Bali karena hampir semua warung makan menyediakan menu ini.
Sumber : kompas.com
"Enak?" tanya Dama pada Andini sambil menyeka sisa sambal di ujung bibir dengan tisu.
"Enak mas. Aku baru pertama kali memakan ini" meringis, tanpa rasa malu berkata jujur. Memang adanya jika Andini tidak pernah berkunjung ke Bali dan menikmati makanan khas daerah itu. Waktunya ia habiskan dengan kuliah dan kerja part time di coffee shop milik Soni teman SMAnya.
"Makanlah yang banyak. Setelah ini kita ke Vila dan aku akan mengajakmu berkeliling lagi. Ada desa yang sangat indah. Kamu pasti suka" mencubit gemas pipi Andini yang terisi penuh makanan.
"Oke..siap mas"
"Jangan banyak bicara, nanti tersedak" Andini mengangguk anggukan kepalanya berulang. Lalu menerima air minum yang diberikan Dama.
******
Desa Penglipuran. Dimana tempat mereka berada saat ini. Merupakan salah satu desa adat yang ada di Pulau Dewata dan masih sangat kental hubungan kekeluargaan antar warganya. Kerukunan dan kebersamaan antar umat sedharma dan lintas agama sungguh terasa di desa ini.
"Benar benar cantik mas. Asri sekali" terus memotret dengan ponselnya.
"Hati hati, ramai banyak orang" merengkuh pinggang Andini yang terhuyung karena tersenggol wisatawan lain yang datang berkunjung. "Maaf mba" ucap wanita yang tidak sengaja menyenggol Andini. "Iya mba, gak papa kok" jawab Andini.
Desa yang berada di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali tersebut bahkan pernah dianugerahi penghargaan kalpataru, sebuah penghargaan bagi kelompok atau perorangan atas jasa yang telah diabdikan dalam melestarikan lingkungan hidup.
Semula, Desa Penglipuran hanya ingin mempertahankan kebudayaan leluhur yang masih diwarisi oleh orangtua, tapi dengan hadirnya mahasiswa dari salah satu universitas di Bali yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), taman-taman kecil yang ditata dengan indah membuat desa semakin indah. Barulah pada 1993 silam bupati mengeluarkan surat keputusan untuk menetapkan desa adat menjadi desa wisata.
Sumber : google.com
"Kau lelah?"
"Iya mas, aku capek. Kakiku pegal" Andini memegang betisnya dan memijatnya.
"Yasudah, kita kembali ke Vila" Dama menggendong Andini didepan banyak wisatawan lain. Semua menatapnya dengan tatapan terpukau.
"Oh so sweet, aku jadi iri"
"Gentleman sekali dia. Istrinya pasti sangat bahagia"
"Masya Allah gantengnya sai"
"Mau dong digendong juga, hahaha" suara kelakar anak anak muda.
Andini malu mendengar ucapan ucapan yang terdengar ditelinganya. Menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Dama. Dama tau dan hanya tersenyum, menikmati sanjungan yang terus dilontarkan.
Bersambung....