Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Happy Ending


Andini berjalan memasuki gedung bersama Dama yang menggendong Adhi. Usia Adhi genap 9 bln, badannya masih sama montoknya. Andini menggandeng tangan suaminya, beban berat di perutnya yang semakin membesar membuatnya susah payah untuk berjalan. Flat shoes menghiasi kaki yang dulunya mungil kini berubah sedikit berisi.


"Mas, aku haus" Dama mengantarkan istrinya untuk duduk di kursi roundtable yang disediakan.


"Sebentar ya, aku ambil minum dulu" Dama masih menggendong Adhi pergi mengambil minum.


"Neng Andini..." sapa Asep.


"Asep? ibu..." mencium punggung tangan ibu Asep.


"Neng lagi hamil besar? selamat atuh. Sehat sehat ya neng" ucap ibu Asep sambil mengusap lembut lengan Andini.


"Iya ibu, sudah 7 bulan. Amin, terimakasih untuk doanya. Doa yang sama untuk ibu dan Asep. Asep kapan nyusul?" Asep, pemuda desa itu masih malu malu untuk mendekati wanita. Senyuman khasnya selalu ia tampilkan.


"Doakan saja neng, secepatnya"


"Amin"


"Sayang, ini minumnya" Dama memberikan satu gelas air minum untuk istrinya. "Makasih mas...eh mas, ini ibu Asep. Kalo Asep udah kenal kan mas" Dama mengangguk, bersalaman dengan Ibu Asep dan juga Asep.


Perbincangan mereka terhenti saat Firman dan Indah mendekat. "Kok manten yang datengin kita sih. Harusnya kita yang ke pelaminan" ucap Andini masih duduk di kursinya.


"Aa bilang kaki teh Andin bengkak. Jadi kita yang kesini aja. Kasian teteh. Kalau capek, jangan dipaksain" Indah merasa iba melihat keadaan Andini yang hamil besar dan kakinya membengkak.


"Hehehe....iya sih. Kakiku memang bengkak. Tapi demi kalian aku datang" meringis. Andini selalu mengingat cerita Firman, bagaimana akhirnya dia dekat dengan Indah. Perkara nomor Indah yang tersimpan di ponsel Firman saat dulu Andini meminjam nomor itu untuk menghubungi Firman. Berawal dari iseng melihat foto profil Indah, Firman berbasa basi dan berujung pada pernikahan mereka sekarang.


"Terimakasih teh Andin" memeluk Andini.


"Aku gak bisa lama ya, ibu hamil pengennya rebahan terus. Pinggangku sakit kalo kelamaan duduk gini" memegang pinggangnya.


"Iya, istirahat aja dulu. Nanti dari Wedding Organizer yang nganterin ke kamar" Firman menyiapkan kamar untuk Andini dan juga Dama.


"Oke, makasih ya mas. Top banget memang, perhatian sama ibu hamil. Selamat menempuh hidup baru. Mas Firman pinter cari istri, perawan ting ting" mereka semua tertawa mendengar candaan Andini. Dama mencubit pipi istrinya gemas.


*****


Adhi sudah terlelap di tengah ranjang antara Dama dan Andini. Kaki Andini semakin bengkak, Dama membantu memijat lembut dengan mengolesi minyak urut yang hangat.


"Mas, pelan pelan. Diusap aja" menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Iya, aku pelan pelan" mengusap lembut dan kembali membalurkan minyak.


"Maaf sayang, udah bikin kamu susah gini. Dari awal ketauan hamil sampai sekarang, banyak banget yang udah kamu rasain demi anak kita. Makasih sayang" merangkul sambil mengusap lengan Andini.


"Kenapa minta maaf sih mas? aku gak apa apa kok. Aku seneng" membalas rangkulan Dama.


"Mumpung Adhi udah tidur, aku pengen nengokin putriku, boleh?" menarik dagu Andini.


"Ih...mas tuh minta imbalan karna udah mijitin aku? dasar modus" mencibir. Tanpa jawaban dari istrinya itu, Dama meraup bibir Andini rakus. Mengangkatnya ke sofa tanpa melepaskan pagutan.


Kecupan mendarat acak ke bagian leher, tulang selangka dan dada. Kancing daster istrinya itu sudah terbuka satu persatu. Meremas dan mengulum ujung kemerahan yang semakin membesar. "Emm...manis sayang" bisa bisanya Dama berkomentar seperti itu saat Andini sudah melayang karena hisapan dan sapuan lidahnya.


Rasa yang selalu membuncah dan nikmat itu tidak bosannya untuk direguk bersama. Tangan yang sudah bergerilya dan sesapan kemerahan di setiap inci tubuh Andini yang kian hari semakin padat berisi karena kehamilannya yang sudah genap tujuh bulan. Andini kembali mengerang. Ayunan tubuh suaminya sudah ia rasakan semakin cepat dan belingsatan. Sampai akhirnya mereka merasakan puncaknya bersamaan.


"Aw...mas. Sakittt..." memegang perutnya yang menegang, nyeri. Dama buru buru membersihkan sisa percintaan mereka barusan lalu memakai kembali kaos dan celana trainingnya.


"Sakit? kok bisa sakit?! aduh...gimana ini? sakit banget?" Dama bingung harus berbuat apa. Kata dokter berhubungan suami istri disaat hamil tua tidak masalah.


"Aw...mas sakiiiittt" Andini merintih kesakitan. Mendengar suara berisik, Adhi terbangun dan menangis. Menambah keruwetan malam itu.


"Sebentar...sebentar sayang. Tahan dulu! Aku gendong Adhi" Dama meraih Adhi, menggendongnya.


"Maasss...." Andini merasakan air merembes di sela sela pahanya. Dama syok, panik.


"Aduh, gimana ini? aku minta bantuan dulu sayang. Tunggu sebentar" Dama keluar kamar sambil menggendong Adhi. Mau tidak mau Dama terpaksa mengganggu penganten baru yang sudah pasti sedang sibuk melakukan malam pertama.


Dama berlari ke lorong, ke arah kamar Firman dan Indah. Mengetuknya berkali kali, sampai Firman membuka pintu hanya memakai bathrobe. Dugaan Dama tidak meleset. Firman sedang menikmati belah durennya bersama Indah istrinya.


"Brengsek! ganggu aja lo" memasang wajah kesal karena terganggu. Baru sekali membobol gawang istrinya yang sempit, sudah harus ia tunda.


"Kenapa Aa?" Indah muncul di balik tubuh Firman memakai bathrobenya juga.


"Andini mau melahirkan. Maaf yang, kita lanjutin nanti lagi gak papa?" Indah mengangguk. "Gak papa, kita harus segera ke rumah sakit. Kasian teh Andin"


"Oke, pake bajunya dulu" tanpa menutup pintu, Firman dan Indah masuk ke dalam kamar mandi. Dama sudah berlarian masuk ke dalam kamarnya.


Andini masih meringis kesakitan, mengusap usap perutnya. "Mas, aku gak kuat lagi. Aku gak bisa jalan" Dama mendekati Andini, Adhi masih digendongannya. Tangan Adhi mengusap wajah Andini, seolah balita gembul itu mengerti kesakitan yang dirasakan ibu angkatnya. "Iya sayang, sebentar ya. Firman sama istrinya mau kesini, bantuin kita" Andini tidak enak hati sudah mengganggu penganten baru tapi rasa sakitnya terus datang dan semakin menjadi.


"Teh Andin..." Indah masuk. "Atur nafasnya, tenang, rileks. Kita ke rumah sakit sekarang ya? jangan cemas, jangan panik. Rileks. Oke?!" Andini mengangguk, mengikuti arahan Indah yang seorang perawat. Firman menggendong Adhi sedangkan Dama menggendong istrinya. Mereka pergi ke basement dan langsung menuju rumah sakit terdekat.


"Masss..." Andini menggenggam erat tangan Dama. "Iya sayang...sabar ya. Sebentar lagi kita sampai" menyeka peluh di dahi.


"Masss...Mas sayang kan sama aku?" Andini mulai melantur, matanya sayu. "Iya...aku sayang juga cinta kamu. Banget" mengecup kening berkali kali.


"Makasih mas..."


"Iya iya"


Mertua dan Besan datang menyusul ke rumah sakit setelah Dama memberitahu Andini akan melahirkan.


"Mas, kan baru 7 bulan. Beneran mau lahiran? mungkin kontraksi palsu mas" ibunya Sindi masih tidak percaya kalau menantunya akan segera melahirkan.


"Bun, beneran. Andini mau lahiran. Ketubannya udah pecah. Ini kita udah di lobby rumah sakit. Bunda udah dimana?" tanya Dama dari sambungan teleponnya dengan Sindi.


"Yaudah, tenang mas. Jangan panik. Bunda sama Ayah udah hampir sampai juga. Agak macet" jawab Sindi yang sebenarnya juga merasakan kepanikan. Tangannya dari tadi meremas ujung baju suaminya yang sibuk menyetir.


Dama kembali menggendong Andini ke ruang bersalin. Dokter dan suster sudah siap menanti mereka. Dokter anak dan anestesi sedang turun dari lantai 3. Andini harus segera di oprasi karena air ketuban sudah hampir habis. Sangat beresiko.


"Mas, aku takut" Andini menggenggam erat tangan suaminya. Pakaiannya sudah diganti dengan pakaian khas oprasi berwarna hijau, begitu juga dengan Dama.


"Aku temani, jangan takut. Sebentar lagi kita ketemu sama Ais. Yang kuat sayang, demi putri kita" Dama menguatkan Andini, meskipun hatinya juga cemas.


Oprasi berlangsung selama 30 menit dan bayi cantik itu telah lahir dengan suara lengkingan keras. Dama dan Andini menangis haru. Dama terus mengecupi kening Andini, mengucapkan kata cinta dan rasa terimakasihnya.


Dama mengadzani dan mengiqomat putrinya. Mata yang tidak terlalu bulat seperti mata Andini, cantiknya mewarisi dari ibunya tapi rambut, bibir dan hidungnya seperti Dama.


"Aisyahzaara Sakti...wanita cantik bagaikan bunga. Cantik sepertimu sayang" mengecup bibir Andini sambil menggendong Adhi. Aisyah berada didekapan Andini. Tanpa sungkan di kamar inap itu ada orangtua, mertua juga Firman dan Indah.


TAMAT


*****


Terimakasih untuk dukungannya selama ini. Maaf karena judul ini babnya gak panjang dan hanya 1 season. Untuk judul selanjutnya akan seperti ini juga, biar gak jenuh ya sai 😁😁😁


Semoga happy ending ini bisa diterima kalian pembacaku tersayang 😊


Jangan sedih, author udah siapin judul baru yang gak kalah serunya. Bukan tentang perjodohan, CEO ataupun poligami. Real pasangan yang sama2 jatuh cinta. Kenalan dulu yuk sama visualnya...


Judul : ATIQAH


Genre : Romantis


Atiqah



Ardi Danurdara



Fajar Adhiwilaga