Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Menjalankan Rencana & Mengumpulkan Bukti


"Brengsek! Bajingan! Anjing!" Dama bangkit dari duduknya, menendang meja kerjanya. Kedua tangannya bersandar di meja, menunduk lalu menatap jendela kaca dengan pemandangan ibukota Jakarta. Matanya merah.


Ternyata laki laki itu lo, Candra!! Bangsat!!. Dama semakin mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ingin sekali menemui Candra dan meninjunya.


"Kenapa gak nelfon gua?" tanya Dama pada Firman, sedikit kecewa.


"Dia takut lo gak bakal percaya" jawab Firman sejujurnya. Dama diam memikirkan ucapan Firman.


"Gua pinjam handphone lo" Dama meminjam ponsel Firman untuk menghubungi Andini.


"Halo Assalammualaikum mas Firman" suara Andini di seberang sana.


"Walaikumsalam. Honey...." Dama rindu.


"Maass...." Andini sudah jelas ia terkejut mendengar suara Dama.


"Honey...maafin aku. I miss you" Dama menjauh dari Firman. Firman sedikit geli mendengar pembicaraan dua sejoli yang sedang dimabuk rindu.


"Aku juga mas" Andini sungkan membalas ucapan Dama, karena dia sedang duduk berhadapan dengan Asep, pak RT juga ada Indah.


"Besok, Firman akan menjemputmu. Untuk sementara tinggalah dirumahnya, demi keamananmu. Tunggu aku membereskan semua. Kamu mau kan?!" Dama tidak ada pilihan lain selain menyembunyikan Andini di rumah Firman.


"I-iya mas" Andini hanya bisa patuh dengan ucapan suaminya, Dama.


"Hati hati disana! Jangan keluar dari rumah itu sebelum Firman datang. Mengerti?!" Dama benar benar cemas dan ingin segera bertemu Andini, memeluknya.


"Iya mas, aku gak akan keluar sampai mas Firman datang. Mas Dama juga hati hati, jangan percayai siapapun termasuk Kemal" Andini juga merasa curiga dengan asisten suaminya.


"Kemal?? oke oke...aku mendengarkan semua ucapanmu. Aku akan berhati hati. Sesampainya nanti di Jakarta, aku akan menemuimu. I miss you so much" Firman lagi lagi berdecak mendengar ucapan Dama barusan.


"Iya iya mas...aku juga. Assalammualaikum" Andini menyudahi telpon dari Dama. "Walaikumsalam"


Dama berjalan mendekati Firman, mengembalikan ponsel ke atas meja. "Thanks" Firman mengangguk, mengambil ponselnya, memasukkan dalam saku.


"Kalo gitu, gua cabut dulu. Ada kelas" Firman bangkit. "Thanks alot, Man. Gua titip Andini. Jangam macem macem lo sama bini gua!" Firman mengedikkan bahunya, tersenyum kecut.


Setelah Firman pergi dari perusahaan, Dama ingin memastikan kalau Susan dan Pono memang berbohong.


"Halo bik...hari ini Andini berangkat ke kampus?" tanya Dama saat Susan mengangkat telponnya sampai dering ketiga.


"Iya den. Mba Andini tadi pagi pagi banget udah berangkat dianter pak Pono" jawab Susan, ia pikir sandiwaranya sukses mengelabui Dama. Nyatanya Dama sedang mengujinya.


"Ohh...oke. Makasih bik" Dama langsung mematikan sambungannya, menggenggam erat ponselnya.


Sialan!! mereka semua benar benar sekongkol membodohiku selama ini. Dama mengacak acak rambutnya.


*****


Andini duduk dihadapan pak RT, Asep juga Indah. Andini sedang menyampaikan soal ucapan Dama tadi di telepon.


"Teteh ... kuring ningali dua urang asing dumuk di lapak Nyai. Éta sapertos utusan bandit. Ati-ati, éta masih teu aman".


(Mba...tadi aku lihat ada dua orang asing yang duduk di warung Nyai. Kayaknya orang suruhan bandit itu. Hati hati, masih belum aman). Indah yang memang tadi keluar untuk membeli kopi di warung Nyai.


"Teh Indah pakai bahasa Indonesia aja, aku gak ngerti" Andini bingung dengan perkataan Indah.


"Aduh...Maaf teh, saya lupa" meringis. Indah menjelaskan maksud ucapannya tadi.


"Terus gimana dong? Asep? pak RT?" Andini bingung bagaimana caranya besok Firman datang tapi tidak diketahui warga dan orang orang itu.


"Iya pak RT, saya setuju"


"Sep, kamu harus temui ibu dulu. Bawa baju baju kamu. Ini sementara aja, sampai suamiku membereskan semua" Asep mengangguk lagi.


*****


Candra kembali datang ke apartemen Rania setelah cidera di punggungnya akibat pukulan kayu dan batu oleh Andini dan Asep, telah diobati di klinik kecil, cukup jauh dari tempat penyekapan Andini kemarin.


"Sayang...aku kangen" Candra langsung menyambar bibir Rania sesaat setelah membuka pintu. "Mmmphh..." Rania mendesah, ia ingin bercinta tapi masa nifasnya belum berakhir. Candra menggendong Rania sambil terus *******. "Apa pembantumu ada?" Rania mengelengkan kepalanya, matanya meredup, menginginkan lebih.


"Cumbu aku!" kata Rania menggigit bibir bawahnya. Candra langsung mencumbu Rania brutal. Suara cecapan, erangan dan desahan dari mulut keduanya terdengar. Tanpa mereka tau, Nina sudah menempatkan beberapa kamera tersembunyi, atas suruhan Dama.


"Aku ingin melihat putraku, dimana?" Rania menarik Candra masuk ke dalam kamar. Adhi yang tadi sedang tidur, sekarang sudah terbangun membuka matanya tapi tidak menangis.


Candra menggendong Adhi, menciumi pipi bayi gembulnya.


"Sudah buat akta lahir?" tanya Candra pada Rania disampingnya.


"Belum. Sedang diurus Dama" jawab Rania mengecupi lengan Candra.


"Kamu harus terus ingatkan dia. Akta lahir Adhi sangat penting. Dan juga sahkan kepemilikan beberapa properti juga saham perusahaan atas namamu dan Adhi. Jangan sampai wanita itu mendapatkannya!" sambil terus menepuk nepuk paha Adhi.


"Iya...tapi kerjaanmu gak becus. Dia bisa kabur. Sekarang gak tau dimana. Bisa aja dia udah hubungin Dama" Rania memukul lengan Candra.


"Dama gak akan percaya. Dia cinta mati sama kamu sayanggg...buktinya Dama masih biasa aja kan?" Candra mengecup pipi Rania.


"Iya sih" membalas kecupan di bibir, sedikit ******* dan meremas bagian bawah perut Candra.


"Jangan menggodaku lagi! Atau kamu mau?" Rania semakin meremas. Candra mendesah.


Selang beberapa menit, suara tangisan Adhi menghentikan kegiatan remas meremas. Rania bingung karna tidak bisa membuat susu. Semua yang melakukan Nina.


"Kamu bisa menyusui langsung, kenapa harus sufor?" Candra masih menimang Adhi agar lebih tenang.


"Aku gak mau! nanti payudaraku turun, jelek" sambil memegang kedua dadanya. Candra tidak habis pikir dengan ucapan Rania, ia kesal lalu memberikan Adhi pada Rania.


"Biar aku aja yang buatkan" Candra menuju dapur, Rania mengikuti. Ternyata Nina sudah pulang dan berada di dapur.


"Buatkan susu untuk Adhi! Sayang, aku pulang" ucap Candra pada Nina lalu mencium Rania dan Adhi. Pergi ke luar dari apartemen, karna hari sudah sore dan sudah pasti Dama akan pulang.


"Ini susunya Non" Nina memberikan botol dot berisi susu hangat untuk Adhi. Setelahnya Nina pergi ke kamarnya, mengirimkan pesan pada Dama.


Pacar Non Rania baru saja pulang pak. Semua kamera sudah saya pasang di setiap sudut yang bapak suruh semalam. Nina.


Dama yang berada di lift apartemen, membuka pesan dari Nina. Sudah kuduga, dia pasti datang.


Pintu lift terbuka, Dama melihat sekilas Candra masuk ke dalam lift sebelah. Dama berjalan cepat masuk ke dalam apartemennya.


"Pak, Non Rania sedang mandi" Dama mengangguk mengerti. Nina sedang menggendong Adhi.


Dama langsung mengecek tiap kamera yang terpasang dan berhasil merekam kemesraan Rania Candra juga pembicaraan mereka.


Shit!! gua dapet bekasan. Gua bakal simpan ini buat bukti nanti. Tunggu tanggal mainnya. Batin Dama saat melihat rekaman itu dari laptopnya.


Bersambung....