Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Andini Putri, S.E, M.E (Hadiah Kelulusan)


Sejak subuh, Andini sudah duduk manis didepan meja rias di kamarnya. MUA sedang memoles wajahnya dengan makeup flawless untuk acara wisudanya pagi nanti pukul 08.00.


Dama sedang menggendong Adhi sambil terus mengawasi Andini. Andini dapat melihat tatapan tajam suaminya dari pantulan cermin.


"Mas, kenapa? liatin aku terus dari tadi. Mas sarapan dulu gih. Aku nyusul kalo udah selesai makeup" ucap Andini masih memandang suaminya dari cermin.


"Masih lama?" tanyanya. Andini mendongak ke arah MUA.


"Sebentar lagi mba" jawab MUA itu.


"Udah denger kan mas. Bentar lagi aku nyusul. Adhi biar Nina yang pegang dulu" Dama menyerah dan menuruti istrinya turun ke lantai bawah untuk sarapan.


Nina menggendong Adhi membawanya ke kamar, mengganti pakaian. Mereka akan ikut serta ke acara wisuda Andini pagi ini.


"Mas, udah selesai sarapannya?" Andini turun ke bawah bersama dengan MUA. Menghampiri Dama.


"Katanya sebentar, tapi ini sampai 30 menit. Jadi aku makan duluan" meraih gelas berisi air mineral hangat.


"Maaf mas...mba, ikut sarapan juga yuk?! temenin aku" menarik lengan Fia, ikut bergabung di meja makan.


"Yaudah, aku ganti baju dulu" Andini mengangguk. Dama kembali ke atas.


*****


Mobil telah melaju ke arah ballroom hotel tempat acara wisuda pasca sarjana universitas dimana Andini berkuliah. Adhi sedang tidur di pangkuan Andini.


"Bik, nanti kalau Adhi gak betah, bawa aja langsung ke kamar. Mas Dama udah pesan dua kamar di lantai 5. Nanti aku kasih kartunya" menoleh ke belakang dimana Nina duduk.


"Baik bu"


"Mas, ayah sama bunda dateng juga kan?" tanya Andini pada Dama yang masih fokus menyetir. Jalanan sedikit padat, ia takut kalau mereka sampai terlambat.


"Iya, tadi udah ngabarin katanya lagi on the way. Ayah sama ibu udah sampai belum? coba kamu telfon" menoleh sebentar ke arah Andini.


"Iya mas" Andini membuka layar ponselnya dan ada satu pesan dari Andina.


"Ayah sama ibu udah sampai mas. Mereka nunggu kita di lobby" menyimpan lagi ponsel ke dalam tas.


"Oke, sebentar lagi sampai" membelokkan setir ke arah kiri dan tak jauh hotel tempat acara. Bangunan sudah terlihat menjulang tinggi.


Dama menurunkan Andini, Adhi dan Nina di lobby. Lalu ia memarkirkannya tidak jauh dari sana.


"Teh Andini...." seorang wanita mendekati dan menyapanya.


"Teh Indah?" Andini menatap Indah anak pak RT yang sudah menolongnya.


"Iya saya...aduh cantik pisan teh Andin. Semoga acarana lancar sadayana (semuanya). Amin" ucap Indah. Tak lama Mentari dan Firman datang.


"Mama Dini..." Mentari berlarian dan langsung memeluk perut Andini.


"Mentari sayang, Mama Dini kangen. Maaf ya belum sempet main ke rumah. Mentari gak marah kan?" menggendong Mentari lalu mengusap pipi.


"Enggak kok...Mentari gak marah. Mentari mau punya Mama baru" bisik bocah kecil itu.


"Mama baru?" Mentari mengangguk, sejurus kemudian menatap seorang wanita yang tangannya sudah digenggam oleh Firman.


"Jadi...kalian..." menunjuk ke arah Firman dan Indah. Firman meringis sedangkan Indah tersenyum malu.


"Mama baru Mentari cantik kan ma?" Andini mengangguk. "Iya sayang, cantik banget juga baik hati. Selamat ya mas, teh Indah. Kalian berhutang cerita ke aku. Aku tunggu nanti waktu makan malam"


"Iya iya...Udah mau mulai, mana suamimu?" tanya Firman mencari cari Dama.


"Itu dia" menunjuk ke arah pintu masuk.


"Iya, udah kok mas. Aku bikin dadakan semalam" menerima uluran tangan Dama.


"Aa..." Indah mendekati Firman, merapihkan toga khas profesor yang dikenakannya.


Andini dan Dama sudah memasuki ballroom diikuti orang tua Andini. Orangtua Dama, Adhi dan Nina duduk di bagian belakang tamu undangan.


Andini dan Dama saling melepaskan genggaman tangan, saat sudah mendekati barisan tempat duduk tamu undangan. Andini berjalan maju di barisan terdepan. Sebelum duduk, ia menatap lagi ke arah Dama. Sama sama melemparkan senyum sebelum duduk di kursi dengan tulisan Andini Putri.


Acara baru saja dimulai, untuk pertama kali sambutan dari rektor dan setelahnya lantunan doa yang di wakilkan oleh profesor senior. Andini tiba tiba merasa mual, demam juga berkeringat.


Bentar lagi giliranku pidato. Kenapa gugup gini sih? ya Allah, kuatkan aku sampai acara selesai. Batin Andini.


Giliran namanya disebut sebagai perwakilan dari angkatannya. "Lulusan terbaik Magister Ilmu Ekonomi tahun 2021, Andini Putri" namanya disebut, Andini mengatur nafasnya perlahan, menyeka telapak tangannya yang basah karena keringat.


Andini berjalan perlahan menuju mimbar dimana ia akan berpidato. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali suaminya. Tatapan bangga dan cinta.


Naskah sudah ia buka. Menutup matanya sebentar, menghela nafasnya halus untuk menghilangkan kegugupan. Mengucapkan basmallah lalu membuka pidatonya.


Suara lantang dan penuh arti terdengar disemua telinga yang hadir di ballroom megah itu. Tak menampik jika benar adanya Andini memang layak menjadi lulusan terbaik tahun ini.


"Selamat berjuang kembali meraih mimpi dan mewujudkan segala rencanya yang telah kita susun selama ini. Semoga sukses menyertai kita semua. Terimakasih. Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Andini mengakhiri pidatonya, berjalan menuju hadapan Rektor yang telah berdiri menyambutnya.


Andini menerima ijazah lalu menunduk sedikit saat Rektor memindahkan tali toganya dari kiri ke kanan kemudian berjabat tangan. "Terimakasih prof". Kepala Andini terasa berputar, tangannya berpegangan pada lengan Rektor di hadapannya. Semua melihat tubuh Andini yang limbung, suasana berubah gaduh. Dama bangkit dan berlari ke depan. "Tolong bantu saya" teriak Rektor itu.


"Andin..." meraih tubuh Andini yang menyandar pada tubuh Rektor. "Saya suaminya prof" mengangkat Andini, menggendong istrinya keluar ballroom. Andika, Andina, Tama, Sindi, Nina dan Adhi mengikuti.


"Bik Nina bawa Adhi ke kamar aja, ini kartunya. Kasian Adhi kalau dibawa ke rumah sakit" memberikan kartu yang Sindi ambil dari saku celana putranya.


"Baik pak" menerima kartu lalu pergi ke lantai 5 bersama Adhi.


Dama terus berjalan sampai lobby hotel. Sopir Ayahnya sudah siap menunggu setelah Tama menghubunginya tadi.


"Cepat ke rumah sakit, Ayah pakai mobilmu" ucap Tama. Kunci mobil milik Dama sudah ada ditangannya. Dama mengangguk lalu mobil pergi menuju rumah sakit terdekat.


Dama kembali menggendong Andini masuk ke IGD, baju toga sudah ia lepaskan sejak tadi. Merebahkan tubuh istrinya itu ke ranjang di sudut, karena hanya tempat itu yang kosong.


Dokter jaga mendekat, memeriksa keadaan Andini. Sebelumnya dokter bertanya sebab Andini pingsan. "Saya tidak tau dok. Istri saya tiba tiba pingsan"


"Bapak bisa ikut dengan saya?" Dama mengikuti dokter ke meja yang tidak jauh dari ranjang dimana Andini telah di infus, masih diruang IGD.


"Dari pemeriksaan awal tadi, saya menyimpulkan bahwa Ibu Andini sedang mengandung" Dama membulatkan matanya.


"Hamil dok?" dokter mengangguk. "Saya sarankan agar dokter spesialis kandungan yang memeriksa ibu Andini lebih detil lagi" dokter menyarankan dan Dama setuju.


Saat Andini masih belum sadar, dokter spesialis kandungan datang dengan membawa alat USG. Memeriksa Andini, Dama masih disamping ranjang, memperhatikan layar dengan seksama. Dan hasilnya...


"Selamat pak. Istri anda sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki 10 minggu. Ini janinnya" menunjukkan bentuk janin yang masih mungil.


"Terimakasih...terimakasih banyak dok" menciumi punggung tangan Andini.


"Sayang...kamu hamil. Kita akan punya anak lagi. Adik Bima" mengusap pipi, merapihkan rambut yang menutupi dahi istrinya. Andini masih terlelap.


Bersambung....


******


**Sabar ya...ending ada di bab berikutnya 😁


Jangan lupa like, komen, giftnya. Votenya juga boleh kalo yang masih ada 😊


Terimakasih byk 🙏😊 kecup basah dari Author receh 😘😘😘**