Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Tim Audit


Keesokan harinya setelah Dama mengantarkan Andini ke rumah Firman, ia kembali ke apartemen. Map biru ada digenggaman. Akta kelahiran dan beberapa surat penting ada di dalamnya.


"Rania udah bangun?" tanyanya pada Nina saat pintu apartemen dibuka. Melepaskan sepatunya, masuk ke ruang televisi. Meletakkan map itu diatas meja.


"Masih tidur pak. Bapak mau kopi?" tanya Nina yang berdiri tidak jauh dari Dama.


"Boleh tapi yang manis ya?!" Nina mengernyitkan alisnya, tumben pengen manis, batinnya.


"Baik pak" Nina pergi ke dapur dan membuatkan kopi. Tak lama Rania keluar dari kamar dan berteriak memanggil Nina. Suara Adhi yang menangis terdengar karena pintu kamar terbuka lebar.


"Ninaaaa...susu buat Adhi. Cepetan!!" sambil menggelung rambutnya ke atas dan menjepitnya. Rania tidak tahu kalau Dama sudah pulang dan sedang duduk menatapnya saat ini. Oh...jadi begini sikapmu kalo aku gak ada. Bar bar. Dama.


"Iya Non, sebentar" buru buru Nina membawa kopi untuk Dama.


"Lho kok kopi sih? Aku bilang kan susu buat Adhi. Kamu budeg ya?!" Rania membentak Nina lagi. Nina menatap Dama yang sedang balik menatap mereka dengan kedua tangan didepan dada. Rania mengikuti arah pandang Nina.


"Sa-sayang..." Rania salah tingkah. "Kamu kok gak bilang kalo papanya Adhi udah dirumah?" bisik Rania pada Nina tapi Dama masih dapat mendengarnya.


"Maaf Non" jawab Nina lirih. "Yaudah, sini kopinya. Kamu bikinin susu trus urusin Adhi" bisik Rania lagi. Dama mengalihkan tatapannya ke arah televisi yang menyala. Nina mengangguk, memberikan kopi itu lalu berbalik ke dapur.


"Sayang...kok gak bilang sih kalo udah pulang" meletakkan kopi, bergelayut manja di lengan kanan Dama. Pakaian tidur seksi berbahan satin tanpa bra. Rania sengaja menempelkan dadanya dan menggeseknya beberapa kali. Dama acuh.


"Aku baru aja dateng" mengganti program televisi, memencet remote yang ada di tangannya.


"Itu apa?" tanpa menunggu Dama menjawabnya, Rania langsung meraih map biru diatas meja dan langsung membukanya. Matanya berbinar menatap lembaran lembaran surat berharga atas nama dirinya dan juga Adhi.


"Sayangggg...makasih banyak" langsung memeluk Dama dan mengecupi pipi berkali kali. "Liat sini dong!" menarik dagu Dama. Rania menempelkan bibirnya, memaksa membuka bibir Dama yang masih tertutup rapat.


"Kamu kenapa sih? akhir akhir ini beda. Udah gak kaya dulu. Semenjak ada Andini, kamu jadi dingin ke aku" masih diam dan terus menatap mata Rania. Rania kesal, menjatuhkan kasar tubuhnya ke sofa.


"Kamu masih masa nifas" Dama mencoba mencari alasan yang tepat. Menarik Rania ke dalam dekapan, mengusap usap puncak kepala. "Jangan marah! kamu pasti capek ngurusin Adhi seharian" Dama berpura pura.


"Iya tapi kan aku pengen dicium cium..." tanpa menunggu lama, Dama mengecup bibir Rania.


"Udah kan?"


"Itu bukan ciuman tapi cuma nempel doang. Ih..sebel" Rania pergi masuk ke dalam kamar, membawa map biru. Dama membiarkan Rania yang merajuk.


"Sialan! gak nyamperin" gerutu Rania memandang ke arah pintu kamar yang sengaja ia buka lebar. "Bodo amat! yang penting ini udah di tangan gue" mendekap map biru.


Bu, semua udah di tanganku. Pesan yang Rania kirim pada Susan, ibunya.


Bagus 👍. Udah ada kabar dari pacarmu yang kere itu?. Pesan balasan dari Susan. Dari dulu Susan tidak menyukai Candra karna miskin dan juga pemalas.


Ibu, kenapa masih aja bilang gitu ke Candra? dia ayahnya Adhi, cucu ibu. Aku belum dapet kabar lagi. Candra gak bisa dihubungi. Aku khawatir. Rania masih saja membela Candra.


Ibu gak peduli sama dia, yang penting wanita itu udah lenyap. Jadi kamu bisa nguasain semua harta Dama. Kasih bagian buat ibu juga. Susan membalas pesan pada putrinya sambil bersungut sungut.


Ibu...Aku cinta Candra. Jangan gitu sama dia. Dia yang kasih jalan buat kita deketin Dama. Kalo enggak, kita masih di kampung, dirumah reot itu, gak bisa makan. Rania mengakhiri berkirim pesan dengan Susan.


Dama masuk ke dalam kamar, membuka kemeja. Rania yang sedang acting ngambek, acuh saat Dama melewatinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Brengsek! bener bener berubah. Apa Andini udah bilang semua ke Dama?" Rania bergumam, mengira ngira.


Sayang...Kamu dimana sih? ditelfon gak bisa terus. Gimana sama Andini? udah kamu lenyapin kan? rencana kita yang udah bertahun tahun, jangan sampai gagal, cuma karna Andini!


Pesan hanya centang satu. Rania semakin kesal dan membanting ponselnya ke atas ranjang.


*****


2 Hari Kemudian


Dama menyerahkan satu helai rambut Adhi pada Aryo. Mereka bertemu di kantor, agar Kemal tidak curiga. Aryo yang akan mengurus tes DNA Adhi dan Candra.


"Keluar hasilnya kapan? gua butuh cepet" tanya Dama pada Aryo yang sedang menikmati satu cangkir kopi.


"Paling cepet 2 minggu" jawab Aryo selesai menyeruput kopinya.


"Oke, jangan molor. Gua harus gerak cepet" memangku satu kakinya.


"Siap bos!" Suara ketukan pintu terdengar, Aryo menyimpan sample rambut ke dalam sakunya sebelum Kemal masuk.


Kemal masuk membawa dua porsi makan siang untuk Dama dan Aryo.


"Silahkan pak" meletakkan ke atas meja.


"Thanks, Mal" Kemal menatap lekat Aryo, dia belum pernah bertemu. "Kemal...." suara Dama menginterupsi. Kemal tersadar lalu membungkuk, berjalan keluar ruangan.


"Kenapa?" tanya Aryo sambil membuka box makan siang.


"Mata mata" ucap Dama lirih, Aryo mengerti. Mereka melanjutkan menyantap makan siang.


Selang beberapa menit keributan terdengar di luar ruangan Dama. Semua sudah direncanakan Dama bersama tim Audit perusahaan tanpa siapapun yang tahu, termasuk Kemal. Biasanya Dama selalu mendiskusikan bersama dengan Kemal tapi kali ini ia memilih bergerak sendiri.


Tim Audit datang dan meminta semua dokumen dokumen dari masing masing komputer, termasuk komputer Kemal. Dama dan Aryo masih menikmati makan siangnya yang tersisa sedikit.


"Lo gak keluar?" tanya Aryo selesai menghabiskan satu botol air mineral.


"Gak perlu!" Dama meraih ponselnya yang berdering. Raut wajahnya bahagia, Nama Andini yang tertera di layar handphonenya.


"Sebentar" ucap Dama pada Aryo. Mendekati jendela besar dibalik meja kerjanya.


"Halo, Assalammualaikum" sapa Dama setelah menggeser tanda hijau ke atas.


"Walaikumsalam mas...Sore ini jadi nginap dirumah ayah ibu?" tanya Andini di seberang sana. Andini masih dirumah Firman, sedang bermain dengan Mentari.


"Iya honey...Nanti aku jemput jam 4" jawab Dama sambil mengusap bibir bawahnya.


"Yaudah kalo gitu, aku tunggu mas. Jangan telat! kita harus beli cake dulu. Assalammualaikum" Andini mengingatkan pada Dama, hari ini ibunya, Andina berulang tahun.


"Walaikumsalam" Dama tersenyum memandang foto Andini setelah sambungan itu terputus.


Bersambung....