Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Membebaskan Rasa


Setelah kejadian yang menegangkan tadi, sekarang Andini sudah kembali bernafas lega. Setidaknya untuk sementara ia sudah aman. Andini dapat memejamkan mata.


Perjalanan yang ditempuhnya menuju Jakarta sedikit terlambat karena bertepatan dengan jam pulang kantor, di tol pun sering macet.


"Habis ini kita makan dulu ya? deket rumahku aja gak papa kan?" ucap Firman pada Andini disebelahnya yang baru saja terbangun. Asep masih tidur di belakang.


"Terserah mas aja. Aku ikut" jawab Andini sambil menegakkan kursinya. Firman langsung menuju arah rumahnya dan terlihat di pinggir jalan ada warung tenda sate ayam.


"Sep, bangun. Kita makan dulu" Andini membangunkan Asep, melepaskan seatbeltnya.


"Hah?? i-iya neng. Udah sampe ya?" Asep yang baru saja terbangun melihat hari yang sudah gelap dan ditempat asing belum pernah ia sambangi, kota besar, ibu kota.


"Sebentar lagi tapi kita makan dulu. Kamu laper kan Sep?" tanya Firman lalu membuka kunci pintu dan keluar.


Mereka menikmati makan malam bertiga setelah perjalanan jauh yang baru saja dilewati. Sampai mobil Firman memasuki rumah besar, memarkirkan mobilnya di garasi.


"Mas, maaf ya udah ngrepotin. Nyusahin mas" Andini berjalan beriringan ke teras rumah itu.


"Gak usah ngomong gitu. Aku cuma mau bantu kamu sama Asep" mengetuk pintu. Ada bel rumah tapi hari sudah malam, Mentari dan kedua orang tuanya yang sudah tidur akan terganggu.


"Makasih banyak ya mas" Firman mengangguk. Asep yang masih berdiri di depan pintu melihat rumah besar yang baru pertama kali ia lihat.


"Asep, kamu tidur di kamar yang ini. Biar Andini tidur dikamar yang sebelah sana" Firman menunjuk arah kamar.


"Iya kang, terimakasih" Asep menundukkan kepala lalu masuk ke dalam kamar. Sedangkan Firman mengantar Andini ke kamarnya.


"Istirahat. Tidur yang nyenyak" tersenyum. "Iya mas. Aku masuk dulu" Firman mengangguk, berlalu meninggalkan kamar Andini menuju kamarnya di lantai atas.


Tubuhnya terasa lengket, Andini memutuskan untuk mandi lalu tidur. Lelah dan letih.


Istri lo udah ada di kamar tamu. Besok gua kabarin nomor rekening Aryo. Boilnya rusak parah. Hari ini clear ya?! gua mau tidur. Udah 2 hari gua gak tidur di kasur. Pesan Firman yang ia kirimkan pada Dama malam itu.


Dama yang memilih berlama lama di depan televisi mendapati ponselnya bergetar. Ia membuka pesan dari Firman. Menghela nafasnya perlahan, Dama merasa lega mengetahui Andini sudah aman.


*****


Keesokan harinya, Firman membawa Andini ke sebuah hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan Dama.


"Ngapain kita kesini mas? jangan macam macam sama aku ya?!" Andini memegang seatbeltnya kuat. Firman memarkirkan mobilnya di basement hotel itu.


"Jangan mikir yang aneh aneh. Aku cuma nganterin doang. Ayok masuk" Firman menarik tangan Andini masuk ke dalam lift di sudut basement.


10 menit sebelum Andini sampai, Dama sudah keluar kantor dengan beralasan pada Kemal kalau dia mau bertemu Sindi dan Tama. Kemal mengerti dan memilih tidak mendampingi.


Sesuai dengan dugaan Andini, Kemal menjadi kaki tangan Rania. Dama meletakkan alat penyadap di bawah kolong meja kerja Kemal juga di dalam tas.


Sudah pasti Dama sangat marah dengan kenyataan yang ia dapati. Orang orang disekitarnya menghianatinya. Orang yang ia anggap keluarga. Dama berada di lingkaran toxic. Rania, Kemal, Susan, Pono dan juga Candra yang ia anggap sahabat.


Dama sudah ingin membabat habis mereka yang berkhianat. Dia meneruskan pengintaian dan pengumpulan bukti untuk menjerat mereka. Setidaknya mereka harus dihukum seberat beratnya.


"Tolong jangan sampai ada yang tau saya datang kemari!" ucap Dama langsung pada Manager hotel.


"Baik pak" menganggukkan kepala.


Dama pergi menuju lift, memencet angka 10. tting...pintu lift terbuka. Dama berjalan menyusuri koridor hingga ujung dimana pintu kamar dengan nomor 10002. Dama masuk dan menunggu Andini disana.


tok tok tok...


Firman mengetuk pintu kamar 10002. Andini masih celingukan, dia tidak tahu siapa yang akan mereka temui.


Suara kunci pintu diputar dari dalam. Andini terkejut saat melihat suaminya. "Mas Dama??" Dama tersenyum.


"Udah kan? gua balik ke kampus" Firman langsung berbalik meninggalkan Andini yang masih bersitatap dengan Dama.


"Thankyou bro" ucap Dama saat Firman berlalu. Firman hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.


"Ayok masuk!" Dama menarik tangan Andini.


"Mas, ngapain disini?" tanya Andini dibalik badan Dama yang sedang menutup pintu dan menguncinya.


Grep...Dama langsung memeluk Andini erat. "Maaf...Maafin aku...Maaf Andini...Honey, aku minta maaf" Dama benar benar rindu juga merasa bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya itu. Andini menangis dan memukuli punggung Dama.


"Aku takut, aku beneran takut" masih memukuli punggung Dama.


"Iya...iya, aku tau. Maafin aku. Sekarang kamu udah aman. Ada aku" masih memeluk. Andini terus menangis. "Pukul aku, lampiaskan semua!" Dama melepas pelukan, menarik tangan Andini dan menamparkan ke pipinya.


"Jangan!" Andini menahannya setelah Dama akan menamparkan pipinya lagi. Andini mengusap pipi Dama lalu menangkupnya dan berjinjit, mencium bibir.


Rasa rindu, cemas, takut mereka tumpahkan semua saat pertemuan pertama kalinya itu. Pagutan mereka belum berakhir. Melampiaskan rasa rindu yang menggebu.


Dama menarik pinggang Andini agar tidak terjatuh lalu membawanya duduk di pinggir ranjang dalam pangkuan. Perbedaan tinggi yang cukup banyak, membuat leher keduanya pegal jika harus sama sama berdiri.


Ciuman mereka masih terus berlanjut. Dama yang sudah melepaskan kerudung Andini, kini beralih membuka kancing tunik satu persatu. Tangannya terus menjalar dan mendapatkan apa yang ia tuju.


Andini melenguh saat disentuh lembut oleh Dama. Tunik terlepas sampai ke pinggang. Andini mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit langit kamar hotel yang mewah itu. Tangannya refleks memeras belakang kepala Dama.


Kini Dama sudah membawa Andini ke atas ranjang. Menumpukan kedua lututnya. Pakaian Andini sudah terlepas. Andini yang sama merasakan ingin lebih, dengan inisiatifnya membuka celana panjang Dama yang belum terlepas.


"Udah gak sabar ya?!" bisikan meledek ditelinga Andini. Tanpa menjawabnya, Andini langsung menc******** Dama. Seketika mulutnya terbuka dan menatap mata Andini.


Dama menarik Andini untuk bangun dan ia duduk bersandar di kepala ranjang, menekuk lututnya. Mata yang saling beradu dan merasakan kehangatan, Dama tidak tahan. "Udah honey" menarik Andini untuk duduk diatasnya, membantu istrinya itu bergerak.


Suara des**** keduanya tak dapat mereka tahan. Sama sama terbawa arus yang membara dan akan mencapai puncaknya. Dama terus bergerak dan berganti posisi. Di luar panas terik tapi tidak menyurutkan keinginan mereka untuk melepas rindu.


"Mandi bareng ya?" Dama menggendong Andini.


Bersambung....