Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Misi Penyelamatan Istri Tercinta


Sudah dua hari Andini dan Asep dirawat di rumah sakit. Siang ini mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.


"Aku mau mengurus administrasi dulu. Tetap disini!" Andini dan Asep mengangguk bersamaan.


Tangan kiri Asep patah, ia harus menggunakan gips. Sedangkan Andini hanya memakai plester di kening dan lutut, sudut bibirnya yang lebam sudah diolesi salep.


Sejak bertemu Firman sampai saat ini, Andini menjadi pendiam. Hanya mengangguk dan menggelengkan kepala. Asep juga sama diamnya, dia sungkan dengan Firman.


Antrian yang cukup banyak saat Firman akan melunasi biaya rawat inap. Hingga saat gilirannya, ia melihat dua orang berbadan besar dan juga Candra berjalan ke arah resepsionis. Firman menutup kepalanya dengan hoodie dan masker.


"Ini struk pelunasannya pak. Terimakasih banyak" ucap kasir rumah sakit. Firman mengangguk lalu berjalan santai masuk ke dalam kerumunan ibu ibu yang akan menjenguk kerabatnya.


Firman membuka pintu kamar "Kita gak bisa keluar dari lobby depan. Kita lewat pintu belakang. Tetap ikuti aku. Oke?!" Andini dan Asep bingung dengan ucapan Firman tiba tiba.


"Mas ada apa?" untuk pertama kalinya Andini mengeluarkan suaranya.


"Mereka ada di depan. Kita harus cepat keluar dari rumah sakit ini!" Andini memegang erat lengan Firman. Ia sungguh ketakutan. Baru dua hari merasa tenang dan lelahnya telah hilang, kini ia kembali merasa cemas.


"Tenang, ada aku. Aku akan meminta bantuan intel untuk menjaga mobil kita" Firman menelpon polisi kenalannya di kota itu.


"Sudah beres. Ayok?!" Firman membuka pintu perlahan dan melihat ke arah lorong terlebih dulu.


"Aman" Firman menggandeng Andini dan Asep memegang lengan kiri Andini. Mereka berjalan beriringan.


"Menunduk! mereka ada di depan" ucap Firman saat mereka bertiga baru saja masuk ke dalam mobil. Firman melihat Candra dan satu anak buahnya berdiri didepan lobby. Tak lama, ada mobil yang menjemput. Candra masuk dan mereka keluar dari rumah sakit.


tok tok tok....


"Aaahhh...." Andini berteriak lalu menutup matanya dan telinga, ia terkejut mendengar suara ketukan pada jendela mobil. Andini pikir itu Candra dan anak buahnya.


"Tenang Andini...dia temanku, intel polisi" Andini mendongak menatap Firman yang sedang memencet panel, menurunkan jendela.


"Siang bos...Gimana? sekarang?" ucap intel berbadan tegap itu. Dia bersama dengan anak buahnya.


"Siang bro...iya sekarang lah, masa besok! lo lagi gak sibuk kan. Anter gua sampe rumah" Intel bernama Aryo itu langsung kembali ke mobilnya, mengikuti mobil Firman.


Mobil yang dikendarai Firman masuk ke jalan tol Cipali, melajukan mobilnya cepat. Andini kembali teringat suara deru mobil yang sama saat pertama kali dibawa pergi oleh Pono.


"Tidurlah! perjalanan kita masih panjang. Kurang lebih lima jam lagi kita baru sampai di Jakarta" Firman terus fokus ke depan. Andini dan Asep sama sama diam menatap ke luar jendela. Tenggelam dalam pikiran masing masing.


*****


Sindi datang ke kantor tanpa memberitahu Dama. Dama yang sedang gelisah menunggu kabar Andini tidak fokus dengan beberapa file yang ada diatas meja.


"Mas...Mas..." Sindi mengetuk meja Dama.


"Hah??"


"Bun...ada apa kemari?" Dama tersadar dalam lamunannya.


"Lagi mikirin apa sih mas? gitu banget, sampe bunda masuk manggil manggil gak denger. Kenapa? Marahan sama Andini?" Sindi masih berdiri didepan meja Dama.


"Ah...enggak kok bun. Lagi banyak kerjaan aja" Dama merangkul Sindi, duduk di sofa.


"Dasar anak nakal! gak pernah ngajakin Andini dateng ke rumah. Honeymoon ke Bali juga gak kasih tau ke bunda. Bunda kan kangen sama kalian" mencubit pinggang Dama.


"Aw...sakit bun" Dama mengusap pinggangnya.


"Maaf bun, Dama banyak kerjaan. Andini juga lagi sibuk ngurusin tesisnya" Dama beralasan agar Sindi tidak curiga.


"Tapi kan ada weekend mas. Sabtu Minggu libur. Masa harus bunda yang dateng terus sih" membuka tas berisi 4 wadah makanan kesukaan Dama. Nasi Merah, Cap Cay Seafood, Ayam Goreng Krispi dan potongan buah semangka.


"Iya bun...nanti Dama ajak Andini ke rumah. Tapi gak minggu ini ya?" Dama mengedipkan matanya, berakting. Sindi tau maksud putranya. Putranya itu ingin berduaan dengan Andini.


"Iya iya deh...Bunda sabar nunggu kalian datang. Makan dulu mas! udah jam makan siang" menata 4 wadah dan membukanya satu persatu.


"Iya bun...Makasih bundaku sayang" mengecup pipi Sindi. "Bunda gak makan?"


"Mas, bunda telfon Andini kok gak bisa terus ya? hpnya kenapa? rusak?" Dama sedikit tersedak. Sindi berjalan menuju meja Dama, mengambilkan minum.


"Udah dibilangin makannya pelan pelan" memberikan satu gelas air putih.


"Iya bun..." menerima dan meminumnya.


"Hpnya rusak ya? padahal bunda kangen banget. Bunda pengen denger suaranya Andini mas" Sindi merengek ingin mendengar suara menantunya.


"Dama belum beliin hp yang baru bun" mengalihkan kegugupan dengan terus melahap makanan yang tersisa.


"Pelit banget kamu jadi suami. Istri sendiri gak dibeliin hp baru" memukul tangan kiri Dama.


"Bunnn...aku belum sempat. Andini juga ngerti kok. Dia maunya beli bareng Dama bun. Sabar ya?!" mengusap punggung Sindi lembut.


"Iya iya" Sindi akhirnya menyerah.


*****


Brakk...


Suara benturan keras dari dua mobil di belakang.


"Masss...." Andini berteriak pada Firman di sebelahnya, melihat ke arah belakang.


"Itu mobil polisi yang ngikutin kita" ucap Asep, menatap dua mobil beradu.


"Itu mobil Candra" Firman melihat dari spion tengah.


"Hah?? mereka tau kita mas? trus gimana dong ini?" Andini menggoyang goyangkan tangan kiri Firman yang sedang memegang setir.


"Tenang...jangan panik! Mereka bakal nglindungin kita apapun caranya. Tenang!!" Firman menambah kecepatannya. Beruntung keadaan jalan tol sepi.


Mobil Candra terus memepet mobil Aryo yang berusaha menghalangi jalan. Suara benturan berkali kali terdengar. Body belakang sudah pasti penyok tapi Aryo tetap bertahan.


Sampai terdengar suara letusan senjata api. Dorr...dorr...


"Mas, mereka pake pistol" Andini menutup kedua telinganya. Rasa takutnya semakin menjadi. Baru kali ini ia mengalami kejadian beruntun yang menakutkan, nyawanya sedang di incar.


Suara tembakan terdengar kembali. Dorr...Dorr...


anak buah Aryo berbalik menembaki mobil Candra.


Aryo kembali menambah kecepatan mobilnya lalu menginjak rem mendadak.


Brak...Bum...Bug...


mobil Candra membentur keras mobil Aryo, terpelanting dan berguling beberapa kali sampai membentur beton pembatas jalan.


Beruntung Aryo dan anak buahnya tidak mengalami luka parah. Mobil belakangnya ringsek tapi masih bisa dikendarai.


"Halo bro...Gimana? lo baik baik aja kan?" tanya Firman mengaktifkan handsfree di telinganya saat mengangkat telfon dari Aryo.


"Alhamdulillah gua selamat" jawab Aryo nyeleneh sambil cekikikan.


"Gila lo!! udah aman belum nih?" Firman melirik Andini yang terus menatapnya harap harap cemas.


"Udah aman bos, bisa lanjutin sampe rumah. Gua gak jadi nganter yak?! mau ke ketok magic nih. Mobil gua ancor" Firman justru terkekeh mendengar ucapan Aryo.


"Oke...thanks bro. Entar gua suruh Dama yang ganti kerusakan mobil lo. Misi penyelamatan istri tercinta clear. Hahahaha" Firman dan Aryo sama sama tertawa. Andini menatap tajam Firman sambil melipatkan kedua tangannya ke depan dada. Asep di kursi belakang ikut cengengesan.


"Siap bos!!" Aryo menutup telfonnya. Firman melirik ke arah Andini lagi, bibirnya ia paksa katupkan, menahan tawa.


"Ngeselin!!! aku udah deg degan setengah mati tapi kalian ketawa ketiwi" Andini menggerutu.


Bersambung....