
Satu bulan telah berlalu, dua minggu lagi Andini siap untuk sidang tesisnya. Meski sibuk mempersiapkan sidangnya nanti, Andini tetap melayani Dama dan sesekali bergantian dengan Nina menjaga Adhi. Seperti malam ini, ia sedang melayani suaminya.
"Mas..." sentuhan lembut di puncak dadanya membuatnya menggeliat. Dua benda yang sangat disukai Dama. Jari lentik Andini meremas belakang kepala suaminya yang masih terus mencecap ujung kemerahan itu.
"Aku selalu suka bagian ini. Emm...ukurannya juga..." menunjuk dada Andini tepat di hadapan dengan kedua matanya. Tangannya kembali meraba dan membenamkan wajahnya di sela sela payu***a.
Bibirnya mengecupi hingga perut. "Semoga usaha kita kali ini berhasil sayang" mencium cukup lama perut Andini yang masih rata. Andini memandang suaminya, mengusap rambut ikal hitam dan mengamini doa yang Dama panjatkan.
Dama kembali menyusuri bagian yang disukainya dan melilitkan lidahnya disana. Menciumi dan sesekali memberi tanda kemerahan. Sampai kedua kaki Andini menegang.
"Udah?" tanya Dama. Andini mengangguk lemah. "Sekarang giliranku" menarik Andini. Istrinya itu beลjongkok dihadapannya. Dama mengikat rambut Andini dengan tangan kirinya dan ikut menggerakkan sesuai ritme. "Cukup...udah sayang" Dama membawanya ke atas ranjang, memposisikan istrinya bergerak bebas. Tangannya meremas pinggang dan siap untuk memasukinya perlahan. Tubuh Andini menggeliat, gerakannya semakin li*ar. Dua tangannya ke atas, mengikat rambutnya sendiri. Sangat seksi batin Dama. "Mas...aku mau...emmm" Dama tau maksud ucapan Andini. Ia ikut terus menggerakkannya sampai gelombang itu datang bersamaan.
*****
"Hari ini aku gak ke kampus mas. Jadi mas Dama langsung berangkat ke kantor aja. Aku dirumah jaga Adhi. Kata bik Nina, dari subuh tadi Adhi rewel mas" ucap Andini sedang memasangkan dasi pada Dama.
"Apa perlu kita bawa ke dokter?" menunduk, menatap istrinya. Perbedaan tinggi badan yang cukup jauh membuat Dama melebarkan kedua kakinya agar Andini tidak kesulitan memasangkan dasi untuknya.
"Kayaknya gak perlu mas. Nanti aku panggil bu bidan ke rumah, biar Adhi dipijat. Udah lama juga Adhi gak dipijat" selesai memasang dasi, merapihkan kemeja dengan menepuk nepuk bahu Dama.
"Oke...nanti kabarin aja kalo ada apa apa" mengecup kening Andini.
"Iya mas" menarik dasi lalu mengecup bibir. Dama membulatkan matanya, menarik Andini dan langsung menggendongnya. Menyatukan bibirnya dengan bibir Andini.
"Mas, turunin. Mas entar telat" Dama masih menggendong Andini.
"Kamu yang goda aku duluan. Aku jadi pengen" mencium leher.
"Masss....entar telat. Emmhhh..." meski tau waktu Dama sudah waktunya berangkat ke kantor, Andini menikmati cumbuan suaminya.
"Cepet aja sayang. Buka bajunya" menurunkan Andini sambil melepas celana panjangnya sendiri. Kemeja dan dasi masih terpasang rapih. Kini hanya underware ketat yang tersisa di bagian bawah. Sedangkan Andini sudah melepas dasternya, tertinggal bra dan cd warna merah terang.
Dama menepati janjinya, mereka berdua melakukannya cukup cepat. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, Dama dan Andini sudah rapih kembali.
"Nanti malem lagi ya?" mengedipkan sebelah matanya.
"Mas...ihh. Gak ada puasnya" sambil merapihkan lagi pakaian Dama. Mereka keluar dari kamar.
"Aku sarapan di kantor aja, udah gak sempet sayang" mengusap kepala Andini.
"Bentar mas, tunggu di mobil. Jangan berangkat dulu. Bentar aja, tunggu sebentar" Andini masuk ke dapur. Dama berjalan ke garasi.
Satu tas bekal di tangan kanan Andini. "Mas, buat sarapan di kantor" Dama menerimanya, meletakkan di kursi sebelahnya. "Makasih sayang. Aku berangkat ya? jangan lupa nanti malam, pakai yang warna putih berenda" wajah Andini bersemu merah. Dama berubah, blak blakan soal masalah ranjang.
"Iya mas...yaudah gih berangkat. Hati hati dijalan" mencium punggung tangan.
"Iya...Assalammualaikum"
"Walaikumsalam"
*****
"Bik, tolong angkatin jemuran. Mau ujan kayaknya" Andini ke ruang belakang dimana Nina sedang menyetrika baju. Adhi masih dalam gendongan setelah bu bidan tadi memijatnya.
"Iya bu" Nina mematikan setrika lalu pergi mengangkat jemuran.
"Tadi panas banget, tau tau mendung mau ujan gini" gumam Andini masih menggendong Adhi lalu menuju kamarnya di lantai atas.
Ponsel Andini berdering, tidak ada perkataan apapun yang bisa Andini ucapkan pada Dama. Ia terlalu terkejut. Andini memeluk Adhi erat, menangis. Perasaan bayi laki laki itu sangat peka, seharian rewel dan sekarang demam.
Andini syok, masih menangis dan terus memeluk erat Adhi. "Astaghfirullah...Innalillahi wainna illaihi rojiun. Kenapa mba? kenapa harus gini? Adhi...ya Allah" menatap wajah Adhi yang sedang tertidur dengan bye bye fever di dahinya. Andini terisak. Bayi gembul itu demam dan rewel karena merasakan ibunya akan pergi meninggalkannya selamanya.
*****
Malam menjelang, Dama baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengurus pemakaman Rania. Meskipun Rania memang sudah menipunya tapi ia tetap ingin mengantarkan mantan istrinya itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Susan menyalahkan Dama atas meninggalnya Rania lalu ia jatuh pingsan di hadapan Dama.
Semua karena ulahmu. Kenapa harus menghukumnya? kamu memisahkannya dengan Adhi. Kamu tega Dama!!. Susan berteriak histeris.
Dama sudah melepaskan dasinya saat ia di rumah sakit. Dua lengan bajunya sudah tergulung sampai siku.
"Gimana mas? semua lancar?" Dama mengangguk, masuk ke dalam kamar mandi. Andini masih menjaga Adhi yang tertidur di kamar mereka. Biasanya Adhi tidur dengan Nina. Tapi malam ini Adhi seperti sedang ingin didekatnya.
Ponsel Dama diatas nakas bergetar. Andini meraihnya. Nama Firman muncul di layar.
"Assalammualaikum mas" sapa Andini. Firman melihat layar ponselnya lagi, ia takut salah memencet daftar kontak.
"Walaikumsalam, Andini. Aku pikir aku salah pencet. Dama ada?" Firman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada mas, lagi mandi. Gimana? ada yang mau disampein?" tanya Andini lagi.
"Emm...gimana ya? entar aja deh. Suruh suamimu hubungi aku habis mandi. Ini penting!" Firman menekankan kata terakhirnya dan mengakhiri teleponnya.
Andini meletakkan lagi ponsel Dama, kembali memiringkan tubuhnya ke arah Adhi sambil menepuk nepuk karna bayi gembul itu merengek.
Dama keluar kamar mandi tapi Andini sudah terlelap. Mengecup pipi dengan bibir dinginnya setelah mandi, membuat Andini terbangun. "Mas...ngagetin aja. Dingin" mengusap pipinya.
"Habisnya udah tidur aja. Aku laper, temenin suamimu ini makan" Andini bangun, memeluk perut suaminya.
"Mas, mau makan apa? eh iya...tadi mas Firman telefon, katanya penting. Mas suruh telfon balik" Andini memberikan ponsel Dama diatas nakas.
"Habis makan aja nelfonnya" meletakkan lagi ponselnya.
Andini dan Dama turun ke bawah, duduk diruang makan. Andini membuatkan mie goreng untuk Dama. "Maaf ya mas, tadi gak sempet masak makan malam. Ini mie gorengnya dua porsi plus dua telur ceplok" memberikan piring besar ke hadapan Dama dan satu teh manis hangat.
"Iya gak apa kok. Ini juga udah cukup. Kamu pasti capek jagain Adhi. Jangan capek capek sayang, gantian sama bik Nina" Andini mengangguk.
Dama menikmati mie gorengnya sendiri. Andini tidak mau saat suaminya menyodorkan garpu berisi mie. "Aku udah kenyang mas"
Ponsel Dama kembali bergetar diatas nakas. Dama yang sedang memeluk Andini diatas ranjang merasa terganggu. "Mas, mungkin itu mas Firman. Angkat gih" Dama menyerah dan mengangkatnya.
"Halo...apa yang penting? ganggu aja lo" Dama menjawabnya sedikit malas karna jujur hari ini sangat melelahkan untuknya.
"Candra, Dam. Habis isya tadi kritis, langsung drop. Dia pergi, dia udah pergi selamanya" ucapan Firman sangat jelas. Andini bisa mendengarnya.
Dama dan Andini bertatapan. Dua kabar duka sekaligus mereka terima. Rania dan Candra pergi untuk selamanya. Sepasang kekasih itu pergi meninggalkan buah cinta mereka, Adhitama Sakti. Nama belakangnya tetap ada, Dama mengijinkannya.
Bersambung...
*****
Udah mendekati ending guys. Jangan lupa like, komen dan giftnya buat author receh ini ๐ votenya juga boleh, buat dongkrak judul ini semakin banyak yang baca. Terimakasih banyak semua ๐โบ๐
Selamat tinggal Rania dan Candra