
Dama POV
Aku sebagai seorang suami melihat istriku Andini yang begitu terpukul, merasa gagal. Aku tidak bisa menjaga istri dan anakku. Aku hanya memberikannya luka selama ini. Seharusnya aku menolak perjodohan ini. Aku hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaannya.
Aku terduduk dikursi panjang dilorong rumah sakit. Kenangan yang lalu berputar seperti roll film. Bagaimana awal pertemuanku dengan Andini, perjanjian pra nikah, menikah dan akhirnya aku benar benar tidak bisa menahan rasa sayangku pada Andini. Perasaan itu muncul dengan sendirinya saat kami bertemu pertama kali dan langsung melamarnya.
Gadis muda berkerudung, cantik, sederhana dan pintar. Kekagumanku pada Andini. Aku berusaha keras menolak rasa itu tapi pada akhirnya aku yang tidak bisa menahannya. Andini istri yang baik, penurut dan juga manis. Menerawang bagaimana hubungan kami ke depan nantinya. Apakah kau akan masih bersamaku atau kita memilih kehidupan masing masing?
drrt drrt
dering telepon berbunyi dan bergetar disaku celanaku, membuyarkan lamunanku akan Andini. Rania, nama itu yang muncul di layar handphone. Aku mengusap layar dan menjawab sambungannya.
"Halo Rania, ada apa?" tanyaku.
"Kapan kamu pulang sayang? aku merindukanmu" suara Rania disebrang sana.
"Aku belum tau. Andini masih dirawat, aku harus menjaganya" jawabku.
"Tapi aku lagi hamil sayang. Kamu gak perduli denganku dan bayi kita?" suara Rania terdengar kesal.
"Iya sayang, aku tau itu tapi Andini juga istriku. dia sedang sakit. Tolong mengertilah" aku berusaha meredakan kekesalan Rania.
"Kamu jahat! kamu kan bisa suruh siapa gitu yang jagain dia dulu. Sayang sekarang aku butuh kamu. Aku gak mau tau. Pokoknya pulang sekarang juga!" Rania langsung menutup telepon.
huhhh...aku menghela nafasku kasar. Menyesal sudah tak ada guna. Aku yang memulai kekacauan ini. Seharusnya aku tidak menikahi Andini. Dia berhak memiliki jalan hidupnya sendiri.
"Hei..kenapa diluar?" Riko menepuk bahuku.
"Astaghfirullah, aku pikir siapa. Kau mengagetkanku" aku terkejut.
"Aku mau menjenguk Andini. Apa boleh?" ijinnya.
"Tentu boleh, ayo masuk" Aku merangkul bahu kanan Riko dan mengajaknya masuk.
Author POV
cekrek
Dama membuka pintu ruang rawat inap Andini. Andini menoleh ke arah pintu, mengernyitkan kedua alisnya. Dama dan Riko masuk.
"Honey" Dama memeluk Andini, Andini membalas pelukan diperut Dama. Andini mendongakkan wajahnya. Riko berdiri mematung melihat kemesraan mereka.
"Kenapa melihatku seperti itu honey?" Dama mencubit hidung Andini.
"Aku kangen, kenapa lama Mas? dari mana saja?" Andini terlanjur terpukau dengan tatapan Dama hingga dia lupa ada Riko disana.
"Baru juga setengah jam aku tinggal. Dasar" Dama mengusap kepala Andini.
"Ehemm..." riko berdehem.
"Ah ya..Honey, Riko datang menjengukmu. Dia yang membantuku membawamu ke rumah sakit dan dia juga mendonorkan darahnya untukmu" kata Dama menjelaskan. Riko mendekat.
"Hai, bagaimana keadaanmu?" tanya Riko.
"Alhamdulillah bang, aku sudah membaik. Terimakasih atas semua yang sudah abang lakukan untukku" kata Andini, Dama memegang tangan istrinya dan terus mengusapnya lembut.
"Tidak perlu seperti itu. Aku ikhlas membantumu" jawab Riko masih berdiri. Andini mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang membuat hati Riko berdegup kencang. Senyuman manis itu yang selalu Riko bayangkan saat jauh dari Andini. Saat dirinya bertugas.
"Duduk bang, jangan berdiri terus" suara Andini menyadarkannya dari tatapan yang dia berikan pada Andini. Andini tidak nyaman ditatap seperti itu oleh laki laki lain selain Dama.
"Iya iya, aku duduk" Dama ikut duduk disofa, disebelah Riko.
"Mas, tolong ambilkan minum untuk bang Riko" Dama langsung berdiri berjalan ke arah kulkas. Mengambil dua botol minuman dingin. Lalu ia berikan pada Riko.
"Terimakasih" ucap Riko langsung meminumnya.
suara pintu diketuk. Perawat masuk membawakan makan untuk Andini. Dama dengan sigap menerimanya dan meletakkan diatas meja.
"Aku suapin ya?" Dama duduk disamping Andini. Menyuapi istrinya. Riko hanya diam menatap keduanya. Andini terus tersenyum dan sesekali tertawa karna kejahilan Dama.
"Kau sudah makan?" tanya Dama pada Riko setelah selesai menyuapi istrinya.
"Kebetulan belum" jawab Riko tersenyum.
"Mas, ajak bang Riko makan di kantin gih. Sekalian mas juga belum makan kan" kata Andini pada mereka berdua.
"Tapi kamu gak ada yang jagain sayang" Dama bingung harus meninggalkan Andini atau tidak.
"Aku gak papa mas. Udah sana buruan. Nanti telat makan malah sakit" Andini mendorong lengan Dama pelan.
"Yasudah, nanti kalau ada apa apa hubungi aku. Oke?" Dama mengusap kepala dan pipi Andini lalu mencium kening. Riko mengalihkan pandangannya.
15 menit waktu berselang, pintu ruang rawat Andini dibuka kasar. Andini terkejut saat melihat siapa yang masuk.
"Mba Rania?" Andini menyebut nama Rania. Ia datang sendirian dengan perut yang sudah membuncit. Rania berjalan mendekat, tatapannya tajam. Andini bingung dengan Rania yang seperti sedang marah.
Plak
Rania menampar keras pipi kanan Andini.
"Mba...kenapa menamparku? apa salahku?" tanya Andini sambil memegang pipinya yang merah.
"Kamu bodoh atau pura pura bodoh? kamu tanya apa kesalahanmu?"
"Kamu sudah merebut Dama dariku. Dia lebih perhatian denganmu dan aku dia acuhkan. Aku sedang hamil anak Dama. Oh ya..pasti kamu belum tau kan? jadi mulai sekarang suruh dia pulang ke apartemen! Aku tidak mau tau!!" Rania mengeluarkan amarahnya, dadanya naik turun.
"Dan jangan katakan apapun padanya kalau aku datang. Kalau sampai kamu mengadu, akan aku buat Dama meninggalkanmu sekarang juga!"
"Akan aku bongkar kepada orangtuamu, dan semua pasti akan berakhir" semua perkataan Rania langsung menusuk hati Andini. Dengan keadaannya saat ini, dia sangat membutuhkan Dama di sisinya. Dia tidak ingin berpisah dengan Dama. Tapi ia harus merelakan waktunya berkurang bersama Dama.
"Baik mba, aku akan menyuruh mas Dama pulang. Aku bisa jaga diriku sendiri. Tapi aku mohon, beri aku waktu bertemu mas Dama. Satu minggu sekali sudah cukup untukku" jawab Andini dengan mata yang berkaca kaca. Tidak apa bertemu hanya satu minggu sekali, yang terpenting Andini tetap bisa menatap bahkan memeluk suaminya Dama. Pikirnya.
"Aku pegang kata katamu Andini!" Rania merasa menang. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan dan menutup pintu.
Andini menangis. Kondisinya yang belum pulih, ditambah dengan kehilangan calon bayinya membuatnya terpuruk. Rasa kecewa dengan diri sendiri lebih dominan. Andini menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Mas, aku sangat memcintaimu. Apa aku sudah terlalu serakah? menginginkanmu hanya untukku saja? hiks hiks" Andini menangis menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Honey..ada apa? kenapa menangis? dan kenapa pintu terbuka? ada yang datang kesini? menyakitimu?" tanya Dama beruntun tanpa memberi jeda. Andini menggelengkan kepalanya. Memeluk perut Dama yg berdiri disampingnya. Masih menangis. Riko menatapnya sendu dan timbul banyak tanya dipikirannya.
"Sudah jangan menangis lagi. Ada Riko disini, apa kamu tidak malu?" Andini baru sadar kalau Riko ada, dia pikir Riko sudah pulang.
"Maaf mas, aku gak tau" Andini menyeka air matanya dibantu Dama dengan tisu.
"Maaf bang? melihatku seperti ini" kata Andini menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah. Wajar seorang wanita menangis. Keluarkan saja, biar hatimu lega" jawab Riko.
"Iya bang" jawab Andini lagi.
"Honey, Riko ingin berpamitan" ucap Dama masih berdiri disebelah ranjang.
"Berpamitan? abang mau tugas lagi?" tanya Andini.
"Iya dek, abang ditugaskan ke Palestina 6 bulan" jawab Riko.
"Lumayan lama bang. Kalau gitu hati hati disana ya. Semoga abang pulang dalam keadaan sehat walafiat. Amin" kata kata Andini membuat hati Riko berdegup kencang.
Bersambung...