Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Pertemuan pertama Dama & Rania (Flashback)


Satu Tahun Yang Lalu


Perusahaan milik Tama Ayah Dama, mengadakan family gathering di puncak Bogor. Dama sudah ikut berperan penting membantu Ayahnya sebagai wakil direktur. Tama berjanji pada Dama, akan memberikan perusahaan jika ia menikah.


Semua karyawan beserta keluarga masing masing sudah tiba di kawasan perkemahan Kampoeng Awan Bogor. Berkemah di tengah alam yang masih asri.


Terletak di Desa Megamendung, Puncak Bogor, Jawa Barat dengan ketinggian 1000m dpl. Memiliki pemandangan yang indah dan cantik. Kawasan yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Berdampingan dengan hutan pinus, serta dimanjakan dengan udara yang bersih dan sejuk. Saat pagi hari bahkan dapat menyentuh dan melihat kabut putih yang dingin.


Terdapat wahana outbound yang akan membuat family gathering ini berjalan lebih seru.


Dama satu tenda dengan Kemal asistennya, sedangkan Tama bersama dengan Sindi istrinya.


Perusahaan telah menyewa EO (event organizer) untuk mengatur berjalannya kegiatan apa saja dalam family gathering.


"Selamat pagi semua...Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh , Salam sejahtera untuk kita semua. Terimakasih untuk semua yang sudah berada disini, di kegiatan tahunan Family Gathering PT. Pangan Sakti Perkasa, Tbk. Saya Banyu Irawan selaku penanggung jawab EO acara hari ini. Jika ada yang ingin ditanyakan bisa melalui saya ataupun pada rekan saya Rania Hilma" menunjuk Rania yang berdiri disebelah panggung.


"Selanjutnya saya persilahkan untuk sambutannya dari Direktur Utama PT. Pangan Sakti Perkasa, Bapak Ir. Raytama Sakti. Silahkan bapak" Tama bangkit dari kursinya, berjalan naik ke atas panggung.


Sambutan dari Tama disambut meriah semua karyawan beserta keluarga. Dama ikut serta naik ke panggung setelah Tama memanggil dan memperkenalkannya sebagai calon penerus perusahaan.


"Terimakasih sekali lagi untuk ketersediaan waktunya ikut turut serta memeriahkan acara rutin tahunan Family Gathering perusahaan kita semua PT. Pangan Sakti Perkasa, Tbk. Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh" tepuk tangan riuh mengakhiri pidato Tama. Banyu dan Rania mendekat berjabat tangan dengan Tama juga Dama. Dama tersenyum tulus seperti biasanya tanpa menaruh perhatian lebih pada Rania.


Acara dimulai dengan senam pagi bersama lalu dilanjutkan breakfast. Banyu dan Rania mendekati Tama, ingin bergabung menikmati sarapan di meja yang sama. Dengan tujuan mengakrabkan selaku EO yang ditunjuk perusahaan. Dimeja itu juga ada Dama, Keymal dan Sindi.


Pada awalnya Sindi menanggapi seperti biasa tetapi dia mulai risih dengan sikap Rania yang seolah sengaja mendekati putranya. Duduk tepat disamping Dama. Sindi tahu jelas dari tatapan Rania pada putra tunggalnya itu.


"Silahkan pak" Rania membawa satu cangkir kopi pahit untuk Dama. "Ah...tidak perlu repot repot, saya bisa membuatnya sendiri. Tapi terimakasih, saya memang suka kopi pahit" tangan mereka bersentuhan.


"Ehem" Sindi berdehem, Rania mengalihkan tatapannya pada Sindi yang duduk di hadapannya. "Maaf Bu" seakan tahu arti tatapan dari Sindi, Rania memilih menunduk dan diam.


"Bunda..." Dama tidak enak hati dengan cara Sindi menatap Rania. Sindi mengedikkan bahu, kembali menikmati roti panggang di piringnya.


Sedangkan Tama dan Banyu sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri. Tanpa terasa waktu acara selanjutnya akan segera dimulai.


Acara selanjutnya permainan (game) antar divisi dengan perwakilannya masing masing. Dama mengabadikan momen ini dengan kamera yang dibawanya. Sesekali tersenyum dan juga tertawa melihat keseruan game yang berjalan.


"Pak, ini" Rania lagi lagi mendekati Dama dan memberi perhatian lebih. Memberikan botol air mineral. "Terimakasih Rania" menerima lalu meminumnya hingga tandas dalam sekali tegukan. Rania terpukau saat melihat jakun Dama yang bergerak naik turun. Begitu seksi menurutnya.


Dama memperhatikan tatapan Rania saat ia sedang minum. "Ada apa Rania?" tanya Dama setelah menghabiskan minuman itu.


"Hah?? maaf...maaf pak. Tidak ada apa apa" menunduk malu karna sudah kepergok melihat Dama. Dama tersenyum melihat kegugupan Rania.


*****


Malam harinya acara berlanjut dengan api unggun dan menikmati jagung bakar. Ada yang bernyanyi dengan diiringi petikan gitar, ada juga anak anak yang belum mengantuk berlarian kesana kemari dengan teman sebayanya.


Jaket tebal, kupluk, syal, kaus kaki dan sepatu mereka semua memakainya. Semakin larut akan semakin dingin.


Sindi yang sudah mengantuk, memilih masuk ke dalam tenda kemudian disusul Tama setelah sebagian sudah masuk ke dalam tenda juga. Lain dengan Dama, dia masih duduk didepan api unggun bersama Keymal dan beberapa karyawan lainnya.


"Jagung bakar lo gosong mal" ucap Dama saat melihat jagung bakar milik Keymal benar benar gosong.


"Yah yah yah...gosong dah" Keymal mengangkat jagung bakarnya yang sudah menghitam. Yang lain mentertawakan jagung yang gosong itu.


"Lo sih hape mulu yang diliat" cibir Dama lalu menggigit jagung bakar miliknya sendiri. "Nih buat lo. Untung gue bakar dua" memberikan satu jagungnya.


"Terimakasih pak" Keymal menerima dan langsung menggigit jagung bakar yang masih sangat panas. Keymal menjerit lidahnya terasa terbakar.


"Mal mal...lo tau ini jagung baru aja mateng, baru gue angkat. Tiup dulu napa" menepuk bahu Keymal dan bangkit berlalu meninggalkan api unggun, menuju kamar mandi yang terletak cukup lumayan jauh.


"Aaahhh...." suara jeritan Rania karena terkejut melihat Dama saat dirinya baru saja keluar kamar mandi.


"Maaf pak, saya pikir hantu"


"Mana ada hantu seganteng ini" melewati Rania yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Kamu kenapa masih disini?" tanya Dama pada Rania saat dirinya keluar dari kamar mandi.


"Sa..saya ta-kut pak"


Wajah polos tanpa riasan, hanya bibirnya saja yang kemerahan menarik perhatian Dama.


"Takut apa?" Dama mengalihkan pandangannya dan akan kembali ke tenda, dia sudah sedikit mengantuk.


"Pak..." menarik satu tangan Dama.


"Apa?" menoleh. "Saya takut gelap" ucap Rania mengeratkan pegangannya pada lengan Dama. Dama mengerutkan alisnya dan berdehem, karena dada Rania menempel di lengannya.


"Saya benar benar takut pak"


"Aaahhhh..." Rania memeluk Dama erat. Jelas saja Dama juga terkejut karena ulah Rania.


"Jangan takut!" menepuk bahu Rania. Mencoba melepaskan pelukan Rania.


"Saya takut pak" tidak mau melepaskan pelukan.


"Tapi saya tidak enak dengan yang lain. Kalau ada yang melihat bagaimana?" ucap Dama sambil melihat ke sekeliling yang minim cahaya.


Rania mendongakkan wajahnya, sejurus dengan tatapan Dama. "Saya mohon pak, bisa antarkan saya ke tenda?"


"Baiklah" Dama mengalah dan mengantar Rania ke tenda. Rania masih saja memegang erat pinggang Dama yang terbalut jaket tebal.


"Terimakasih pak" Dama mengangguk, Rania langsung masuk ke tenda. Sedangkan Dama kembali ke tendanya, tidur.


******


Family Gathering berlangsung hanya dua hari saja. Sore nanti mereka semua akan kembali ke ibu kota, kembali ke rumah masing masing dan menyiapkan tenaga kembali untuk rutinitas hari esok.


Seperti biasa, semua di awali dengan senam pagi lalu sarapan dan game. Setelah game, pimpinan perusahaan bersama EO akan membagikan doorprize dan juga hadiah untuk para pemenang game. Setelahnya makan siang dan acara bebas hingga sore hari.


Dama duduk sendiri di pinggir sungai kecil yang tidak jauh dari perkemahan. Pikirannya melayang mengingat calon istrinya Anisa memilih Firman sahabatnya. Dan kejadian itu sudah berlangsung cukup lama. Dama masih belum bisa menerima kenyataan. Rasa kecewanya dan ketakutan akan penghianatan lagi, membuatnya enggan memulai hubungan yang baru.


"Pak, kenapa sendiri? yang lain sedang outbond. Bapak tidak mau bergabung?" ucap Rania langsung duduk di sebelah Dama. Duduk diatas batu batu kali.


"Hanya ingin menikmati alam" ucapnya singkat tanpa melihat Rania.


Rania yang mulai tertarik dari pertama melihat Dama, terus berusaha mendekati dan mencari perhatian. Seperti saat ini.


"Aaahhh..." Rania terpeleset dan tercebur ke sungai. Dama terkejut dan langsung melompat, berenang mendekati Rania yang sudah terbawa arus.


Beruntung arus sungai tidak terlalu deras. Dama bisa menggapai tubuh Rania dan membawanya ke pinggir sungai.


Dama memberikan nafas buatan pada Rania yang pingsan. "Uhuk uhuk uhuk..." Rania mengeluarkan air dari dalam mulutnya dan langsung merangkul Dama.


"Saya takut pak" Dama menerima pelukan Rania. Dia bisa memaklumi karna Rania pasti ketakutan.


Pakaian mereka berdua basah dan pandangan Dama melihat lekuk tubuh Rania tercetak jelas. "Ehemm" mengalihkan tatapan.


"Pak...terimakasih" menarik tangan Dama dan menggenggamnya. Rania memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Dama yang basah dan dingin.


Dama membulatkan matanya. Setelah ciumannya dengan Anisa dulu, baru kali ini ia merasakan ciuman itu lagi.


Rania malu dan akan kembali ke tenda untuk mengganti pakaiannya. Tapi tangannya dicekal Dama. Merengkuh pinggangnya dan mencium bibir Rania dalam.


Rania tersenyum, membalas ciuman Dama yang menuntut. Suara cecapan keduanya sangat nyaring. Rania melepaskan pagutannya terlebih dulu, tapi Dama kembali mencium bibir Rania.


"Pak...cukup" menahan dada Dama. Mata Dama berkabut, gairahnya muncul begitu saja. "Aahh..." Dama meremas satu dada Rania dan kembali ******* bibir tebal dan seksi.


"Mmmp...pak" kembali mendorong Dama. "Aku menginginkanmu Rania" suara serak parau Dama.


"Jangan disini pak" ucap Rania didepan wajah Dama. Rania menarik dama kembali ke perkemahan. Membawanya masuk ke dalam tenda miliknya yang terletak di ujung.


Karena semua sibuk bermain outbond tidak ada yang memperhatikan Rania dan Dama masuk ke dalam tenda.


"Aahh...pak" Dama langsung melepaskan pakaiannya yang basah dan juga pakaian Rania, ia sobek.


Menciumi leher dan mengecupnya sambil melepas kaitan bra. Rania mencengkram kuat rambut Dama yang sedang menikmati pucuk dada miliknya yang padat dan penuh. "Emmpp...pak"


"Jangan panggil pak, sebut namaku Rania" kembali menggigit pucuk dada dan Rania menjerit lirih.


Dama terus membungkam mulut Rania yang mengeluarkan suara desahan dengan bibirnya. Dan hal itu terjadi antara Dama dan Rania. Dama menyadari kesalahannya telah berbuat dosa.


"Jadilah istriku, aku akan tanggung jawab" ucap Dama sambil memeluk Rania setelah perbuatan maksiat yang baru saja mereka lakukan.


"Tapi aku bukanlah orang terpandang, aku anak yatim piatu dan besar di panti asuhan" Rania bersandar di dada Dama.


"Bukan masalah. Aku tidak pernah memandang status sosial seseorang. Akan aku perkenalkan pada ayah dan bunda nanti saat kita akan menikah. Dan berhentilah bekerja. Jadi sekretarisku saja" Rania mengangguk setuju.


**Bersambung....


*****


Author : Alhamdulillah judul ini baru aja lolos kontrak. Terimakasih ya atas dukungannya 🙏 Jangan bosan kasih like, komen juga vote/giftnya 😁


I Love You All 😘😘😘**