Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Bom Waktu


Entah kenapa pagi ini aku tidak ingin kembali ke apartemen. Aku ingin lebih lama lagi bersama Andini. Tapi Rania sudah menghubungiku dan juga Andini berkali kali. Aku kesal dengannya. Dia selalu saja mengganggu waktu kami berdua.


Sebelum aku kembali ke apartemen, aku menagih janji Andini. Semalam ia sudah tertidur. Kami melakukannya lagi dan aku sangat berharap Andini segera mengandung darah dagingku lagi. Aku hanya menginginkan anak dari Andini.


Ada kecurigaan yang timbul di pikiranku sejak kepulangan Andini dari rumah sakit dua bulan yang lalu.


Satu hari sebelum terbang ke Bali bersama Andini. "Ikuti dan awasi wanita ini. Laporkan semua yang kamu dapatkan. Segera!" ucapku pada orang yang kusewa untuk mengawasi Rania dan juga foto.


Saat sarapan di hotel Bali, aku mendapatkan laporan dari Robi. Orang kepercayaan yang kubayar. Foto seorang laki laki datang ke apartemen saat aku sedang di kantor. Merangkul Rania dan mengusap perut buncitnya. Wajahnya tak terlihat karna posisi membelakangi kamera.


"Brengsek!!" aku mengumpat lirih, mengepalkan satu tanganku. Andini datang membawa beberapa menu sarapan. Meletakkan diatas meja "Sarapan dulu mas".


"Terimakasih" ucapku masih menatap layar ponsel dan aku benar benar marah, aku mencoba untuk menahan amarahku pada Rania.


"Mas...dimakan dulu" aku langsung menatapnya dan mengangguk. Memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


Hening...kami sibuk menikmati sarapan masing masing. Tatapanku kosong, terkadang melamun. Aku sungguh ditipu Rania. Aku semakin ragu dengan bayi yang dikandungnya.


"Mas, ada masalah? kenapa murung?" Andini menyentuh tanganku yang masih memegang sendok.


"Hah? gak..bukan apa apa. Cepat habiskan sarapanmu, kita akan jalan jalan" ucapku pada Andini, mengusap punggung tangannya.


Yang masih kuingat, terakhir kali bersenggama dengan Rania saat ia marah, mengamuk karna aku membatalkan perjanjian pra nikah dengan Andini. Setelah itu Rania menstruasi dan aku tidak menyentuhnya lagi. Bayangan Andini selalu ada dipikiranku. Aku terus menolak ajakan Rania saat dia terus mencoba menggodaku. Dan satu yang pasti, aku melihatnya sendiri, ia meminum pil KB setelah kami bercinta terakhir kalinya.


Drrttt


ponselku berdering kencang tepat saat aku memarkirkan mobil di basement apartemen. Kuraih dan muncul nomor tidak ku kenal.


"Halo..." sapaku.


"Ini gua Firman" suara Firman diseberang sana. Bagaimana bisa dia tau nomorku?.


"Ngapain lo nelfon gua?"


"Tadi gua dateng ke rumah lo. Sorry sebelumnya, Mentari ngrengek minta ketemu Andini, tapi tadi gua liat Andini digendong sopir lo masuk mobil. Andini sakit?"


"Apa?? lo salah liat kali. Istri gua ada dirumah"


"Beneran gua liat jelas. Gua ngikutin sampe perempatan depan tapi kena lampu merah jadi gua gak tau Andini dibawa ke rumah sakit mana"


Aku membisu, jantungku terasa berdetak kencang. Langsung kumatikan telfon Firman. Aku mencoba menghubungi ponsel Andini. Berkali kali tidak diangkatnya. Kuhubungi telpon rumah, Susan tidak mengangkatnya. Nomor Pono di luar jangkauan.


Brakk


aku kesal, memukul setir mobil.


Drrrtt


ponselku kembali berdering. Rania menelfon.


"Halo..." jawabku.


"Non Rania mau melahirkan pak" suara bik Nina terdengar panik. Aku bingung harus bagaimana. Andini tidak tau sekarang dimana dan keadaannya seperti apa tapi justru Rania akan melahirkan.


Aku menutup telepon lalu berlari ke arah lift.


*****


Dama menggendong Rania masuk ke dalam rumah sakit. Membaringkan ke atas brankar lalu ikut mendorongnya masuk.


"Nak Dama" menahan bahu Dama yang sedang mendorong brankar, tepat didepan ruang bersalin. Dama terkejut bukan main, Ayah Andini mertuanya.


"Ayah..Ibu" mertuanya melihat ke arah Rania yang tergolek di atas brankar, merintih kesakitan akan melahirkan. Rania terus memegang tangan Dama.


"Pak, istri bapak akan segera melahirkan" ucap suster yang mendorong brankar semakin menancapkan belati di hati Andika dan Andina.


Dama menganggukan kepalanya sedikit, berpamitan pada orang tua Andini lalu ikut masuk ke dalam ruangan bersalin. Entah bagaimana nasib rumah tangganya bersama Andini dan juga kondisi Andini saat ini, kepala Dama terasa pening. Dalam satu waktu, semua kejadian menghantamnya.


"Yah..." Andika tau apa yang dipikirkan istrinya.


"Kita harus meminta penjelasan Dama dulu bu. Jangan beritahu Andini!" Andina mengangguk setuju. Mereka memilih duduk di kursi tunggu didepan ruang bersalin. Tak jauh darisana, Nina duduk dengan membawa satu koper milik Rania.


*****


Tak butuh waktu lama, Rania melahirkan putranya. Dama setia menemani. Mengadzani dan iqomat. Meski dihatinya merasa ragu tapi seorang bayi yang masih suci tidak berdosa menghanyutkan perasaannya. Tangan mungil menggenggam jari telunjuknya, hatinya berdesir merasakan haru.


"Sayang, putra kita" Rania mendekap bayinya lalu menatap Dama. Dama mengangguk, mengusap lembut kepala bayi laki laki yang sedang mencari ****** susu.


"Sudah ada nama yang kamu siapkan?" tanya Dama pada Rania.


"Adhitama Sakti, putra yang tampan" jawab Rania.


"Nama yang bagus. Terimakasih" mengecup kening Rania.


Brankar Rania didorong keluar dari ruang bersalin, putranya Adhitama berada digendongannya. Nina mendekat. Dama melihat mertuanya masih duduk menunggunya.


"Ada yang harus aku urus" ucap Dama pada Rania, hanya usapan di lengan Rania lalu pergi berjalan mendekati Andika dan Andina yang sudah siap meminta penjelasan.


Rania merasa ada perubahan sikap pada Dama. Dama seperti tidak begitu antusias dengan kelahiran putra pertama mereka.


"Ayah, Ibu" Andika dan Andina bangkit.


"Kita bicara di kantin saja. Ayok bu" menggandeng tangan istrinya Andina. Dama mengangguk dan berjalan mengikuti mertuanya.


Duduk berhadapan dengan kedua orang tua Andini, Dama seperti sedang di sidang. Dia hanya ingin menjawab semuanya jujur apa adanya.


"Nak Dama" Andika terlebih dulu membuka suara.


"Iya Ayah" jawab Dama dengan raut wajah gugup.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi tadi?" Andika masih dengan suara tenangnya. Berharap apa yang dikatakan menantunya bukan sesuatu yang buruk seperti yang mereka pikirkan.


"Maaf Ayah..Ibu" kata maaf sudah menyiratkan sesuatu yang mereka pikirkan benar terjadi.


"Maaf untuk apa?" kini Andina yang bertanya. Dari tadi ia menahannya.


"Untuk..." kalimatnya terjeda, menghela nafasnya perlahan. "Maafkan Dama sudah berbohong selama ini. Wanita hamil tadi istri pertama Dama" menunduk.


"APA???" Andina menggebrak meja. "Tenang bu" Andika memegang kedua bahu Andina untuk duduk kembali.


"Istri pertama? bagaimana bisa? Jadi...selama ini kami juga dibohongi oleh Tama dan Sindi?" mengepalkan satu tangannya diatas meja, tangan satunya menggenggam erat tangan Andina istrinya.


"Tidak Ayah...Ayah dan Bunda tidak tau apa apa soal Rania" Dama tidak ingin orang tuanya terseret ke dalam masalah ini.


"Lalu?" tanya Andika lagi.


"Dama sudah menikah sirih terlebih dulu dengan Rania dan Andini tau setelah kami sah menjadi suami istri" kembali menunduk.


"APA?? Putriku Andini juga sudah tau? Yah...Andini" Andina menangis di pelukan suaminya.


"Tenang bu, sabar" menepuk punggung Andina yang terus menangis.


Bersambung....