
"Pak, kenapa saya gak dikasih tau soal audit siang ini?" Kemal kesal pada Dama.
"Santai Mal, ini kan jadwal rutin kaya biasanya. Gak usah tegang gitu. Santai bro, kalo bersih gak usah gugup" celetuk Dama sambil menepuk bahu Kemal. Kemal mengernyitkan keningnya, merasa tersindir dengan ucapan Dama barusan.
"Gua balik cepet mau kerumah bunda. Selesein kerjaan lo biar gak nglembur" Dama pergi meninggalkan Kemal yang masih duduk di meja kerjanya. Sebelum Kemal mencari tahu, Dama terlebih dulu memberikan alasan dirinya pulang lebih awal.
Sampai di basement, Dama masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya ke arah rumah Firman untuk menjemput istrinya Andini.
Aku ke rumah bunda trus nginap lagi disana. Dama mengirimkan pesan pada Rania saat diberhenti di perempatan lampu merah, tidak jauh dari rumah Firman.
Hanya butuh 5 menit dari perempatan untuk sampai dirumah Firman. Dama melihat Andini yang sedang duduk di teras bersama Mentari dan ibu Firman.
"Mas..." ucap Andini, bangkit dari duduknya.
"Assalammualaikum..." sapa Dama sopan.
"Walaikumsalam" jawab ibu Firman dan Andini serempak. Menghampiri Dama, bersalaman. Andini mencium punggung tangan suaminya.
"Tante gimana kabarnya? maaf...saya ngrepotin tante. Terimakasih sudah mau menerima Andini tinggal sementara disini" Dama mengatupkan kedua tangannya setelah melepaskan rangkulannya di bahu Andini.
"Alhamdulillah kabarnya baik nak Dama. Gak papa kok. Tante malah seneng. Mentari juga seneng kan?" tanya Ibu Firman pada cucunya yang masih bermain.
"Iya oma, Mentari seneng banget Mama Dini disini. Mentari jadi ada temen main tapi om Asep udah pulang ke kampung, terus Mama Dini mau pulang juga?" mencebikkan bibirnya, merajuk. Mentari memeluk pinggang Andini. Ia memang selalu memanggil Andini dengan sebutan Mama. Kali ini Dama tidak marah, ia membiarkannya.
Karena keadaan sudah aman, Asep sudah pulang ke kampungnya tadi pagi diantar oleh Firman.
"Besok mama kesini lagi. Nanti kita main lagi ya?! anak cantik, anak pintar jangan sedih" Andini berjongkok mensejajarkan dengan Mentari, lalu memeluk.
"Janji ya...Mentari tunggu!" memberikan jari kelingkingnya.
"Iya, mama Dini janji" menautkan jari kelingkingnya tanda akan menepati janji.
"Yaudah...sekarang om boleh ajak mama Dini dulu?" Dama ikut berjongkok, memegang bahu Mentari.
"Iya boleh tapi jangan nakalin mama Dini. Awas kalo om nakal!" Dama tergelak, mengacak rambut Mentari.
"Mentari...gak boleh galak gitu ah. Tunggu mama ya?" mengecup kening Mentari lalu mencium punggung tangan Ibu Firman.
"Assalammualikum tante" salam Andini dan Dama bersamaan
"Walaikumsalam" jawab Ibu Firman dan Mentari.
Mentari terus menatap Andini sampai masuk ke dalam mobil.
"Udah...masuk yuk?! Mentari kan belum makan, oma suapin ya?" menganggukkan kepalanya, menggandeng tangan omanya dan masuk ke dalam rumah.
Dama memakaikan seatbelt lalu mengecup bibir Andini. "Mass..." memukul lengan Dama, ia terkejut. Dama meringis.
"Dikit doang" mencubit pipi Andini lalu melajukan mobilnya menuju toko bakery untuk membeli cake ulang tahun.
"Ih...dasar, curi curi kesempatan" saling memandang dan tertawa bersama.
*****
Dama memarkirkan mobilnya di halaman tetangga rumah orangtua Andini. Mengulurkan tangannya dan disambut oleh Andini. Tangan kirinya menenteng cake, sedangkan Andini membawa kado di tangan kanannya.
"Mas jangan bilang sama Ayah Ibu soal penculikan aku kemarin. Aku gak mau Ayah Ibu jadi benci sama mas Dama" ucap Andini lirih.
"Iya istriku" ledek Dama.
"Ish..." Andini mencibir.
Karena hari sudah hampir malam, lingkungan disekitar rumah terlihat sepi. Mereka berdua sampai pada bibir gang kecil dan melewati beberapa rumah untuk sampai di rumah Andika dan Andina.
tok tok tok....
"Assalammualaikum...Ayah, Ibu" Andini mengetuk sambil mengucap salam.
Ketukan pertama tak mendapat jawaban. Ketukan kedua pun sama. Hingga ketukan ketiga, suara Andina terdengar.
"Walaikumsalam...iya sebentar" Andina memutar kunci pintu dan membukanya. Masih mengenakan mukena lengkap.
"Ibu..."
"Andini...nak Dama" mencium punggung tangan Andina bergantian.
"Ayah..." Andini melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan Ayahnya. Begitu juga dengan Dama.
"Ayok masuk, duduk dulu. Mau minum apa nak?" Andina begitu senang melihat Andini dan Dama datang, meskipun hatinya masih kecewa dengan menantunya itu.
"Gak usah repot repot bu. Nanti Andini ambil sendiri. Ibu duduk sini" Andini menepuk kursi di sebelahnya. Andina menuruti ucapan putrinya. Andika duduk dihadapan Dama.
"Ibu...Selamat Ulang Tahun. Andini sayang ibu" memeluk ibunya erat. Keduanya menangis haru bersama.
"Terimakasih nak. Ibu pikir kamu lupa tapi ternyata datang kemari. Ibu seneng banget" memeluk lagi putrinya.
"Andini gak akan pernah lupa. Ibu, Ayah orangtua terbaik yang aku miliki. Oh iya, Mas kuenya" Dama langsung membuka cake yang dibelinya tadi.
"Ini dari kami juga bu. Semoga ibu suka" Dama memberikan satu paperbag berisi tas bermerk seperti milik Sindi, bundanya.
"Ibu jadi gak enak pake dikasih kado juga. Ini mahal banget pasti kan?! Aduh...ibu takut makenya" Andina masih membolak balikkan tas itu di tangannya.
"Yaudah disimpan aja tasnya" Andika menimpali.
"Tapi sayang juga kalau gak dipakai yah, nanti bisa rusak" mengusap usap tas dipangkuan.
"Bilang aja mau dipakai ke pengajian, biar gak diledekin terus tuh sama temen temennya karna tasnya itu itu aja" Andika tertawa. Andina dan Dama ikut tertawa juga.
"Ah...Ayah tau aja. Makasih banyak nak Dama. Ibu suka kadonya" senyuman merekah terus tersungging di wajahnya.
"Sama sama bu" jawab Dama merangkul Andini.
"Potong kuenya bu" Andini menyodorkan pisau khusus cake.
"Ibu ambil piring dulu" Andina pergi ke dapur mengambil 4 piring kecil dan garpu.
"Ini untuk Ayah, ini untuk nak Dama, ini untuk Andin dan ini untuk Ibu" Andina memberikan satu persatu piring berisi kue tart.
Mereka berempat menikmati kue bersama, sambil berbincang dan tertawa. Hingga pada saatnya, Dama memberanikan diri untuk meminta maaf perihal kejadian lalu saat dirumah sakit. Andini sudah tahu dari Dama, ia menceritakan semua. Andini berharap orang tuanya bisa menerima permintaan maaf suaminya.
"Ayah, Ibu. Ada yang ingin Dama sampaikan. Ijinkan Dama untuk meminta maaf atas semua kesalahan Dama pada Ayah Ibu dan terutama Andini. Dama sungguh sungguh mencintai Andini. Dama gak akan sanggup hidup tanpa Andini. Dan Dama akan segera menceraikan Rania. Dama berharap Ayah Ibu memaafkan Dama" tatapan mata serius dan tulus dari Dama.
"Kenapa harus bercerai? kalian sudah memiliki anak" ucap Ayah. Ibu diam karena saat ini tangannya digenggam Andini agar tenang.
"Anak itu bukan anak Dama yah" menunduk.
Andika dan Andina syok mendengarnya. Mereka berdua menatap Andini dan dibalas anggukan oleh putrinya.
"Jadi, apa Ayah dan Ibu mau memaafkan Dama? dan tetap menerima Dama jadi menantu?" Dama kembali bertanya.
"Kalau Ibu...semua tergantung dengan Andini. Ayah bagaimana?" Andika mengangguk, setuju dengan ucapan istrinya. Andina menatap putrinya yang masih menggenggam tangannya.
"Andini sayang dan cinta mas Dama. Andini menerima apapun kekurangan dan kelebihan mas Dama. Kesalahannyapun Andini sudah maafkan" menatap kedua orangtuanya.
"Yasudah...Andini saja mau menerima kenapa Ayah dan Ibu menolak? Ayah dan Ibu memaafkanmu. Ayah berharap nak Dama memegang janji itu. Bahagiakan putri Ayah" tersenyum.
"Terimakasih Ayah, Ibu. Honey...terimakasih" memeluk Andini erat.
*****
Malam semakin larut, suara desahan yang tertahan dari bibir Andini. Ia sadar kini mereka ada dirumah dimana Ayah dan Ibu tidur dikamar yang bersebalahan dengan kamarnya.
Dama mengungkung Andini dibawahnya. Kecupan kecupan lembut mendarat disetiap inci tubuh Andini. Dan kini Dama sedang mengulum puncak dada. Andini yang sudah belingsatan, ingin segera menyatukan tubuhnya dengan tubuh Dama.
Hanya beberapa detik, Dama sudah mengayun tubuhnya. Kedua kaki Andini melingkar kuat dipinggang suaminya mengikuti ritme gerakan.
Kegiatan olahraga malam itu masih berlanjut hingga waktu dini hari. "Mas..." Dama langsung meraih handuk kecil yang sudah Andini letakkan diatas meja sebelah ranjang. Dama menyeka milik Andini lalu miliknya.
"Udah pagi, tidur ya? aku capek" ucap Dama setelah meletakkan handuk sembarang. Memakai celana boxer, memakaikan juga underware Andini.
"Tumben mas capek" Andini merebahkan kepalanya ke atas lengan Dama sebagai bantalan lalu memeluk dan menghirup aroma tubuh suaminya setelah bercinta.
"Kamu ngeledek aku? mau aku buktiin? kasih aku waktu satu jam istirahat. Entar aku habisin kamu. Berani?" Andini beringsut membenamkan wajahnya ke dada Dama.
"Gak berani, aku tarik ucapanku tadi mas. Udah tidur aja" Dama tertawa, mencubit pinggang Andini.
Bersambung...