
Setelah 7 hari dirawat di rumah sakit pasca oprasi, kini Andini sedang membawa Aisyah dalam pangkuan diatas kursi roda yang Dama dorong menuju lobby rumah sakit. Andini dan baby Ais sudah diperbolehkan untuk pulang. Meski Aisyah lahir prematur tapi kondisinya sangat bagus, hanya saja perlu penanganan khusus beberapa hari.
Adhi antusias saat datang untuk menjemput Mama dan adiknya. "Sabar kakak...nanti kalau udah di mobil, kakak Adhi boleh cium Ais" ucap Andini pada Adhi yang terus merengek ingin mendekati baby Ais. Adhi digendong oleh Nina.
Orangtua dan mertua sudah berada di mobil belakang. Menunggu mobil baru yang Dama belikan untuk Andini melaju terlebih dulu.
"Mas kenapa beliin mobil gini sih. Ini kan mahal banget" ucap Andini pada Dama yang duduk di sebelah sopir. Sebuah mobil Vellfire keluaran terbaru berwarna putih.
"Hadiah untuk istriku yang sudah berjuang melahirkan keturunanku" Dama menoleh ke belakang, tersenyum melihat istrinya yang memancarkan wajah keibuan yang semakin seksi menurutnya.
"Apa sih mas? ngeliatinnya gitu banget" Dama hanya mengedipkan matanya lalu kembali meluruskan tubuhnya ke arah depan. Andini sudah tahu arti dari kedipan mata suaminya.
Adhi sedang menciumi baby Ais. Meskipun usianya baru 9 bulan, Adhi mengerti bahwa bayi kecil di pangkuan Andini adalah adiknya. "Kakak sayang baby? iya?" tanya Andini pada Adhi. Balita itu menjawab dengan celotehan tidak jelas. "Mama juga sayang kakak, juga baby Ais" mencium pipi Adhi, Adhi membalasnya. Dama tersenyum melihat Andini bersama Adhi dan juga Aisyah.
"Adhi sama papa?" mengulurkan tangannya. Nina menyerahkan Adhi pada Dama. Dama menciumi juga menggelitik Adhi sampai tertawa kegelian.
Andini merasa lengkap dengan kebahagiaan rumah tangganya saat ini, walaupun harus dengan mengorbankan hatinya terlebih dulu untuk rela berbagi dengan wanita lain. Tapi kini buah manis telah ia rasakan.
Mobil terus melaju sampai tiba di rumah mereka. Dama memberikan Adhi pada Nina lalu membantu Andini turun dan berjalan masuk ke rumah.
"Hati hati nak...biar Aisyah sama Nenek" Andina mengambil alih cucunya itu. Dama masih membantu Andini berjalan.
"Sakit?" tanya Dama karena melihat Andini berjalan sambil meringis.
"Sedikit mas" masih berpegangan suaminya.
"Untuk sementara kamar kita pindah di kamar tamu. Biar kamu gak capek naik turun tangga" Andini mengangguk setuju, menahan sakit luka oprasinya.
"Yaudah, istirahat dulu! biar Aisyah, nenek dan kakeknya yang jagain. Kamu, mas aja yang jagain" mengusap lengan Andini yang sedang dalam rangkulannya didepan ruang keluarga.
"Hemm...ada maunya" Dama hanya tersenyum sambil terus memapah Andini masuk ke dalam kamar.
Dama membaringkan Andini ke atas ranjang. "Sinih aku peluk" Dama mendekati istrinya, membawanya dalam dekapan. "Aku kangen satu ranjang sama kamu" mengusap pipi Andini.
"Baru tujuh hari mas. Mas inget, aku masih masa nifas. Ditahan dulu kepengennya" meraba dada Dama didepan wajahnya.
"Iya sayang, semoga aku bisa. Tapi kalau cium cium boleh kan?" belum Andini berkomentar, Dama sudah menciumi seluruh wajah Andini. "Mas...udah. Cukup" Dama justru menangkup wajah Andini, meraup bibir merah yang sudah 7 hari ini tidak ia rasakan. Andini membalas pagutan itu lalu menyudahinya.
"Mas, cukup. Nanti mas yang kelabakan kalo diterusin. Sabar ya suamiku" mengusap dada Dama, mencoba meredakan ***** suaminya yang hampir meletup.
"Iya iya...tidur aja yuk?!" Dama kembali mendekap Andini. Mereka tidur siang bersama hanya satu jam, karena Aisyah sudah menangis ingin menyusu.
*****
Pesta ulang tahun Adhitama yang pertama diadakan cukup meriah di restoran cepat saji. Teman teman playgroup beserta orangtua datang dengan membawa kado untuk Adhi. Adhi yang sudah bisa berjalan, sibuk mondar mandir tidak bisa diam. Asep dan Nina mengawasi Adhi, sedangkan Dama menggendong Aisyah. Andini sendiri? sibuk menerima tamu undangan dibantu Andina dan juga Sindi. Tak lupa dua badut datang memeriahkan acara.
Adhi yang masih tidak mengerti, tetap menikmati keramaian. Sampai disaat waktunya untuk meniup lilin, Adhi sudah tidak sabar. Lagu belum selesai dinyanyikan, Adhi sudah meniupnya.
Tema Dinosaurus favorit Adhi
Andini menggendong Aisyah, menggenggam erat tangan suaminya. "Mas..."
"Tenang, ada aku" mengusap lengan Andini yang dirangkulnya.
Susan dikawal dua polwan dengan pakaian santai, agar tidak mencolok. Semua tamu masih berada disana, acara akan diakhiri dengan bagi bagi coklat dan permen oleh badut.
"Cucuku Adhi" menghampiri Adhi. Nina menatap Andini dan Dama meminta persetujuan, Adhi sedang digendongnya.
"Ini enin...nenek kandung Adhi" melirik sinis pada Andini. Adhi tidak mau didekati, menangis lalu mendekati Andini. Dama meraih Aisyah digendongan Andini.
"Cup cup sayang" Andini mengangkat Adhi. Susan kesal melihat cucunya sendiri tidak mau dengannya tapi justru memilih ibu angkatnya.
"Adhi cucuku! sampai kapanpun dia cucuku! Adhi bukan anak kandung mereka! Adhi cucuku, cucu kandungku!" Susan berteriak marah. Semua tamu dan anak anak ketakutan melihat Susan yang mengamuk.
"Adhi putraku! Sampai kapanpun dia tetap putraku! Kakak dari Aisyah!" Andini membalas ucapan Susan.
"Cepat bawa dia keluar!" ucap Dama pada dua polwan yang sudah memegang kedua lengan Susan.
"Lepas! Lepas! Dia cucuku! Adhi cucuku! Jangan harap kalian bisa menjauhkanku dengan cucuku!" terus berteriak sampai akhirnya di paksa masuk ke dalam mobil polisi.
"Maaf, semua salahku. Aku pikir baik untuk Adhi mengenal neneknya" memeluk Andini sekaligus Adhi dan Aisyah.
Kegaduhan tadi dapat diatasi dengan cepat dengan bantuan Asep. Semua berjalan kembali hingga penutupan acara dengan doa bersama.
"Pak, maaf. Sekedar mengingatkan. Besok pagi kita harus sudah sampai di Bangka Belitung" ucap Asep pada Dama yang duduk di bangku sebelah sopir. Dama dan Andini duduk di bangku tengah bersama Aisyah dan Adhi. Sedangkan Nina duduk di paling belakang dengan setumpuk kado disampingnya.
Asep yang baru dua bulan di angkat menjadi asisten pribadi merangkap sekretaris Dama, menggantikan Kemal yang berkhianat. Dama dan Andini merasa berhutang budi dengan Asep. Awalnya pria muda itu ragu ragu karena hanya lulusan SMA, tapi Dama meyakinkannya dan Asep menerima. Sebagai aspri dan sekretaris, Asep juga dibiayai kuliah oleh Dama agar semakin memantapkan pribadinya.
"Oke, semua sudah beres?" Dama berbalik bertanya.
"Sudah pak. 5 tiket sudah ditangan saya" jawab Asep.
"Jadi...besok, kita semua ikut mas?" Andini menatap suaminya.
Dama mengangguk "Iya sayang, sekalian kita liburan. Bik Nina juga ikut" Nina senang mendengarnya. Kapan lagi dia diajak berlibur naik pesawat.
"Kita bisa bulan madu lagi" bisik Dama dan lainnya masih sanggup mendengar, terutama Nina.
"Tenang pak, ada saya. Nanti Aisyah sama Adhi tidur sama saya aja pak" celetuk Nina.
"Bagus bagus" Dama tertawa, sedangkan Andini malu menutup wajahnya dengan memeluk Aisyah. Adhi memegangi janggut Dama yang terdapat jambang tipis. Asep dan sopir didepan saling melirik dan tersenyum tipis.
*****
Masih ada Bonus Chapter satu lagi gaes...ditunggu ya 😊