
"Aw...pelan pelan mas. Sakiiitttt" Andini mengaduh.
"Aku udah pelan pelan honey. Sebentar lagi"
"Tapi sakiiittt mas"
"Diamlah dulu"
Di sofa ruang santai yang menghadap langsung kolam renang, tangan Dama terus memijit kaki Andini yang pegal pegal karna seharian mereka berkeliling. Andini yang sudah berganti pakaian tidur berbahan satin bertali satu, meluruskan kakinya diatas paha Dama.
PLAKK
Andini memukul tangan Dama yang mulai jahil meraba ke pahanya. "Mas, pijitin aku aja! Jangan yang lain lain, aku capek" Dama tersenyum licik.
"Honey...." suara manjanya sambil kedua tangannya sudah mengusap naik ke atas paha.
"Mmaas...STOP! aku capek" menahan kedua tangan Dama yang sudah berada dekat dengan underwarenya. Piyamanya sudah tersingkap ke atas sampai pinggangnya.
Dama langsung mendorong Andini sampai terbaring di atas sofa, menyambar bibir mungil merah yang terasa manis. Mengabsen tiap gigi yang berderet rapih. "Emmmppphhh...." lenguhan terdengar dari bibir Andini. Pakaiannya sudah terangkat sampai leher dan langsung dilepaskan oleh Dama. Begitu juga dengan baju miliknya telah ia buang sembarang. Menyerbu leher, tulang selangka dan bagian atas dada. Sesapan demi sesapan telah ia sematkan disetiap inci tubuh istrinya Andini.
Dada Andini naik turun, meremang saat tangan Dama dengan lembut meraba pinggang lalu meremas bokongnya sambil mulutnya terus ******* pucuk dada Andini. Tempat favorit Dama sekaligus sensitif bagi Andini.
"Kamu sudah basah sayang" meraba tubuh bagian bawah Andini. "Emm..." wajahnya merah merona. "Kamu menginginkannya juga?" Andini mengangguk lemah dengan mata berubah sayu. Kabut gairah sudah terasa diambang batas. Andini bangun setengah duduk lalu mendorong Dama. "Duduklah mas" berjongkok dihadapan Dama yang sudah duduk diatas sofa dengan kaki menjuntai ke lantai. Miliknya yang sudah tegak diremas oleh Andini, diusapnya naik turun. "Ough...honey. Kamu liar sekali malam ini" suara parau Dama, matanya menatap lurus melihat Andini yang sedang memanjakan miliknya. Dama mendesah, tangannya gatal melihat dada Andini yang bergoyang. Menjulurkan tangan kirinya, memilin pucuk dada. "Mmm...aahhh mas" Andini melenguh di sela sela lumatannya pada milik Dama.
Dama yang tidak tahan lagi, langsung menarik Andini duduk diatas pangkuannya. Menyambar bibir Andini yang sedikit bengkak karena miliknya yang penuh berada di dalam mulut Andini. "Aku menyukai caramu honey...aku semakin bernafsu. Akan aku memakanmu sampai pagi meskipun kau memohon untuk berhenti tak akan aku lakukan" seketika Andini bergidik ngeri saat mendengar kata kata Dama.
Dan hal itu benar benar terjadi. Hingga pagi hari sebelum adzan subuh. Dama masih memompa tubuhnya diatas ranjang. Andini terus mendesah walaupun dirinya dan Dama sudah berkali kali kli*maks. Ramuan yang mereka minum di kedai pinggiran jalan yang sangat terkenal di pulau Bali, sesaat sebelum mereka sampai di Vila, berhasil dan mujarab.
"Aahhh...mass..."
"Andini...sayangku"
"Maass...lebih cepat"
"Ough...Andini...aku sangat mencintaimu"
"Aahhhhhhh...aku juga mas. Emmmhhh...."
******
Andini dan Dama bersiap untuk ke bandara Ngurah Rai. Honeymoon mereka telah usai. Pekerjaan Dama yang menumpuk dan tesis Andini sudah menanti di ibu kota.
Andini memejamkan matanya karena mengantuk dan kelelahan akibat pergulatan mereka sampai subuh menjelang. Benar benar melelahkan dan mereka tertidur sampai siang hari. Dan sore ini mereka sudah mengudara kembali ke Jakarta.
Dama terus tersenyum memandang wajah Andini yang sedang tertidur menyandar di bahunya. Jemari mereka saling bertautan, bergenggaman erat. Memanfaatkan momen kebersamaan yang akan sedikit sulit mereka rasakan sesampainya di Jakarta nanti. Karena Rania sudah mendekati bulan kelahiran putranya. Ya jenis kelamin bayi yang sedang dikandung Rania adalah laki laki.
Dama kembali teringat mimpi Andini saat mereka kehilangan janin yang masih sangat muda. Dalam mimpi Andini, anak laki laki bernama Bima yang memanggil Mama dan bermain tertawa bersamanya.
"Mas..." Andini membuyarkan lamunannya. "Iya honey" jawabnya sambil mengusap pipi.
"Bisa gak nanti kita mampir dulu ke warung pecel lele didekat rumah? aku laper" meringis sambil memegangi perutnya. Dama tertawa, mengusap kepala Andini yang berbalut kerudung.
"Iya honey...nanti kita mampir. Mau dimakan disana atau dibungkus?" masih menggenggam tangan Andini.
"Disana aja mas. Mmm...mas" Andini sedikit ragu, ia takut kecewa mendengar jawaban Dama.
"Iya, ada apa?" melihat keraguan Andini.
"Mas, malam ini tidur di rumah atau di apartemen?" tanya Andini perlahan.
"Aku tidur dirumah, tidur denganmu, di kamar kita" jawab Dama berbisik di telinga Andini. Pipinya kembali merona. Dia tau maksud Dama. Dama ingin melakukannya lagi nanti malam.
"Masss!!" memukul manja lengan Dama, terkejut dengan ciuman yang barusan Dama lakukan. Dama tersenyum jail.
*****
"Makan yang banyak, kita akan bertempur lagi malam ini" bisik Dama saat pesanan nasi lele goreng krispi dan sambal bawang sudah di meja mereka. Andini mencubit paha Dama. "Aw...kamu udah gak sabar?"
"Apaan sih mas. Udah ah, makan dulu. Aku laper" Andini makan langsung dengan tangannya.
"Honey...kenapa pake tangan?" Dama menahan tangan Andini yang akan mencuil ikan lele.
"Ihh...mas. Namanya makan pecelan ya pake tangan, masa pake sendok. Susah..." melepas tangan Dama dengan tangan kirinya.
"Nanti itu aku panas, tangan kamu kena sambel" bisik Dama. Andini membulatkan matanya pada Dama.
"Trus apa bedanya sama mulut aku? mulut aku juga kepedesan makan sambal" menunjuk mulutnya sendiri.
"Ah iya, kamu gak usah makan sambel" menyingkirkan sambel dari depan piring Andini.
"Makan gak pake sambel mana enak mas" menarik lagi sambel dan mencocolnya dengan cuilan lele yang sudah ada di tangannya.
"Yaahhh..." Dama meluruh lemas melihat Andini terus makan memakai tangan dan juga sambel. Andini tertawa melihat ekspresi Dama.
Dalam waktu setengah jam, Andini sudah memakan tiga porsi nasi lele goreng krispi dan sambel bawang, juga satu mangkuk sayur asem. Dama terperangah melihat kerakusan Andini. Andini memang sosok perempuan yang tidak malu dengan tingkahnya yang nyeleneh. Dama menyukainya, sangat. Andini yang apa adanya.
"Udah kenyang?" tanya Dama sambil menghidupkan mesin mobil, memutar balik ke arah rumah yang tidak jauh dari warung pecelan.
Andini hanya menganggukan kepala lalu menurunkan kursi mobil setengah rebahan. Hanya berselang sekian menit, suara dengkuran halus terdengar dari bibir Andini. Dama tersenyum melihat Andini yang tertidur karna kekenyangan, mengusap kepala. "Dasar kebo!" mencubit pipi, Andini menggeliat kecil.
Mobil sudah masuk ke dalam garasi. Dama menggendong Andini masuk ke dalam rumah, ke kamar mereka.
"Pak Pono, tolong keluarkan koper koper di bagasi. Dan juga cuci mobilnya besok pagi" Pono mengangguk mengerti. Mobil Dama yang ia tinggal beberapa hari di bandara sangat berdebu.
"Bik..bik Susan" memanggil Susan setelah meletakkan Andini di atas kasur. Dama turun ke lantai bawah.
Terdengar suara Susan sedang berbicara di telpon dengan seseorang.
Nak, mereka sudah kembali. Susan.
Iya bu...
Saat Dama akan mengetuk pintu kamar Susan, ponsel di saku celananya berdering nyaring. Susan terkejut dari dalam kamarnya.
"Halo..." jawab Dama.
"........."
"Besok aku ke apartemen" jawab Dama lagi.
"........."
"DIAM!! aku lelah, aku mau tidur" Dama berteriak marah pada Rania yang memintanya untuk ke apartemen malam ini juga. Lebih tepatnya Rania mengancam Dama dengan membawa bawa bayi dalam kandungannya.
Dama mengurungkan niatnya yang akan meminta Susan membuatkan minum untuknya. Dama beralih ke dapur, mengambil dua botol air mineral dingin. Kembali ke lantai atas ke kamar mereka.
Bersambung....
*****
Mau tempur lagi, gatot gara2 Andini udah tepar karna kekenyangan 😂