Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Jatuhnya Talak


Andini kembali aktif di kampus. Dama mengantar dan menjemputnya. Dama masih trauma mencari sopir untuk Andini. Sedangkan ART dirumahnya digantikan oleh Nina. Andini bersedia menerima Adhi merawatnya untuk sementara waktu.


"Prof, bulan depan saya udah bisa sidang?" tanyanya pada Firman.


"Iya, kamu kok kaya gak percaya gitu?" Firman meletakkan pulpennya.


"Kaya mimpi. Mungkin karna banyak masalah kemarin jadi gak berasa prof. Gak nyangka aja" meringis.


"Yang penting sekarang lebih fokus lagi. Mematangkan lagi yang udah didepan mata. Satu bulan waktu yang sebentar lho" ucap Firman masih duduk berhadapan dengan Andini.


"Iya prof. Siap!" meringis lagi sambil hormat. Keduanya tertawa.


"Mentari nanyain kamu terus. Kapan main lagi ke rumah katanya" Firman menyampaikan apa yang dikatakan putrinya.


Karna pembahasan sudah diluar konteks tesis, Andini dan Firman kembali seperti teman yang bicara santai.


"Insya Allah besok sabtu mas. Nanti aku bawa Adhi sekalian. Mentari pasti suka sama adek bayi" Dan meskipun Adhi bukanlah darah dagingnya tetapi Andini terlanjur sayang dengan bayi gembul itu.


"Jadi kamu sekarang yang merawat bayi itu?" tanya Firman, dia tidak habis pikir dengan Andini. Andini terlalu sempurna dan baik hati.


"Iya mas. Untuk sementara sampai Mba Rania keluar dari penjara" jawab Andini santai.


"Kamu gak benci sama dia? dia yang udah bikin kamu hampir celaka" tanya Firman lagi.


"Lupain aja mas. Yang terpenting sekarang aku masih hidup dan baik baik aja. Iya kan?!" memang ucapan Andini benar. Tapi Firman masih tidak terima dengan semua yang dilalui Andini selama ini. Firman hanya mengangguk anggukan kepalanya.


*****


Sudah sebulan Candra masih dalam keadaan koma di Rumah Sakit besar di Jakarta. Dama yang memindahkannya. Dan hasil tes DNA sudah ada ditangannya.


Satu minggu yang lalu, sidang putusan bersalah pada Kemal, Rania dan Anita telah berjalan. Mereka dijatuhi hukuman selama 5 tahun penjara. Sedangkan Pono 10 tahun dan Susan 3 tahun penjara. Rania histeris tidak terima sedangkan Susan jatuh pingsan.


Pagi ini diruang tunggu lapas wanita, Dama menunggu istri sirihnya, Rania Hilma. Tak lama menunggu, Rania datang dengan seragam khas tahanan diantar oleh petugas.


"Sayang..." menghambur ingin memeluk tapi Dama menolaknya.


"Duduk!" ucap Dama datar.


"Sayang...tolong aku. Keluarin aku dari sini. Kamu bisa membayar jaminan untuk aku. Aku mohon. Kasian Adhi, dia masih butuh aku" lagi lagi membawa bawa nama bayi gembul itu. Dama berdecih.


"Lagipula aku dan Adhi memiliki saham 30% perusahaan. Jadi uang yang aku ambil selama ini, anggap aja aku ambil didepan" Dama melipat kedua tangannya ke depan dada mendengar ucapan tidak masuk akal Rania.


"Saham? 30%? jangan mimpi! semua yang aku serahin kemarin bukan asli alias palsu. Memangnya aku sebodoh itu? ya memang aku bodoh tapi itu dulu. Aku tau semua kelakuanmu dibelakangku. Asal kamu tau, Candra masih koma karna kecelakaan waktu dia dan anak buahnya berusaha nyelakain Andini. Dan Adhi bukanlah darah dagingku tapi anak Candra" Dama geram, rahangnya mengeras. Rania tidak bisa berkata kata lagi. Mengatupkan mulutnya rapat. Hidupnya memang sudah hancur. Laki laki yang dicintainya ternyata sedang koma.


Dama melempar amplop ke atas meja "Buka! Baca!" Rania meraihnya dan membuka amplop itu, mengeluarkan isinya. Hasil tes DNA yang membuktikan bahwa Adhi memanglah darah daging Candra. 100% akurat. Rania merobek kertas itu dan berteriak.


"Cukup Rania! aku punya bukti kamu dan Candra memang berhubungan. Kalian semua merencanakannya hanya untuk menguasai hartaku! karna semua sudah selesai. Aku akhiri hubungan kita. Aku menjatuhkan talak untukmu Rania Hilma binti Setyo Widodo saat ini juga. Kita bercerai, kita selesai!" Dama memegang kedua bahu Rania. Rania menggelengkan kepalanya tidak mau diceraikan.


"Enggak! aku gak mau. Aku gak mau diceraikan seperti ini. Aku gak mau!!" Rania histeris dan membuat keributan. Dua petugas datang mendekat dan langsung menahan Rania yang terus saja berteriak dan menendang kursi juga meja. "Lepasin! lepasin aku. Aku gak mau kita bercerai. Kamu milikku! cuma milikku!" masih berteriak.


"Dengar! aku masih berbaik hati. Aku dan Andini akan merawat Adhi sampai kau menyelesaikan masa tahananmu. Sadarlah dan berubahlah jadi manusia yang lebih baik!" setelah mengatakan itu, Dama pergi meninggalkan ruangan dan Rania dibawa paksa masuk kembali ke sel dimana ia ditahan.


Dama memilih untuk menjemput Andini di kampusnya. Ia begitu merasa tegang, pening dan ingin segera bertemu Andini, istri satu satunya. Dama ingin memeluk Andini, melepaskan semua rasa kesalnya setelah bertemu dengan Rania.


Mobil berhenti tepat didepan gerbang kampus. Ingatannya kembali pada saat pertama kali ia menjemput Andini untuk mengajaknya ke Mall untuk makan sekaligus membahas perjanjian pra nikah. Perjanjian yang membuatnya menjilat ludahnya sendiri.


Sayang....aku udah didepan. Satu pesan Dama kirim pada Andini.


Iya mas, ini aku lagi jalan. Balasan Andini.


tok tok tok


Andini mengetuk jendela mobil. Dama yang sedang membaca pesan dari istrinya itu terkejut.


"Kok udah sampe aja? padahal baru bales pesanku" tanya Dama saat Andini masuk ke dalam mobil.


"Sengaja. Tadi aku udah didepan kok mas. Udah liat mobil mas juga" meringis memamerkan deretan giginya.


"Dasar...ngerjain aku" mencubit hidung mancung Andini.


"Biarin" menjulurkan lidahnya.


"Peluk aku!" Dama menarik tangan Andini. Ia ingin dipeluk.


"Kenapa mas? ada masalah?" memeluk, mengusap punggung suaminya.


"Aku udah lega. Aku udah ceraikan Rania" masih memeluk. Andini ikut merasakan kelegaan. Masalah mereka benar benar sudah selesai. "Kamu satu satunya istriku. Saat ini, besok dan selamanya" melepaskan pelukan, menangkup kedua pipi lalu membenamkan bibirnya. Dua bibir beradu dan saling melepaskan rasa. Rasa lega dan bahagia menyelimuti hati Andini dan Dama.


"Terimakasih...terimakasih kamu masih tetap mau disampingku" ucap Dama sesaat setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Iya mas, aku juga. Terimakasih udah buat aku satu satunya istrimu dan juga dihatimu" mengangguk, meneteskan air mata haru. Dama menyekanya lalu mengecup kening Andini.


"Kita pulang sekarang ya? aku kangen, aku pengen" mencubit pipi Andini dengan senyuman mesumnya.


"Mesum terus..." gantian mencubit pinggang Dama.


Dama langsung menginjak pedal gas kuat agar cepat sampai dirumah. Satu tangannya berada di atas paha Andini, mengusapnya berkali kali. Andini menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dama yang selalu saja tidak sabaran.


Bersambung....