
Flashback (H-7 wisuda pasca sarjana)
Satu minggu setelah Rania memutuskan untuk bunuh diri, Dama datang ke lapas wanita dimana Susan dipenjara. Dama sudah menggenggam sepucuk surat di tangan kanannya.
Tak lama duduk diruang tunggu, Susan datang bersama satu petugas dengan seragam oranye yang melekat ditubuhnya dengan nametag di dada sebelah kanan.
"Silahkan duduk!" ucap Dama pada Susan yang memasang wajah tak bersahabat. Susan masih tidak terima putri satu satunya yang ia miliki mengambil tindakan bunuh diri, dan pikirnya semua atas keegoisan Dama.
"Langsung saja, sesuai dengan surat wasiat dari Rania, Adhi akan saya angkat menjadi anak kami. Kalau anda bebas nanti, ingin bertemu dengan Adhi silahkan saja tapi-" Dama berhenti sejenak. "tapi jangan sekali kali anda mengganggu keluarga kami terutama istri saya!" mengeraskan rahangnya.
"Cih...Adhi cucuku!! kenapa harus kalian? apa tidak cukup sudah memisahkannya dengan Rania? dan sekarang menggunakan cara licik dengan membawa bawa anakku yang sudah mati? jangan kira aku bodoh dan percaya" Susan kesal, mengepalkan kedua tangannya yang terborgol diatas meja. Dama sudah pasti ikut tersulut emosinya.
Brakk
Dama menggebrak meja, meletakkan surat wasiat Rania yang ia terima dari petugas lapas.
"Terserah anda mau percaya atau tidak. Adhi tetap akan menjadi anak kami. Anda tidak bisa mencegahnya, sadar posisi anda sekarang sebagai apa!" Dama pergi meninggalkan Susan yang masih duduk. Susan berteriak, marah. Petugas buru buru membawanya masuk kembali.
Dama melajukan mobilnya kembali ke rumah, hari sudah semakin malam.
"Sayang, aku udah mau sampai rumah. Udah siap?" tanya Dama dari sambungan telpon dengan Andini.
"Udah mas, aku tunggu di teras sama Adhi" jawab Andini sedang memangku Adhi di teras rumah. Dama langsung menutup sambungannya.
Ttin Ttin
Bunyi klakson mobil Dama terdengar didepan rumah bergaya tropis Bali itu. Andini menggendong Adhi menghampiri suaminya.
"Mas" mencium punggung tangan suaminya.
"Cantik banget istriku" mencium pipi Andini lalu beralih mencium Adhi.
"Suamiku juga ganteng" tersenyum. "Papa ganteng kan?!" tanyanya pada Adhi. Bayi itu berceloteh.
"Kalau ganteng, emang udah dari dulu" meringis sambil melajukan mobilnya.
"Iya iya, mas Dama emang ganteng" menatap suaminya yang terlihat bahagia.
"Aku tadi ke lapas. Seperti dugaan kita kemarin. Dia syok dan menolak. Tapi sesuai rencana, semua aku serahkan ke pengacara untuk mengurus pengesahan Adhi sebagai putra kita" mengenggam tangan kanan Andini.
"Iya mas, semoga semua berjalan lancar. Adhi anak mama Andin? iya iya?" memainkan tangan kiri Adhi dan menciumnya berkali kali. Adhi tertawa, seolah mengerti, dia senang mendengarnya.
Dama membawa Andini dan Adhi ke restoran untuk makan malam. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang bahagia. Adhi masih aktif berceloteh dan sedang digendong Dama, bergantian dengan Andini yang sedang menghabiskan menu yang dipesannya tadi.
"Adhi happy ya? biasanya jam segini udah tidur mas. Ini masih terang benderang matanya" Andini menempelkan botol susu ke mulut Adhi.
"Jarang jarang kan kita ajak Adhi keluar malem gini. Dia suka liat banyak lampu" Dama mengusap pipi Adhi yang sedang asik menyedot botol susunya.
"Mas udah selesai? pegang Adhi dulu ya mas. Aku mau ke toilet sebentar" memindahkan Adhi ke pangkuan suaminya. Andini berjalan ke arah pojok restoran itu.
Saat Andini selesai dengan rutinitasnya di toilet, ia pergi berjalan kembali menghampiri Dama dan Adhi. Tapi ada sosok yang ia kenali. Amanda bersama seorang pria muda sedang menuju lift. Restoran itu terdapat di lantai dasar sebuah hotel mewah.
"Amanda? dasar sinting. Emang cewek gak bener. Untung aja mas Dama gak masuk perangkapnya waktu itu" Andini kembali berjalan ke mejanya.
"Tadi aku liat Amanda mas. Naik ke lantai atas sama berondong. Ihh...geli. Untung dulu mas gak diapa apain sama dia" merangkul lengan suaminya. Adhi sudah terlelap di strollernya.
"Yaudah biarin aja. Udah selesai kan? aku bayar billnya dulu" Andini mengangguk lalu meraih stroller, mendorongnya.
******
Di tengah perjalanan menuju rumah, Andini merengek ingin martabak manis dan sate ayam. Dama mengernyitkan alisnya. "Masih belum kenyang?" Andini mengangguk cepat sambil menampakkan mata berbinar dan memohon.
"Oke...tunggu di dalam mobil. Aku yang pesankan" melepaskan seatbelt lalu membuka pintu. "
Andini menoleh ke kursi belakang dimana Adhi sudah tidur di carseatnya. "Sebentar lagi kita benar benar jadi keluarga. Kamu gak kesepian lagi" masih menatap Adhi. Andini merasakan hal yang sama seperti Adhi. Dia yatim piatu dan Allah hadirkan dua orang yang sangat menyayanginya. Andika dan Andina. Rasa sayangnya melebihi dirinya sendiri. Andini ingin memberikan kasih sayang yang sama pada Adhi, kasih sayang yang ia terima selama ini dari kedua orangtua angkatnya.
Dama masuk ke dalam mobil dan menempatkan dua bungkusan pesanan Andini di samping kursi Adhi.
"Pesanan Ratu sudah datangggg....Kenapa?" tanya Dama pada Andini yang masih menatap Adhi.
"Gak papa mas, aku cuma seneng aja. Sebentar lagi Adhi benar benar jadi anak kita. Aku sayang banget sama Adhi. Makasih banyak mas" memeluk suaminya tiba tiba.
"Aku seneng kalo kamu juga ikut seneng. Makasih sayang, udah mau terima Adhi. Meskipun bukan darah dagingku tapi Adhi sudah aku anggap putraku sendiri" mengusap punggung Andini.
"Iya mas. Kita akan terus menjaga dan merawat Adhi sama sama. Semoga nanti Adhi bisa jadi kakak yang baik untuk adik adiknya" mendongak, menatap Dama.
"Iya sayang, Amin" mengecup bibir Andini. Hanya kecupan, karena posisi mobil mereka berada di pinggir jalan yang ramai pedagang makanan.
"Kita pulang yuk?! lanjutin dirumah. Biar nanti Adhi tidur sama bik Nina" Andini melepas pelukannya lalu mencubit pinggang Dama. "Mas, maunya gituan terus. Gak ada capeknya" Dama tergelak.
"Kalo buat kamu gak ada capeknya. Habisnya enak, legit" Andini memukul lengan Dama.
"Dasar...mulutnya enteng banget kalo udah ngomongin yang enak enak" tertawa bersamaan.
Dama terus melajukan mobilnya sampai ke gate perumahan. Andini tertidur setelah menghabiskan setengah martabak manis di pangkuan.
"Sayang, kita udah sampai" mengusap pipi Andini lembut.
"Hemm...." Andini hanya menggeliat. Dama memutuskan untuk menggendong Adhi terlebih dulu.
"Bik, Adhi malam ini tidur dibawah. Tolong ambilkan bungkusan makanan di jok tengah" Nina mengerti, mengambil alih Adhi dan meletakkannya di kamarnya. Lalu kembali keluar menuju mobil di garasi.
"Bik, di jok depan ada satu bungkusan. Bawa sekalian ya?!" Nina berpapasan dengan Dama yang sedang menggendong Andini.
"Baik pak"
Dama membawa Andini ke kamar mereka di lantai dua. Masuk ke dalam kamar dan merebahkannya ke atas ranjang.
"Pules banget sih...jadi gak tega banguninnya. Padahal aku lagi pengen sayang" mengusap rambut Andini setelah membuka kerudung istrinya itu. Andini hanya menggeliat.
*****
Masih ada Bonus Chapter lagi, ditunggu ya 😊 Terimakasih 🙏😘😘😘