Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Meloloskan diri (II)


Semalam Asep sudah berpamitan dengan sang ibu. Ibu Asep menangis, baru kali ini ia akan berjauhan dengan putranya.


"Sabar, Bu, ieu ngan ukur samentawis. Salaki Neng Andini bakal ngungkulan sadaya masalah ieu. Pas Asép datang ka imah. Ati-ati di imah. Engké, Asép badé nyauran Pak RT".


(Sabar ya bu, ini cuma sementara. Suami neng Andini akan membereskan semua masalah ini. Secepatnya Asep pulang. Ibu hati hati dirumah. Nanti Asep telpon ke pak RT). Asep mengusap punggung ibunya lembut.


"Asép ogé ati-ati di dinya. Aya kota ageung, ibukota Sep. Jaga kasihatan anjeun ogé. Kuring sok ngadoa yén masalah ieu bakal réngsé gancang-gancang".


(Asep juga hati hati disana. Disana kota besar, ibu kota Sep. Jaga kesehatan juga. Ibu selalu berdoa, semoga masalah ini cepat selesai). Matanya berkaca kaca, Ibu Asep sungguh berat hati melepaskan putranya pergi.


"Iya bu" Asep memeluk ibunya lalu berpamitan kembali ke rumah pak RT lewat halaman belakang.


Andini juga sudah mengirimkan pesan pada Firman semalam. Menyampaikan rencana pak RT dan Firman setuju.


Pagi ini, Asep dan Andini sudah bersiap. Pak RT akan memulai aksinya menyambangi warung Nyai yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Benar saja, dua orang asing yang sama sudah duduk dan matanya terus melihat ke semua arah.


"Nyai...Abdi hoyong hiji kopi panas. Mi pindang ogé".


(Nyai...saya mau kopinya satu yang panas. Mie rebus juga). Nyai sebutan untuk pemilik warung yang sudah berusia lanjut. Nyai langsung membuatkan satu gelas kopi dan mie rebus.


Pak RT duduk dihadapan dua orang itu, sedikit menutupi pandangan. Pak RT mengangguk dan tersenyum.


Nyai datang membawa kopi terlebih dulu. Prang...


Kopi itu tumpah mengenai pakaian juga sebagian celana salah satunya. "Aw...panas panas" mengibas ngibaskan pakaian dan celana. "Pak gimana sih? yang bener dong" laki laki berbadan besar itu menarik kerah baju pak RT. Nyai yang sudah disamping pak RT lagi dengan semangkuk mie rebus, meletakkan begitu saja ke atas meja. Berteriak.


"Aduh ... Entong ribut di dieu. Ieu Pak RT, tong siga kitu. Pak RT henteu ngahaja. Henteu kunanaon, angkat waé ka ditu. Anjeun sanés warga di dieu. Kusabab kamari sok nongkrong di dieu teu jelas. Hush hush ...".


(Aduh...Jangan ribut disini. Ini pak RT, jangan macam macam. Pak RT gak sengaja. Udah udah, pergi aja sana. Kalian bukan warga sini. Dari kemaren selalu nongkrong disini gak jelas. Hus hus...). Nyai mengusir kedua orang itu.


Disaat keributan terjadi, Andini dan Asep langsung pergi berlari ke desa sebelah. Firman sudah sampai di belakang kebon sesuai dengan rencana awal.


"Masih jauh sep?" Andini sudah lelah berlari. Asep yang ada didepannya berjarak 1 meter, menoleh.


"Sedikit lagi neng. Ayok?! nanti mereka lihat kita" menarik tangan Andini. Mau tidak mau, Andini ikut berlari lagi.


"Woi...Jangan kabur!!" suara teriakan dari arah belakang. Dua orang yang diusir Nyai tadi ternyata masih berkeliling di desa.


"Asep...i-itu mereka sep" Andini terengah engah sambil terus berlari. Mereka mengejar Andini dan Asep. Badan mereka besar besar, Asep pasti kalah telak.


"Terus lari neng. Neng masih kuat kan?" belum menjawab, Andini jatuh tersandung batu kerikil. Bugg...."Aaahhh...." keningnya berdarah membentur tanah berbatu.


"Neng..." Asep berusaha mengangkat Andini tapi bahunya sudah ditarik dan Asep dipukuli.


"Aseepppp..." menjerit. "Aahhh...sakitt" kerudung Andini ditarik, rambutnya pun ikut tertarik dan terasa pedas. Andini berusaha mempertahankan kerudungnya agar tidak terlepas.


"Mau coba kabur, hah??" orang itu meneriaki wajah Andini. Andini meludah tepat didepan wajahnya. Plak...Tamparan keras mendarat di pipi Andini sampai ia terjerembab di ilalang liar. Hampir saja ia terjatuh ke bawah.


Kepalanya terasa pusing, dari jarak yang tidak terlalu dekat ia bisa melihat Asep yang masih dipukuli. Andini menangis. Pemuda desa baik hati yang sudah menolongnya diperlakukan seperti itu.


"Sudah!! biarkan dia. Dia udah gak bisa apa apa. Kita harus bawa wanita itu ke bos" laki laki yang menampar Andini menahan bahu temannya.


Andini ingat alat pertahanan yang diberikan Indah tadi, tangan kanannya ia sembunyikan dibalik badan. Dua laki laki itu sudah berjalan mendekati Andini dan siap membawanya pergi.


**** **** ****....


Andini menyemprotkan lada ke kedua mata mereka saat akan menggendongnya.


"Arghhh...Bangsat!! panas..perih" mereka berdua terus mengumpat. Andini mendorong keduanya ke kebon warga yang berada di bawah. Mereka bergulingan sampai tersangkut di tanaman liar yang membelit.


Suara nafasnya ngos ngosan karena memapah Asep. "Asep, maafin aku. Sebentar lagi, sebentar lagi kita sampe. Gapura desa udah keliatan. Ya ya...udah keliatan. Sabar Asep" terus memapah dan pandangan Andini menatap Firman yang berdiri tak jauh dari gapura. Firman tak sabar menunggu di belakang kebon, dia mengubah posisi lebih dekat agar Andini dapat melihat keberadaannya.


"Andini..." Firman berlari ke arah Andini. Tanpa bertanya, Firman langsung mengambil alih memapah Asep masuk ke dalam mobil. Andini menghempaskan tubuhnya di kursi di sebelah Firman.


Menutup wajahnya dan terus menangis. Wajahnya babak belur, apalagi Asep. Perjuangan mereka untuk keluar dari desa sangat melelahkan. Firman tetap diam dan melajukan mobilnya menjauh dari desa itu.


"Istirahatlah!" tanpa menjawab, Andini merebahkan sedikit kursinya. Menutup paksa matanya. Ia malu dengan Firman. Laki laki itu, profesornya, dosen dikampusnya selalu saja menolongnya dan melihatnya seperti wanita bodoh.


*****


Firman membawa Andini dan Asep ke rumah sakit kecil di daerah Subang. Perjalanannya masih panjang untuk sampai di ibu kota. Keadaan yang tidak memungkinkan dengan kondisi Asep saat ini.


"Kamu sudah aman, jangan takut! aku menjagamu disini" Andini masih tidak berbicara pada Firman, hanya anggukan.


Asep dirawat satu ruangan dengan Andini. Firman berjaga jaga kalau Candra dan anak buahnya mencari mereka sampai di rumah sakit itu.


"Halo..." sapa Firman saat ponselnya bergetar dua kali di dalam saku celana.


".........."


"Iya, udah sama gua. Lo tenang aja" jawab Firman.


".........."


"Bini lo lagi tidur. Entar kalo udah bangun, gua telfon lo" Firman berdiri didepan jendela rumah sakit. Asep dan Andini tertidur efek obat yang diberikan dokter tadi.


".........."


"Iya iya" Firman menutup telfon dari Dama.


Makanya lo gak usah sok sok_an punya bini dua. Repot kan lo?!. Firman merutuki foto Dama di layar ponselnya.


******


Rania keluar dari kamar, akan menghampiri Dama yang duduk di sofa ruang televisi. Dengan pakaian seksi, tanpa malu ada Nina yang sedang membuat kopi untuk Dama.


"Biar aku aja. Kamu masuk kamar gih. Jangan keluar, paham?!" Nina mengangguk, menyerahkan satu cangkir kopi pahit pada Rania.


Berjalan berlenggak lenggok, Dama menatapnya sebentar lalu beralih menonton berita di layar televisi. Dama sudah menduga apa yang akan dilakukan Rania.


"Sayang...ini kopinya" meletakkan kopi ke atas meja lalu duduk dipangkuan Dama. Rania mencium pipi lalu bibir. Dama menerima ciuman bibir itu. Ia harus berpura pura sampai semua bukti ada ditangannya.


Rania terus mencumbunya sampai pada saat tangan Rania menjalar mengusap kelelakiannya, Dama menahannya. "Kamu masih masa nifas sayang" membelai lembut rambut Rania di dahi.


"Aku bisa memanjakan ini sayang, aku bantu. Heuh?" Rania mengusap lagi. Dama menggelengkan kepalanya "Aku gak mau pakai bibir, aku maunya langsung" Dama berbisik. Dia mencari alasan untuk menolak Rania. Dama menurunkan Rania dari pangkuan.


"Mmm...oke. Tapi akte lahir Adhi udah kamu urus kan sayang" bergelayut manja.


"Iya, udah kok tapi belum ada kabar lagi. Mungkin lusa" jawab Dama merangkul dan mengusap lengan Rania.


"Ada satu lagi sayang. Kamu gak lupa kan sama permintaan aku sebelum melahirkan. Hadiah untukku dan juga Adhi. Properti juga saham perusahaan atas namaku dan anak kita" mengecupi pipi Dama.


"Iya aku ingat. Sedang aku urus" masih merangkul Rania tapi pikirannya berkelana pada Andini yang sedang dirumah sakit di Subang, Jawa Barat.


Sialan!! kalian bawa istriku sejauh itu. Kalian semua harus terima akibatnya nanti!!. Dama.


Bersambung....