Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Bertengkar


Seharusnya aku menghibur Firman tapi justru sebaliknya. Aku yang dihibur olehnya. Mau tidak mau aku ceritakan yang sebenarnya. Firman geram dengan Dama tapi dia hanya orang luar, tidak bisa berbuat apa apa.


"Lebih baik katakan pada kedua orang tuamu Andini. Mereka pasti akan mengerti. Jangan korbankan perasaan dan masa mudamu!" Firman menepuk bahuku lembut. Kami masih duduk di depan ruang IGD. Setia menunggu operasi Mentari.


"Hanya tersisa beberapa bulan lagi mas. Meskipun mas Dama sudah membatalkan perjanjian kami tapi dengan keadaan seperti ini, aku akan memilih mundur. Posisi Rania lebih kuat dari aku. Mereka akan lebih terikat karena adanya anak" aku menunduk.


"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku hanya bisa mendukungmu. Katakan semuanya padaku. Jangan sungkan!" mengusap kepalaku.


"Maaf mas, seharusnya aku yang menghiburmu dan menguatkanmu tapi justru aku yang merepotkanmu. Maaf" tatapan kami bertemu.


"Sudahlah...Kita punya masalah dan jalan hidup berbeda beda. Saling menguatkan" menggenggam erat tanganku.


"Terimakasih" berusaha tersenyum.


Kami masih setia menunggu proses berjalannya operasi Mentari. Firman gelisah. Ia berjalan mondar mandir didepan pintu IGD. Kadang sesekali duduk lalu berdiri lagi. Aku memakluminya. Ayah mana yang tidak bersedih disaat putri satu satunya yang ia miliki sedang berjuang untuk hidup.


"Mas, duduklah!" aku menarik tangan Firman.


Ponselku berdering, ku ambil dari dalam tasku. Nama Dama tertera di layar ponsel.


"Angkatlah" Firman menyuruhku menjawab telepon Dama. Aku berdiri, bergeser sedikit jauh dari Firman.


"Halo...Assalammualaikum mas" sapaku.


"Walaikumsalam...cepat pulang sekarang! Aku tunggu dirumah!" suaranya terdengar menyeramkan.


"Iya mas" Dama langsung menutup teleponnya sepihak. Aku menghela nafasku perlahan. Lagi lagi aku akan kena semprot. Huh...aku lelah.


Aku mendekati Firman. "Mas, maaf. Aku harus pulang. Mas Dama sudah menungguku dirumah" aku tidak enak hati harus meninggalkannya sendiri di sini.


"Tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang sudah merepotkanmu dan membuatmu terkena masalah" Firman memegang bahu kananku.


"Gak mas, aku gak repot dan aku sudah terbiasa terkena omelannya" aku meringis, berpura pura tidak gugup. Sudah pasti aku akan dimarahinya.


Aku pergi meninggalkan Firman, dilorong aku bertemu dengan kedua orang tua Firman. Aku hanya menyapanya sebentar. Sudah ada yang menungguku dirumah, bersiap diri saja untuk mendengarkan semua kata kata pedasnya.


*****


Pak Pono sudah menungguku di lobby rumah sakit. Aku sudah menduganya, pasti Dama yang menyuruh pak Pono menjemputku disini.


"Sudah lama pak?" tanyaku sambil masuk ke dalam mobil.


"Baru saja neng" ia menutup pintu mobil untukku lalu berpindah ke balik kemudi.


"Maaf ya pak Pono, saya sudah merepotkan" ucapku setelah mobil melaju cepat ke arah rumah.


"Tidak apa apa neng, sudah pekerjaan saya" tetap fokus mengemudi. Aku hanya mengangguk lalu menatap ke luar jendela. Memikirkan apa saja yang harus aku katakan pada Dama setibanya nanti dirumah.


Mobil sudah melewati pos security, sebentar lagi kami akan sampai dirumah. Jantungku mulai berpacu cepat, telapak tanganku berkeringat. Tenang tenang...jangan gugup. Diam dan dengarkan saja.


Aku mensugesti diriku sendiri agar tidak gugup saat berhadapan dengan Dama.


"Neng sudah sampai" pak Pono membukakan pintu mobil untukku.


"Terimakasih pak" aku mengatur nafasku, berjalan pelan sambil mengedarkan pandanganku. Masuk ke dalam rumah, hanya ada bik Susan yang sedang didapur membuatkan minum. Mungkin minuman untuk Dama.


Aku menapaki satu demi satu anak tangga, melewati kamar Dama yang tertutup. Sudah pasti dia menungguku di kamar.


"Mas...Assalammualaikum" mengucap salam, mencium punggung tangannya.


"Walaikumsalam...duduk!" aku duduk disebelahnya, memilih diam.


"Aku sudah katakan berapa kali? jangan pergi selain dengan pak Pono. Kamu sudah melanggarnya Andini" aku tak berani menatap matanya.


"Maaf mas" aku terus menunduk. Hanya bisa mengucapkan kata maaf. Semakin aku beralasan, Dama semakin marah.


"Kamu harus aku hukum" seketika mataku langsung membulat saat mendengar kata hukuman.


"APA?? aku bukan anak kecil mas"


"Kamu istriku Andini. Kamu harus patuh padaku! Tetap dirumah selama satu minggu dan ganti dosen pembimbingmu. Aku tidak mau tau!" Dama berdiri, aku menarik tangannya.


"MAS!! semester depan aku sudah harus lulus sidang. Tidak semudah itu untuk mengganti dosen pembimbing. Aku sudah cukup mengalah selama ini. Aku menuruti semua perkataanmu tapi untuk masalah pendidikanku, maaf mas...aku gak bisa" aku masuk ke dalam kamar. Dama menarik tanganku, merengkuh pinggangku. Mata tajamnya sangat menyeramkan. Dia benar benar marah.


"Ah sakit mas" pipiku dicengkeram tangan kanannya.


"Kau sudah berani padaku? kau sudah tidak mau patuh denganku? aku suamimu. Kau sudah bosan menjadi istriku? Hah??" berteriak didepan wajahku.


"IYA!! Aku sudah bosan dan lelah menjadi istrimu. Istri kedua. Aku MUAKKKK" aku membalas berteriak dengan tangannya masih mencengkram pipiku.


Rahangnya mengeras, matanya kemerahan menahan amarah. Tatapannya menusuk. Tanpa ragu ******* bibirku. Aku tidak siap. "Empphhh...." aku tidak mau membuka bibirku. Karena aku bersikeras tidak membuka mulut, Dama mendorongku ke atas kasur.


"Mas mau apa? Jangan macam macam!" aku terus mundur, sampai membentur kepala ranjang. Dama membuka kancing kemejanya satu persatu, lalu membuka belt yang melingkar di celana panjangnya.


"Kau sudah bosan menjadi istriku? HAH??" kembali mencengkram pipiku. Aku menendang perutnya, Dama terjatuh ke lantai "Argh...sialan!"


Aku langsung beranjak dari kasur dan berusaha melarikan diri. Brakk...aku terjatuh ke lantai. Kakiku dicekal Dama. "Lepas!! Lepaskan aku!" aku terus meronta tapi tenagaku tak cukup besar dibanding dengannya.


Dama menindihku. "DIAM!!"


"Mas, aku mohon jangan seperti ini. Ini hanya akan semakin melukai perasaanku. Aku mohon mas. Jangan memaksaku. Aku tidak sanggup lagi" memegang kepalaku yang terasa berputar dan semua berubah gelap. Aku pingsan.


*****


Dama POV


Aku cemburu melihatnya bersama dengan Firman lagi. Apalagi setelah tau Firman adalah dosen pembimbing Andini. Aku semakin marah. Memang aku terlihat egois. Tidak mau melepaskan Rania ataupun Andini. Aku sudah terlanjur jatuh hati pada Andini. Dan sejujurnya cintaku untuk Rania semakin memudar. Aku hanya berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab atas kehamilan Rania.


Dan sekarang aku berada di kamar Andini, berdebat dengannya soal mengganti dosen pembimbing. Andini tidak mau. Aku semakin kesal dibuatnya. Tidakkah dia tau seberapa besar rasa cemburuku saat ini? aku sangat merindukannya tapi dia sama sekali tidak mau aku sentuh.


Aku ******* bibirnya, merasakan lagi bibir mungil dan manis itu. Aku menginginkannya tapi karena emosiku, aku bermain kasar dan berujung penolakan olehnya. Andini menendangku lalu dia akan pergi kabur. Kutarik kakinya, terjatuh menelungkup. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan langsung aku menindihnya agar tidak kabur.


Andini memohon padaku, tapi aku sungguh telah gelap mata. Hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Aku lupa cidera di kepalanya dua bulan yang lalu.


Aku bukan suami yang baik. Aku bodoh. Aku tidak berkutik di hadapan Rania tapi lain dengan Andini. Dia sangat penurut.


Brengsek!!...kenapa menjadi sulit seperti ini? memiliki dua istri membuatku pusing. Dama.


**Bersambung....


*****


Makanya abang Dama mending pilih salah satu aja deh biar gak puyeng 😊. Siap siap ada kejutan di next episode**