
Di sebuah desa terpencil, rumah dengan dinding batu bata merah tempat Andini disekap. Rumah yang jauh dari rumah lainnya. Suara binatang seperti jangkrik, burung hantu dan suara hembusan angin membuat Andini ketakutan. Tangan dan kakinya masih terikat tapi tidak dengan mulutnya. Berteriak sekencang apapun tidak akan bisa terdengar oleh siapapun.
Tubuhnya meringkuk diatas kasur tipis dikamar ukuran 3x3. Menyipitkan matanya, melihat satu foto yang tertempel di dinding dengan bingkai kayu yang terlihat usang. Rania saat remaja.
Aku berada dirumahnya? dikamarnya? gumam Andini.
Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu kamar. Andini berpura pura tidur, memejamkan matanya.
Pono masuk dengan membawa satu bungkus nasi dan beberapa roti, juga 1 botol air mineral.
"Bangun!" Pono menggerakkan kaki Andini dengan kakinya. "Hei bangun! Makan!" membentak.
Andini langsung membuka matanya dan Pono membantunya duduk. Ikatan di tangannya dibuka tapi tangan kirinya kembali di jerat dengan rantai besi yang ada di dinding kamar.
"Makan!" membuka bungkusan berisi nasi, lauk dan sayuran. Andini terus diam dan menatap tajam Pono. Pono tau sedang ditatap Andini, dia memilih pergi dan mengunci pintu.
"Aku harus pergi dari sini. Aku harus ketemu mas Dama" menatap sekeliling mencari benda yang bisa ia gunakan untuk membuka tangan kirinya yang dirantai.
Andini terus mencari benda di sekelilingnya tapi nihil. Ia berusaha menarik narik rantai itu sampai pergelangan tangannya memerah. "Ahhh..." Andini meringis sakit.
Hari semakin malam, Andini lelah dan lapar. Ia memilih makan mengisi tenaganya agar esok hari mencari cara lain untuk kabur dari sekapan Pono.
Beruntung Pono masih berbaik hati memberinya makan tanpa sepengetahuan Susan. Kalau Susan sampai tahu, habislah Pono.
******
Setelah mengakui semua pada orangtua Andini. Dama berpamitan pada Andika dan Andina. "Maaf Ayah, Ibu...tapi Dama tidak akan pernah menceraikan Andini. Dama dan Andini saling mencintai. Ada hal yang sedang Dama urus. Semoga semua ada titik terang dan Dama mohon, dukung kami berdua. Permisi" Dama berdiri, menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mertuanya.
"Ayah..." Andina semakin bingung dengan ucapan Dama. Andina tetap tidak rela jika putri yang sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri harus berbagi suami dengan wanita lain.
"Bu, kita sudah dengar sendiri dari nak Dama. Dia mencintai putri kita dan Andini juga mencintainya. Lebih baik kita menunggu saja. Kita bisa tanyakan Andini nanti. Tapi jangan sekarang, putri kita sebentar lagi sidang kelulusan S2nya bu. Berpura pura saja kita tidak tau apapun" memeluk Andina, menepuk nepuk bahu.
Di lorong yang sepi karena hari sudah malam, Dama duduk di kursi sambil terus memikirkan Andini yang tidak tahu kabarnya. Pono ataupun Susan tidak menghubunginya sama sekali jika Andini masuk rumah sakit.
Drrttt
ponselnya bergetar. Nama Susan muncul di layarnya, Dama segera mengangkatnya.
"Halo bik..." ucap Dama.
"Maaf den, hp saya habis batre. Ada apa den Dama?" suara Susan terdengar tenang dan santai.
"Apa Andini dirumah?" tanya Dama.
"Mba Andini ada dikamarnya den, seharian ke kampus diantar dengan pak Pono" jawab Susan. Ada kelegaan di hati Dama mendengar Andini baik baik saja. Jadi apa yang dilihat Firman tadi pagi tidak benar.
"Kenapa aku hubungi susah sekali? handphonenya tidak aktif. Bisa kamu sekarang ke kamarnya?" Dama ingin berbicara dengan Andini. Susan meremas ujung bajunya.
"Mba Andini sudah tidur den. Tadi dia bilang tidak mau diganggu. Kecapean kayaknya den" jawaban Susan terdengar masuk akal dan Dama percaya.
"Oh gitu...Yasudah bik, terimakasih. Oh iya bik, Rania sudah melahirkan pagi tadi. Saya sedang dirumah sakit. Jadi kemungkinan saya tidak pulang ke rumah dalam beberapa minggu. Tolong jaga Andini ya bik" sejujurnya Dama sangat rindu dengan Andini, padahal tadi pagi dia baru saja bercinta dengan istrinya itu. Perasaannya masih saja tidak nyaman, ditambah dengan mertuanya tadi.
"Iya den, tenang saja. Saya jaga mba Andini" Dama menjawab dengan deheman lalu mematikan teleponnya.
Nina datang dari arah lorong kamar inap Rania, menghampiri Dama yang masih duduk.
"Pak Dama, Non Rania mencari bapak" ucapnya. Dama mengangguk lalu bangkit dan pergi ke kamar Rania.
"Sayang, kenapa lama banget? gak kangen sama aku juga Adhi?" ucapannya terdengar manja. Dulu Dama selalu luluh dengan cara bicara Rania seperti itu, tapi sejak menyatakan cintanya pada Andini, perasaan pada Rania menguap semakin menghilang ditambah dengan potret Rania bersama laki laki lain.
Dama baru saja teringat pada Nina yang selalu menjaga Rania di apartemen. Kemungkinan besar Nina tau siapa laki laki yang datang.
"Kenapa diem aja sih? kamu berubah. Kamu gak seneng sekarang ada Adhi? Adhi anak kamu sayang" Dama perlahan mendekat ke arah ranjang. Dia tekan rasa amarah dan curiganya.
Cup...mengecup kening Rania lalu mencium Adhitama yang sudah terlelap. "Aku yang pindahkan ke box" Dama menggendong Adhi lalu membaringkan ke dalam box bayi rumah sakit.
"Kemari sayang! peluk aku, aku kangen" Dama menuruti apa kata Rania. Memeluknya.
"Cium aku!" Dama memiringkan kepalanya, Rania mengalungkan tangannya ke leher Dama. Mereka berciuman tapi hanya ciuman biasa, Rania mengerutkan keningnya lalu ******* rakus bibir Dama.
******
Suara burung berkicau, gemricik air dari sungai kecil di samping rumah itu mengusik Andini yang masih tertidur. Tidur dalam posisi duduk menyandar dinding, satu tangannya menggantung karna rantai yang menjerat.
"Ugh...Ah...tanganku sakit. Kalo seperti ini terus, tanganku mati rasa" menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri lalu bangun, menggerakkan badannya juga. "Ah...aku juga lapar" kembali duduk, membuka bungkusan roti yang tergeletak dilantai di hadapannya.
Terdengar suara langkah kaki terburu buru ke arah pintu, setelah terdengar ketukan berkali kali. "Ada orang yang datang. Apa itu Rania atau Bik Susan?" Andini menduga duga.
"Kalian semua memang tidak becus! kenapa dia masih hidup? harusnya kau langsung buang ke jurang!" suara laki laki terdengar di telinga Andini. Tubuhnya berkeringat saat mendengar kata laki laki itu. Dia akan segera dilenyapkan.
"Dimana dia sekarang?" laki laki itu bertanya pada Pono. "Ada di dalam" melangkah ke arah pintu kamar dimana Andini disekap.
CLICK
suara kunci pintu berputar. Andini ketakutan, dia terus berdoa berharap ada yang menolongnya walaupun kesempatan itu hal yang mustahil.
Andini menunduk, tidak mau melihat siapa laki laki yang datang dan terus berjalan ke hadapannya. Ujung sepatu hitam terlihat dari mata Andini yang masih menunduk.
"Gak penasaran sama aku?" suara jelas itu pernah Andini dengar tapi dimana. Masih saja menunduk, terus mengingat.
Laki laki didepannya itu berjongkok, menarik dagu Andini agar menatapnya.
"Kamu?" Andini membulatkan matanya sempurna, menepis tangan laki laki itu di dagunya dengan tangan kanannya yang tidak dirantai.
"Kaget?" ucap laki laki itu.
Bersambung...
******
Siapa laki laki itu??? tebak tebak buah manggis 😁😁😁
Andini Putri (pas gk pake hijab 😊)
Dama Sakti
Rania Hilma