Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Kedatangan Tama dan Sindi


"Sayang, bangun. Udah siang, kita belum sarapan" Dama mencoba membangunkan Andini.


"Mas, aku capek. Lagian hari ini hari sabtu, aku masih pengen tidur. Boleh ya?" masih memejamkan mata, memeluk guling.


"Yaudah, aku ke bawah ya. Kayaknya tadi aku denger Adhi nangis" Andini tidak menjawab perkataan Dama. "Segitu ngantuknya sayang" mengecup pucuk kepala lalu pergi keluar kamar ke lantai bawah.


Dama mengambil alih Adhi yang masih menangis, menggendongnya.


"Ini susunya pak" Nina memberikan botol berisi susu hangat untuk Adhi.


"Terimakasih...udah masak bik?" tanya Dama masih menggendong Adhi sambil satu tangannya memegangi botol susu.


"Sudah pak. Bapak mau sarapan sekarang?" tanya Nina berdiri didepan meja makan.


"Iya, siapin sekarang ya?!" Nina mengangguk lalu masuk ke dapur.


Bel rumah berbunyi. Dama berjalan ke arah ruang tamu bersama Adhi yang masih ia gendong. Adhi sudah tertidur.


"Ayah...Bunda" Dama terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Mas...???" menatap ke arah bayi laki laki yang Dama gendong.


"E..e...ini...Ayo masuk dulu, nanti Dama jelasin. Kebetulan Dama mau sarapan. Ayah bunda sarapan juga ya?!" Dama, Tama dan Sindi masuk ke ruang makan. Dama meletakkan Adhi ke box bayi yang ada di ruang tengah.


"Bik, siapin piring lagi. Ini orang tua saya" Nina mengangguk dan tersenyum. Pertama kalinya mereka bertemu.


"Lho mas, Bik Susan mana? kamu ganti ART? Andini mana?" cecar Sindi.


"Andini masih tidur bun. Soal bik Susan, nanti aja ya ceritanya. Kita sarapan dulu" Dama memberikan piring pada Tama dan Sindi.


"Andini sakit?" kini Tama yang bertanya. Sindi menyendokkan nasi goreng ke atas piring suaminya.


"Enggak kok yah. Kecapean aja" sambil mengunyah nasi gorengnya. Lelah karena Andini digempur habis habisan oleh Dama.


"Hemm" Sindi memicingkan matanya pada putranya. Dama meringis. "Ckck...dasar"


*****


Selesai sarapan, Dama kembali ke kamarnya untuk membangunkan Andini.


"Sayang...dibawah ada Ayah sama bunda. Bangun yuk?!" mengecup pipi lalu mengusapnya beberapa Δ·ali. Andini seketika membuka matanya.


"Ayah Bunda??" Dama mengangguk. Andini sudah menebak soal keberadaan Adhi. "Adhi?" Dama mengangguk lagi.


"Duh...mas gimana sih? gak bangunin aku daritadi. Aku kan gak enak sama Ayah Bunda. Anaknya gak diurus, akunya malah masih tidur" Andini menggerutu sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku udah bilang kok kalo kamu kecapean. Ayah sama Bunda gak masalah. Jangan jadi beban gitu" Dama sedikit berteriak didepan pintu kamar mandi yang tertutup. Andini buru buru mandi. Paha dalamnya terasa linu.


"Tapi kan harusnya mas langsung bangunin aku. Kaya gini jadi nungguin menantu. Mana ada mertua yang nungguin menantunya. Duh...aku beneran gak enak mas" Andini membuka lemari, meraih pakaiannya dan juga pashmina.


"Ayah Bunda santai sayang...gak usah sungkan. Mereka kan sayang banget sama kamu. Mereka lho yang pilihin kamu jadi istriku" memeluk Andini dari belakang, sedang memakai pashmina di kepalanya.


"Yaudah, ayok mas kita ke bawah. Aku gak kelamaan kan mandinya tadi?" meraih handle pintu.


"Enggak kok" merangkul, mengecup kepala sebelah kiri. Menuruni anak tangga yang tepat berada di ruang tengah.


Tama dan Sindi duduk diruang tengah sambil terus memandangi box bayi menunggu Andini dan Dama turun.


"Gak mungkin itu cucu kita kan yah? kapan Andini hamilnya coba. Masa cucu kita udah segede itu. Apa mereka angkat anak? kok kita gak dikasih tau sih" ucap Sindi yang terdengar cerewet.


"Bun...sabar. Tunggu Dama dan menantu kita yang jelasin semua" Tama meredam rasa penasaran istrinya.


Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Sindi menoleh lalu bangkit mendekati Andini.


"Kalo kecapean istirahat aja dulu. Gak usah dipaksain" memeluk Andini setelah tadi bercipika cipiki.


"Gak papa kok bun. Maaf tadi Andini gak ikutan sarapan Ayah sama Bunda juga mas Dama" Sindi merangkul lengan Andini, berjalan ke arah sofa.


"Gak masalah. Kamu kecapean juga karna anak bunda. Iya kan?!" tersenyum geli. Andini membalasnya dengan senyuman canggung.


Adhi merengek, Andini langsung ke arah box bayi, menggendongnya. "Cup cup cup..." menggoyangkan ke kanan dan ke kiri sambil menepuk nepuk.


Sindi mengarahkan tatapannya pada Dama, begitu juga dengan Tama. Kedua orangtuanya sudah menunggu penjelasan dari putra dan menantunya itu.


"Mas..." Dama mengerti dengan maksud Sindi.


"Sayang, sinih?!" memanggil Andini untuk mendekat, duduk disampingnya. "Ayah Bunda...ini Adhi. Untuk sementara, kami yang merawatnya" Tama dan Sindi masih belum mengerti.


"Anak angkat? dari panti asuhan?" tanya Sindi. Andini menggelengkan kepalanya.


"Bukan bun. Ini...ini anak mba Rania" Tama dan Sindi otomatis mengerutkan kening mereka.


"Anak Rania? Mas...apa itu ulahmu?" Sindi tau bagaimana hubungan Rania dan putranya dulu.


"Bukan bun. Adhi anak Rania, bukan anak Dama" Sindi menghela nafasnya lega.


"Lalu...kenapa harus kalian? memangnya gak ada keluarga Rania yang bisa mengurusnya?" Andini menggenggam erat tangan Dama, lalu mengangguk.


"Ayah, Bunda. Sebelumnya Andini mohon maafkan mas Dama. Mas Dama yang akan menjelaskan semuanya" tatapan matanya mulai sendu, menyeka keringat di dahi Adhi, masih dalam pangkuannya.


"Memangnya ada apa?" Tama ingin tahu.


"Ayah, Bunda...maafin Dama. Selama ini Dama menutupi semua- " perkataan Dama langsung Sindi potong. "Menutupi apa?"


"Dama nikah sirih dengan Rania 2 bulan sebelum menikah dengan Andini" menunduk.


"Apa??" Tama dan Sindi kompak. "Jangan bercanda mas!" Sindi menatap tegas putranya lalu menatap Andini, menantunya itu mengangguk.


"Dama jujur yah, bun. Maafin Dama. Tapi Dama udah cerai sama Rania kemarin" terang Dama pad kedua orangtuanya.


"Andin..." Sindi malu pada menantunya.


"Andini udah tau semuanya. Maafin Andini juga Ayah, Bunda" Andini merasa bersalah ikut dalam sandiwara rumah tangganya.


Dama menceritakan semua yang baru saja mereka alami tanpa ditutup tutupi lagi. Soal penyekapan Andini dan juga pertemuannya dengan orangtua Andini saat dirumah sakit.


"Ya Allah yah..." Sindi menangis memeluk suaminya. Ia malu dengan putranya. "Sabar bun. Nanti kita harus ke rumah Andika, kita harus meminta maaf juga. Dama anak kita. Dama juga sudah menceraikan Rania. Jangan menangis!" mengusap punggung Sindi yang bergetar. "Bunda malu yah, kasian Andini".


"Ayah Bunda, Andini sudah memaafkan mas Dama. Andini sayang dan cinta mas Dama. Jangan menangis lagi. Maafkan mas Dama" mendekati ibu mertuanya, mengusap punggung tangan, masih memangku Adhi.


"Terimakasih sudah mau memaafkan putra bunda" Andini mengangguk lalu memperlihatkan Adhi yang menggeliat lucu.


"Lihat bun, Adhi lucu ya? Andini sayang banget sama Adhi. Anak ganteng yang gak salah apa apa. Kasian Adhi bun" Sindi setuju dengan ucapan Andini. Mengusap pipi merah yang masih terpejam.


Bersambung...


*****


Udah mau selesai nih...Jangan lupa like, komen dan giftnya ya. Besok senin kasih vote juga boleh 😊. Terimakasih banyak πŸ™