Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Rahasiaku Terbongkar


Dua bulan berlalu...Aku melewati hari hariku dirumah bersama bik Susan dan sopir baru pak Pono. Dama hanya datang 2 kali saja dalam sebulan terakhir dan jarang sekali menanyakan kabarku. Bunda dan Ayah yang sibuk juga tidak curiga dengan jarangnya Dama dirumah.


Aku harus menjalani rumah tangga ini dengan ikhlas. Lagi lagi yang ku ingat adalah kebahagiaan Ayah dan Ibu.


Jalani saja seperti air mengalir hingga akhirnya bermuara di hulu. Entah kami akan terus bersama atau akhirnya harus berpisah.


Aku memilih menyibukkan diri dengan urusan kampus. Semester depan aku sudah harus menyelesaikan tesis. Karena kecelakaan yang kualami, semua harus tertunda. Dan sungguh kebetulan dosen pembimbingku adalah Firman, prof.Firman.


Sejak kecelakaan waktu itu, Dama memperkerjakan sopir baru untuk mengantar dan menjemputku kuliah. Aku menolak tapi Dama terus memaksa dan tidak mau dibantah. Aku menurut saja.


Setiap kegiatanku, aku bertemu siapa, pergi kemana dengan siapa semua harus dilaporkan pada Dama. Dia berubah jadi possesive. Jujur aku lelah, karna salah sedikit saja, Dama akan memarahiku. Aku sama sekali tidak boleh pergi tanpa seijinnya meski hanya sekedar hang out dengan Rina.


"Siang prof" kusapa Firman diruangannya. Aku ada bimbingan dengannya hari ini.


"Duduklah" aku langsung duduk. Menyerahkan hasil penilitian tesisku "Ini prof". Firman menelitinya dan mengkoreksi beberapa kata yang salah dengan spidol merah.


Aku membulatkan mataku, begitu banyak coretan merah disana. "Seharusnya tidak seperti ini" Firman memberikan beberapa catatan referensi di kolom kosong bagian bawah. Beberapa judul buku.


"Bisa kamu temukan di perpustakaan. Dan ini, bisa kamu baca. Di perpustakaan tidak ada" menyerahkan buku tebal dihadapanku.


"Terimakasih prof" aku langsung bangkit dan meninggalkan ruangan Firman.


"Andini" Firman memanggilku saat kuraih handle pintu. Aku berbalik "Iya prof, ada apa?" tanyaku.


"Bisa kita makan siang bersama?" aku bingung harus menjawab apa. Pak Pono selalu mengawasi gerak gerikku. Semua harus dilaporkan pada Dama. "Kenapa? tidak bisa?" tanya Firman.


"Bagaimana kalau disini saja prof? saya tidak enak kalau dilihat yang lain" Firman mengangguk. "Oke, aku pesankan makanan dari kantin saja. Kamu mau makan apa Andini?"


"Apa saja prof" aku kembali duduk. Firman meraih ponselnya diatas meja kerjanya. Menghubungi pihak kantin, mengatakan beberapa menu pesanan dan minta diantar ke ruangan.


"Bagaimana kabarmu?" Firman selalu saja menanyakan kabarku setiap bertemu. Sudah sebulan terakhir ini, selalu sama. "Alhamdulillah baik prof" jawabku.


"Ini kan waktu istirahat, panggil saja Mas Firman" aku terbatuk, Firman langsung mengambilkan minum untukku. "Terimakasih prof, em...mas" menerima gelas, meminumnya.


"Masih saja malu malu denganku" ucapnya meledek. Pipiku sudah bersemu merah.


Makanan yang dipesan Firman diantar oleh pelayan kantin, Mba Irah. Dia melihatku dan Firman yang hanya berdua saja di dalam ruangan. Pasti dia berpikir yang tidak tidak antara aku dan Firman.


"Dia sedang bimbingan tesis dengan saya. Jangan berpikir macam macam, Mba Irah" seperti tau apa kata hatiku, Firman menjelaskan kenapa kami makan siang bersama.


"I-iya pak Firman" meletakkan dua mangkuk soto daging beserta nasi dan dua gelas es teh.


"Terimakasih mba Irah" ucapku. Irah tersenyum kecut lalu pergi keluar.


"Mas Firman, saya tidak enak kalau seperti ini. Saya takut mba Irah bergosip" menerima botol kecap dari tangan Firman.


"Tidak perlu dipusingkan. Kalau ada gosip yang tidak baik, akan aku datangi Irah" memasukkan sambal dalam mangkok soto daging miliknya.


"Saya tidak enak hati saja mas. Mas kan duda dan semua orang taunya saya masih single" bergantian mengambil sambal.


"Biarkan saja. Aku tidak masalah" tersenyum senang.


"Ih..mas kenapa gitu? nanti kalau mas Dama sampai mendengarnya, dia bisa marah besar dengan kita. Saya akan di interogasi habis habisan" Firman tergelak. "Kok malah ketawa sih mas?" aku mulai memakan soto daging didepanku.


"Aku yang akan menjelaskan semua pada Dama. Tenanglah! Habiskan makananmu" aku mengangguk lalu kami sama sama diam menikmati pedasnya soto daging.


*****


Ponsel Firman berbunyi nyaring. Panggilan dari sekolah Mentari, putrinya. Kening Firman berkerut.


"Kenapa mas?" aku bertanya saat melihat wajah Firman menegang setelah menjawab panggilan itu.


"Baik mrs, saya akan langsung ke rumah sakit. Terimakasih" Firman menutup ponselnya lalu memelukku. Aku terkejut. "Mas, ada apa?"


"Mentari, Mentari pingsan di sekolah" aku menepuk punggung Firman perlahan, menenangkannya. "Sabar mas, Mentari pasti baik baik saja"


"Ikut denganku!" memegang kedua pundakku. "Mentari sudah satu bulan ini ingin bertemu denganmu tapi aku sungkan untuk mengatakannya. Aku takut Dama akan memarahimu"


Kami berjalan cepat menuju parkiran. Beberapa teman teman dan dosen lain yang sedang dikantin melihat kami masuk ke dalam mobil bersama. Aku tidak memusingkannya lagi. Terserah apa yang akan mereka katakan.


Aku memakai seatbelt lalu menghubungi pak Pono sedangkan Firman sudah melajukan mobilnya.


"Assalammualaikum pak Pono. Maaf, aku pergi bersama temanku. Ada keperluan penting. Pak Pono sampaikan saja pada Mas Dama, dia tidak akan marah kok" ucapku di telepon.


"......."


"Iya pak, bilang saja sedang menjenguk teman yang sakit. Terimakasih pak. Assalammualaikum"


aku menutup telepon setelah mendengar balasan salam dari pak Pono.


"Mas, jangan ngebut. Hati hati" aku mengusap bahu kirinya untuk menenangkan Firman. Aku tau dia pasti sangat khawatir pada putri semata wayangnya. Firman tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk.


Perjalanan 30 menit dari kampus ke Rumah Sakit Elizabeth. Aku dan Firman berjalan cepat menuju ruang IGD.


"Mas, tenang" aku menepuk nepuk lengannya saat kami sudah ada didepan IGD. Dokter keluar dari dalam. "Bapak Firman?"


"Iya dok, saya" Firman mengikuti dokter menuju ke ruangannya yang tidak jauh dari IGD. Aku memilih duduk menunggu didepan IGD. Berjaga jaga saja kalau ada hal darurat pada Mentari.


Saat menunggu, aku melihat sekilas dua orang yang sangat aku kenali. Dama dan Rania.


Aku rindu mas. Aku hanya bisa memendam rasa rinduku padanya.


"Kenapa melamun?" Firman datang bersama dokter.


"Gak papa mas. Bagaimana Mentari?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dokter masuk ke dalam.


"Mentari harus operasi. Ada pembekuan darah di otaknya" Firman menangis. Aku langsung memeluknya. "Sabar mas, aku yakin Mentari kuat. Dia akan sembuh dan kembali ceria" mengusap lembut punggungnya.


"Terimakasih Andini. Aku tidak tau bagaimana kalau tidak ada dirimu disini. Aku rapuh"


"Duduklah dulu mas" aku mengajak Firman duduk disebelahku. Firman memegang tanganku, aku membalas mengusap tangannya. Memberikan kekuatan.


"Sedang apa kalian disini?" suara yang sangat aku kenal dan selalu aku rindukan. Dama.


Aku melepas genggaman tangan Firman, kami langsung berdiri berhadapan dengan Dama.


"Mas Dama" memegang bahunya. Ia menepiskan tanganku. "Jawab aku! kalian berdua bermain di belakangku?" suara bentakannya cukup keras.


"Mas, pelankan suaramu. Ini rumah sakit" aku memegang lagi lengannya erat.


"Lepas!" aku menggeleng tidak mau melepaskan. Aku melihat Firman hanya diam menunduk.


"Jangan seperti ini mas. Mas Firman sedang bersedih. Mentari putrinya sedang sakit. Mengertilah mas" Kami terus bertatapan. Tatapan tajam matanya yang selalu aku rindukan.


Kapan mas pulang, aku sangat rindu. Aku hanya berkata dalam hati sambil terus menyelami tatapan matanya.


"Sayang..." suara manja wanita itu mengganggu tatapanku dan Dama. Firman mendongak dan langsung berdiri disampingku. Sudah jelas Firman terkejut akan kedatangan Rania dengan perut yang sudah membuncit.


Aku melepaskan cekalanku pada lengan Dama. Dama salah tingkah dihadapanku dan Firman. Rahasia kami terbongkar di hadapan Firman.


"Aku tunggu di rumah!" ucap Dama padaku lalu pergi bersama Rania. Rania memberikan tatapan mengejek padaku sambil merangkul manja lengan Dama.


Firman terus menatapku, sedangkan aku? menatap kepergian Dama dan Rania sampai tak terlihat lagi dari pandanganku.


"Ada apa dengan kalian?" kini Firman lah yang berbalik bertanya padaku dengan memegang kedua bahuku. Aku menunduk dan menangis. Aku tidak punya keberanian untuk menatap mata Firman.


Firman merengkuhku, membawaku dalam dekapannya. Aku menangis.


Bersambung....


*****


Maaf updatenya lama banget 🙏 aku masih fokus ke novel aku MYH (My Young Husband)