Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Susan dan Rania...juga Pono?


Honeymoon selesai, begitu juga dengan kebersamaanku dengan Dama. Keesokan hari, Dama sudah kembali ke apartemen. Sejak subuh, Rania terus menelpon Dama tapi Dama enggan untuk mengangkatnya. Dan selanjutnya menghubungi ponselku. Seakan sedang menerorku.


"Mas, Mba Rania telfon aku" menunjukkan layar ponselku pada Dama yang masih memakai sarung selesai kami sholat subuh berjamaah.


"Abaikan" Dama bangkit, melepas sarungnya dan melipatnya lalu kembali ke atas ranjang. Aku menghela nafasku pelan, meletakkan ponsel ke atas nakas. Melepas mukena dan menyusul Dama naik ke atas ranjang.


"Mas, mungkin mba Rania sedang butuh mas Dama. Atau mungkin mba Rania udah mau lahiran?" Aku memiringkan tubuh menghadap Dama yang memejamkan mata.


"Hemm..." Dama hanya menjawab dengan deheman. "Maass..." menggoyangkan bahunya.


"Kenapa?" Dama membuka matanya, menatapku.


"Aku khawatir sama mba Rania, Mas" aku bergeser ke arahnya setelah Dama menarikku, memelukku.


"Sudah ada bibik disana dan Pak Pono siap 24 jam. Aku ingin memelukmu" aku membalas pelukannya. "Kamu berhutang sesuatu honey" menggesekkan hidung mancungnya ke hidungku.


"Apa mas?" mendongakkan wajahku dan Dama langsung menyambar bibirku, ******* sambil satu tangannya meremas dadaku yang masih tertutup piyama.


Aku tak dapat menahan desahan keluar dari bibirku. Sentuhannya selalu saja memabukkan. Kakiku yang sudah ia letakkan diatas kedua bahunya, tangannya mencengkeram pinggangku dan lidahnya terus melesak masuk, menyergapku dengan hasrat yang menggebu.


Aku mengangkat tubuhku setengah berbaring tapi Dama mendorongku lagi. Tubuhku menegang. Denyutan itu sudah pasti dirasakannya.


Dama menurunkan kedua kakiku lalu mencium bibirku lagi. "Aku mencintaimu Andini...istriku" mengecup kening dan merasakan sesuatu yang masuk dalam inti tubuhku. Desahanku yang melengking semakin membuat darah Dama berdesir hebat. Sapuan lembut jarinya dari garis punggung sampai bawah.


Dama mengusap perutku yang masih rata dan bibir kami masih bertautan.


Aku ingin memiliki anak darimu Andini. Hanya darimu. Ada sesuatu yang janggal dengan kehamilan Rania. Batin Dama.


*****


Dama merangkul pinggang Andini sambil berjalan ke arah mobil yang sudah selesai di cuci pak Pono. Andini mengantarkan kepergian Dama kembali ke apartemen setelah menikmati sarapan bersama.


"Hati hati dijalan mas. Jaga kesehatan dan juga mba Rania. Semoga lahirannya nanti lancar mas" Andini tau beberapa minggu ke depan, Dama tidak akan pulang karna mempersiapkan kelahiran anaknya bersama Rania. Dama hanya mengangguk. Didalam hatinya sangat berat untuk berjauhan dengan Andini.


"Bersabarlah...aku sedang menyiapkan sesuatu. Doakan sesuatu itu hasil yang kita harapkan" Andini tidak mengerti apa arti dari ucapan Dama.


"Iya mas, apapun itu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kita" mengangguk lalu mengecup punggung tangan Dama.


"Aku pergi dulu. Jaga diri baik baik, kalau ada sesuatu hubungi aku" Andini mengangguk. Dama merengkuh tengkuknya menciumnya dalam dan lama. "I love you"...."I love you too mas"


Mobil Dama melaju meninggalkan Andini yang masih setia berdiri didepan rumah, terus melihat mobil sedan mewah itu menghilang dari pandangan.


Dengan langkai gontai, Andini masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat mendengar suara Susan yang sedang bertelepon dengan seseorang di depan kolam renang.


Andini menutup mulutnya saat mendengar Susan berbicara dengan seseorang yang dia sangat kenal suaranya. Buru buru Andini memundurkan langkahnya menjauhi Susan setelah mematikan sambungan telepon itu.


BRAKK


Susan terkejut dan langsung berlari ke sumber suara. "Kamuu..." Susan marah saat melihat Andini yang sedang memunguti pecahan vas. Susan menarik Andini kasar, mendorongnya ke tembok.


"Apa yang kamu dengar?!" mencengkeram lengan Andini kuat. "Bik Susan, LEPAS!!" Andini melepas kasar cengkeraman Susan di lengan kirinya. "Kalian ibu dan anak bersekongkol untuk menipu mas Dama. Aku gak bisa tinggal diam!" mengepalkan kedua tangannya, geram dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Berani kamu?!" Susan mencekik leher Andini. Andini berusaha melepas dua tangan Susan yang terus menekan lehernya. Wajahnya yang kian memerah dan nafasnya tersengal, Andini sekuat tenaga menendang perut Susan. Susan jatuh lalu tangannya menangkap satu kaki Andini yang mencoba kabur.


BUGG


Andini terjatuh menelungkup, hidungnya membentur lantai dan mengeluarkan darah. Susan menindih Andini, memukul tengkuk dengan ponselnya. Andini jatuh pingsan. Susan ketakutan dan memanggil Pono.


"Pono...Pono" berteriak.


Pono berlari tergopoh gopoh "Ada apa ini?" Pono datang ke arah Susan memanggilnya dan melihat Andini yang sudah jatuh ke atas lantai.


"Aku cekik dia. Dia mendengarku dan Rania di telepon tadi. Dia tau semuanya. Sial! kita harus menyekapnya. Jangan sampai Dama tau!" Susan menarik Pono untuk mengangkat Andini dan membawanya pergi jauh dari Ibu kota.


"Goblok kamu Susan!!" Pono kesal dengan kecerobohan istrinya itu.


"Dia tadi menendangku. Aku tidak mau semua rencana kita selama ini berantakan. Aku memukulnya dengan handphone. Udah cepetan bawa. Jangan banyak omong!" Susan berjalan cepat mengikuti Pono yang menggendong Andini ke arah mobil. Susan membuka pintu mobil lalu mengikat kedua tangan dan kaki Andini. Berjaga jaga jika Andini siuman dan berusaha melarikan diri.


"Ini kuncinya" Susan memberikan kunci tempat dimana Andini akan disekap.


"Bereskan semua kekacauan yang kamu dan anakmu lakukan!" Pono masuk ke dalam mobil dan pergi melajukan mobilnya cepat sebelum Andini sadar. Pono sangat marah dengan keteledoran istrinya itu.


Pono laki laki yang baru satu tahun menikah dengan Susan. Pono yang malas bekerja, mau tidak mau berpura pura menjadi sopir pribadi Andini atas rekomendasi Susan. Dama tidak tau menahu soal siapa Pono sebenarnya. Susan memperkenalkan Pono sebagai tetangga di kampungnya yang sedang mencari pekerjaan.


Ikatan di tangan dan kaki Andini, juga lakban yang menutup rapat mulutnya. Susan yang melakukannya sebelum menutup pintu mobil tadi.


Pono terus melajukan mobilnya masuk ke dalam lajur tol. Dia membawa Andini jauh ke luar kota. Suara deru mobil yang terdengar memekakan telinga karna kecepatan diatas rata rata, sedikit menyadarkan Andini. Matanya mengerjap perlahan, samar samar melihat sisi kiri wajah seseorang dibalik kemudi. Ingatannya kembali melayang ke kejadian tadi saat Susan mencekiknya dan memukul belakang kepalanya. Terasa nyeri.


Andini berusaha menggerakkan tubuhnya tapi mustahil. Ia tersadar, kini tubuhnya diikat dan dia diculik.


Mas Dama. Bagaimana ini? bik Susan dan Mba Rania membohongimu. Mereka berdua menipumu.


Buliran hangat menetes ke pipinya. Lagi lagi ia tersadar siapa sosok di balik kemudi. Orang yang selalu mengantarnya kemanapun.


Pak Pono?? jadi...jadi mereka...


Andini semakin resah dengan keselamatan Dama, bukan dirinya.


Bersambung....


*****


Udah ketauan kan sekarang. Gemes gak? kaget gak? kesel gak?