
Setelah mendapat pesan dari Andini, Firman semakin gelisah. Pesan yang ia kirim belum juga dibuka dan dibaca. Firman cemas terjadi hal buruk pada Andini.
Hingga subuh menjelang, Firman masih terjaga. Ia memilih mengambil air wudhu dan bergegas ke masjid komplek rumahnya. Firman berharap setelah sholat subuh, ada balasan pesan dari Andini.
"Teh, sudah subuh" Indah membangunkan Andini. Tubuhnya lelah sampai tidurnya terasa sangat nyaman.
"Hemm" Andini bergumam. Matanya masih terpejam.
"Ada balasan pesan dari temen teteh" Indah membuka ponselnya. Ia melihat pesan masuk dari Firman. Andini langsung membuka matanya dan duduk. Mengucek kedua matanya.
"Ada balasan? bisa aku liat?" Indah mengangguk, memberikan ponselnya.
"Saya mau wudhu dulu ya teh" Indah bangkit lalu membuka pintu kamarnya. Asep sudah bangun dan bersiap sholat subuh tapi tidak ikut pak RT yang sudah ke mushola desa. Dirinya belum aman, berjaga jaga kalau orang suruhan itu masih mengintai.
Andini membaca pesan balasan Firman. Lagi lagi ia bingung, menimbang nimbang apa tepat dia memberitahu Firman. Selagi pikirannya terus berkeliaran. Ponsel Indah berdering, Firman menelpon.
"Duh...aku harus gimana?" Andini terus menatap layar ponsel sampai deringnya berhenti.
"Kenapa gak diangkat teh?" Indah masuk setelah selesai berwudhu.
"Hah?? aku...aku bingung" meletakkan ponsel itu ke atas ranjang.
"Kenapa bingung teh? mungkin dia bisa bantu teteh" sambil memakai mukenanya, menggelar sajadah. Andini diam, memilih keluar kamar mengambil wudhu.
Ponsel Indah terus berdering beberapa kali. Dering pesan juga terdengar.
Andini, kamu baik baik aja kan? kenapa telponku gak diangkat?
Kamu dimana? cepat beritahu aku. Aku langsung menjemputmu.
Andini...kamu lebih aman denganku.
Andini...balas pesanku!
Indah membuka pesan pesan dari Firman seusai sholat subuh. Andini masuk.
"Teh, ini temen teteh telpon terus dari tadi. Kirim pesan juga. Hapunten (maaf)...saya buka pesannya" memberikan ponselnya ke arah Andini. Andini membacanya satu per satu, menggigit bibir bawahnya. Andini memilih untuk menunaikan sholat terlebih dulu.
Indah keluar kamar, menyiapkan sarapan untuk Abahnya, Asep dan juga Andini. Indah yang sedang mengambil jatah liburnya, terbiasa mengurus Abah yang hidup sendiri sudah 1 tahun ini. Istrinya, ibu Indah sudah meninggal.
Melipat mukena lalu duduk dipinggir ranjang, mengusap layar ponsel milik Indah.
Mas Firman bisa telfon aku sekarang?. Isi pesan yang ia kirim.
Hanya berselang beberapa detik, layar ponsel itu menyala. Nomor Firman tertera disana.
"Halo assalammualaikum mas" ucap Andini memberi salam.
"Walaikumsalam...Andini ini bener kamu? aku khawatir. Kenapa gak balas pesanku? aku kesana sekarang, share lokasinya!" Firman ingin segera membawa Andini pergi dari desa itu.
"Mas, aku takut masih di intai. Aku belum bisa keluar dari desa sini" jawab Andini, dia memang belum leluasa untuk keluar dari rumah pak RT.
"Aku justru lebih takut kalau kamu masih disana" Firman berjalan mondar mandir di kamarnya.
"Tapi mas..." Andini masih harus merundingkan dengan Asep dan pak RT.
"Oke, aku beri waktu sampai besok. Terus hubungi aku, jangan keluar dari sana sebelum aku menjemputmu. Oke?!" Firman masih saja belum tenang.
"Aku harus bicara dulu dengan pak RT juga Asep, pemuda desa yang menolongku. Dia juga terancam. Mas Firman jangan beritau mas Dama ya?! aku takut dia gak percaya" Firman mengusap wajahnya kasar, setelah Andini menutup telepon. Dia benar benar gelisah.
Perasaan sayangnya pada Andini masih ada tapi ia tidak ingin memaksa wanita itu. Andini masih istri sah Dama, mantan sahabatnya.
*****
"Kamu goblok banget tau gak?! dari dulu kamu gak bisa apa apa, selalu gak beres. Dia bisa aja kan nyamperin Dama. Aku gak mau tau, cari sampe dapet trus bunuh!" Rania membanting handphonenya ke atas ranjang. Adhi yang sedang tidur di box bayi terkejut dan menangis.
"Ihh...ngeselin banget sih lo. Jadi bayi gak usah rewel deh. Gue lagi kesel tau gak? Arghh..." Rania memaki dari jarak yang cukup jauh dari box bayi. Adhi semakin kencang menangis.
"Ninaaaa...Ninaaaa..." Rania berteriak memanggil Nina. Nina terlonjak tepat didepan pintu kamar Rania. Nina diperintah Dama untuk mengawasi dan mendengar semua pembicaraan Rania dengan siapapun.
Semalam saat Rania sudah tertidur, Dama mengendap endap keluar kamar menemui Nina di kamarnya. Dama mencerca Nina dengan banyak pertanyaan. Awalnya Nina tidak mau mengaku tapi Dama mengancamnya dan Nina akhirnya menceritakan semua. Dama merasa menjadi laki laki bodoh yang sudah tertipu oleh Rania. Kata kata bundanya teringat kembali saat menolak Rania menjadi menantunya.
Siapa laki laki itu?. Dama.
Pertanyaan yang masih berputar diotaknya. Drrt...
ponsel diatas meja kerjanya berdering.
"Halo...Apa??" Dama malas menanggapi Firman.
"Bisa ketemu? lo dimana?" tanya Firman sambil mengenakan seatbelt.
"Gua dikantor. Kenapa lagi?" Dama masih enggan menanggapi Firman.
"Ada hal penting tentang Andini. Ini rahasia kita berdua. Jangan percaya sama siapapun. Ngerti?" Firman melajukan mobilnya langsung menuju perusahaan Dama.
"Apa sih? Andini baik baik aja. Dia sibuk kuliah. Bukannya lo dosen pembimbingnya. Tiap hari lo ketemu" Dama kesal mengingat kedekatan musuhnya itu dengan istrinya.
"Gua jelasin nanti. Jangan kemana mana lo!!" Firman menutup sambungan telponnya. Menginjak pedal gas semakin kencang. Dia ingin segera memberitahu soal Andini pada Dama. Dama berhak tahu.
Sambil terus menunggu kedatangan Firman. Ponsel miliknya bergetar. Pesan masuk berupa voice note dikirimkan Nina pada Dama.
Matanya membulat, satu tangannya mengepal hampir saja menggebrak meja. Percakapan Rania dengan seorang laki laki terdengar. Tapi lagi lagi suara laki laki itu tidak terdengar jelas di telinga Dama.
Apa maksud Firman, ini?. Batin Dama. Istrinya Andini sedang dalam bahaya.
Dama semakin marah saat mendengar Rania memaki Adhi, bayi laki laki yang baru berusia 3 hari. Dia baru menyadari bagaimana sifat Rania sebenarnya.
tok tok tok
Kemal asistennya mengetuk pintu. "Masuk" suara Dama memberikan perintah pada Kemal untuk membuka pintu dan masuk.
"Ada tamu pak. Pak Firman namanya" Dama mengangguk, tanda agar Kemal segera membawa masuk Firman.
"Duduk" Dama mempersilahkan Firman duduk. Ia meraih remote otomatis untuk mengunci pintu dan menggelapkan kaca besar yang langsung menghadap ke kubikel para pegawainya.
"Terimakasih. Ini lo baca" Firman mengeluarkan ponselnya, membuka email yang dikirim Andini padanya pagi tadi.
Dama menerimanya dan mulai membaca isi email Andini. Raut wajahnya berubah drastis, kesal dan marah bercampur. Dama melonggarkan dasinya. "Brengsek! Bajingan! Anjing!" Dama bangkit dari duduknya, menendang meja kerjanya. Kedua tangannya bersandar di meja, menunduk lalu menatap jendela kaca dengan pemandangan ibukota Jakarta. Matanya merah.
Kecemasannya pada Andini yang sekarang entah dimana. Dia benar benar menyesal. Semua ucapan bundanya benar adanya.
Bersambung....
*****
Jangan lupa like sama giftnya ya 😊 Author seneng banget deh, tulisanku merasa dihargai 😉
Lope Lope you All 😘😘😘