
Setelah bang Riko pergi, aku memberanikan diri untuk menyuruh Dama pulang ke apartemen. Sesuai janjiku pada Rania. Dama tetap ingin menjagaku tapi aku benar benar takut kalau Rania membongkar semuanya pada ayah dan ibu. Mereka pasti akan marah dan memintaku untuk meninggalkan Dama. Aku bingung.
"Mas, aku mohon. Pulanglah. Mba Rania sedang hamil anak mas Dama. Dia butuh perhatian lebih darimu. Aku baik baik saja, aku bisa menjaga diriku sendiri. Jangan sampai mas menyesal untuk kedua kalinya. Jaga calon bayi kalian" Aku menangkupkan kedua tanganku, memohon agar Dama pulang. Dama diam dan aku tau dengan menyebut calon anak yang sedang Rania kandung, dia akan luluh.
Dama membuang nafasnya lemah. Akhirnya dia mau juga untuk pulang. "Baiklah, aku akan pulang. Tapi malam ya? aku harus meminta ayah dan ibu menjagamu sementara, pagi akan bergantian denganku"
"Jangan mas, pagi mas Dama ke kantor. Ada suster yang menjagaku. Jadi fokuslah bekerja juga pada mba Rania dan calon anak kalian. Aku pasti cepat sembuh karna ada dokter dan suster yang menanganiku dengan baik. Percayalah mas" Aku memegang tangan Dama, mengecupnya lekat. Aku ingin berlama lama memandang wajahmu, memelukmu, menciummu mas. Karena setelah ini, kita akan jarang bertemu. Aku ikhlas, aku ingin kau bahagia dengan mba Rania dan calon anak kalian. Aku tidak ingin membuatmu terus merasa kehilangan calon anak kita mas. Bahagialah meski bukan denganku. Aku akan memanfaatkan waktu saat nanti kita bisa bertemu lagi.
"Baiklah honey, aku akan menuruti apa perkataanmu. Tapi kalau ada apa apa hubungi aku ya? aku pasti akan selalu menelponmu" Aku mengangguk dan memeluk Dama. Hatiku terasa sakit, ingin menangis tapi aku menahannya.
"Mas, apa nanti aku boleh jalan jalan ke taman? aku ingin menghirup udara sore denganmu" kataku.
"Aku harus bertanya dulu dengan dokter. Aku takut luka dikepalamu belum sembuh benar" jawab Dama mengusap kepalaku.
"Iya mas"
"Mas, aku ngantuk. Aku ingin dipeluk. Tidur disini ya, disampingku" Aku menepuk ruang kosong di ranjang.
"Kasurnya kecil, apa muat untuk kita berdua? kau akan pegal pegal nanti" kata Dama.
"Cukup mas. Ayo sini coba dulu" aku menarik lembut lengan Dama agar mau berbaring.
"Begini?" Dama memposisikan tubuhnya. lengannya menjadi alas kepalaku, kami saling berhadapan. Aku langsung memeluknya. Aroma tubuhnya yang pasti akan aku rindukan.
"Mas, jaga kesehatan ya. Baik baik dengan mba Rania. Aku doakan semoga kalian selalu bahagia" ucapku tulus. Dama menarik daguku.
"Kenapa bicara seperti itu? kamu mau pergi meninggalkanku honey?" mata Dama menatapku tajam.
"Enggak mas, hanya mendoakan saja. Aku akan tetap bersamamu meskipun waktu kita sedikit, aku sudah senang. Yang terpenting aku masih bisa memelukmu" aku kembali memeluk Dama, erat. Dama mengusap lalu mencium pucuk kepalaku.
"Aku sudah pasti akan merindukanmu honey. Aku janji akan sering datang. Meluangkan waktuku lebih lama denganmu" ucap Dama. Aku tersenyum dalam pelukannya, meski aku tau kau tidak akan bisa melakukannya mas. Aku akan menunggumu datang, walopun harus memakan waktu yang tidak sebentar.
Dan akhirnya kami tertidur bersama di ranjang kecil ini. Tidur siang yang sangat indah dan akan aku ingat selalu.
*****
Author POV
Andini sedang menunggu Dama yang pergi menemui dokter untuk menanyakan apakah boleh membawa Andini keluar ke taman. Andini ingin memiliki beberapa kenangan indah yang dia ingat nanti.
Tak lama Dama masuk ke dalam kamar membawa kursi roda, dan artinya Andini diperbolehkan keluar. Andini tersenyum lebar.
"Terimakasih mas" Dama membopong Andini lalu ia dudukkan perlahan di kursi roda.
"Sudah siap honey?" tanya Dama bersimpuh didepanku. Andini mengangguk bahagia. Dama membenarkan kerudung lalu membawanya turun ke lantai dasar menuju taman.
Andini terus memegang tangan kanan Dama yang sedang mendorong kursi roda. Semua orang menatap keduanya, berbisik.
"Romantis sekali mereka"
"Ya ampun gantengnya, beruntung sekali wanita itu"
Dan bla bla bla...entah perkataan baik atau buruk, Andini dan Dama tidak perduli. Mereka tetap berjalan menuju taman.
Dama menempatkan kursi roda didekat kursi yang ia duduki. Andini bergelayut manja dilengan kekar Dama. Menatap ke arah air mancur dihadapan mereka. Didalam kolam yang jernih terdapat banyak ikan koi dengan warnanya yang cantik. Sungguh menenangkan.
Andini memejamkan matanya, menikmati semilir angin sore. Dama membelai lembut kepala Andini yang bersandar dibahunya.
"Ah...seger banget udara sore begini mas. Terimakasih sudah membawaku kesini" ucap Andini pada Dama.
"Sama sama honey. Yang terpenting kamu suka dan bahagia" Dama mengusap lembut lengan kanan Andini.
"Mas, aku mencintaimu" kata Andini lirih.
"Aku juga, sangat mencintaimu" Dama mencium pucuk kepala Andini yang tertutup kerudung.
"Mas jangan lupain aku ya? jika jalan kita nanti berbeda. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, itu sudah cukup untukku. Aku akan selalu menyimpanmu didalam hatiku yang paling dalam. Disini" Andini menunjuk dadanya. Dama menarik bahunya lalu bergeser dan saling berhadapan.
"Kenapa mengatakan seperti itu lagi? aku tidak akan meninggalkanmu, aku jujur dan tulus mencintaimu walau awal kita dulu tidak begitu baik karna ada pernjanjian yang aku buat. Dan nyatanya sudah aku batalkan perjanjian itu"
"Jangan katakan itu lagi! aku mencintaimu, sangat. Jangan tinggalkan aku! aku ingin bahagia menua bersamamu" Dama memeluk Andini erat. "Kau harus berjanji padaku. Jangan pergi! hemm?" Dama memeluk Andini lagi. Andini diam tidak menjawab.
'Aku gak bisa janji mas' batin Andini.
"Mas, cium aku" Andini mendongakkan wajahnya. Dama memiringkan kepalanya lalu mencium Andini dalam dan lama. Mereka tidak perduli dengan orang lain ditaman itu. Dunia merasa milik berdua.
*****
Dama POV
Setelah ciuman kami di taman, aku memutuskan membawa Andini masuk ke dalam ke kamar inapnya. Aku membopongnya kembali ke atas kasur. Setelah ciuman tadi membuat hasratku timbul ingin melakukan lebih dari sekedar berciuman.
"Honey, aku merindukanmu" Aku mengusap kepala, pipi lalu bibir ranum itu. Andini tersenyum dan dia mengerti apa yang aku inginkan.
"Mas, kunci dulu pintunya" suara Andini lirih. Aku tersenyum lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya.
"Honey, aku janji akan melakukannya sangat pelan. Aku janji tidak akan menyakitimu. Cup" Aku mencium kening Andini sekilas. Aku menarik tirai agar tidak terlihat dari kaca pintu.
"Iya mas" Andini mengangguk. Aku langsung naik ke atas ranjang. Mengungkungnya dibawahku. Mencium kening, kedua mata, hidung, pipi lalu bibirnya yang selalu membuatku ketagihan. ********** dengan lembut. Mencium lehernya dan ia mengeluarkan desahannya, hanya aku yang mampu mendengarnya.
"Mas, jangan buat leherku merah" kata Andini saat aku menciumi lehernya.
"Jadi tempat lain boleh?" Andini mengangguk. Aku tersenyum lebar. Melanjutkan aksiku.
Menciumnya sambil membuka kancing baju Andini. Beralih ke dadanya, membuat tanda kepemilikanku disana. Aku membuka pakaianku dan Andini. Kami melakukannya sangat lembut.
"Aku mencintaimu" Mengecup kening istriku Andini. "Aku juga mas, sangat mencintaimu"
Bersambung....