Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Jatuh Cinta Lagi


Dama memesan makan siang untuk berdua bersama Andini dikamar, karna terlalu beresiko jika makan di restoran di lantai dasar.


"Makan yang banyak! nanti kita harus kerja keras lagi" mengedipkan matanya genit.


"Apa?? apa tadi belum cukup mas? aku capek" Andini memasang wajah memelas.


"Kalo sama kamu gak ada cukupnya" merangkul lalu mengecup pipi Andini yang duduk disebelahnya. Masih menikmati makanan yang dipesan tadi.


"Ishh...gombal. Pokoknya aku mau tidur dulu sebentar. Kasih aku waktu untuk istirahat ya mas?" memasukkan potongan daging steak ke mulut Dama.


"Oke...aku kasih waktu untuk tidur, tapi sebentar aja. Sedikit aja..." meringis sambil mengarahkan jari telunjuk dan ibu jarinya, tanda 🤏.


"Iya iya mas" memasukkan potongan brokoli cukup besar ke dalam mulutnya sendiri. Pipinya terlihat penuh dan membuat Dama tertawa keras.


"So cute..." mencubit hidung Andini.


"Jangan bersikap seperti itu didepan laki laki lain, terutama Firman!" menunjuk nunjuk, jarinya langsung digigit Andini.


"Aw...sakit honey" mengibaskan dan meniup telunjuknya, kesakitan. Andini cuek, melanjutkan melahap sisa steak diatas piringnya.


drrt drrt....


Ponsel Dama berdering di atas nakas.


"Angkat dulu mas, mungkin dari kantor. Penting" ucap Andini, menarik lengan agar segera berdiri dan mengambil ponselnya yang sudah berdering berkali kali.


"Iya iya...sebentar" Dama bangkit dan berjalan ke arah nakas, hanya memakai bathrobe. Dama melihat ke layar lalu menatap Andini, memberi tanda untuk tidak bersuara. Meletakkan telunjuknya didepan bibir 🤫.


"Halo?" ucap Dama saat menggeser tanda hijau ke atas pada layar ponselnya.


"Sayang...kata Kemal, kamu ketemu ayah sama bunda? bener?" Rania terdengar curiga, tidak percaya kalau Dama pergi menemui Sindi dan Tama. Dama yang sudah mengira Kemal melaporkan semua pada Rania, dugaannya benar.


"Iya, aku dirumah" ucap Dama singkat, ia ingin segera mengakhiri telepon Rania.


"Kok gak bilang sih?!" Rania marah.


"Aku lupa kasih kabar. Aku tidur dirumah" Dama menepuk sisi ranjang pada Andini agar segera berbaring di sebelahnya.


"Sama Andini?" Rania berpura pura tidak tahu soal penyekapan Andini kemarin. Dama muak mendengarnya.


"Enggak. Sendiri. Udah ya, bunda udah manggil" Dama sudah menjauhkan ponselnya akan mematikan telepon, tapi Rania tetap berbicara.


"Tapi besok pulang kan?! janji kamu sayang...Akta lahir Adhi juga surat penting lainnya" Rania terus menagih janji itu pada Dama.


"Iya iya, udah ada di dalam map biru di dalam mobil. Udah ah...bunda udah manggil dari tadi" tutt tutt....Dama menutup sepihak sebelum Rania mengeluarkan kata katanya lagi.


Dama menghela nafasnya, rasa kesal dan juga lega. Meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.


"Mba Rania?" Dama mengangguk. "Siapa Adi?" tanya Andini lagi.


"Anak Rania dan Candra. Dia udah melahirkan waktu kamu dibawa Pono keluar kota" terang Dama, rahangnya mengeras.


"Apa?? mas tau darimana kalau anak itu anak mba Rania dan Candra?" Andini menatap Dama.


Andini mengusap dada Dama. "Semoga semua lancar mas...Ayok tidur?!" Dama mengangguk, mencium lekat kening Andini lalu menarik selimut dan berpelukan.


*****


Rania uring uringan karena Candra tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif.


"Kemana sih ini orang?? gak ada kabar. Ditelfon juga gak aktif. Sialan!!" membanting ponselnya ke atas ranjang. Selesai menghubungi Dama, Rania menelfon Candra berkali kali. Nihil.


Dimana Candra??


Candra mengalami cidera serius di bagian kepalanya, akibat benturan. Dia koma setelah kecelakaan kemarin. Dua anak buahnya meninggal di tempat. Kondisinya tragis. Beruntung mobil tidak terbakar, meski mengeluarkan asap dari kap mobil. Penampakan mobil ringsek tak berbentuk.


Petugas Dishub mendekat ke tempat kejadian dengan membawa petugas medis serta ambulance disusul oleh Polantas yang langsung mengolah tempat kejadian perkara.


Karena kondisi lalu lintas lengang, cenderung sepi. Polisi menyimpulkan bahwa itu hanyalah kecelakaan tunggal. Polisi tidak menindak lanjuti kasus kecelakaan yang dialami Candra dan kedua anak buahnya. Sepertinya Tuhan langsung menghukum Candra dan kroco kroconya.


Candra koma di RS Pelita Cikampek. Dua anak buahnya meninggal di tempat. Kasus ditutup karna dianggap kecelakaan tunggal. Pesan yang dikirimkan Aryo pada Firman sore ini.


Firman membaca pesan dari Aryo, terkejut. Walau bagaimanapun Candra adalah sahabatnya dulu. Firman memforward pesan dari Aryo ke Dama.


Dama membaca pesan dari Firman, membulatkan matanya sempurna. Tapi Dama menutupinya dari Andini. Dia pasti akan syok.


Andini masih tertidur, Dama duduk di pinggir ranjang menatap jendela kaca besar yang sengaja ditutup dari siang tadi saat mereka bercinta.


Kedua tangannya menumpu diatas paha, menunduk dan meremas rambutnya. Sungguh ia tidak tega Candra seperti itu. Meskipun Candra bukanlah sahabatnya lagi, tapi rasa sebagai sesama manusia masih ada dihatinya.


"Mas udah bangun tapi kenapa gak bangunin aku?" memeluk Dama dari belakang yang masih duduk di pinggir ranjang. Dama menoleh ke arah kanan, Andini menancapkan dagu di bahunya.


"Kamu tidurnya nyenyak banget. Aku gak tega banguninnya" mengecup pipi Andini. Dama melepaskan pelukan Andini, menariknya dan langsung membawanya dalam pangkuan. Andini menjerit karna Dama langsung menghujaninya ciuman.


"Mas...." Andini memiringkan kepalanya saat bibir Dama terus meng**** kuat lehernya, meremas rambut suaminya yang tebal.


"Aku udah kasih kamu waktu untuk istirahat. Sekarang aku mau" bisik Dama. Tatapan sayu Andini membuat Dama kembali menyerang. Melahap bìbir mungil merah itu, hingga suara merdu yang tercipta dari dua bibir yang beradu.


Tangan Dama masuk ke dalam bathrobe yang dikenakan Andini, menekan punggung. Dama mengangkat Andini untuk bersandar di pinggir ranjang.


"Aku pelan pelan" Andini menjawab dengan anggukan. Suara Andini terdengar saat Dama membenamkan seluruhnya dan berdiam sejenak, lalu perlahan bergerak.


Gelombang itu kembali datang dan melambungkannya tinggi tinggi. Gerakan yang dilakukan Dama dengan tempo cepat, terus menatap ke bawah dengan kedua tangannya menekan pinggul. Andini meng***** dan Dama menarik Andini bangun dan meraup bibir mungil itu.


Dama kembali membawa Andini ke atas ranjang. Membelitkan lidahnya. Sampai kedua kaki Andini meng***** kembali.


"Mas...udah" Andini menarik tangan Dama diatas pinggulnya. Ia selalu merasakan begitu di puja oleh Dama, melambungkan dirinya ke awan.


"I'm falling in love again with you" ucap Dama kembali jatuh cinta pada Andini, pria dewasa yang sedang dimabuk cinta dan gelora asmara.


"Istirahat dulu, nanti aku mau lagi" memeluk lalu menarik selimut. Andini terus mendongakkan wajahnya, membulatkan matanya mendengar ucapan Dama barusan.


"Are you serious?" tanya Andini, Dama hanya tersenyum kecil dan mengecup kening sebelum menutup matanya.


Bersambung...