
Di sabtu sore yang mendung, Pono dan Susan masih menikmati kebersamaan tanpa tahu nasib putrinya Rania yang sudah diamankan polisi satu minggu yang lalu. Cucunya Adhipun diambil alih oleh Nina, ia yang merawat Adhi sementara waktu. Sedangkan Dama dan Andini tinggal dirumah orangtua Dama.
"Apa Dama gak tanya soal istrinya lagi?" tanya Pono pada Susan di meja makan. Mereka tinggal berdua saja dirumah besar itu seolah pemilik rumah.
"Enggak. Udah seminggu ini, gak ada telfon aku" jawab Susan santai sambil memasukkan potongan ayam goreng ke dalam mulutnya.
"Apa ini gak aneh? biasanya tiap hari dia tanya soal istrinya itu" Pono mulai merasa hal yang janggal.
"Aneh gimana? gak perlu mikirin macem macem. Yang penting sekarang anakku juga cucuku udah aman, beberapa aset udah ditangan. Atas nama Adhi sama Rania. Kita udah kaya Pono" ucapnya sombong, masih sibuk menghabiskan ayam.
"Apa Dama sebodoh itu?" tanya Pono lagi. Susan kesal mendengar suaminya itu yang banyak tanya dan tetap tidak percaya.
"Emangnya selama ini dia pintar? dia nikahin anakku karna Rania seksi, anakku bisa muasin si Dama itu. Makanya anakku minta ini itu langsung dia kabulin" Susan semakin jumawa, merasa diatas angin. Pono menggeser kursinya mendekati Susan.
"Ngomong ngomong, aku nikahin kamu karna kamu juga seksi. Kita udah lama gak begituan Sus. Kamu harusnya nglayanin aku, aku kan suamimu. Udah berapa minggu kamu anggurin aku Sus" Pono memegang paha Susan, mengedipkan satu matanya sambil membasahi bibirnya.
"Gelo!!" (Gila). Menyingkirkan tangan Pono di pahanya lalu bangkit berdiri membawa piring kotor ke dapur. Memakai sarung tangan karet, mencuci piring.
Pono bergegas mengejar ke dapur dan langsung mengangkat rok yang dipakai Susan. "Ahhh..." Susan terkejut, menjerit saat Pono akan memulai aksinya.
Dama dan Andini pulang ke rumah mereka setelah satu minggu tragedi penangkapan Kemal, Rania juga Anita. Sesuai rencana, mereka bersama dengan Aryo dan beberapa anak buahnya akan menangkap Pono dan Susan. Aryo yang meminta dipindah tugaskan ke Jakarta, disetujui dan saat ini memilih membantu Dama. Menyelesaikan masalah temannya itu.
Pintu terbuka dengan kunci cadangan yang Dama miliki. Mereka masuk perlahan ke ruang tengah. Suara desahan Susan dan Pono di kamar belakang terdengar jelas. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Keduanya seakan lupa dengan sekitar, tidak mendengar suara langkah kaki yang terus mendekati kamar.
"Mas, kita disini aja. Aku geli dengernya" Andini menahan lengan kiri Dama. "Oke, kita disini. Aku juga geli dengernya. Aku lebih seneng kalo denger suara rintihnmu honey" mendaratkan bokongnya ke atas sofa ruang tengah. Andini memicingkan matanya tajam pada Dama. Bisa bisanya disaat genting seperti ini, masih saja berpikiran mesum.
"Emm...Aahh...Pono...teruss...Iya iya disitu" rintihan Susan masih terdengar. Andini bersembunyi di dada Dama.
"Aku jadi pengen" Dama menghela nafasnya. Andini mencubit perut Dama. Dama meringis menahan sakit cubitan.
"Jangan mesum! semalem udah sampe 3 kali" Dama tertawa mendengarnya, mengecupi puncak kepala.
Aryo dan anak buahnya terus berjalan masuk ke kamar Susan. "Anjirr...bikin panas dingin dengernya. Untung, tadi pagi gua udah tindih tindihan ama bini. Jadi kagak mupeng banget" ucap Aryo absurd. Anak buahnya yang sudah terbiasa mendengar hal itu, hanya membalasnya dengan ringisan.
tok tok tok...
Aryo mengetuk pintu, tidak langsung terang terangan membukanya. Ia tidak ingin melihat tontonan gratis.
"Maaf mengganggu...udah selesai belum? apa masih nanggung?" pertanyaan yang dilontarkan Aryo seorang intel polisi, benar benar aneh.
Tidak ada jawaban tapi suara rintihan Susan terdengar lagi. Pono masih terus memompa tubuhnya dan "Aahhh..."
Aryo masih menunggu sekitar 5 menit. Memberikan jeda waktu untuk mereka istirahat mengatur nafas.
"Permisi...udahan kan ya? sekarang bisa kalian pakai pakaiannya dulu?" suara Aryo didepan pintu.
"Gua masih berbaik hati, gak enak kan kalo nanggung. Bikin sakit. Lo pada, gitu juga kan?!" bisik Aryo ke ketiga anak buahnya. Mereka kompak menganggukan kepala.
Suara derit ranjang dan kaki yang menapak ke lantai kembali terdengar. Susan dan Pono sedang memakai kembali pakaiannya. Lalu Pono membuka pintu kamar. Susan bersembunyi di balik badan suaminya.
"Selamat siang" sapa Aryo pada Pono yang terlihat ketakutan.
"Apa benar anda pak Pono dan...ibu Susan?" melongok ke arah Susan. Pono menjawabnya dengan anggukan, sedangkan Susan terus meremas pinggang Pono.
"Kalian kami tangkap atas tindakan, penganiayaan, penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap saudari Andini" Ketiga anak buah Aryo mengeluarkan borgol dan langsung membawa Pono dan Susan.
Andini dan Dama berdiri menatap Pono dan Susan yang berjalan melewatinya. Raut wajah terkejut nampak diwajah pasutri itu. Andini diam sedangkan Dama memasang wajah geram.
"Pengacara dari pihak gua yang ngurus semua. Kami ke kantor polisi besok" ucap Dama pada Aryo.
"Oke bos, siap!" Aryo memberi hormat layaknya pada atasannya.
Pono dan Susan sudah masuk ke dalam mobil polisi. Mereka digelandang dan dimasukkan ke dalam penjara sementara.
*****
"Aku istirahat dulu mas. Aku rindu kamarku" Andini berjalan menaiki anak tangga ke lantai atas.
"Cuma kangen sama kamarnya aja? gak sama teman tidurmu?" ucap Dama yang mengikuti Andini.
"Kan udah sering ketemu. Aku baru ini masuk ke kamar kita. Aahh...kangennya" Andini menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tanpa menghiraukan Dama yang masih berdiri menatapnya sambil tersenyum jahil.
Andini menggerakkan tangan dan kakinya merasakan kenyamanan ranjang.
"Mass...." tanpa Andini tau, Dama sudah mengungkungnya.
"Segitu rindunya sama ranjang ini? aku rindu kita bergulat disini" Dama langsung menangkup wajah Andini dan menciumi seluruh wajah istrinya itu. Andini tertawa geli karena kumis dan jenggot tipisnya mengenai permukaan kulit leher.
"Ampun mas, geli ah" Andini bergerak gerak kegelian saat tangan Dama terus menggelitik pinggangnya.
Dama membungkam bibir Andini, satu tangannya meremas dada yang masih tertutup baju. Terus bergerilya membuka kancing baju miliknya dan milik Andini.
"Emmm....Aahh" meremas rambut lebat Dama, mulutnya sudah menyesap puncak dada yang menegang. Usapan lembut tangannya kembali menuruni pinggang dan masuk ke dalam celana panjang. "Mass..." Dama melucuti pakaiannya, juga istrinya.
Pelukan semakin erat kala Dama terus memacu dan mengayunkan tubuhnya. Lagi lagi rasa seperti diterbangkan ke atas awan mereka rasakan bersama. Nikmat dunia yang tak akan pernah bosan untuk dielakkan.
"Satu persatu masalah sudah selesai mas. Tapi tesisku masih belum beres. Arghh...pusing kepalaku" meremas rambutnya sendiri. Dama melepaskan cemgkeraman tangan Andini dikepala.
"Jangan dong, sakit. Sinih aku peluk?!" merentangkan kedua tangannya. Andini langsung membenamkan wajahnya ke dada Dama. Tubuh polos mereka selesai bercinta kembali saling menempel.
"Nanti aku bantu tesisnya. Jangan terlalu dipikirin, nanti makin stres. Ingat kamu ada luka dikepala. Rileks honey" mencium kening Andini.
"Hemm" matanya semakin lelah untuk dibuka, Andini hanya membalas ucapan Dama dengan deheman.
**Bersambung....
*****
Untuk judul ini aku sengaja bikin gak panjang. Tinggal tersisa beberapa bab aja. Tapi tetep dukung ya? kasih like, komen, gift sama vote kalo bisa 😁 Aku pasti seneng banget 😂**