Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
(Masih Flashback) Dama & Rania


WARNING : BACALAH SETELAH BERBUKA PUASA


...*...


...*...


...*...


2 Bulan sebelum melamar Andini


"Bunda gak setuju" suara lantang Sindi pada Dama saat dirinya meminta ijin menikahi Rania.


"Bun, Dama cinta Rania. Dama mohon restui kami" Dama berlutut dihadapan Sindi.


"Ayah, Dama mohon. Dama ingin menikahi Rania" Dama menatap Tama yang duduk disebelah Sindi.


"Maaf nak, Ayah tidak mau menyakiti hati Bunda. Bunda pasti punya alasannya sendiri" Tama bangkit dan masuk ke dalam kamar.


"Bunda..." merengek.


"Mas, masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari Rania. Dia tidak mencintaimu dengan tulus. Dia hanya ingin uangmu" Dama teguh tidak mau mendengar nasehat Sindi.


"Enggak bun, Rania tulus mencintai Dama. Dia wanita yang baik, dia besar di panti asuhan bun" Sindi justru tertawa.


"Kamu percaya dengan ucapannya? kamu terlalu naif mas. Selidiki dulu latar belakangnya dengan benar. Jangan sampai kamu menyesal" Sindi bangkit dan meninggalkan Dama yang masih duduk bersimpuh. Dama marah dengan Ayah Bundanya, membanting pintu lalu pergi menemui Rania di apartemen yang ia berikan.


*****


Dama datang ke apartemen dimana Rania sedang memasak. Memeluknya dari belakang.


"Sayang, kenapa cepat sekali? gimana Ayah dan Bunda? mereka merestui kita?" Dama bersandar di bahu Rania, menggelengkan kepalanya lemah.


"Oke, duduklah dulu. Aku selesaikan memasak. Kita bicarakan nanti" mengecup pipi Dama. Dama melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa.


"Minum dulu" menyodorkan satu gelas lemon tea dingin pada Dama.


"Terimakasih sayang" meminumnya sampai tersisa setengah gelas.


"Coba sekarang ceritain ke aku" duduk menyamping menghadap Dama.


"Maaf sayang...Ayah dan Bunda tidak setuju" memegang kedua tangan Rania. Rania tertunduk lesu.


"Tapi aku tetap akan menikahimu. Aku janji" mengecup punggung tangan Rania yang digenggamnya.


"Tapi kalau Ayah dan Bunda tau gimana sayang?" menatap mata Dama.


"Kita nikah sirih saja dulu. Nanti aku akan terus membujuk Bunda agar merestui kita" Rania mengangguk. Dama mendekapnya.


"Aku tidak mau kita berbuat maksiat lagi seperti saat pertama kita bertemu" nyatanya Dama memang tidak menyentuh Rania setelah kejadian saat family gathering beberapa bulan yang lalu.


"Iya sayang"


*****


Pagi ini di apartemen Rania, penghulu dan dua orang saksi sudah datang dan bersiap untuk menikahkan Dama dan Rania.


Karena Rania sudah tidak memiliki ayah, maka wali hakim yang menikahkannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Hilma binti Setyo Widodo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Dama lantang mengucapkan ijab qabul.


Dan pernikahan mereka sah secara agama.


"Selamat pak" ucap Kemal sebagai salah satu saksi.


"Selamat pak Dama dan Rania" ucap Banyu sebagai saksi juga.


"Terimakasih banyak sudah mau menjadi saksi pernikahan kami. Saya harap tidak ada yang tau soal ini" ucap Dama mengingatkan.


"Baik pak. Kalau begitu, kami permisi" Banyu dan Kemal pergi meninggalkan apartemen. Bapak penghulu dan asistennya pun sudah pergi terlebih dulu karena akan menikahkan mempelai lainnya.


Rania masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian gamis putihnya tadi. Dama masih duduk di sofa memikirkan bagaimana nanti menyampaikan pada kedua orangtuanya.


"Sayang, kenapa belum ganti baju?" Rania mendekat, mengecup pipi lalu memeluk Dama yang sudah sah menjadi suaminya.


"Iya..." tersenyum, mengecup kening.


"Gantilah baju, aku siapkan makan siang" melepas pelukan, berjalan ke arah dapur diikuti Dama yang masuk ke dalam kamar.


Rania sibuk memasak, sedangkan Dama sedang menerima telepon dari bundanya Sindi di kamar.


"Assalammualaikum bunda" suara Dama menyapa.


"Walaikumsalam...mas dimana? tadi bunda ke kantor. Kamu, Kemal dan Rania tidak ada. Kemana kalian?" pertanyaan Sindi membuat Dama tergagu.


"Emm...itu bun. Kami ada rapat penting diluar" jawab Dama asal.


"Oh...yasudah. Maaf bunda mengganggu waktu rapatmu mas. Assalammualaikum" suara Sindi disebrang sana mengakhiri teleponnya.


"Iya bun, Walaikumsalam" meletakkan ponselnya di atas nakas.


Dama keluar kamar. Rania sedang meletakkan beberapa menu diatas meja makan.


"Duduklah. Kita makan siang dulu, mengisi tenaga untuk bekal pertempuran kita nanti" mengedipkan matanya pada Dama.


"Liar" mencubit pipi Rania gemas.


Rania melayani Dama, mengambil sayur dan lauk ke atas piring. "Terimakasih"


*****


Dama mencium rakus bibir Rania saat mereka bersantai di sofa, setelah makan siang. Ciuman yang membuat hawa panas ditubuhnya kian menyeruak dan ingin segera di lepaskan.


"Emmpphhh...." lenguhan Rania saat lidah Dama menari diujung pucuk dadanya. Tanktop pink yang dipakainya telah Dama turunkan sebelah, mengeluarkan satu dada Rania yang bulat dan penuh.


Tangannya merayapi lekuk tubuh Rania yang seksi bak gitar spanyol. Lalu meremas kedua bokong yang masih tertutup hot pants.


Rania menurunkan hot pantsnya. "Naughty girl" bisik Dama saat tau Rania memakai g-string.


"Cepatlah sayang, aku sudah tidak sabar lagi. Aku sudah menahannya sejak pertama kalinya kita bercinta di tenda. Aahh..." Dama memasukkan jarinya, mengobrak abrik milik Rania yang sudah basah.


Rania merasakan miliknya akan berkedut mengalami pelepasan pertamanya. "Kau sudah kli*maks sayang. Aku merasakannya" ucap Dama lalu ******* bibir dan terus mengo*cok bagian bawah tubuh Rania.


"Aahh...aahhh...cukup sayang" Rania berusaha menahan tangan Dama.


"Gantian" Dama melepas jeratannya dan meloloskan celana training abu abu, tersisa underware berwarna senada.


"Kenapa hanya celananya saja yang dilepas? ini juga harus dilepas sayang" Rania menarik underware Dama kebawah, berjongkok tepat di depan benda yang sudah sedikit menegak hampir ke pusarnya.


Tanpa Dama sadari, Rania sudah ********** dan sedikit memenuhi mulutnya. Dama mengerang nikmat. Mata sayu yang berkabut, mendongakkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata dan satu tangannya meremas rambut Rania.


"Arghhh....kamu sangat liar dan nakal sayang. Oohh...Ssshhaaahhh" Dama menatap mata Rania, menariknya bangkit. Memagut kembali bibir seksi itu.


Baru beberapa jam sah menjadi suami dan istri, mereka berdua terus menikmati indahnya surga dunia, hingga malam menjelang.


*****


2 Minggu sebelum melamar Andini


Sindi datang ke kantor menemui suaminya yang masih sebagai direktur utama. Mereka berdua akan menemui Dama di ruangannya, menyampaikan kabar rencana perjodohan dirinya dengan Andini.


"Mas..ayah dan bunda ada sesuatu yang mau disampaikan. Dengar baik baik dan tidak ada bantahan" Tama dan Sindi sudah duduk di hadapan Dama diruangan wakil direktur.


"Sesuatu apa ayah bunda?" tanya Dama.


"Begini mas...satu minggu yang lalu Ayah dan Bunda mengunjungi teman semasa kuliah kami. Ayah dan Ibu menyukai anak gadisnya. Namanya Andini...dia cantik, sopan dan sholehah mas" Dama mulai menangkap maksud dari perkataan Sindi ibunya.


"Dia S2 lho mas. Gadis yang pintar dan pekerja keras. Bunda salut dengannya. Andini anak angkat dari teman kami. Ayah dan Bunda ingin melamarnya untuk kamu mas. Mau ya?" ucap Sindi lemah lembut.


"Tapi Bun..." Dama ingin menolaknya, karena dia sudah menikah dengan Rania. Belum mendapat restu, justru kini malah dijodohkan.


"Ayah sudah bilang tidak ada bantahan mas! Besok kita datang kesana dan langsung melamarnya. Bersiaplah" Tama tidak ingin mendengar bantahan dari Dama.


"Ayah Bunda tidak bisa memutuskan jalan hidupku harus dengan siapa! aku mencintai Rania. Ayah Bunda tau itu tapi kalian masih saja tidak merestui kami" suara Dama meninggi. Tama menampar Dama. PLAKK...Sindi menjerit, langsung menahan tangan Tama.


"Bicara yang sopan dengan orang tuamu! semenjak dekat dengan wanita itu, kamu menjadi anak yang keras kepala dan tidak menghormati kami. Ayah dan Bunda tidak mau tau. Besok datang kerumah. Kita akan langsung melamar Andini untuk menjadi menantu kami" ucapan menekan dari Tama. Dama mengepalkan kedua tangannya.


"Satu syarat dari Ayah jika kau ingin menjadi penggantiku. Nikahi Andini!" Tama berjalan keluar kembali ke ruangannya. Semua karyawan menganggukan kepala melihat Tama.


"Pak Dirut kayaknya lagi marah" ucap satu karyawan wanita pada teman di sebelahnya.


"Ssttt...udah gak usah kepo. Lanjutin kerjanya"


Sindi masih diruangan Dama, mengusap pipi putranya yang merah bekas tamparan Tama.


"Mas, kami ingin yang terbaik untuk masa depanmu. Jangan menjadi keras kepala. Besok datanglah sendiri dan buktikan seperti apa Andini. Kamu pasti suka mas" memeluk putranya.


"Tapi bun...Dama hanya cinta Rania" ucapnya lirih.


"Bunda tau siapa Rania tapi bunda ingin kamu yang melihatnya sendiri. Jangan tutup matamu! karna pelampiasan kekecewaan pada Anisa dulu, itu bukan cinta mas. Bunda masih bersabar untuk bersikap profesional dengan tidak mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan. Bunda dan Ayah masih membiarkan Rania bekerja disini, tapi bukan berarti kami merestui hubungan kalian. Sebelum terlambat melangkah lebih jauh dengan Rania, lebih baik akhiri hubungan kalian dan menikah dengan Andini" ucap Sindi. Dama duduk menundukan kepalanya.


"Andini akan menjadi pendamping hidupmu yang mendorongmu untuk lebih sukses lagi. Dia gadis pekerja keras dan juga sederhana. Percayalah mas, semua kami lakukan demi masa depanmu. Bunda pamit mas. Assalammualaikum" Sindi bangkit dan keluar menyusul suaminya.


"Walaikumsalam" suaranya lemah.


Author : Sindi dan Tama masih belum tau pernikahan sirih Dama dan Rania.


Dan akhirnya hari ini, mereka datang kembali ke rumah Andika ayah Andini.


Dama menatap langsung Andini, Andini menatapnya sebentar lalu menunduk malu.


Benar kata bunda, Andini sangat cantik dan juga sholehah. Dama.


Cinta mulai tumbuh saat pandangan pertama tapi Dama berusaha menolak rasa itu karna ada Rania disisinya. Dia tidak ingin menghianati Rania dengan mencintai Andini.


Dama berencana membuat batasan batasan antara dirinya dengan Andini dengan surat perjanjian pra nikah yang pada akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


Bersambung....


*****


Maaf ya masih flashback, next bab udah balik lagi setelah honeymoon kemarin 😊