
Laki laki didepannya itu berjongkok, menarik dagu Andini agar menatapnya.
"Kamu?" Andini membulatkan matanya sempurna, menepis tangan laki laki itu di dagunya dengan tangan kanannya yang tidak dirantai.
"Kaget?" ucap laki laki itu. "Brengsek!" Andini meninju wajah Candra lalu menendang kakinya. Andini meringis merasakan sakit di punggung tangan kanannya yang baru saja ia gunakan untuk meninju.
"Arghh..." Candra memegang pipi kiri dan juga tulang kering kakinya.
PLAK
"Berani kamu?!" setelah menampar, Candra mencengkram kedua pipi Andini. Sudut bibirnya luka akibat tamparan keras.
Cuih...Andini meludahi wajah Candra. Candra semakin kesal dan mendorong Andini ke tembok, menghimpitnya.
"Minggir! jangan dekati aku!" Andini mendorong Candra tapi laki laki itu justru semakin mendekati wajahnya dan akan mencium Andini.
DUAKK
Andini menghantamkan kepalanya ke kepala Candra lalu mendorongnya lagi sampai terjatuh.
"Aw...sakit banget" Andini memegangi keningnya, mengusapnya. Candra merasakan keningnya berdenyut.
Sial! dia bukan wanita lemah. Aku harus singkirkan dia secepatnya. Candra.
Candra memilih keluar kamar tanpa menguncinya, mencari Pono yang entah dimana.
"Ponooo....Ponoooo" teriak Candra mencari keberadaan Pono di semua sudut rumah kecil itu. Tidak ada sahutan. "Brengsek! kemana sih itu orang" Candra keluar ke teras rumah.
BUGG
Balok kayu menghantam punggung Candra dan ia langsung ambruk ke lantai.
Pria itu masuk ke dalam rumah dan mencari orang yang sedang disekap.
"Kamu...kamu siapa?" tanya Andini ketakutan saat seorang pria masuk ke dalam kamar yang tidak tertutup. Dia takut akan dibunuh.
"Jangan takut neng. Saya warga desa disekitar sini. Saya hanya mau menolong" pemuda itu langsung mendekat dan membuka rantai dengan kapak yang ia bawa kemana mana untuk membelah kayu.
Andini menjauhkan wajahnya dan menunduk saat kapak itu mengayun ke arah tangan kirinya yang terjerat rantai besi. Brakk...rantai berhasil terlepas. Andini belum bernafas lega.
"Gimana bisa kamu masuk kesini?" tanya Andini bangkit perlahan, dibantu oleh pemuda itu.
"Saya sudah membuat dua orang jahat itu pingsan dengan ini" mengambil balok kayu yang ia letakkan di samping pintu. "Ayo neng kita harus cepat pergi dari sini, sebelum mereka sadar" Andini mengangguk dan tetap menggenggam erat ujung baju pemuda itu.
Andini terkejut melihat Candra yang sudah terkapar. "Hei...mau kemana kalian?" ternyata Pono sudah sadar dan ia berjalan dari arah samping rumah dengan memegang tengkuknya yang terkena hantaman balok. Kepalanya masih pusing, jalannya pun sempoyongan.
Pemuda itu langsung menarik Andini kebalik punggungnya. "Tenang neng, ada saya" Andini diam dan tetap bersembunyi di balik badan.
"Bapak mau apa?!" pemuda itu menantang Pono. Pono berjalan cepat meski sempoyongan, tangan kanannya membawa sebilah pisau dan siap menusuk perut pemuda yang menantangnya.
"Awas!!" mendorong Andini agar menjauh.
Brukk...Andini terjatuh dan Srekk...lengan pemuda itu terkena pisau yang ia tangkis. Meringis merasakan pedih.
Pono kembali akan menusuk dan pisau itu ditendangnya, terlepas dari tangan Pono. Bugg Bugg Bugg....Pono terhempas ke tanah setelah tinjuan dibagian pipi kiri dan perut.
Candra tiba tiba bangun dan akan memukul pemuda itu dengan balok.
"Awas!!" Duakk...batu yang dibawanya menghantam keras punggung Candra. Candra ambruk lagi ke atas tanah.
"Ayok! kita harus pergi dari sini" Andini menarik tangan pemuda itu untuk segera menjauh.
Mereka berdua berlari cukup jauh keluar dari lingkungan rumah itu. Sampai di jalanan berumput dengan hamparan sawah didepan mereka. "Aku capek. Huh huh..." Andini berhenti sejenak mengatur nafas dengan kedua tangannya menumpu pada lutut. "Iya neng" jawab pemuda disampingnya.
"Namamu siapa? eh...lukamu" menunjuk luka goresan pisau dilengan kiri pemuda didepannya.
"Gak papa neng. Saya Asep, rumah saya gak jauh dari sini. Ayok neng! nanti mereka bisa tangkep kita kalau kita gak cepet cepet" berjalan cepat mendahului Andini sambil memegang luka di lengannya. Andini ikut dibelakangnya.
10 menit berjalan, mereka sampai di sebuah rumah kecil dengan pagar bambu khas pedesaan.
"Asep, saha ieu? naha anjeun mawa budak awéwé ieu ka imah? tah kunaon ieu disakiti?"
(Asep, ini siapa? kenapa kamu bawa gadis ini ke rumah? terus ini kenapa luka?). Seorang ibu paruh baya menghampiri Asep dan Andini.
"Oh iya, nama neng siapa?" tanya Asep.
"Aku? Andini" jawab Andini menunjuk dirinya sendiri.
"Ieu Andini bu. Carita panjang. Urang lebet heula, b**u"
(ini andini bu. ceritanya panjang. kita masuk dulu ya bu). Asep mendorong ibunya masuk ke dalam, Andini ikut masuk juga.
"Neng istirahat dulu dikamar saya. Saya siapin makanan dulu. Kasian neng pasti laper kan" Andini mengangguk, ia memang lapar juga lelah berlari.
Asep menunjukkan kamarnya. "Terimakasih Asep" Asep mengangguk lalu mendekati ibunya dan membawanya ke dapur. Dapur tradisional berlantai tanah dan kompornya pun menggunakan tungku dengan kayu bakar.
"Asep, cobian ayeuna terangkeun ka ibu" (asep...coba sekarang jelaskan ke ibu). Ibunya sudah duduk dikursi kayu.
"Andini diculik ku batur di kampung didinya. Isuk-isuk ieu Asep milari kayu bakar teras ningal mobil anu saé lebet ka buruan batur. Asép ngadéngé obrolan aranjeunna. Goréng Andini, manéhna rék dipaéhan"
(Andini di culik orang bu, didesa sana. Tadi pagi Asep cari kayu bakar terus lihat mobil bagus masuk ke halaman rumah orang. Asep dengar obrolan mereka. Kasihan Andini bu, dia mau dibunuh). Asep menjelaskan pada ibunya.
"D**ipaéhan? Janten kumaha anjeun nyingkirkeun anjeunna ti dinya? engké urang bakal jadi jalma anu ditakdirkeun. Aranjeunna pasti bakal milarian sajauh ieu"
(dibunuh? terus gimana bisa kamu bawa dia keluar dari sana? nanti kita yang celaka. Mereka pasti akan mencari sampai kesini). Ibu Asep cemas dengan tindakan anaknya menyelamatkan Andini.
"Asep tarung sareng aranjeunna Bu. Ngan kalem. Kami moal naha. Engké Asép angkat ka bumi RT. Ayeuna, masak tuangeun kanggo Andini, Bu. Karunya anjeunna kedah lapar"
(Asep berantem sama mereka bu. Ibu tenang aja. Kita gak akan kenapa kenapa. Nanti Asep ke rumah pak RT. Sekarang masakin makanan untuk Andini bu. Kasian dia pasti lapar). Asep pergi keluar kerumah pak RT.
*****
Andini sudah keluar dari kamar Asep. Ibu Asep sedang menata makanan diatas tikar. Karena mereka tidak memiliki meja makan, makan dibawah dengan tikarpun tidak masalah.
"Ibu...saya bantu" Andini menuang air putih ke dalam gelas. Ibu Asep tidak benci Andini, dia hanya cemas dengan keselamatan dirinya juga putranya Asep.
"Makan dulu neng" memberikan piring dan sendok. "Terimakasih bu. Maaf saya jadi merepotkan. Saya juga tidak tau bagaimana nasib saya kalau Asep tidak menolong saya bu. Terimakasih banyak sekali lagi" Andini menangis. Ibu Asep terharu dan mengusap lengan kanan Andini.
Bersambung...