Aku, Dama & Rania

Aku, Dama & Rania
Mencari Bantuan


"Asep, kamu punya handphone?" Andini bertanya setelah selesai makan.


"Saya gak punya, tapi pak RT punya. Apa mau kesana sekarang?" tanya Asep meletakkan piringnya diatas tikar lalu meraih gelas berisi air putih.


"Nanti aja, udah mau magrib. Lukamu udah diobati?" menunjuk luka di lengan Asep yang sudah terbalut perban.


"Iya neng, tadi saya ke rumah pak RT. Anaknya perawat, jadi saya langsung diobati disana" ucap Asep ikut membantu menumpuk piring.


"Indah pulang sep?" Asep mengangguk menjawab pertanyaan ibunya. "Alhamdulillah ... janten tiasa diubaran" (Alhamdulillah...kamu bisa diobati).


"Iya bu".


Andini ikut membantu membereskan dan mencuci piring di dapur sederhana dirumah itu. Tak lama terdengar suara kegaduhan di luar.


"Asep...di payun aya seueur jalmi anu milarian anjeun sareng Andini. Aduh, kumaha ieu sep? Éta pasti jalma-jalma anu nyulik Andini".


(Asep...didepan ada banyak orang yang cari kamu sama andini. Aduh, gimana ini sep? mereka pasti suruhan orang yang culik Andini). Ibu Asep berlari ke arah dapur setelah mengintip dibalik gorden jendela depan.


"Yang bener bu?" Asep melangkah keluar dapur, ingin melihat ke depan karena tidak percaya dengan ucapan ibunya.


"Jangan ke depan!" Ibu Asep menahan putranya.


"Sep, ada apa?" Andini tidak mengerti maksud pembicaraan Asep dan Ibunya.


"Nyumput gancang. Tergantung dimana ... anu penting anjeun aman".


(Cepet cepet sembunyi. Terserah dimana...yang penting kalian aman). Ibu Asep mendorong putranya ke arah Andini, menyuruh mereka cepat pergi dari pintu belakang.


"Leres, Bu, di bumi, Pak RT aman".


(iya bu, dirumah pak RT aja yang aman). Asep langsung menarik tangan Andini, membuka pintu belakang. Ibu Asep menutup kembali pintu itu.


"Hati hati" Asep mengangguk, Andini masih bingung.


Mereka berdua berjalan mengendap endap melewati halaman belakang rumah tetangga yang berjajar rapih dengan minim penerangan. Belakang rumah mereka hanyalah kebun pisang.


"Asep, ada apa? aku tanya tadi tapi gak dijawab" Andini berbisik sambil terus berjalan di belakang Asep. Tangan mereka masih berpegangan. Andini terpaksa karena gelap, dia takut.


"Sepertinya orang yang menculik neng, mengirim beberapa orang untuk mencari kita" jawab Asep berbisik juga, masih terus berjalan. Hanya tersisa 5 rumah lagi mereka sampai di halaman belakang rumah Pak RT.


"Hah?? jadi suara ribut ribut tadi, itu mereka?" Andini semakin takut. "Iya neng. Sekarang kita kerumah pak RT dulu. Disana lebih aman" terus menggandeng Andini dan mereka sampai di halaman belakang rumah pak RT.


Asep mengetuk pintu belakang beberapa kali. Indah yang membuka pintu dengan mukena yang masih dipakainya.


"Asep?? Naon anu salah? naha ngalangkungan panto tukang? saha ieu ogé ieu? magrib magrib mawa budak awéwé ka imah Pak RT. Hoyong nikah?".


(Asep?? Ada apa? kenapa lewat pintu belakang? ini juga siapa? magrib magrib bawa cewek ke rumah pak RT. Mau minta dikawinkan?). Indah mencerca Asep. Andini langsung melepaskan genggaman tangannya karena Indah terus melihat tangan mereka yang bergandengan.


"Ieu Andini, anu kuring béjakeun ka anjeun tiheula sareng Pak RT. Abdi di dieu pikeun nyungkeun bantosan ti Pak RT. Pak RT aya?".


(ini Andini, yang aku ceritain tadi sama kamu dan pak RT. Aku kesini mau minta bantuan pak RT. Pak RT ada?). Asep menjelaskan pada Indah. Indah mengerti sambil menganggukkan kepalanya dan terus menatap Andini.


"Abah masih di mushola. Ayok masuk" Indah mempersilahkan Asep dan Andini masuk. Mereka duduk di ruang makan.


"Tunggu disini dulu. Abdi hoyong angkat ka kamar heula".


(Aku mau ke kamar dulu). Asep mengangguk, sedangkan Andini terus melihat semua sudut rumah khas pedesaan tapi sangat berbeda dengan rumah Asep. Rumah Asep sangat sederhana.


"Apa bener disini aman, Sep?" Andini menatap Asep yang duduk di sebelahnya.


"Insya Allah aman" Asep tersenyum, mencoba menenangkan Andini.


"Ini minumnya" Indah membawa dua cangkir teh manis hangat. "Terimakasih teh" Andina meminumnya sedikit. Indah menarik kursi di depan Asep dan Andini.


"Teh, saya boleh numpang sholat?" Andini ingat dirinya belum sholat magrib. Indah mengangguk lalu bangkit dari duduknya. "Aku juga mau pinjam sarung pak RT" ucap Asep. "Iya, nanti aku ambilkan sekalian" Indah mengantar Andini ke kamarnya.


"Anjeun didieu? Saliwatan, aya opat jalma anu milarian anjeun sareng awéwé anu anjeun carioskeun siang ayeuna. Dimana budak awéwé éta? naon anu dibawa jalma-jalma éta?".


(kamu disini? kebetulan, tadi ada empat orang yang cari kamu sama perempuan yang tadi siang kamu bicarakan. Mana perempuan itu? apa sudah dibawa orang orang itu?). Pak RT langsung mencecar Asep.


"Iya pak RT, kuring terang ngeunaan jalma-jalma éta. Kusabab kitu kuring kadieu sareng budak awéwé. Naha urang tiasa cicing didieu dugi sadayana aman?".


(Iya pak RT, saya tahu soal orang orang itu. Makanya saya kesini bawa perempuan itu. Apa bisa kami disini dulu sampai semua aman?). Asep meminta ijin. Andini dan Indah keluar dari kamar.


"Ini Andini pak RT" Asep memperkenalkan Andini. Pak RT langsung berdiri dan mengangguk.


"Duduk..duduk" ucap Pak RT pada Andini. "Yasudah, saya ijinkan kalian berdua disini dulu sampai semua aman. Andini tidur dengan Indah. Kamu Asep...tidur didepan TV" Asep setuju. "Hatur nuhun pak RT".


*****


Andini dan Indah sudah didalam kamar, berganti pakaian. Indah meminjamkan satu set baju tidur berlengan panjang dan celana panjang juga kerudung.


"Teh Indah perawat?" tanya Andini saat membaringkan tubuhnya dikasur disebelah Indah. Kasur sedang berukuran 160x200.


"Iya, saya perawat. Teh Andini?" Indah berbalik bertanya, memiringkan tubuhnya menghadap Andini.


"Aku masih kuliah s2. Sebenarnya aku lagi ngurus tesis tapi karena kejadian ini, semua jadi berantakan" Andini menjawab sambil melihat langit langit kamar. Ia rindu pada suaminya, Dama.


"Ooo..." Indah tidak ingin bertanya lebih lengkapnya kenapa wanita didepannya itu diculik.


"Aku kangen Dama, suamiku" Andini sudah tidak bisa membendung rasa rindu dan juga gelisah.


"Teteh udah nikah? saya pikir masih single" Andini mengangguk.


"Aku disekap oleh komplotan istri sirih suamiku. Karena aku tau rahasia mereka" suaranya lirih dan terdengar putus asa. Andini tidak tahu apakah dia bisa bertemu dengan Dama lagi.


"Istri sirih?" Indah terkejut, lalu Andini menceritakan semuanya.


"Kata Asep, pak RT punya handphone" Andini ingin menghubungi suaminya tapi ia bingung bagaimana menjelaskannya. Dama pasti tidak percaya kalau Rania bukan istri yang baik.


"Saya juga punya. Mau telpon suami teteh?" meraih ponsel diatas meja rias samping kasur.


"Aku bingung harus menjelaskannya gimana. Ini juga sudah malam. Besok aja" Indah mengerti dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja rias.


"Yasudah, kita tidur aja teh. Besok pagi telponnya" Indah merubah posisinya menjadi telentang, menarik selimut dan memejamkan mata.


Andini berusaha untuk tidur tapi pikirannya benar benar kalut. "Teh...teh Indah" menepuk lengan.


"Iya" matanya masih memejam.


"Aku pinjam handphonenya ya? aku mau kirim pesan ke temenku" Indah mengiyakan, Andini turun dari ranjang lalu mengambil ponsel itu.


Andini mengetikkan nomor tujuan, lalu mengetik pesan untuk Firman. Ia ingat betul nomor profesornya itu. Karna seringnya mereka saling bertukar pesan ataupun menelpon terkait bimbingan tesis.


Malam mas Firman. Ini Andini Putri. Maaf mengganggu, tapi aku butuh bantuan mas Firman. Aku diculik, tapi aku bisa kabur karna ada pemuda desa yang menolongku. Untuk saat ini, aku aman. Sementara aku tinggal di rumah pak RT.


Pesan telah Andini kirim dan pesan itu langsung dibaca oleh Firman. Firman memang merasa gelisah setelah melihat Andini waktu itu.


Diculik? Andini, sekarang kamu dimana? aku jemput sekarang! kamu lebih aman denganku. Firman.


Bersambung...


*****


Maaf ya jeda waktu upnya lumayan lama. Kemaren fokus namatin ReNata dulu "My Young Husband".


Makasih udah mau bersabar menunggu 😊