
Sekembalinya dari kota sedikitpun Raisa mengabaikan chat dari Mario, chat itu dibiarkan nya hanya centang satu tanpa bermaksud membacanya.
Sikap diam Raisa membangkitkan kekesalan Mario, entah mengapa, ada rasa tidak rela diabaikan oleh gadis itu. Gadis itu seolah tidak segan sedikitpun padanya, meskipun lahan tempat sekolahnya berdiri hendak diambil alih oleh perusahaan nya.
Mario tiba-tiba saja memiliki ketertarikan yang nyata pada gadis ini, bukan saja secara fisik namun lebih kepada kemampuannya.
Rasa penasarannya menimbulkan keinginan untuk mencari tahu tentang latar belakang gadis bernama lengkap Raisa Diandra Winarta.
Gadis ini pemilik PAUD yang sekarang ini berada di lokasi proyeknya. Dia bukan penduduk asli, baru datang ke daerah ini 3 tahun lalu dan mengklaim tanah itu sebagai warisan ayahnya.
Winarta Subrata Nama itu tampak tidak asing di telinga Mario, ia akan meminta orangnya untu menyelidiki nanti.
Yang membuat nya kagum. Kabarnya Raisa masih kuliah namun begitu gigih membangun Sekolah PAUD yang awalnya untuk anak-anak petani yang lewat di jalan setapak di samping sekolah hingga akhirnya kini berkembang pesat sebagaimana PAUD lainnya.
Yang sedikit membuatnya berfikir keras. Gadis itu hanya berdua adiknya, dia hanya memiliki seorang bibi dan keluarganya yang tinggal cukup jauh. Lantas dimana kedua orang tuanya, sementara Mario akan meminta orangnya untuk mencari tahu.
Raisa sedang berjalan di pelataran toko saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakang nya dengan suara pintu dibanting cukup keras, memaksanya untuk menoleh.
"Masuk.... " Mario memaksa Raisa masuk ke mobilnya. Raisa cukup terkejut. Ada apa ini. Muncul tiba-tiba laku memaksakan kehendak
"Tidak" Raisa kekeh menolak
"Masuk atau aku berbuat hal yang akan membuat mu malu" Mario memaksa.
Akhirnya, terpaksa Raisa masuk dan menutup pintu mobil dengan keras.
Mario membawa Raisa ke hotel tempatnya tinggal selama di kota ini.
"Mau apa kamu? Kita mau apa disini? " Raisa cukup kaget.
"Menurutmu? Apa kau membayangkan sesuatu yang indah after lunch? " Mario mengedipkan mata.
"Maka aku akan menendang Mr. Pee mu".jawab Raisa ambigu, namun kontan Mario tertawa keras segera setelah memahami kata kiasan yang dimaksud.
" Ayolah, jangan begitu kejam. aku akan mengenalkan mu dengan seseorang ".
" Papa.... Papa... Seorang gadis kecil yang montok, menggemaskan muncul dengan suara yang ceria dan senyum yang mempesona.
Memaksa Raisa terpana. Bukan hanya wajahnya yang imut menggemaskan, yang membuat nya tertarik. Panggilannya pada pria didepannya juga cukup membuatnya tersadar, pria ini seorang pria beristri.
Cukup untuk menyadarkan nya, sikap menggodanya di masa lalu yang seolah tertarik padanya, itu hanya bualan belaka. Raisa menantikan kejutan berikutnya.
"Hehhh... putrinya sangat menggemaskan, kenapa dia bisa menyebalkan begitu? ". gumam Raisa di hati.
" Papa.... siapa tante ini? Naomi menoleh kearah Raisa.
"Teman papa ya? Naomi boleh kenalan?tantenya sangat cantik" wajah ceria itu memandang Raisa sambil tersenyum.
Raisa yang mendengarkan cukup takjub. Mau tidak mau, Raisa memasang wajah manis dan bersahabat.
Dia seorang pendidik anak usia dini. Bagaimana pun tidak boleh menunjukkan wajah bermusuhan pada bocah kecil, apalagi yang menggemaskan begini.
"Tentu sayang, Tante cantik ini teman papa, coba tanya apa boleh Naomi kenalan". Sahut Pak Mario cepat, meraih jemari putrinya mendekati Raisa.
Raisa terdiam.
"Jadi pada anaknya dia mengaku mereka berteman. Sejak kapan? Bahkan Raisa sudah menyiapkan perlawanan". Bisik Raisa di hati.
Naomi... Jadi inikah gadis muda yang dimaksud Darren? bukan wanita dewasa seperti dugaan nya. Naomi adalah putrinya, mungkin wanita yang dimaksud adalah mamanya, tapi dimana istri dari pria ini.
" Hai tante, Senang bertemu dengan Tante, namaku Naomi, boleh tahu nama tante? ". bocah itu menyentuh tangan Raisa, mengajak salaman.
Raisa meraihnya dengan memperbaiki ekspresinya.
"Senang juga berkenalan dengan anak cantik ini,nama tante Raisa". Raisa membungkuk untuk menyamakan badan
" Sudah sekolah? berapa umurnya? ". Raisa yakin usia bocah ini dibawah 5 tahun.
" Aku umurnya 4 tahun 3 bulan tante, aku sudah sekolah TK, pas mau kesini, sudah ijin sama miss nya, nanti Naomi tinggalnya agak lama disini, kata papa, Naomi mau dikenalin sama tante yang punya sekolah TK, apa itu tante Raisa? " Naomi menjawab gamblang.
Raisa terpana dibuatnya tidak menyangka pak Mario akan menyampaikan hal itu pada putrinya, namun serta merta dijawabnya juga.
"hemmh.. benar, jadi Naomi mau melihat sekolah tante"?
" iya tante, kapan boleh ke sekolahnya?". Gadis kecil itu sudah tidak sabar.
"Hem... kapan saja boleh". Raisa tersenyum bijak.
" Papa, kata tante Raisa boleh, jadi kapan papa bawa Naomi kesana? ". Naomi menoleh pada papanya yang sedari tadi diam mendengarkan namun matanya tidak lepas menatap keduanya bergantian, membuat wanita muda itu menjadi jengah.
"tentu sayang, besok pagi kita kesana, okey? ".