
"Bagaimana caramu, mengetahui keberadaan mereka? " Mario tersenyum tipis kearah Erik.
"Tidak mudah juga mencari tahu keberadaan bu Raisa, seperti kukatakan tadi, Sinta itu sulit dibujuk, dia sangat memegang janjinya, semua bus yang pernah ditumpangi bu Raisa, tentu mengarah ke barat bukan? ayahnya di penjara di barat, kota tempat tinggalnya di barat, jadi kita terkecoh berfikir dia kesana". Erik geleng-geleng kepala.
" Lalu... kapan kau menyadarinya?" Mario tersenyum mengejek..
"Jangan mengejekku bos, kau sendiri tidak mau mengatakan pendapat mu, padahal kau yang mencari nya". gantian Erik yang mencibir
" Aku memang tidak tahu, sama seperti mu, seperti kubilang, aku cuma fikir... mungkin dia bukan ke barat? begitu kan ku katakan padamu". Mario menatap tajam pada Erik.
"iya... iya bos, anda selalu betul, oleh karena pendapat mu itu, aku mulai berfikir, kalau tidak ke barat, berarti ke timur, semua mobil dan bus ke barat, sudah kutanyai sopirnya, tidak satupun yang melihat bu Raisa di hari dia menghilang. Aku mulai melirik bus-bus yang menuju ke timur. Bisa Anda bayangkan bos, bagaimana rumitnya, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bu Raisa seorang guru, anda mencarinya, tapi anda juga tidak mau mempermalukan nya juga diri anda, dengan mencari kesana kemari, atau bertanya pada teman-temannya. Anda tidak ingin ketahuan sedang mencari seorang gadis. Jadi aku mesti membuat berbagai skenario drama agar orang-orang ku tidak ketahuan, dan orang pun tidak menyadari kalau bu Raisa tidak di tempat".
"hmmmhh... " Mario tidak menyangkal
"lalu caramu? ".
" Nah...ini caraku yang paling jitu bos, itulah keberuntunganku, aku sedang melintas di cafe, tempat bu Raisa biasa duduk-duduk, aku lihat sebuah mobil berhenti, aku perhatikan baik-baik, sopirnya kelihatan akrab dengan pemilik cafe. dia duduk untuk minum dan mereka bercakap-cakap seperti kawan lama. Mata jeli ku ini melihat sebuah stiker menempel di kaca belakang nya. Anda tahu stiker apa itu bos? . .. Erik menaikkan alisnya
"teruskan... "
"Stiker PAUD bu Raisa tentu saja. aku mulai berfikir, kalau stiker itu bisa ditempel disitu, berarti orang yang menempelnya adalah orang yang kenal dengan bu Raisa atau orang di lingkungan sekolah itu, Sinta contohnya"..
" hmmh... betul... ". Mario mengangguk percaya
" kalau aku bertanya pada pemilik cafe, itu tidak mungkin, jadi kuikuti mobil itu, ternyata mobil itu berhenti tidak jauh dari PAUD, rumah cat biru di sudut, yang ada air mancurnya, itu sangat jelas karena rumah itu termasuk yang paling besar dan mewah disitu....". Erik seolah mengingatkan.
"hmmmm.. aku ingat, matamu pernah terus memandang kesitu, karena ada wanita cantik yang keluar". Mario menambahi.
" Bos mana aku begitu... " Erik ingin menyangkal.
" Sudahlah.... lanjutkan lagi...
"Aku buru-buru turun.... dan bertanya, dimana sekolah TK yang ada dekat sini, aku mencari temanku, namanya Raisa dan memulai drama, seolah aku sedang mencari temanku itu... ".
" Awalnya dia memandangiku, aku tahu dia heran, jadi kukatakan saja"
"kami sudah lama tidak bertemu, aku teman kuliahnya di kota, aku baru saja sampai dan mencari tempat tinggalnya".
"Lalu aku pura-pura pamit, sambil berterima kasih, aku bermaksud masuk ke mobil, jika dia tidak tahu, dia akan membiarkan aku pergi, atau dia mau menyembunyikan, berarti aku tidak beruntung, tapi kemudian dia memanggilku".
" Yes... fikirku, dia pasti tahu sesuatu ".
" Dia mendatangiku dan berkata, sepertinya bu Raisa belum pulang".
"Maksudnya? " aku pura-pura tidak mengerti.
" sebulan atau hampir 2 bulan lalu, saya lupa persisnya, saya pernah mengantarkan bu Raisa ke kota di timur, dan sepertinya dia belum kembali ".
" Oh... begitu yah? " aku terkejut
"Dimana itu? kalau saya boleh tahu? "
"Begitulah bos, anda sudah tahu selanjutnya.
" Excellent... gaji mu bulan ini ku naikkan 2 kali lipat".
"Terimakasih bos, anda sungguh baik hati". Puji Erik
" hmmmhh... ". Mario berdehem
" Jadi apa rencana anda selanjutnya bos?
"Kita kesana, apa lagi?
" Bos mau menemui, bu Raisa langsung? "
"Tidak... maksudku belum, kita hanya akan melihat dari jauh? "
"Hah... ". Erik membelalak. Sejauh itu mengemudi, hanya untuk melihat dari jauh? apa bukan pekerjaan sia-sia.
Tapi sudahlah, terserah si bos. nanti ria menarik bonusnya. bisa gawat.
" Siapkan helikopter, kita berangkat sore ini". Mario memberi perintah