Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 41 Siapa Orang yang Mencarinya?


Mario meminta Erik mengatur ulang jadwal pertemuan bisnisnya , khusus besok ia bermaksud mengunjungi seseorang.


Mario mengambil keputusan ini bukan tanpa pertimbangan mengunjungi ayah Raisa di penjara.


Meskipun hubungannya dengan Raisa belum bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih,bahkan jauh dari kata itu, apalagi baru-baru ini dilihat Raisa terlihat akrab dengan seorang pria.


Bisa saja Raisa sengaja melakukan itu, mungkin saja Raisa sedang mencoba membuka hatinya untuk mengenal pria lain, sebagai usahanya menghindari Mario.


Mario sudah mencari tahu tahu tentang Raisa di masa lalu, sedikitpun tidak ada cerita tentang kekasih atau orang yang dekat secara khusus dengannya, kecuali keluarganya.


Bahkan gang nya saja terkenal sebagai gadis-gadis cantik yang acuh pada laki-laki,ck...ck...ck...benar-benar bar-bar gang satu ini.


Lalu kini, muncul seorang pria yang seolah begitu mengenal Raisa, lewat foto-foto hasil jepretan orang suruhannya, sangat kentara pria itu menaruh perhatian besar dari tatapan matanya yang seakan memuja gadis didepannya, yaitu Raisa.


Mario tidak Terima hal itu, tidak akan dibiarkannya gadis pujaannya lepas dari genggaman, siapa pun tidak akan dibiarkannya mengambil kesempatan.


Sesungguhnya, tanpa kejadian ini pun, ia dan abangnya sudah melakukan penyelidikan, mengenai peristiwa tukar guling dan kebangkrutan perusahaan Winarta Group, menyelidiki kemungkinan adanya konspirasi dari orang-orang yang terlibat didalamnya.


Mengingat Tuan Winarta, sebagai pendiri perusahaan, yang memulai usaha betul-betul dari nol, tidak mungkin memiliki niat buruk ataupun gegabah dalam bertindak yang dapat merugikan perusahaannya, kecuali ada pihak lain yang turut campur.


Bagi Mario, itu sama sekali bukan urusannya, namun keinginan mendapatkan Raisa memicu dirinya untuk ikut melibatkan diri.


Sekalipun perusahaan orangtua Raisa tidak kembali ke tangan orangtuanya, itu bukan hal yang buruk bagi Mario.


Namun memikirkan gadis yang diidamkannya itu pasti akan selalu bersedih memikirkan keadaan papanya di penjara sana, menuntutnya untuk bertindak.


Selain itu, ia pun tidak ingin kalah, ia harus mengambil star terdepan, mengenal orang-orang di sekitar kehidupan Raisa.


Terlebih ia tahu Raisa sangat mencintai papa dan adiknya, Darren, bahkan mamanya yang terlihat materialistik pun dapat dimaafkannya meskipun menunjukkan ketidakpedulian pada suami dan anak-anaknya.


Mario sudah bertekad, mencari tahu semua yang berkaitan dengan Raisa, membantunya terlepas dari kesedihan dan mendapatkan hatinya.


Mungkin terdengar, egois dan tidak tulus, tidak mengapa, menurutnya.


Karena itulah, hari ini ditemani Erik, Mario berkunjung ke lapas dimana, Winarta Subrata, papa Raisa menjalani masa tahanan.


Mario duduk di ruang tunggu dengan sikap seorang Ceo yang berwibawa, tenang dan wajah tegak menatap lurus ke depan.


Walaupun, baju yang dikenakannya bukan baju jas sebagaimana saat meeting atau pertemuan bisnis, karena kunjungan kali ini, kunjungan biasa, di lapas pula, busana kasual menjadi pilihannya, namun tetap aura seorang pemimpin terpahat disana.


Langkah Winarta sempat terhenti, ketika melihat kearah bangku dan sebuah meja di sudut dekat jendela yang ditunjukkan petugas padanya.


Saat diberitahu ada seorang pria ingin menemuinya, ia sempat bimbang untuk keluar.


Siapa orang yang mencarinya? Setelah 3 tahun berasa di tempat ini, dirinya sudah terbiasa dengan perasaan telah dilupakan.


Orang-orang yang mengingatnya ternyata tidak banyak, ironis memang, namun Yang disyukurinya, adalah, anaknya Raisa, Darren, adalah 2 orang yang paling penting, yang masih dimilikinya.


Ia tidak apa-apa, semua kerabat, teman, relasi atau bawahannya dulu melupakannya, yang paling dibutuhkannya, anak-anaknya selalu ingat dan datang berkunjung.


Bahkan, ia tidak lepas bersyukur, walau hidup serba sederhana, anak-anaknya, mampu tegar berdiri dan tidak bergantung pada orang lain.


Selama 3 tahun, hanya di tahun pertama, para bawahan di perusahaan, kolega bisnis yang cukup bersahabat serta teman-temannya, memberi perhatian dengan datang mengunjunginya.


Setelah tahun kedua, beberapa orang mulai tidak pernah muncul dengan faktor kesibukan hingga akhirnya, tidak ada lagi yang menampakkan diri.


Winarta selalu mampu memaklumi, kecuali sikap istrinya yang sangat menyakitkan, itu pula yang membuatnya tidak ingin menemui wanita itu, meski petugas berkata, wanita itu datang dan ingin bertemu, tepatnya 3 minggu yang lalu.


Sempat terfikir olehnya, mungkinkah suruhan istri, atau mantan istri, ia saja tidak yakin status mereka sekarang.


Namun, menatapnya dari jarak cukup dekat, jelas terlihat figur seorang pria tampan dan postur tubuh seperti model atlit olahraga renang, dan aura yang dipancarkannya, sangat jelas, pria ini bukan pria biasa, lebih tepat seorang bos.


Meski ragu, Winarta tetap melangkah, walau usia mulai tua dan rambut telah menampakkan uban, ditambah pakaian tahanan berupa seragam, sosok Winarta bagaimana pun tetap gagah dan tinggi tegap, hanya garis wajah yang menunjukkan kepedihan sedikit terpancar disana.


"Apa benar, tuan mencari saya? ". Kalimat pembuka Winarta begitu mereka berhadapan, Mario tampak lebih tinggi beberapa centi.


" Benar tuan, kenalkan saya Mario ". Mario segera berdiri dan mengulurkan tangan, disambut dengan hangat oleh Winarta, tidak ada alasan curiga pada pria ini, mereka lalu duduk berhadapan.


Bukankah semua kesalahan sudah dilimpahkan padanya, hukuman juga sudah jelas dijalaninya 3 tahun ini, apa lagi? masih adakah yang tersisa?


" Mario... ". Winarta menyebut nama itu mencoba mengingat jika nama itu masih terekam di memorinya.


Dulu, Winarta memiliki buku khusus untuk nama-nama kolega yang sering, Kadang-kadang atau pernah berhubungan bisnis dengannya, lengkap dengan kontak mereka.


Ketika penggeledahan perusahaannya, semua mungkin telah disita hingga tidak satupun tersisa untuk bisa diharapkan membantunya terlepas dari jerat tuntutan.


Lalu kini, muncul dihadapannya seorang yang penampilannya serba melebihi dirinya dulu, lebih muda, lebih tampan, lebih berkuasa sepertinya.


"Apakah tuan Mario mengenal saya, sehingga datang berkunjung ke tempat ini? Winarta menekan kata tempat ini, seolah suatu yang buruk di mata orang lain.


" Dulu sekali, kita pernah terlibat bisnis, atau tepatnya, ayah saya, Richard Smith. ". Mario berhenti mengamati reaksi Winarta.


" Richard Smith". Pria setengah abad itu mencoba mengingat lalu kemudian cukup membelalak.


"Tentu saya akan mudah mengingat nama seperti itu, disini". Jawab Winarta jujur.


" Jadi Tuan Richard, ayah anda, Tuan Mario? ". ulang Winarta


" Benar, apa anda bisa mengingatnya? ".


" Tentu saja, ayah anda orang baik, tidak mudah melupakan orang baik ataupun orang yang buruk, Sama-sama berkesan, meski kesannya beda". Winarta tersenyum tipis, Mario ikut tersenyum, memahami nada kegetiran di suara itu.


"Jadi dimana ayah anda sekarang, Tuan Mario? jangan bilang anda ingin menjalin kerjasama kembali? ". lagi-lagi Winarta mencoba bergurau, berusaha menghalau praduga buruk.


Mario lagi-lagi tersenyum, ditatapnya wajah itu, ditemukannya bentuk dan warna mata yang sama dengan Raisa, coklat dan sorot mata teduh, bedanya, ayahnya ini nampak tenang, Raisa sungguh bar-bar, Diam-diam Mario tersenyum.


"Tidak Tuan". Balas Mario dengan ketenangan yang sama.


" Kedatangan saya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ". Mario berhenti sesaat, melihat reaksi pria itu.


" Baiklah, silahkan lanjutkan Tuan Mario, apa yang membawa anda kemari? ". Winarta tidak mampu menebak, sudah lama sekali ia tidak terlibat urusan apapun, kalaupun ingin, tidak ada yang bisa dihubungi nya tiba-tiba ia menjadi orang asing di negaranya sendiri.


" Kedatangan saya kemari karena saya menyukai putri anda, Raisa". Sangat lurus dan tanpa beban, Mario mengucapkan itu tanpa ingin menutupi apapun.


Kalau dengan Raisa berjalan begitu lamban dan nyaris membuatnya nekat, tapi tidak dengan ayahnya, mereka sama-sama pria dewasa meski berjarak beberapa puluh tahun.


Namun, sama-sama pernah mengarungi bahtera rumah tangga, yang Mario tahu, dirinya dan pria ini sama-sama bermasalah, namun setidaknya membuat mereka berdua faham pentingnya bersikap tegas untuk sesuatu yang mereka inginkan.


.


.


Saran untuk author ataupun kritik, silahkan beri masukannya