Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 30 Dasar Modus


Raisa sudah selesai dengan Sup jagung, perkedel jagung, sambel tomat dengan kacang, dan sepiring ayam goreng yang sudah di marinasi semalam segera di gorengnya.


Mario mengangkat jagung rebus, menaruhnya di mangkuk yang dibawa oleh Naomi dari dapur, lalu meletakkan di meja makan, pria itu sudah berganti baju, seorang asisten membawakan untuknya, namun disuruhnya pulang lagi setelah diberi sekantong jagung rebus, lengkap dengan bumbu garam, cabe dan jeruk, buatan Mario sendiri.


Hari ini dirinya sedang tidak ingin diganggu, bahkan Raisa tidak tahu kalau Sinta akan pulang terlambat hari ini, itu ulah Mario.


Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok yang terdengar dan celotehan Naomi tentu saja.


Naomi tidak akan menyadari kalau sepasang pria dan wanita didepannya, papa dan bunda Raisa, gurunya, terlibat urusan hati yang rumit, tapi....


"pa... bun... kok dari tadi diam teruss, cuma mata papa liat bunda, mata bunda juga liatin papa, tapi seperti orang marahan". Nah loh, kena kan? mana bisa Naomi dikelabui. Hehehe


Raisa meraih gelas dan menenggak isinya habis.


Mario menambah kuah sup dan perkedel.


" Papa belum pernah makan sup jagung dan perkedel seenak ini, papa tambah ya? ". Mario cuek pura-pura tidak mendengar Naomi, tapi Naomi selalu harus dijawab.


" Bunda... pedes ya? ". Naomi melirik sambel cabe.


" he-eh, sayang". Raisa mengangguk.


"Tapi bunda bukan marah sama papa kan, bun"? " Naomi tidak mudah lupa.


"Tidak sayang, kita lagi menikmati sup nya, enak sekali kan? ". Mario yang menjawab.


" Iya.. enak sekali, sup buatan bunda lezat sekali, Naomi juga nambah lagi, boleh? ". Naomi tertawa kecil.


Raisa tersenyum lega.


" Tentu sayang". Raisa menuang beberapa sendok ke piring Naomi.


"Dihabiskan ya? ". Naomi mengangguk.


" Papa juga masih mau, boleh bun? ". Mario mengangkat mangkuknya, minta diisi.


Raisa meraih sendok dan menuang ke piring Mario tanpa suara


" Dasar modus... ". gumamnya di hati


drt... drt... drt...


ponsel Mario bergetar.


Mario membuka ponselnya dan membaca chatnya.


Wajahnya sumringah...


" kakakku akan datang bersama istrinya, kau akan ku perkenalkan, bolehkan? ". Mario menatap Raisa dengan tatapan penuh arti.


Raisa mengangguk. Apa sulitnya mengenal seseorang, tambah teman, bukankah bagus. bisiknya di hati.


" Om dan Tante, akan datang sayang bersama anak- anaknya, mereka rindu sama Naomi". Katanya.


"Iya papa". Naomi sedikit kurang semangat.


" Ada apa sayang, Naomi tidak senang? ". Papanya heran


"Naomi senang sama kakak Ririn, papa, tapi kak Rindam, suka jahil". Naomi cemberut.


" oh ya? nanti kita beritahu om dan tante, biar kak Rindam dinasehati ". Mario memberi solusi, Naomi mengangguk.


Raisa diam, melihat interaksi papa dan anak itu.


" Ririn dan Rindam, kenapa 2 nama itu sama? ". gumamnya.


" Kapan mereka sampai? ". Raisa memecah keheningan.


" Sekitar 2-3 jam lagi". Mario menatap jam tangan Seiko miliknya, artinya mereka akan tiba sore menjelang malam.


"Aku akan keluar sebentar, mungkin kalian mau ikut ke toko? kita bisa melihat-lihat makanan yang cocok untuk makan malam". Mario menawarkan untuk berjalan-jalan.


" Kau berencana membawanya langsung kesini? ". Raisa bimbang


" Bolehkah? ". Mario menatap Raisa


Barusan Raisa berfikir, Mario akan membawa kakaknya ke hotel lalu mengenalkan mereka, namun sepertinya ia harus bersiap-siap, mereka akan makan malam di tempatnya.


" Baiklah, aku perlu mencari beberapa buah dan minuman, oh ya? apa mereka suka sup jagung dan perkedel? aku akan menambah nanti ". ucap Raisa.


" Kurasa yang ini masih banyak, kau tidak perlu repot-repot sayang". Suara Mario terdengar rendah, Raisa gelagapan, pria itu makin berani.


"Sekarang saja kita keluar, ayo". Mario bangkit dari duduknya.