
Keesokan hari, Raisa memutuskan tidak masuk ke sekolah, sebagai pemilik dan Kepala Sekolah, Raisa tidak harus selalu di tempat, sekalipun demikian, sehari-hari ia memang mengisi kelas, namun Sinta akan menggantikan bila ia memiliki urusan.
Raisa harus menuntaskan masalah Darren. Sejak beberapa waktu tidak bekerja Darren sering tidak pulang ke rumah. Raisa kuatir dengan pergaulan adiknya itu.
Raisa akan menghabiskan sepanjang hari ini mencari Darren. Pakaian kaos oblong dan rok lebar menjadi pilihannya. Dengan menggunakan mobil bututnya melewati jalan-jalan kampung, sesekali singgah bertanya di tempat yang diketahuinya sudah akrab dengan Darren.
Lewat Rio, salah satu teman Darren akhirnya mengatakan Darren bersama Desy, pacarnya, beberapa hari lalu. Mereka ke kota untuk suatu keperluan.
Lagi?
Raisa jadi begitu kuatir, Urusan apa bersama seorang perempuan hingga dirinya sebagai kakak yang bertanggung jawab tidak diberi tahu? Mana telepon Raisa tidak diangkat, chat pun tidak dibalas.
Lewat Rio pula, Raisa akhirnya tahu Darren sedang membantu Desy untuk melakukan sesuatu. Namun Rio tidak jelas mengetahui yang sebenarnya karena Desy sepertinya melarang Darren bercerita pada teman-temannya.
Karena Darren sangat menyukai Desy, hingga mengabaikan Rio dan teman akrab mereka yang selalu menemani dan bergaul setiap hari dengannya.
Hal ini cukup memusingkan Raisa, karena ternyata Desy juga bukan warga di tempat mereka. Dia juga baru datang beberapa minggu lalu bersama tantenya yang kembali dari kota.
Awal mereka berkenalan ketika asik nongkrong di warung kopi, ketika itu Darren tidak sengaja menyenggol Desy. Darren yang tampan, tinggi namun keliatan polos serta merta menarik hati Desy, mereka berkenalan dan Desy ikut bergabung dengan kelompok pemuda, Teman-teman Darren.
Sejak teman-temannya tersisihkan, Desy selalu datang dan mengajak Darren pergi. Awalnya teman-temannya acuh namun belakangan mereka merasa Desy terlalu posesif dan memaksakan kehendak. Ia memaksa Darren bolos sekolah seminggu ini. Bahkan memintanya berhenti bekerja paruh waktu sepulang sekolah.
Darren juga menjadi mudah emosi dan menjauhi Raisa. Raisa semakin kalut memikirkan adik semata wayangnya.
Ada apa ini? Raisa sedikit frustasi memikirkan Darren.
Raisa memutuskan hari ini harus mendapatkan kejelasan tentang Darren dan pacarnya itu.
Raisa mendatangi beberapa rumah teman-teman Darren untuk mencari informasi.
Segera setelah mendapat berbagai informasi, hatinya menjadi gelisah. Gadis seperti apa yang sedang bersama Darren ini. Kegiatan apa yang dijalankannya. Bahkan ternyata mereka tidak ke kota, tapi mereka ada di sebuah rumah cukup jauh di tengah perkebunan yang tersembunyi. Membayangkan nya Raisa menjadi ngeri.
Tekad Raisa sudah bulat. Semuanya harus jelas sekarang. Sudah cukup lama ia berdiam diri dan itu salahnya. Terlalu sibuk dengan sekolahnya. mungkinkah itu yang membuat Darren merasa tersisihkan?
Raisa sudah memasang kuda-kuda siap melakukan perlawanan jika orang itu bermaksud jahat. Namun kemudian dengan cepat sebuah tangan membekap mulutnya dan menarik pinggangnya. Mereka berada posisi sangat intim.
Raisa membelalak melihat dari balik tangan besar itu, siapa yang sedang berdiri di depan nya dsn tengah menghimpit nya di sebuah pohon besar.
"Psst.... Diamlah, aku lepaskan, jangan berteriak atau mereka akan mendengar kita". Mario memperingatkan. Raisa mengangguk mengerti. Mario menurunkan tangannya. Kini wajah mereka berada sangat dekat. Mario memandangi seluruh wajah Raisa yang terkena terpaan sinar bulan yang mulai muncul.
Jantung Raisa berdebar menatap wajah tampan dan tubuhnya yang memancarkan aroma maskulin. hembusan nafas mereka saling beradu. Tatapan Mario mulai menggelap menatap bibir nan seksi yang nyata didepan bibirnya. Bibir mereka nyaris bersentuhan menimbulkan sensasi luar biasa. Mario merasa tidak akan sanggup menahannya, begitu pun Raisa. Mario tiba-tiba meletakkan dahinya ke dahi gadis itu. pelan namun menyengat.
"Kita pergi dari sini". bisiknya di telinga Raisa. Polisi sudah menuju kemari. Jangan kuatir, Darren akan aman. Penyelidikan ini sudah cukup lama. Darren hanya mereka jadikan kambing hitam, nanti kuceritakan selengkapnya". Mario menggenggam jemari Raisa.
Raisa terdiam dan seakan percaya begitu saja mengikuti langkah Mario menjauh.
*
Mereka kini duduk di sebuah kafe tertutup tidak jauh dari lapangan, di belokan pertama menuju sekolah sekaligus rumah Raisa.
Mario menceritakan tentang sekelompok pencuri yang bersembunyi di kota ini. Dan Mario dapat mencari tahu karena beberapa jenis bahan bangunan yang diperuntukkan untuk proyek puskesmas, hilang dalam jumlah yang besar. Saat Darren memecahkan kaca itulah terungkap tentang ketiadaan bahan ini digudang yang selama ini ditutup karena proyek belum belum membutuhkan bahan tersebut.
Awalnya, Darren dicurigai, namun kemudian ditelusuri, pemuda ini hanya kekasih dari Desy, keponakan dari sepasang suami istri yang tergabung dalam komplotan pencuri.
Akhirnya jelas bagi Raisa, adiknya hanya diperalat. Sungguh ironis. disaat pemuda itu mulai menyukai seorang gadis. ternyata gadis itu memiliki banyak kasus.
Yang lebih mencengangkan adalah pernyataan Mario yang juga tiba-tiba.
Entah untuk memperjelas pada siapa atau menegaskan pada Raisa. Mario menyatakan dirinya seorang duda. Pernah menikah, memiliki seorang putri, yaitu Naomi, namun rumah tangga
mereka kandas karena sebuah pengkhianatan. Dan Mario, masih menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk, termasuk penyakit putrinya, mungkin akibat dirinya juga sangat acuh. Mario mengatakan, sulit baginya untuk membangun kepercayaan diri dalam berumah tangga, karena itu Raisa tidak perlu kuatir kalau Mario akan mengusik hidupnya. Maksudnya apa coba. Raisa menjadi gusar. Sungguh tidak jelas.
Nah loh...jelous sendiri kan...