
"Kak Tian dosen disini?" Raisa memastikan, melihat atribut yang dikenakan Sebastian.
"Yah, seorang Dekan menemukan sedikit bakat bercuap-cuap pada diri ini hingga bersedia mengajak bergabung". Sebastian mengolok-olok dirinya sendiri.
" Itu namanya merendah diatas ketinggian ". Raisa mencibir.
Sebastian terkekeh
" Bisa saja kamu."
"Kamu sepertinya salah satu mahasiswi kelas jauh yang lagi ujian kan? ". Sebastian bisa menebak dari Kartu Peserta Ujian yang dikalungi Raisa.
" Hemmh... ". Raisa mengangguk.
" Boleh aku ikut duduk? ". Sebastian meminta ijin, kalau dulu, itu adalah hal mustahil, tapi melihat senyum Raisa, Sebastian ingin mencoba keberuntungannya.
" Silahkan saja kak". Raisa lagi-lagi tersenyum, alhasil Sebastian segera duduk, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Lalu apa kabar ketiga Stars Girl lainnya? ". Sebastian mencoba mengingatkan anggota gang mereka.
" Yah seperti umumnya mahasiswa, sibuk kuliah". Raisa terkesan cuek menanggapi, Sebastian cukup merasa aneh mendengarnya, pasalnya mereka berempat terkenal kompak dan selalu bersama.
"Oh ya, kak Tian sudah lama jadi dosen disini? ". Raisa mengalihkan percakapan.
" hampir 2 tahun, sejak selesai kuliah sudah langsung dipanggil, waktu kuliah memang sudah sering jadi Asdos". Sebastian menjelaskan, Raisa tersenyum kembali.
"Kamu tinggal dimana sekarang? kamu katanya sudah tidak di Ruby Town House? ". Sebastian secara langsung menebak.
" Kak Tian, rupanya mencari tahu tentang ku". Raisa mendelik halus, tapi mau marah pun percuma, wajar kalau ada beberapa orang tahu tentang dirinya, karena di Sekolah mereka sering diadakan reuni, Raisa tahu hal itu, meski tidak tergabung dalam grup alumni.
"Maaf kalau kamu merasa kurang nyaman, namun beberapa kali acara Reuni sekolah, personil Star Girl tidak hadir, hampir semua teman-teman tahu, Desy kuliah di Boston, Debby Tinggal di New York dan Rindy di Italia sekarang, hanya kamu yang, maaf tidak terlacak keberadaannya". Sebastian memakai istilah, mungkin agar tidak terdengar kejam.
"Aku memang tinggal di planet lain sekarang, kak". Raisa mencoba bercanda, karena dulu, yang jagonya humor itu Debby.
Sebastian terkekeh.
Akhirnya jadilah setengah jam istirahat itu, digunakan mereka untuk ngobrol banyak hal, terlebih Sebastian sangat bahagia, ternyata Raisa sangat menyenangkan diajak ngobrol, apalagi setelah diketahuinya Raisa sekarang seorang Kepala Sekolah, meski Raisa tidak menceritakan dirinya secara keseluruhan, sesungguhnya, Diam-diam, Sebastian pernah mencari tahu.
Sebastian selain seorang dosen, juga seorang pemilik Perusahaan yang dirintisnya sendiri, meski masih tergolong perusahaan kecil namun sudah mulai berkembang.
Selaku pengusaha, tentu Sebastian pernah mendengar cerita tentang orang tua Raisa, namun itu tidak ingin dibahasnya, karena bagi Sebastian bisa dijadikan teman oleh Raisa saja itu sudah luar biasa, Raisa bukan gadis sombong, hanya saja mereka terkenal acuh pada kaum cowok saja, tapi tidak pada perempuan, Anak-anak atau orang tua.
Sebastian dulu menganggap itu sebagai ciri khas gang saja dan bukan sifat asli anggotanya, buktinya, hari ini Sebastian membuktikan, Raisa tidak nampak sebagai wanita yang mendiskriminasi kaum laki-laki, bahkan Sebastian tahu, kalau anggota gang Star Girl yang lain sudah memiliki tunangan atau kekasih.
"Apa tidak ada yang marah nih? ". Sejak tadi mereka ngobrol menanti waktu ujian kedua bagi Raisa, masih tersisa waktu 2 jam untuk ujian mata kuliah berikutnya.
Sebastian tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat ingin diketahuinya sejak dulu.
" Ngobrol dengan teman kan biasa, kenapa harus ada yang marah ". Jawaban Raisa terdengar ambigu.
" Kak Tian kali, ada yang marah nih kalau ngobrol sama Raisa, secara kan kak Tian idola sekolah dulu, paling tidak sekarang sudah punya kekasih". Raisa pandai mengalihkan pembicaraan.
*
Seseorang yang duduk di kursi depan, di samping Erik, yaitu Mario, tampak mengepalkan tangannya dengan sorot mata di penuhi aura kemarahan atau tepatnya kecemburuan.
Seseorang yang diperintahkan mengikuti Raisa, mengirimkan video dimana Raisa tampak duduk berdua seorang pria tampan dan Raisa beberapa kali tersenyum manis, Mario tidak rela wanitanya bermanis-manis pada pria lain.
Cukup sudah seorang Nadya bisa berkhianat dibelakangnya karena kecerobohannya dalam menjaga rumah tangganya, itu tidak akan dibiarkannya kali ini, memiliki Raisa sudah menjadi tekadnya, suka tidak suka, Raisa tidak bisa menolak, sikap angkuh dan arogannya memang sudah kental.
Untung tadi Erik, sempat mengatakan, masih jauh tampan dan hebat seorang Mario dibanding pria itu, bahkan tubuh Mario lebih atletis, sehingga Erik bisa selamat dari amukan bos nya itu, dan Mario cukup senang mendengarnya.