
"Nona jangan kuatir, tuan muda orang yang baik". Seakan memahami keresahan dalam diri Raisa, wanita tua itu mencoba menghibur.
" Terima kasih ". Raisa berucap pelan, Raisa tahu mereka hanya diperintah.
" Permisi nona, kami keluar sekarang ". si mbok undur diri bersama MUA meninggalkan Raisa sendirian yang menunduk tidak ingin memandang wajahnya di cermin.
Raisa takut menatap wajahnya yang menyedihkan. Wajahnya pasti sembab karena menangis, meskipun telah didandani.
Raisa tahu betul wajahnya ini, meskipun berbedak namun bila ia banyak menangis, maka hidung dan bawah matanya akan bengkak dan memerah seperti tomat.
"Sah... ". Samar-samar kata itu masuk ke kamar, terdengar di telinga Raisa.
Seharusnya pengantin wanita berbahagia, berbanding terbalik dengan Raisa yang berwajah sendu.
" Setidaknya papi tahu". Gumamnya lirih.
Tak pernah terlintas difikirannya, pernikahannya terjadi dalam situasi aneh dan menegangkan seperti ini.
"Maafkan bunda, Naomi, bunda mengecewakanmu". bisiknya pilu
" Maafkan Raisa.... ". bisiknya sendu.
*
Beberapa saat duduk termangu sendirian dengan hati sedih dan jiwa terombang-ambing dalam keresahan.
Pegangan pintu bergerak-gerak.
Pintu kamar terbuka perlahan, seseorang melangkah masuk, Raisa menduga itu Mario, namun ia tidak mampu mengangkat mukanya.
Sosok itu berhenti dan berdiri tepat didepannya.
Dengan tiba-tiba Raisa merasa dagunya disentuh dan terangkat, menengadah, dipaksa memandang keatas, tepat diatasnya, wajah Mario, pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.
Mata mereka bertemu, mata Raisa yang sendu namun memancarkan kemarahan dengan mata Mario yang kelam, dengan senyuman tersungging di bibir.
"Sinting". bisik hati Raisa
" Kuharap kau tidak memaki dalam hati". Bisik Mario tepat di samping telinga Raisa, senyumannya lebar, seolah tidak ada beban.
Raisa ingin memutus tatapan itu, namun Mario tetap memaksa.
" Statusmu sebagai istriku sekarang .... ". Bisiknya di telinga Raisa, ujung bibirnya menyentuh daun telinga Raisa, hembusan nafasnya menyentuh kulit wajah Raisa.
Bulu-bulu di kulit Raisa langsung meremang, perutnya merasa tergelitik, namun ia berusaha menahan diri, ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Apa boleh aku mencium pengantinku sekarang? ".Mario menatap bibir Raisa yang menyerupai kelopak mawar, lembut dan rapuh, terlihat jakunnya bergerak menelan saliva.
Raisa berusaha memalingkan mukanya, namun jari besar Mario cukup kuat menahannya, meskipun tidak menyakiti dagu Raisa.
" Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau memaksa? ". Raisa berbisik dengan sorot mata tajam.
" Karena aku tidak akan membiarkan pria mana pun mencoba mendekatimu". Jawaban Mario tidak kalah rendahnya, nyaris bisikan namun ucapannya begitu tegas.
"Pria siapa? ". Raisa terkejut mendengarnya, namun sekilas terbayang wajah Sebastian dan kejadian 2 hari lalu saat Sebastian menjemputnya.
"Tapi, bagaimana dia tahu? ". Gumam Raisa dalam hati.
" Siapapun pria itu, tidak boleh mendekatimu ". Mario menunjukkan kearoganannya.
" Kenapa? kita tidak memiliki hubungan! ". Raisa berbalik mengingatkan Mario dengan nada kesal.
" Karena itu aku menjadikannya ada, mulai hari ini ingatlah baik-baik statusmu". Mario tersenyum smirk.
"Kau... kejam, egois... kau .... ". Ingin rasanya Raisa mengeluarkan segala kekesalannya, namun hatinya tidak mengijinkan, sekarang pria itu.... bagaimana pun sudah jadi suaminya, dan tadi, ia tidak melakukan perlawanan keras untuk menolaknya.
" Apakah aku rela dengan pernikahan ini? ". Bisik Raisa di hati.
"Kau harus bisa menerima, itu salahmu, kenapa kau membiarkan pria itu mendekatimu". Mario menatap Raisa dalam-dalam.
Raisa kaget, Mario seolah membaca fikirannya.
Mario segera mendekat, menarik tubuh Raisa ketubuhnya, mencengkram kedua bahunya, jarak mereka sangat dekat, bahkan saat menunduk menatap wajah Raisa, ujung bibir Mario sudah menyentuh ujung hidung Raisa.
Kedekatan itu membangkitkan hasrat Mario yang sejak tadi sudah ditahannya, nafas pria itu memburu, jantungnya berdetak cepat.
Hal yang sama terjadi pada Raisa, jantungnya memompa sangat kencang, dadanya naik turun terlihat di kebaya putih yang dikenakannya.
Mario tersenyum, segera disambarnya bibir itu penuh gairah, ia ******t bibir Raisa dalam-dalam, penuh tuntutan dan tak membiarkan Raisa menjauh.
Mario kembali mencengkram dagu Raisa, memperdalam ciumannya, memaksa memasuki mulut Raisa dengan lidahnya.
Raisa yang belum pernah berciuman menjadi gelagapan, tangannya mencoba mendorong tubuh Mario namun tubuh kekar itu tetap melengket di tubuhnya.
Raisa terkejut, matanya membulat, sesuatu terasa mengeras dan mengganjal di perutnya, Raisa merasa geli.
Raisa mencoba berontak namun Mario tetap dengan ulahnya, menjelajahi seluruh wajah Raisa dengan ciuman, bahkan lehernya pun ikut di*******nya.
Raisa mendesah menahan rasa geli dan gairah yang diam-diam dirasakannya, muncul mengikuti ******** Mario.
Mario mendorong tubuh Raisa hingga terjebak di kasur, dipegangnya kedua tangan itu yang ingin berontak, kekuatan Mario ternyata sangat besar dibanding Raisa.
Mario mengungkung tubuh Raisa, memberinya *******an di leher dengan sangat memaksa.
Satu tangannya melepas kancing kebaya Raisa dengan paksa hingga nampak menyembul 2 bukit yang makin membuat tatapan Mario berkabut gairah.
Pria itu terus melancarkan serangan bibirnya, menuntut dan sangat mendamba, membiarkan Raisa mendesah.
Mario terus bergerak dengan tangan dan bibirnya, mencari bagian yang membuat wanita, yang sudah dimilikinya itu mengerang, ia seperti pria yang sudah lama mengalami dahaga dan kini menemukan sebuah oase.
Namun tidak berlangsung lama.
Mario melepaskan tubuh Raisa pelan, mengerjap berusaha menghapus hasratnya, segera membetulkan letak kebaya Raisa lalu bangkit, meninggalkan Raisa yang merasa dihempas begitu saja di saat dirinya sudah dibawah kesadarannya.
Pria itu berdiri tegap lalu mendekati jendela, pandangannya jauh keluar, menatap kearah persawahan yang luas dengan hutan kecil disisinya.
Raut wajahnya tak terbaca, Raisa duduk membetulkan kondisi baju dan rambutnya yang cukup berantakan.
Entah mengapa Raisa merasa terluka namun tidak kelihatan, ditinggalkan di saat gairahnya mulai tersulut entah mengapa terasa cukup menyakitkan.
Apakah Mario sengaja ingin melukai perasaannya?
Suasana di dalam kamar kembali begitu sepi dan senyap, bahkan hembusan nafas pun seolah dibuat tertahan, hanya detak jarum jam dinding yang terdengar satu-satu.
Dari luar kamar seakan tidak berani menimbulkan bunyi, Erik, asisten setia itu memilih menyingkir dari dalam rumah.
Ia bersama beberapa orang pria, yang bekerja sebagai penjaga villa sekaligus yang merawat kuda-kuda disana, bergerak kearah hutan, mereka berniat mengambil kelapa muda.
Daripada mengganggu kesibukan tuan muda bukankah lebih baik menyenangkan diri sendiri?
Namun melewati samping rumah, kepala Erik seolah tertarik untuk menoleh, dipandanginya jendela itu...
Deg.
Matanya bertemu dengan tatapan Mario, si bos bucinnya, Erik salah tingkah, namun tak urung sebelum menjauh matanya dikedipkan ke arah pria tampan di dalam kamar itu.
Mario terbelalak, tangannya terangkat membentuk kepalan, Erik menahan tawa, entah, keberaniannya tiba-tiba muncul untuk menjahili si bos yang sedang termangu.
Difikirnya tadi si bos sudah bersimbah peluh di siang terik itu, menikmati indahnya surga dunia, ternyata keberaniannya hanya sebatas menikahi, pakaiannya masih utuh saat berdiri di depan jendela.
ckckck....
Erik segera menjauh, dia harus mencari tempat tersembunyi untuk melepaskan tawanya.
Hahaha...
Mario menghembuskan nafas berat.
"Erik l****ut, si****" n". gumamnya, namun tak urung tersenyum sangat tipis.