
Raisa melangkah bersama Darren, memasuki sebuah bangunan luas dan dilingkupi pagar-pagar tembok yang tinggi.
Tadi bus melewati kompleks perumahan yang luas dan cukup terpencil karena melewati padang rumput yang cukup luas.
Sejauh mata memandang hanya hamparan rumput beratap langit. Untung malam ini cerah sehingga langit yang gelap tampak indah dan megah karena berhiaskan bintang-bintang yang bertaburan di langit sana.
Raisa beberapa saat tertidur, hingga tak terasa mereka sudah sampai pas hari menjelang pagi.
Bus memasuki gerbang yang tinggi, melewati taman-taman yang luas dan masih cukup gelap apalagi dengan banyaknya pohon-pohon disekitarnya.
Akhir bus berhenti di salah satu bangunan besar dan luas, tertulis "Asrama laki-laki', Seorang pria paruh baya menyambut mereka. Raisa dipisahkan dengan Darren. Seorang pria seusia Darren membawa adiknya kearah kanan, sementara Raisa dibawa ke bagian kiri bangunan, melewati koridor-koridor yang lumayan panjang.
" istirahat lah dulu, sebentar setelah mandi dan sarapan. Pukul 10.00 pagi baru saya jemput lagi untuk bertemu Kepala Asrama". Pesannya sebelum meninggalkan Raisa. Pintu kamar sudah dibukanya dengan memperlihatkan bagian dalam berupa kamar tidur yang nampak sudah dibersihkan dan dirapikan serta di pel.
Keputusan Raisa sudah bulat, untuk beberapa waktu kedepan, ia berencana berada disini. mungkin sebulan atau 2 bulan. Dirinya di asrama putri dan Darren di asrama putra, tapi masih dalam kompleks yang sama, hanya berbeda bangunan yang dipisahkan oleh bangunan besar berupa aula serta taman-taman yang cukup luas.
Di jalan, Raisa jelaskan secara singkat namun cukup detail, tujuan mereka kesini. Disini mereka belajar. Bukan belajar seperti mempelajari bidang studi umumnya. Namun semacam melakukan mediasi atau renungan untuk membimbing rohani mereka agar dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Mediasi yang diinginkan Raisa merupakan jenis Mediasi untuk memperbaiki mental dan pandangan seseorang mengenai dirinya. Dalam upaya penyelesaian konflik internal diri mereka dengan melibatkan pihak ketiga yang netral, yang tidak mempunyai hubungan dengan mereka namun menguasai ilmu dibidang spritual. Harapan Raisa mentalnya maupun mental adiknya dapat lebih memiliki motivasi, semangat dan kekuatan lebih kearah perubahan yang lebih baik.
Sebelumnya, Raisa sudah mendapatkan informasi jika disini, Anak-anak muda akan di tempat untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui berbagai kegiatan baik fisik maupun mental. Pada asrama ini nantinya mereka akan mengadakan beberapa kegiatan melalui beberapa metode yang digunakan yaitu metode klasikal, diskusi, hafalan, tanya jawab ceramah dan demontrasi.
Asrama ini merupakan salah satu lembaga pendidikan luar sekolah yang akan mampu membentuk karakter teladan yaitu tidak hanya melalui kecerdasan secara intelektual tetapi juga mengharapkan kecerdasaran secara emosional dan juga spiritual.
Disini akan didapatkan pelatihan untuk meraih kecerdasan emosional. Mereka diajarkan untuk mengelola emosi mereka dengan baik, belajar bersikap santun, dan berkomunikasi dengan baik dalam lingkungan yang heterogen.
Selain itu juga akan didapatkan bimbingan mental spritual. mereka juga akan mendapatkan berbagai materi kursus yang populer seperti bahasa asing, computer, sablon, pertanian, peternakan, teknik dan lain-lain yang bersifat bimbingan praktek.
Sesungguhnya bukan Raisa yang membutuhkan semua itu, melainkan Darren, namun Raisa merasa perlu untuk ikut serta beberapa lama agar ia menjadi faham dengan bentuk pengajaran ini dan nantinya akan memahami serta mampu sejalan dengan fikiran adiknya sehingga tidak lagi terjadi kesalah fahaman diantara mereka.
Di sebuah ruangan kantor yang besar dan megah, duduk di kursi pimpinan dengan tatapan mata biru kelamnya dan memancarkan aura tajam namun sorot itu tampak sendu.
"Kau sudah dapat informasi dimana dia?" suaranya rendah namun terdengar tegas.
"Wanita itu sangat setia, tidak sedikitpun mau memberi informasi, karena itulah bu Raisa sangat mengandalkannya. Usia mereka sebenarnya tidak jauh berbeda, selisih 3 tahun". Erik menjelaskan.
" Cck... kau itu, ingin bertele-tele atau bagaimana? ". Mario menatap tajam asistennya.
" hehehe... " Erik terkekeh.. Mario memang bosnya, tapi juga sahabatnya, dia tahu sifat bos nya ini jika menginginkan sesuatu. perasaannya berat.
"Okey bos, Semua informasi ada di kantongku".
" Jadi... dimana dia sekarang? ". Mario menatap datar, tapi hatinya cukup berdetak juga. Sudah hampir 2 bulan tidak mendengar kabar Raisa ataupun melihat nya, hatinya cukup dibuat kalang kabut.
" Dia dan adiknya, di sebuah asrama, cukup jauh dari kota, tempatnya jauh diatas bukit, jauh diluar wilayah kota ini". Erik berhenti melihat ekspresi Mario yang mengerutkan kening seolah memikirkan sesuatu.
" Iya, ini semacam sekolah khusus untuk memperbaiki mental atau spritual seseorang, tapi bukan semacam klinik jiwa". Erik menjelaskan lebih lanjut.
"Kenapa dia harus ikut tinggal kesana? bukankah yang membutuhkan bimbingan itu adiknya? ". Mario tampak berfikir.
" Itulah. . aku juga tidak tahu, sulit memasuki disana untuk mencari informasi, setiap orang dijaga kerahasiaan nya, kecuali untuk pihak keluarga yang datang berkunjung, tapi kita tidak bisa gegabah kan, atau akan menambah kejengkelan Raisa terhadap mu". Erik memberikan pendapatnya
Mario menaikkan alis tanda faham akan situasi dimana Raisa sesungguhnya berusaha menghindarinya, lebih tepatnya menghindari konflik yang bisa terjadi. Mengingat gadis itu berfikir, dirinya dan Nadya masih sebagai suami istri. Meskipun kala itu Mario sempat menceritakan masalah mereka, belum tentu Raisa menerima informasi itu begitu saja. Dia wanita yang kuat dan sedikit keras, tidak akan mudah percaya pada seorang pria. Tidak mudah menaklukkan nya, namun sayangnya, Mario juga tidak ingin mengalah. Hatinya sulit berpaling saat rasa sukanya sudah demikian dalam. Tidak ada yang menghalanginya jadi kenapa harus mundur?
meski tidak terlihat seperti biasa, tapi Erik cukup tahu, bos nya ini menjadi kurang konsentrasi bekerja dan sering termenung, serupa remaja patah hati. Hahaha... rasanya Erik ingin tertawa keras. ini pernah dilihat nya dulu, saat cinta pertama nya yang menikahi sahabat mereka. Tapi kali ini tampaknya lebih berat. Apalagi Naomi juga tidak berhenti menanyakan keberadaan Raisa. Anak perempuan menggemaskan itu sudah jatuh cinta pada seorang wanita lain yang bukan ibunya, seperti ayahnya. Seperti nya pesona seorang model cantik, Nadya Pertiwi, sudah tidak berarti sama sekali. Meskipun kini mereka tampak rukun dan sering kelihatan berdua mengurus putri mereka, itu hanya tampak luarnya saja. Tidak ada sentuhan hati apalagi rasa rindu mendalam disitu. Rasa yang dimiliki Mario, sudah beralih pada Raisa. Gadis muda ini memang acuh dan tidak memperdulikan Mario, namun Mario sangat yakin dengan perasaannya. Menurutnya, ia dapat menangkap, ada ketertarikan pada dirinya yang ditunjukkan gadis itu, meski berusaha ditutupi serapat mungkin. Mario hanya perlu membuktikan sedikit lagi, untuk memastikan keputusannya.