Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 27 Tunggu Tanggal Mainnya


Raisa tersenyum-senyum sendiri mengingat ekspresi kesal Pak Mario semalam.


Tapi Raisa malah bersyukur karena terlepas dari situasi canggung dan membuat nya tidak bisa berfikir jernih itu.


Fikirannya sudah traveling kemana-mana mengingat situasi semalam di dalam benaknya sangat menggoyahkan pertahanan nya.


Ia berfikir, kali ini mungkin tak mampu lepas dari jerat pesona seorang Mario.


Beberapa lama mereka hanya saling diam, namun hal meresahkan adalah Pak Mario terus menatapnya dengan sorot biru kelamnya yang mempesona.


Raisa terjerat dalam situasi yang tidak menguntungkan nya atau itu malah situasi yang membuat mereka berdua terjebak.


Harum maskulin dari tubuh pria itu menyeruak, menusuk hidung Raisa dan gadis itu terperosok dalam situasi yang begitu romantis dengan iringan lagu.


Ssh... Desah Raisa di hati.


"Oh My God... " jeritnya di hati


Ini tidak benar, dia harus terbebas secepatnya, atau ia akan terbuai dalam jerat matanya.


Raisa benar-benar gelisah. Perasaannya sudah campur aduk.


"Kenapa kau meninggalkan Naomi cukup lama hmmm.... " Mario merasa bodoh dengan pertanyaan itu.


Tapi Mario juga terjebak dalam fantasi fikirannya sendiri. Terlalu lama tidak bertemu, yang ada dikepalanya sekarang hanya keinginan untuk membawa Raisa dalam pelukannya.


Kenapa begitu sulit menaklukkan gadis ini, Keluhnya di hati.


Fikiran dan hatinya tidak sejalan, tidak pernah seorang Mario menjadi tidak bernalar seperti ini. Ia selalu mampu menguasai dan mengontrol dirinya dalam situasi apapun. Tapi sekarang yang diinginkannya hanya menuntaskan apa yang menjadi beban di kepalanya setelah berhari-hari.


Berhari-hari ia seperti mati kutu, tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ketika dia ke kota beberapa hari tidak melihat Raisa, perasaan itu bisa diredamnya, namun aneh, saat Raisa menghilang, ia kebingungan dan terjebak dengan segala rasa tidak mengenakkan. Marah, bingung, frustasi campur aduk di otaknya. Membuat Erik asistennya tidak berani dekat-dekat kecuali dipanggil.


Naomi menginginkan Raisa. Naomi cocok dengan Raisa.Dan mungkin Raisa bisa membantu menghilangkan gejala penyakit Naomi jika anak itu betah di sekolahnya yang baru.


Namun yang meresahkan hatinya bukan itu. Mengapa Mario mencari nya? jadi hanya karena Naomi? Yah apalagi? Fikirannya salah jika berfikir pria itu merindukan nya? Kepentingan nya hanya Naomi. Apapun bentuk sikap dan kata-katanya yang kadang menggoda, Raisa tidak bisa memastikan itu bentuk rasa suka padanya. Pria ini memanfaatkannya untuk kepentingan putrinya yang sakit.


Namun kejadian semalam membuatnya kembali berfikir, saat dimana Mario tiba-tiba menggenggam kedua jari tangannya dan mengucapkan sesuatu yang membuatnya merinding...


"Tidak kah kau bisa menangkap arti dari sikapku selama ini hemh?....Tatapannya dalam menembus sanubari Raisa. Sesaat Mario diam... " Apa menurutmu, aku seorang yang suka mempermainkan perempuan? ".


Raisa menjadi tidak bernalar, tatapan mata Mario seakan membelenggunya dalam ketidakberdayaan.


Raisa seakan terjebak dalam pesonanya.


Sesungguhnya hal yang sama terjadi pada diri Mario, ia mati-matian menahan diri. Mario tidak sanggup bertahan, keinginan hatinya ingin membawa gadis itu kepelukannya, namun ia takut, kalau ia memaksakan kehendaknya, Raisa malah akan menjauhinya, kerinduan yang tidak dapat ditanggungnya lagi yang membawa langkah kakinya ke tempat ini.


Mario tahu Raisa sedang pelatihan.


Belum lagi sehari sejak kepulangannya dari asrama, pekerjaan sudah menunggu, dan lagi-lagi Raisa menganggap ini sebagai upaya menghindari Mario.


Sampai kapan? apakah ia akan terus melawan kata hatinya? bahwa sebenarnya ia mungkin telah jatuh dalam jeratan pesona seorang Mario.


Bagaimana ia hendak melawan, kalau semakin hari, hatinya semakin tidak mampu diajak kompromi, fikirannya menyuruhnya menjauh namun tubuhnya berkhianat, kenyataannya tubuhnya selalu berdebar-debar antara senang dan gelisah.


Mario baru saja ingin mencium jemari tangan Raisa yang berada dalam genggamannya, namun suara seseorang menghentikan niatnya...


"Oh dek Raisa disini rupanya, saya cari-cari di kamar, sudah jam 10.00 malam, mana hujan lagi, saya kira dek Raisa keluar dan terjebak hujan". Bu Yani, sekamarnya, seorang Kepala Sekolah juga, teman sesama pelatihan, datang menghampiri mereka, tatapannya sebentar tertuju ke Raisa lalu beralih ke Mario seakan menyelidik.


Tak urung Raisa bernafas lega, akhirnya terlepas dari suasana canggung dan cukup menguras hati, Raisa sempat melirik Mario yang nampak putus asa, mungkin karena urusannya terganggu.


Raisa diam-diam mengulum senyum, Mario yang melihatnya tersenyum kontan tersenyum smirk. Awas yah nona, tunggu saja tanggal mainnya! Gumam Mario di hati.