Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 10 Baby Sitter


Raisa sibuk mempersiapkan baju yang akan dipakainya. Mereka akan berangkat bertiga. Raisa akan mengajak mereka ke beberapa tempat yang menarik sebagai tempat wisata andalan di kota mereka. Raisa cukup banyak menjelajah selama tinggal disini. Sendiri ataupun bersama Sinta dan rombongan ibu-ibu guru mereka banyak mendatangi tempat-tempat menarik. Biasanya mereka mencari tempat yang bisa dikunjungi dengan membawa anak-anak belajar sambil bermain.


Darren muncul dengan sikap nya yang menyebalkan. Ia tidak rela kakaknya pergi dengan atasannya itu, apalagi Darren mendengar dari beberapa staf di kantor, kalau si bos sedang menyeleksi wanita-wanita untuk membantunya merawat anaknya yang akan ikut tinggal selama dirinya tinggal di kota ini.


Para staf wanita di kantor itu, berebut menginginkan posisi itu. Karena menurut informasi yang didapatnya. Darren datang tidak membawa istrinya. Bahkan ada yang tetang-terangan mengatakan, Mario seorang single parent. Meski tidak ada yang berani menanyakan langsung padanya, maupun pada asistennya yang selama ini mendampingi nya dari kota.


Darren tidak rela, kakak nya dijadikan seperti pembantu. Meskipun mereka sudah jatuh miskin, mereka tidak begitu jatuh hingga harus menjadi baby sitter.


"Aku bukan baby sitter Darren.... "


"Naomi, hanya akan bersekolah di tempat kita sementara".


Meski penasaran dengan keberadaan mama Naomi. Mengapa mesti mencari asisten untuk menjaga anaknya. Kemana istrinya? Kalaupun hendak bersekolah di tempat nya bukankah istrinya bisa mengantar setiap hari?


Terlebih katanya, anaknya memiliki penyakit. Bukankah penting mendampingi anak di saat seperti itu. Siapalah Raisa? Raisa hanya bisa mendampingi di sekolah saat pembelajaran. Bagaimana setelah berada di rumah? Di hotel yang mereka tempati selama disini. Tidak mungkin Raisa setiap hari ikut kesana dan membantu kebutuhan anak itu. Sementara Raisa mengikuti keinginan Mario beberapa hari ini. Raisa tidak mampu menolak anaknya yang begitu antusias ingin bersekolah ditempatnya.


Kemarin ketika pertama kali datang ke kelas. Naomi langsung mendapatkan perhatian dan memiliki fansnya sendiri. Tubuhnya yang montok, dengan rambut ikal diikat dua. Raisa sempat berfikir. Apakah Mario yang mengikat rambut putrinya? dengan pakaian dan perlengkapan serba pink, mulai dari baju, tas, ikat rambut, sepatu, kaos kaki dan tempat bekal serba pink. Otomatis seluruh anak di kelasnya beralih memperhatikan dan terkagum-kagum.


Mario hanya sebentar disana dengan alasan harus mengadakan meeting pagi. Dan itu disyukuri Raisa, untuk menghindari rasa tidak nyaman. Meski disini, tidak ada ibu-ibu yang duduk bergosip sambil menunggui anaknya, namun cukup memusingkan jika pria itu hendak berlama-lama. Rupanya Raisa lupa, pria itu memiliki kesibukan dari sekedar menunggui anaknya. Alangkah bodohnya dirinya. Menganggap pria itu tidak punya urusan sehingga akan mengganggunya pagi-pagi. Raisa merutuki diri sendiri. Pria itu jauh lebih sibuk dari dirinya. Proyeknya menyangkut pekerja dalam jumlah yang besar.


Naomi berada sekarang dibawah tanggung jawabnya. Gadis kecil itu sangat pandai menempatkan diri dan sangat bisa diajak kerjasama. Raisa melihatnya sebagai sosok yang diidolakan, Anak-anak cenderung mengikuti perilakunya. Ketika Naomi tampak tenang mendengarkan instruksi bu guru, spontan anak murid yang tadinya suka bergerak kesana kemari, ikut duduk manis memperhatikan bu guru berbicara.


Saat Naomi mengangkat tangan dengan percaya diri bila bu guru mengajukan pertanyaan, anak-anak melakukan hal yang sama, bedanya Naomi tidak berteriak dan berseru meminta perhatian.


Bocah menggemaskan itu duduk tenang dengan sikap dewasanya, seolah menunggu kesempatan. Saat Raisa menunjuknya, memberinya kesempatan menjawab barulah mulutnya bersuara.


"Terima kasih kesempatan nya bu guru"


"Hah..." Raisa membola tidak percaya, inikah bocah 4 tahun itu?


" Kalau Naomi, suka kegiatan memasak bu guru, Naomi sering berdua papa atau tantenya Naomi membuat nasi goreng, mie ayam dan banyak lagi. Biasanya Naomi yang diminta memotong sayurannya, tangan Naomi sudah bisa memegang pisau, tentu saja papa yang melatih caranya, Naomi punya pisau kecil milik Naomi sendiri, jadi tidak berbahaya untuk anak kecil dan Naomi harus memegang gagang pisau dengan 5 jari Naomi". Naomi mengangkat tangannya, memperagakan seolah-olah sedang menggenggam pisau.


Mata gadis itu berbinar indah saat bercerita, tampak jelas kebahagiaannya membagikan pengalamannya mengenai kegiatan yang biasa dilakukan bersama orangtua, dalam topik mereka kali ini. Aku Sayang Ayah dan Ibu.Sayang sekali, tidak ada tentang ibunya, saat bercerita, ibunya tidak masuk dalam ceritanya seakan tidak hadir.


Raisa Lagi-lagi dibuat tercengang dan menatap kagum.