
Sesungguhnya hanya Raisa yang tahu persis, apa yang terjadi pada dirinya.
Raisa sadar, dirinya menjadi berbeda karena Raisa berusaha menyimpan masalahnya sendirian, enggan bercerita kepada orang lain, atau tepatnya belum mampu mengungkapkan kenyataan.
Karena membiarkan dirinya larut dalam persoalannya sendiri, Raisa tidak menyadari kalau keadaan itu sangat berdampak pada prilakunya.
Raisa yang memilih menyimpan masalahnya sendiri, terkadang dadanya terasa begitu sesak hingga emosinya memuncak dan tertahankan, namun yang dapat dilakukannya hanya menangis.
Karena sikap menahan dirinya itu menjadikan hubungan Dengan Sinta maupun guru-guru lain, seringkali tidak nyambung.
Karena perubahan sikap ini, para guru-guru menjadi serba salah, mereka berfikir, apakah mereka telah melakukan kesalahan?
Bu Mia, adalah guru sekaligus wanita yang paling senior, usianya yang hampir 50 tahun membuatnya menyadari perubahan itu mungkin karena Raisa menyimpan sebuah persoalan.
Di mata bu Mia, Raisa seperti seseorang yang tengah dirundung duka, duka yang dipendamnya sendiri, duka apa itu? itulah yang ingin diketahui semuanya? Soal Darren dan papa mamanya, mereka semua tahu.
Persoalan keluarga itu sudah sangat lama, namun mereka tahu semuanya dalam keadaan baik-baik saja sebagaimana Raisa tahu dan sudah lama dilaluinya dengan sabar.
Bukan masalah itu, lebih ke masalah pribadi, bagi bu Mia yang sudah menjalani masa mudanya, ia lebih menilainya sebagai masalah seorang wanita muda, misalnya saat wanita sedang jatuh cinta, patah hati, atau masalah rumah tangga.
Mereka semua tahu, dimana posisi Raisa di antara masalah-masalah yang menimpa kaum wanita atau gadis-gadis muda.
Apakah Raisa sedang jatuh cinta? hanya itu yang dapat menjadi masalah selain patah hati atau masalah rumah tangga yang masih jauh dalam penilaian mereka.
Mereka saling pandang, saling memberi kode lewat mata, mencoba memecahkan tanda tanya besar, apa yang sedang menimpa Kepala sekolah mereka yang cantik, masih muda dan baik hati ini.
Mau tidak mau, Orang-orang yang menjadi staf Raisa, diam-diam berbisik di belakang, untuk membicarakan keadaan itu.
Mereka tidak biasa melihat Raisa dengan sikap diamnya itu, sekalipun Raisa masih muda, namun ia wanita cerdas dan pandai menempatkan diri, terlebih posisinya sebagai pemilik sekaligus KepSek.
Namun situasi membingungkan beberapa lama ini tentu sangat mengganjal.
Sekalipun mereka bisa saja berpura-pura tidak menyadari yang sedang terjadi, namun seringnya Raisa menampakkan wajah muram membuat perasaan para stafnya ikut merasa terlibat dan gundah gulana.
Sesungguhnya Raisa menyadari semua sikapnya yang tidak biasa, karena itu Raisa memilih tidak pernah masuk ke kelas untuk menghadapi anak-anak.
Karena banyaknya tugas lain, Raisa bisa mendelegasikan pekerjaan mengajar kepada guru lain, mengingat Sinta sendiri punya banyak pekerjaan administrasi.
Raisa sudah berusaha untuk tidak membawa-bawa perasaannya saat bekerja, namun ia merasa seperti orang sakit, meski tidak tahu bagian mana ditubuhnya yang mengalami gangguan.
Perubahan mood yang ia rasakan, ia tahu bisa mengganggu orang disekitarnya dan membuat mereka tak nyaman.
Raisa pun tahu orang-orang dekatnya mulai merasa bingung dengan semua kelakuannya.
Raisa merasa keadaan ini sangat menyiksanya, ia ingin mencurahkan segala perasaan hatinya, namun ia cukup takut dengan reaksi orang-orang disekitarnya.
Tanpa Raisa sadari diam-diam sebenarnya ia sudah jatuh hati pada seorang Mario, namun ia masih menyangkalnya atau mungkin lebih tepatnya ia tidak berani membagikan cerita tentang rasa cintanya, baik itu, dengan cara menelpon pada Mario maupun pada orang terdekatnya.
Karena rasa cinta yang tumbuh itulah yang menyiksanya, Raisa merindukan kehadiran Mario, Raisa ingin mengungkapkan tentang perasaan itu, namun pada siapa dan banyak lagi fikiran yang menghalanginya.
Selain itu, Raisa kecewa, Mario tidak menepati janjinya, pria itu tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya yang berjanji akan menghubunginya sesampainya di Amerika.
Sebulan telah berlalu, Mario atau tepatnya, suaminya yang telah memaksa untuk memperistri dirinya, ternyata seorang yang tidak bisa memegang janjinya.
Mungkinkah memang maksudnya hanya ingin menyiksa perasaan Raisa saja, setelah mengikatnya agar ia tidak berani mendekati atau berhubungan dengan pria lain, lalu meninggalkannya begitu saja.
Dan sayangnya, Raisa dengan bodohnya telah mempercayai ucapannya, karena ucapan itu Raisa benar-benar terpedaya.
Karena merasa telah berstatus seorang istri, Raisa benar-benar menghindari semua pria, bukan hanya telepon Sebastian yang diblokirnya tapi hampir semua pria yang sering mendekatinya sudah di black list dari daftar pertemanannya.
Sayang, pria yang mulai dicintainya ini seakan hilang tanpa jejak, setelah memberi tanda kepemilikan pada dirinya lalu pergi begitu saja dengan menaruh janji yang tidak ditepatinya.
Raisa baru pertama kali merasakan cinta, dan ditinggalkan begitu saja sungguh sangat menyakitkan.
Karena berusaha keras menutupi perasaannya ini, Raisa kadang sulit mengontrol perasaannya, emosinya menjadi tidak stabil.
Raisa begitu mudah merasa sedih, bahagia, bahkan marah dan mengalami emosi yang berbeda untuk urusan pekerjaan pada saat yang bersamaan, hal itu disebabkan karena pria yang dicintainya, Mario.
Siapa yang dapat menolong dirinya jika keadaannya seperti ini?
Mario mengabaikan dirinya, Mario melupakan janjinya, Mario membuatnya terbelenggu dalam rasa rindu.
Bagaimana orang-orang dapat mengerti? sementara melihatnya menjalin hubungan dengan Mario saja tidak.
Namun Raisa keliru, pandangan orang-orang didekatnya tidak mudah dibutakan, karena sesungguhnya mereka diam-diam menyadari, hanya saja mereka memilih diam karena mereka tidak ingin menyinggung Raisa.
Sudah sejak lama, sejak awal, sejak kehadiran Naomi, mata orang-orang desa ini pun bisa menangkap ada sesuatu diantara mereka berdua.
Lebih tepatnya, pak Mario, mereka juga diam-diam menyadari pria dengan anak dan istri itu menaruh hati pada Raisa.
Tapi awalnya mereka fikir, itu wajar siapa juga yang tidak tertarik pada pesona seorang Raisa, gadis muda, cantik dan belum memiliki pasangan atau kekasih.
Sudah tentu banyak yang mencari cara mendekatinya, awalnya mereka fikir pak Mario seorang pria beristri yang memiliki sifat penggoda.
Lalu berubah dengan penilaian baru, seorang duda yang kesepian, namun kehadiran Nadya yang sangat cantik dan berkelas merubahnya, tidak mungkin pria itu bertingkah aneh, istrinya sangat cantik, kecuali ia seorang player.
Tidak banyak yang diketahui orang-orang tentang pasangan kaya dan pendatang baru di lingkungan mereka.
*
*
Sinta akhirnya menangkap sikap yang berbeda setiap Raisa bertemu dan berinteraksi dengan Naomi belakangan ini.
Sikapnya tidak berubah, rasa sayangnya, perhatiannya juga saat mereka terlibat pembicaraan tetap seperti biasa, sebagaimana Raisa menghadapi kelucuan dan kecerdasan seorang Naomi.
Namun, kemudian Sinta menemukan, Raisa memandang Naomi dengan cara yang berbeda, Sinta dibuat bingung, bagaimana ia harus mengungkapkan dalam kata-katanya?
Benar, bahwa Raisa sangat profesional, namun yang ditunjukkan belakangan ini berbeda,seperti percakapan yang ditangkapnya baru-baru, cukup membuat Sinta bingung dan ambigu....
"Naomi sayang, kalau bunda ikut Naomi ketemu papi Naomi, trus jalan-jalan bertiga, tanpa mommy Nadya, Naomi bolehin atau tidak? ". Raisa mengucapkan itu sambil menyisir Naomi dengan lembut, suatu sore Sinta lewat lalu mendengarnya samar-samar dari dalam kamar.
Sinta membelalak mendengarnya, dia nyaris tidak akan percaya, kalimat itu keluar dari mulut Raisa, kalau tidak melihatnya di kamar.
Itu sangat tidak biasa, dan sangat bukan Raisa, kalau tadi Sinta sedang makan buah salak, Sinta rasa dia akan tersedak karenanya.
Sinta tahu, kelakuan pak Mario, Sinta juga tahu beberapa kali pria itu mencoba mendekati dan berkata gombal pada Raisa.
Tapi Sinta sangat tahu, Raisa tidak akan membalasnya, karena Raisa tidak ingin terlihat masalah dalam rumah tangga pak Mario dengan bu Nadya, jadi itu tadi apa?
Sinta, diam-diam ingin menangis, ia juga bingung, ia pun menjadi tidak berani menceritakan perasaan ini pada guru-guru yang lain.
Sinta takut salah menilai, Sinta takut sudah berprasangka buruk pada Raisa, kakaknya, wanita yang dititipkan Darren padanya.
Belakangan Darren juga suka menelponnya, meminta Sinta memperhatikan Raisa, selalu menjaganya dan membantu kesulitannya.
Sekarang Sinta ikut merasa serba salah, apa yang bisa dilakukannya jika Raisa sendiri tidak ingin membagi masalahnya?