
Keesokan hari
Nisa menemani anak-anak di PAUD seharian, karena Rindam terlihat rewel, berbeda dengan Ririn dan Naomi yang penuh semangat bergabung dengan murid-murid lain.
Raisa hanya dapat menemani hingga jam 10.00 pagi, karena setelah itu dia dijemput rombongan Kepala Sekolah untuk rapat gugus, akhirnya Raisa hanya dapat berpelukan dengan Nisa sebagai salam perpisahan.
Raisa tidak dapat menemani hingga acara makan siang, toh Nisa dan suaminya dalam hal ini bukan tamu Raisa melainkan tamu Mario, ia pun bukan istri Mario yang patut mendampingi suami.
Raisa malah risih jika di haruskan mengikuti rombongan kakak Mario ini seolah dirinya hendak mengakui affair dengan Mario.
Tapi tak urung Raisa memberi kado kenang-kenangan kepada Nisa, berupa hasil kerajinan tangan warga setempat untuk dibawa Nisa ke tempat tinggalnya, karena usai makan siang nanti mereka akan pamit.
Raisa yang tidak tahu kalau kunjungan kakak Mario ini ada hubungan dengan dirinya, selain Romy ingin melihat pembangunan proyek milik Mario, Nisa diharapkan dapat menjembatani Mario dan Raisa sekaligus untuk menghilangkan prasangka Raisa terhadap Mario.
Mario memantau lokasi proyek bersama abangnya, Mario menjelaskan beberapa titik yang akan dibangun lokasi untuk dijadikan tempat camping atau berkemah sebagai kegiatan menginap di alam terbuka yang menyenangkan.
"Lokasi ini berada lahan yang rata dan sangat luas, karena diharapkan mendapat banyak atensi masyarakat lokal maupun turis asing, karena akan sangat bermanfaat untuk menyegarkan badan dan pikiran dari penatnya kesibukan sehari-hari". Mario mulai memaparkan tujuan proyek nya didirikan.
"Dimana dengan kegiatan camping memiliki segudang manfaat bagi kesehatan serta pengembangan karakter diri". Mario menguraikan keuntungan adanya tempat tersebut
"Untuk itu, nantinya lokasi ini juga dapat menjadi lokasi Camping Outbound, yaitu kegiatan camping yang diisi dengan permainan outbound seperti flying fox, arung jeram, permainan ketinggian dan sejumlah games untuk kerjasama tim". Tampak semangat Mario menjelaskan.
"Jenis camping ini bisa diikuti oleh berbagai kalangan baik sekolah, perusahaan, komunitas maupun umum". Urainya lagi, Romy diam menyimak.
" Kegiatan camping outbound merupakan penggabungan antara kekuatan fisik, mental, emosional, logika serta kegiatan yang menyatu dengan alam dan lingkungan sekeliling".
"Dengan mengikutinya, setiap peserta akan memperoleh manfaat kemandirian sikap dan juga penguatan karakter positif". Mario memikirkan berbagai pandangan positif sehubungan dengan proyeknya.
Misalnya pada camping gathering murid dapat berbaur dengan para guru atau kepala sekolah, atasan dengan bawahan, mahasiswa dengan direktorat, yang menunjukkan kebersamaan.
Panjang Mario bercengkrama dengan abangnya, memang hanya kepada saudara-saudaranya, pria arogan dan dingin itu dapat menunjukkan sisi terbaik dirinya.
Mereka bisa larut dalam perbincangan panjang tanpa merasa lelah dan tanpa terasa waktu yang bergerak menunjukkan saat jam istirahat.
Seluruh pekerja tampak berbondong-bondong meletakkan alat-alat berat di tempatnya, demikian juga tukang-tukang mengambil perkakas nya untuk disimpan dan bersiap untuk istirahat.
Mario akhirnya mengajak abangnya untuk melakukan hal serupa, mereka menjemput Nisa ke sekolah untuk makan siang.
Mario sedikit kecewa, tidak menemukan Raisa disana, lewat Nisa diketahuinya Raisa telah ikut kegiatan kepala sekolah.
Namun Nisa tidak merasa keberatan sama sekali, bahkan ia sangat setuju dengan pilihan Raisa, tapi tak dikatakannya pada Mario, bagaimana pun Mario memang perlu menyelesaikan urusan pribadinya.
Raisa bukan gadis rendah, gadis itu memiliki pandangannya sendiri tentang sebuah hubungan, siapa yang bisa menyalahkan gadis itu jika memasang tembok tinggi dalam dirinya.
Berbagai peristiwa dalam keluarga nya, membuat nya waspada dan berfikir setiap kali melakukan sesuatu, sekali pun itu menyangkut dirinya pribadi.
Nisa sudah dapat menangkap kode, jika Raisa pun sesungguhnya menyukai sosok Mario secara khusus sebagai seorang wanita, hal itu dibisikkan pada Romy, suaminya.
"Adik abang itu sudah jadi pemilik hatinya, biarkan saja berjalan apa adanya, kita tidak perlu buat drama". Raisa mengerling suami posesif nya, mengingat bagaimana dia terjebak karena rasa sayang dan iba pada pria baik hati ini.
Toh, ia pun dulu terpikat karena perhatian dan kebaikan hatinya, namun Nisa tidak mudah percaya begitu saja, apalagi Nisa sangat takut awalnya dengan pria berperawakan tinggi besar dan terlihat punya tato di beberapa bagian badannya ini.