Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 13 Monyet Menggaruk


Mario takjub, kali ini penyakit Naomi yang kambuh tidak bertahan lama, hanya 3 hari, biasanya Mario harus bersabar melihat putri kecilnya merasakan kondisi yang tidak menyenangkan ini selama berminggu-minggu hingga kegiatan sekolah nya sering terhenti.


Ada saat dimana Mario terpaksa mengambil keputusan meminta ijin untuk Naomi tidak ke sekolah, meski Naomi bisa ikut kelas khusus di rumah, namun karena saran dokter agar Naomi bisa tetep bersosialisasi dengan dunia luar. Mario tetap memasukkan Naomi ke sekolah umum, Selain itu para gurunya pun sudah diberitahu perihal kondisi ini dan mereka sepakat tidak banyak membahas ini kepada orang lain untuk kebaikan Naomi sendiri.


"Papa tidak mau kalau Naomi diejek teman-teman karena punya penyakit aneh, makanya Naomi harus menurut, kalau teman-teman tanya Naomi dari mana, Naomi bilang Naomi belajar di rumah". Naomi menjelaskan ketika Raisa bertanya apa Naomi sering tidak sekolah kalau penyakitnya kambuh.


Raisa tersentuh, matanya kembali berkaca kaca. Naomi sungguh pengertian.


" Semoga nanti Naomi benar-benar sembuh jadi tidak perlu selalu libur?


Naomi mengangguk.


"Kalau Naomi jujur bilang Naomi punya penyakit aneh seperti monyet menggaruk nanti Naomi tidak punya teman. " Naomi tersenyum lucu.


Raisa membelalak tak percaya, gadis kecil itu menganggap penyakitnya lucu.


"Siapa yang bilang begitu sayang?


" Naomi sendiri, kan monyet kalau menggaruk, tangannya tidak mau diam, Naomi juga kalau pas udah gatal, tangannya menggaruk terus". Raisa memeluk Naomi terharu.


" ish... anak ini gitu yah... ". Raisa menggelitiki tubuh Naomi.


" Tapi menurut dokter, kali ini lebih cepat hilang dibanding yang lalu. Ini cuma 3 hari kan? ". Raisa mencari kebenarannya.


" Benar bunda, biasanya Naomi harus lama berbaring, ini cuma sebentar. Naomi senang deh, bun, Naomi juga malas bobo terus". Naomi jujur mengatakan isi hatinya, selalu nampak cerdas dan lucu seperti biasanya.


"Iya sayang, kita berdo'a sama-sama, semoga penyakit Naomi tidak kambuh lagi, semoga Naomi cocok disini, jadi bisa terus bersama bunda". Raisa tidak sadar dengan ucapannya, hingga menarik perhatian seseorang untuk tersenyum smirk.


Seseorang yang sedari tadi diam dibalik pintu, mendengarkan semua pembicaraan Naomi dan Raisa. Tentu saja orang tersebut Mario. Mario baru saja mengantarkan dokter keluarga nya yang khusus dipanggilnya datang ke kota ini untuk memeriksa kondisi Naomi.


Cukup lama Mario berdiskusi dengan dokternya di lobby hotel perihal kemungkinan penyakit itu bisa sembuh melihat progressnya yang menunjukkan kearah yang semakin membaik. Mungkin saja Naomi memang cocok dengan kondisi iklim disini. Demikian prediksi dokter, namun tetap akan diobservasi kemungkinan lainnya.


Setelah melepas dokter, yang diantar sopir pribadinya. Mario kembali bergabung ke kamar hotel yang ditempati bersama putrinya. dan mendapati keduanya sedang berbicara begitu akrab.


Mario mulai berfikir, mungkin juga perasaannya putrinya yang semakin membaik. Bisa saja selama ini, anak kecil ini merasa tertekan sering ditinggal papanya yang sibuk. Di tinggal berdua dengan pembantu, yaitu mbok Surti yang sudah cukup berumur, meski sering anaknya mbok Surti datang menemani bermain, atau tantenya, Wieke, adik kandung Mario. Tapi seringkali kesibukan orang-orang membuat tidak ada waktu menemani Naomi.


Hampir setiap hari Raisa mengajaknya ke suatu tempat, meski hanya ke toko. Selalu menemani nya, ada juga tante Sinta dan teman-temannya bermain hingga sore.


Naomi suka bertindak seperti orang dewasa, ikut memandikan adik kecil yang berusia 2 tahun yang dititip di penitipan. Membantu memakai bedak, dan meninabobokkan. Ada-ada saja tingkahnya yang menggemaskan yang membuat bahagia para ibu guru di sekolah.


Semua bunda sangat menyayangi Naomi. Mungkin semua bentuk perhatian tersebut menimbulkan efek penyembuhan bagi Naomi. Mario memandang Raisa diam-diam. Hatinya membuncah bahagia. Menemukan gadis ini seperti mendapatkan berlian mahal, tak ternilai. Mario memandangnya tidak lagi sebagai wanita cantik mempesona, meski gairahnya masih ada.


Mario tidak bisa berbohong, gadis itu membangkitkan sesuatu yang sudah lama diredamnya. Meski begitu banyak gadis atau wanita cantik dan seksi disekelilingnya. Mario terlalu larut dalam pekerjaannya. Seorang pekerja keras.


Kalaupun ingin menjaga kenormalan nya sebagai pria, hanya sesekali ia menerima ajakan untuk berpesta ditemani wanita cantik, ia pandai menjerat wanita dalam pesonanya, namun tidak mampu mempertahankan apa yang sudah dimilikinya.


Karena sikap arogan dan sikap perfeksionis nya dalam bekerja. Ia melimpahi wanitanya dengan kemewahan namun membiarkan mereka lepas dari genggaman nya karena kesibukannya.


Yang terjadi pada mommy Naomi, setelah melahirkan putri mereka, wanita itu melakukan perawatan diri extra ketat lalu kembali menekuni dunia modelnya dan menyerahkan Naomi pada baby sitter.


Mario membiarkan semua itu karena dirinya pun teramat sibuk. Mereka disibukkan urusan masing-masing. Hingga mendapati istrinya bermesraan dengan pria lain, dengan dalih pria itu sangat perhatian padanya.


"Cih... alasan klise". Sayangnya Mario ketika itu begitu sakit hati. Merasa dikhianati, ia tidak memikirkan Naomi dan langsung memutuskan perkawinannya secara sepihak tanpa mediasi lebih dulu. Hingga yang mengalami akibatnya adalah putri kecil mereka yang ketika itu baru berusia 1 tahun.


Berkali-kali mommy Naomi, Nadya. Ingin memperbaiki hubungan mereka, namun Mario memiliki gengsi yang tinggi. Meski beberapa bulan lalu, Mario sempat menerima undangan Nadya untuk merayakan ulang tahunnya bersama putri mereka.


Mario pun bersedia menerima undangan Nadya makan malam berdua dengan harapan dapat memperbaiki rumah tangga mereka untuk kebaikan Naomi, putri mereka.


Namun kemudian, ia melihat Raisa di tempat ini, saat 2 bulan lalu Mario memutuskan melihat secara langsung, proyek nya yang akan jalan.


Raisa, gadis bar-bar yang secara fisik menarik dirinya, membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Gairah seorang pria normal.


Sesuatu yang pernah dialaminya saat usia 17 tahun, saat pertama kali menyukai seorang gadis. Gadis yang nyatanya sudah menikah kini. Rasa itu pun sudah lama padam.


Namun ketika bertemu Raisa, sesuatu yang lama hilang dari dirinya, bangkit lagi, semangat dan gairah pemuda lajang bangkit lagi. Hanya dengan melihat Raisa, kepalanya menjadi berkunang-kunang, sesuatu terasa berdenyut. Ketegangan yang timbul setiap kali mereka bertemu menimbulkan sensasi berbeda. Mario merasakan tantangan untuk memiliki gadis itu.


Namun ketika mengetahui kenyataan tentang gadis ini, awalnya ia ingin menjadikan itu senjata untuk menaklukkannya dengan menggunakan Naomi, selain memang Mario merasa ini sebagai salah satu upaya penyembuhan untuk Naomi, sampai ia tersadar kedekatan Raisa dan Naomi semakin nyata dan jelas. Keduanya begitu mudah akrab dan kompak. Lalu pandangan Mario pun mulai berubah.