Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 16 Ke Salon Kucing


Pulang sekolah Raisa mengajak Naomi memasuki pasar tradisional. mereka berjalan-jalan di pasar untuk membeli beberapa bahan untuk makan malam.


Hari ini, Raisa berencana membuat salad buah. Mereka memerlukan beberapa jenis buah segar. Sambil melihat-lihat buah, Naomi pun ikut memilih-milih buah, sambil berkomentar,


"Bunda, apel ini masih segar, permukaannya mulus, tidak lecet, Anggurnya juga segar, tidak bonyok dan tidak lembek". Naomi menilai buah-buah didepannya, membuat Raisa dan penjual buah, menutup mulut menahan senyum menyaksikan bocah kecil yang cerdas dan sok dewasa ini.


" Iya betul, kita ambil yang itu, Mang Ibin, tolong apel sekilo, anggur juga sekilo".


"Bagaimana jeruk dan strawberry nya,sama mangganya, apa cukup bagus untuk kita ambil? ". Raisa kembali meminta saran Naomi.


" Kalau Naomi lihat sih, masih bagus, kecuali, mangganya, tuh lihat bun, sudah mulai penyok yang ini bun". Raisa mengangguk-angguk membenarkan.


"okey... mangga kita batalkan". tolak Raisa.


" ih... jangan mbak, tunggu saya ambilkan yang baru, kan kita langganan." pinta mang Ibin, penjualnya.


"Oh... ada stok baru yah?, tolong diambilin dong mang? ".


" Siap... ".


Selesai di penjual buah, mereka berjalan lagi mencari bumbu-bumbu.


Saat berjalan di antara kerumunan pejalan kaki, Naomi menarik-narik tangan Raisa memaksanya berjalan sambil melihat ke bawah. Raisa yang ditarik ikut menunduk celingak celinguk.


" Cari apa? ada yang jatuh? " Raisa ikut mencari.


"itu bunda, anak kucingnya.. lucu yah bun? " tunjuk Naomi


Seekor anak kucing yang kelihatan kotor tengah mengeong.


"Mencari ibunya yah bun? " Mata polos Naomi menatap Raisa.


Entah mengapa, mendengar itu, Raisa teringat dirinya dan Naomi, mereka sama-sama tidak jelas dimana ibunya. Walaupun Naomi, masih tanda tanya,


dimana bundanya? Raisa sungguh tidak berani mempertanyakan.


Mata Raisa jadi sendu menatap Naomi.


"Mungkin tertinggal induknya". bisik Raisa.


Anak kucing dengan bulu putih belang-belang, tampak sangat lucu dengan matanya yang hijau.


"Bunda Raisa... Bolehkah anak kucing ini, dibawa pulang? Kasian, dia kehilangan ibunya". Matanya menatap iba


" Begini sayang, sementara kita bawa pulang untuk kita rawat dan beri makan, tapi kita akan minta ijin dulu pada papa Naomi, apa boleh kucingnya di pelihara, bagaimana? ". Raisa berfikir, bisa saja bulu kucing menimbulkan alergi buat Naomi


"Baik bunda, sebentar kita telepon papi Naomi yah bund? " Raisa mengangguk tersenyum.


Bagaimana pun Raisa harus ijin pada papa Naomi, karena Raisa belum sepenuhnya tahu apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh Naomi, sehubungan dengan penyakitnya.


Akhirnya kucingnya mereka bawa pulang, setelah sebelumnya singgah ke salon kucing, untuk dimandikan,mengingat bisa saja anak kucingnya membawa kuman dan Naomi bisa terkontaminasi. Kemudian sekalian membeli keranjang dan makanan kucing.


"Kucing kita taruh di teras saja yah?, kan ada keranjangnya" Raisa mencoba mencari jalan tengah. mewaspadai kemungkinan buruknya.


"Iya bunda". Naomi mengiyakan


" Cathy... kamu tidur disini saja yah ".


Raisa menaikkan alis


" Cathy? ". cicit Raisa


" Namanya Cathy bunda, ini kucing cewek, tuh lihat ada itunya... " tunjuk Naomi pada payudara kucing nya yang masih sangat kecil.


"Hehehe... Iya betul ". Raisa cekikikan. Pintar benar nih anak, pujinya dalam hati.


" Okey Cathy, selamat makan". Raisa menyodorkan semangkuk makanan kucing.


"Nah... Cathy harus makan dulu baru tidur, biar tidurnya nyenyak, tidak kelaparan".


" hmmhh... "


"Jadi sekarang, tuan putri, ayo kita masuk... tuan putri Naomi harus mandi, makan malam lalu tidur, okey? " Raisa menggandeng Naomi, mengajaknya ke dalam rumah.


"Okey bunda." jawabnya riang.


"Apa Naomi boleh minta dibacakan dongeng? " Naomi bernegosiasi.


"ough... boleh saja, asal Bunda Raisa diberi sebuah ciuman, gimana? "


" Okey... deal". jawabnya lagi dengan wajah ceria.


Raisa benar-benar dibuatnya takjub dengan segudang istilahnya dan kisah katanya yang meniru ucapan orang dewasa.