Putri Kecil Tuan Mario

Putri Kecil Tuan Mario
Bab. 28 Bermalam Dengan Raisa


Hari minggu, suasana sekolah tampak lengang. Sinta sedang ke kota menggantikan Raisa berbelanja kebutuhan sekolah, karena sejak kemarin Naomi merengek ingin bermalam dengan Raisa.


Sejak pulang sekolah kemarin, otomatis Naomi tidak dijemput tantenya, yang kabarnya juga memilih ke kota kerumahnya, apalagi persiapan pernikahannya masih harus dibeli.


Mario sendiri masih di kota karena urusan pekerjaan, memang sejak menaruh anaknya disini, pria itu otomatis pulang pergi kota kecil ini ke kota pusat setiap pekan, mengingat kedudukannya sebagai Ceo yang harus memantau perusahaannya.


Sebenarnya, bisa saja urusan disini tidak perlu dirinya turun tangan, urusan kecurigaannya sudah selesai, pencuri-pencuri bahan bangunan dan peralatan proyek sudah ditangani polisi, urusan hatinya saja yang belum kelar.


Hehehe....


Naomi sudah membawa semua keperluan dirinya dari pakaian, susu, makanan ringan hingga mainan. Anak itu selalu dengan ciri khasnya, rapi dan mandiri. Semua komplit dalam satu koper sedang.


Jadilah hari minggu ini, pagi-pagi, setelah sarapan nasi goreng dan teh hangat, mereka berdua menuju ke kebun yang terletak di belakang sekolah.


Raisa sedang memetik sayuran hijau di samping rumahnya, beberapa bayam,kemangi, tomat, kacang panjang, terong dan cabe sudah berada dalam keranjangnya, tampak sangat segar dan mengundang selera.


Tampak disebelahnya, sedang berjongkok Naomi, sambil memegangi keranjang kecilnya, gadis itu tampak sibuk dengan pekerjaannya, beberapa sayuran juga berhasil terpetik oleh jemari mungilnya.


"Bun... bun... lihat, sini deh bun". Panggil Naomi, tangan mungilnya melambai kearah Raisa, memaksa gadis itu berhenti dari keasyikan yang sama.


" Hmmm, ada apa sayang? ". Akhirnya Raisa mendekat dan ikut berjongkok


" Lihat bun, kepompong". Tunjuknya pada sebuah tangkai pohon jeruk yang tumbuh di sisi tanaman cabe.


"iya.. ya, emang kepompong itu, oh iya kalau sudah jadi kepompong berarti apa setelahnya? ". Raisa terfikir mengetes kemampuan kognitif anak itu.


" yah kupu-kupu dong bunda" jawab Naomi, Raisa tersenyum mengangguk


"Betul sekali". Pujinya tersenyum


"Coba dong perlihatkan pada bunda, gimana tepuk yang diajarkan bunda Mia, kemarin, itu tepuk yang baru kan? ". Raisa mengetes lagi


" Okey". Naomi meletakkan keranjang dan mulai bersiap.


"Tepuk kupu-kupu... prok.. prok... prok..ulatnya makan daun.( Sambil tangannya menirukan ulat berjalan), prok.. prok.. prok... ulatnya kekenyangan. (Sambil memegang perutnya), prok.. prok.. prok... ulatnya berpuasa, (Gerakan menutup dan mengunci mulut dengan jari ditarik dari ujung bibir satu ke ujung bibir lainnya). prok.. prok.. prok... jadilah kepompong, (kedua tangan disatukan dengan posisi tertutup), prok.. prok.. prok... kepompongnya terbuka, (kedua tangan membuka seperti kuncup terbuka), prok.. prok... prok... jadilah kupu-kupa, (tangan kanan membentuk sayap kecil), prok... prok... prok... kupu-kupu, (tangan kiri mengepak kecil juga), prok.. prok.. prok... Kupu-kupu... (kedua tangan direntang kesamping dan mengepak lebar.


"Yeah... pintar... ". Raisa bertepuk tangan.


" Kita lanjut yuk, memetik sayuran, tuh disana jagungnya belum dipetik ". Ajak Raisa.


" iya bun, biar kepompongnya tidak terganggu, kepompongnya lagi berproses jadi kupu-kupu yang cantik". Naomi jadi berbisik.


Raisa tersenyum senang menyaksikan keceriaan Naomi, anak itu sudah cukup lama tidak mengeluhkan penyakitnya, dibanding waktu dulu, menurut Wieke, bisa muncul sampai sebulan lamanya, sehingga diwaktu itu, hampir sepanjang hari, Naomi hanya berasa di dalam rumah serta dipantau dokter.


Raisa melangkah lebih jauh ke belakang pekarangan diikuti Naomi di sampingnya, di sana ia juga punya pohon jagung siap panen, keduanya meletakkan keranjang diatas sebuah bangku kayu.


"Naomi, tunggu bunda disini yah, biar bunda yang petik jagungnya, nanti Naomi boleh bantu kupas". Naomi mengangguk.


" Sambil nungguin bunda metik jagung, Naomi boleh main tanah bunda? ". Naomi mencari kegiatan, anak cerdas ini pasti tidak mau diam saja menunggu.


" okey, tapi pakai sendok yah?, itu..sekalian dengan pot-potnya". Raisa menunjukkan deretan pot berbagai ukuran dari yang besar hingga pot paling kecil berjejer di dekat dinding sekolah.


Akhirnya, mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing, Raisa sangat gembira melihat panen jagungnya yang sukses, buahnya besar-besar, difikirannya sudah terbayang untuk membuat sop jagung lengkap dengan perkedel jagungnya.


Sementara, Naomi tidak kalah sibuknya, menyendok tanah, memasukkan ke pot-pot dengan menggunakan sendok tanah yang sedang, rambutnya sudah diikat oleh Raisa sebelumnya lalu ditutupi dengan kain syal, sangat cantik dan menggemaskan.


Tidak lupa Raisa mengabadikan dengan kamera HP, kelakuan anak itu selalu nampak mempesona dan lucu, ada saja idenya, untuk menyibukkan diri, sebentar saja Raisa sudah dibuat terkagum-kagum.


Karena larut dalam kesibukan masing-masing, mereka tidak menyadari seseorang bergerak mendekat, seseorang yang muncul dari bagian samping bangunan sekolah itu, tidak lain adalah Mario.


"ekhem... ekhem... ". Terdekat suara berdehem.


Raisa dan Naomi mengangkat kepala dan menoleh kearah suara hampir bersamaan.


" Horee... papa datang". Naomi lebih dulu bersorak gembira.


Mario melangkah mendekati putrinya, memberinya kecupan sayang di pipi dan kening, sementara Naomi membawa tangannya ke belakang, tidak ingin mengotori pakaian papanya, anak ini memang pengertian sekali.


Sementara Raisa memandangi mereka. Raisa cukup terpana dibuatnya. Pria itu memang tampan, tubuhnya tinggi atletis, dan penampilannya kali ini membuatnya seperti kembali ke usia pemuda, dengan celana kain selutut dengan setelan kaos warna biru muda.


"Apa aku terlambat? pandangannya beralih ke Raisa sambil mengedipkan mata, genit. Raisa menaikkan bola matanya keatas, pura-pura jelous.


"Sepertinya disini sedang panen". Mario tersenyum melihat Naomi yang tampak cantik meski dengan berpakaian sederhana.


Mario berdiri sambil memandang sekeliling tanaman jagung yang cukup luas. Tangannya meraih sebuah jagung hasil panen Raisa.


" Apa aku boleh ikut memanen? ". Pinta Mario.


" Apa pak Mario, tidak keberatan bersusah payah berkeringat disini? ".Raisa merasa enggan melibatkan bos besar itu.


" Apa kau meragukan kemampuan ku? Mario mendekat ke tempat Raisa memetik jagung.


"Tentu, tidak, saya rasa Pak Mario, orang yang serba bisa". Raisa memilih mengalah.


" Tentu, aku sangat ahli dalam banyak hal, apalagi aktifitas yang mengeluarkan keringat, aku bisa menujukkan kalau kau mau melihat? ". Mario berbisik ambigu dekat telinganya, membuat Raisa meremang dan membelalak.


Bisa-bisanya pria ini menggoda dimana putrinya tidak jauh dari mereka. Tak urung kalimat itu membuat Raisa merinding.


Dirinya sudah cukup dewasa untuk memahami banyak kosa-kata milik kaum yang sudah menikah atau kalangan pasangan kekasih, meski dirinya sendiri belum pernah memiliki kekasih, Teman-temannya cukup banyak menggodanya dengan berbagai istilah aneh, jadi Raisa cukup tahan banting.